NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Favorit Brams Ravendra

Istri Kontrak Favorit Brams Ravendra

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romantis / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Komedi / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.

Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.

Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.

Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.

Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?

Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Kau Memang Istriku

Lampu-lampu hotel menyala keemasan saat mobil berhenti di area drop-off. Bangunan tinggi itu menjulang anggun, sunyi namun berkelas, tempat yang terasa terlalu mewah untuk hati Ranum yang sedang berantakan.

Petugas membuka pintu.

Brams turun lebih dulu. Gesturnya tenang, wajahnya datar seperti biasa. Ia mengulurkan tangan pada Ranum, bukan permintaan, melainkan perintah halus.

Ranum ragu sesaat, lalu menyambutnya. Sentuhan itu membuat dadanya kembali menghangat… dan menegang.

Mereka berjalan melewati lobi luas dengan lantai marmer mengilap. Aroma bunga segar bercampur parfum mahal menguar lembut.

Beberapa tamu melirik sekilas, bukan karena Ranum, tapi karena Brams. Aura pria itu selalu menarik perhatian tanpa perlu usaha.

Lift privat membawa mereka ke lantai atas.

Sunyi. Hanya suara dengungan mesin dan napas Ranum yang ia tahan setengah mati. Brams berdiri di sampingnya, terlalu dekat. Tangannya menyentuh punggung Ranum, ringan, seolah mengingatkan bahwa ia ada di sana.

Pintu lift terbuka.

Suite itu luas. Terlalu luas untuk dua orang yang sedang menyimpan banyak kata. Jendela kaca membentang dari lantai ke langit-langit, menampilkan kota malam yang berkilau seperti lautan cahaya.

Begitu pintu tertutup, Ranum menarik tangannya.

“Brams,” ucapnya akhirnya. Suaranya berusaha terdengar tenang. “Tentang tadi...”

“Lepaskan jilbabmu,” potong Brams singkat.

Ranum terdiam. Bukan karena malu. Tapi karena nada itu. Nada yang tak memberi ruang.

Perlahan, ia menurut. Jilbab navy itu terlepas, diletakkan di atas meja kecil. Rambutnya jatuh terurai, sedikit kusut oleh angin dan emosi.

Brams mengamatinya sejenak. Tatapannya tak bisa dibaca.

“Kenapa? Apa yang aneh di wajah ku?” kata Ranum lirih.

“Tidak,” jawab Brams. Ia melepas jasnya, menyampirkannya sembarangan. “Aku hanya lelah.”

Ia berjalan ke arah sofa, lalu duduk. Satu kancing kemejanya terbuka. Dasi dilepas. Brams menutup mata sesaat, menekan pelipisnya dengan dua jari.

Ranum berdiri ragu di dekat jendela.

“Silvia…” suara Ranum hampir tak terdengar. “Apa maksudnya ‘malam ini’ kata Livia tadi?”

Mata Brams terbuka perlahan. Tatapannya mengarah padanya, tajam, dingin, tapi penuh kendali.

“Itu urusanku,” jawabnya. “Bukan sesuatu yang perlu kau pikirkan.”

Jawaban itu menusuk lebih dalam dari yang Ranum kira.

“Aku istrimu,” ucap Ranum, lebih tegas sekarang. “Setidaknya aku berhak tahu.”

Brams bangkit. Langkahnya perlahan, terukur. Ia berhenti tepat di depan Ranum. Terlalu dekat.

“Kau memang istriku,” katanya rendah. “Dan justru karena itu, kau tidak perlu ikut campur.”

Ranum menelan ludah. Dadanya naik turun.

“aku ini apa bagimu, Brams?”

Untuk pertama kalinya malam itu, Brams tak langsung menjawab. Tangannya terangkat, menyentuh dagu Ranum, memaksanya menatap. Sentuhan itu tidak kasar, tapi mengikat.

“Kau milikku,” ucapnya akhirnya. “Dan itu cukup.”

Ranum menutup mata. Bukan karena setuju. Tapi karena ia sadar, malam ini, ia belum siap melawan.

Dan Brams tahu itu. Ia melepaskan sentuhannya, berbalik menuju kamar tidur.

“Aku mandi dulu,” katanya singkat. “Dan kau... jangan ke mana-mana.”

Ruangan suite itu kembali sunyi setelah pintu kamar mandi tertutup.

Ranum berdiri di tengah ruangan, menatap lantai marmer yang memantulkan bayangannya sendiri. Dadanya terasa sesak, bukan karena marah, melainkan karena pikirannya terlalu penuh.

Ia mengangkat tangan, menyentuh rambutnya. "Kenapa aku menurut?"

Alisnya berkerut. Tangannya mengepal perlahan.

"Kenapa aku melepaskan jilbabku begitu saja?"

Ranum mengacak rambutnya sendiri, frustrasi. Nafasnya memburu. Ia berjalan mondar-mandir, lalu berhenti di depan cermin besar.

Pantulan itu menatapnya balik, seorang wanita yang terlalu mudah goyah.

Bodoh.

“Kau itu siapa, Ranum?” gumamnya lirih. “Istri kontrak.”

Kata itu terasa pahit di lidahnya sendiri.

Ia menggeleng keras.

Dan jilbab ini, jelas tidak seharusnya terlepas di hadapan Brams. Tidak semudah itu. Tidak hanya karena perintah.

Tangannya turun menutupi wajah.

"Apa hatiku sudah goyah?" Ranum menepis pikiran itu cepat-cepat.

“Tidak,” bisiknya tegas pada diri sendiri. “Aku hanya berperan dengan baik. Itu saja.”

Ia menarik napas panjang.

Lalu bayangan lain muncul.

Silvia.

Ranum mendecak pelan.

“Kenapa aku harus peduli?” ucapnya pada udara kosong. “Itu bukan urusanku.”

Tapi jantungnya berdetak lebih cepat saat mengingat tawa wanita itu. Cara Brams menyentuh pinggangnya. Cara mereka berbisik.

"Seharusnya aku tidak bertanya lagi tadi." Ranum mengusap wajahnya, lelah. Ia meraih jilbab navy yang tadi diletakkannya di meja, lalu memakainya kembali dengan gerakan hati-hati, seolah kain itu adalah benteng terakhirnya.

Setelah itu, ia melangkah ke balkon.

Pintu kaca terbuka. Angin sore menyambutnya lembut. Matahari condong ke barat, sinarnya hangat keemasan. Kota di bawah terlihat tenang, bertolak belakang dengan isi kepalanya.

Ranum bersandar di pagar balkon, menutup mata sesaat. Mengatur napas. Mencoba menenangkan diri. "Aku baik-baik saja. Aku hanya menjalani peran."

Langkah kaki terdengar di belakangnya.

Ranum membuka mata, terlambat. Dua lengan melingkar di pinggangnya dari belakang. Tubuhnya menegang seketika.

“Brams—”

“Tenang,” suara itu rendah, dekat di telinganya. “Aku hanya memelukmu.”

Ranum hendak melepaskan diri, namun Brams sudah lebih dulu mendekat. Dada pria itu menempel ringan di punggungnya. Hangat. Terlalu familiar.

Tangannya terangkat, menyentuh ujung jilbab Ranum.

“Jangan Brams,” ucap Ranum cepat, mencoba menahan.

Namun Brams justru tersenyum tipis. Ia melepaskan jilbab itu dengan gerakan lembut, nyaris hati-hati, berbeda dari caranya memerintah tadi.

“Kau tahu,” bisiknya, “kau jauh lebih cerewet saat sedang berpikir keras.”

Ranum mendecak kesal. “Aku tidak—”

“Dan kau juga cemburu,” lanjut Brams ringan, seolah hanya menyebut cuaca.

“Itu tidak benar!” Ranum membantah cepat.

Brams tertawa pelan. Tangannya masih di pinggang Ranum, ibu jarinya menekan ringan, membuatnya sulit menjauh.

“Kalau tidak,” ucapnya santai, “kenapa napasmu berubah sejak nama Silvia disebut?”

Ranum terdiam. Kesal. Jengkel pada dirinya sendiri.

Ia berusaha melepaskan diri lagi, tapi Brams hanya menguatkan pelukannya sedikit, cukup untuk membuat Ranum sadar, ia tak benar-benar ingin pergi.

“Brams,” desisnya. “Berhenti.”

“Aku ingjn teh herbalmu,” jawab Brams ringan. “Bersihkan dirimu, dan pijat aku.” bisik Brams.

Ranum mendecak, menoleh setengah.

“Kau menyebalkan.” desis Ranum sambil menepis tangan Brams yang menjelajahi bagian belakang tubuhnya yang menyembul. Lalu berlari kembali ke dalam ruangan.

Senyum Brams melebar tipis.

“Tapi kau suka kan?” jawab Brams, sambil berbalik dan Dan entah kenapa, jawaban itu membuat Ranum semakin kesal, karena ia tidak sepenuhnya membencinya. Ranum menoleh tipis dan tatatapn tajamnya menusuk Brams yang sedang terkekeh.

"Argh.... Akhirnya aku bisa beristirahat sejenak," ucap Brams, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bersiap mendapatkan pijatan dari Ranum.

Bersambung...

1
partini
wow
partini
betul ke cucumu Dammmm stupid
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
partini
waduh buta ga yah,,aihhh Kunti bogel beraksi
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu
Meow: buta sementara kak, biar Brams di buat repot dulu sebelum di tinggal Ranum 🤭
total 1 replies
한스 |HANSEN|Author DarkRomance
bantu kakak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!