NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Arnold kaget saat Alia berkata demikian. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Alia akan berani berkata begitu, karena yang Arnold tahu, Alia tidak mungkin seberani itu.

Mama Arnold pergi dari hadapan mereka. Tak lama kemudian, Arnold menarik tangan Alia ke area belakang sekolah.

“Kamu sekarang jadi berani, ya? Kenapa bicara begitu di depan Mama aku? Kamu sadar nggak sih pas bicara begitu?”

“Sadar. Terus kenapa?”

Arnold merasa kalau wanitanya ini berbeda dengan wanita lain, sampai dirinya tidak bisa berkata apa-apa.

“Kamu nyadar nggak sih kalau kamu itu orangnya berbeda dari wanita lain?”

“Emangnya bedanya aku sama wanita lain apa?”

“Kamu cantik, baik, perhatian, dan kadang kamu juga kayak anak kecil. Tapi itu aku suka sih. Berbeda itu indah, nggak selalu harus sama.”

“Nggak bersyukur kamu dikasih yang baik kayak aku. Malah nggak mau, maunya yang jahat aja. Ya udah, ntar aku jadi jahat aja biar kamu bersyukur.”

Arnold hanya mengerutkan dahi sambil menatap Alia. Tak lama, handphone Alia berdering dari mamanya.

“Halo, Ma. Ada apa?”

“Hari ini kita makan malam, ya. Jangan kelayapan terus, kamu harus ingat punya rumah.”

“Ya, Mama sayang. Emang aku nggak pernah ingat kalau aku punya rumah?”

“Yah, siapa tahu kamu nyaman sama rumah calon suami kamu.”

Alia hanya menggeleng kepala, seakan kehabisan kata-kata dan tidak bisa berbicara lebih jauh lagi.

“Mama, please deh. Apaan sih cara bicaranya bikin Alia bingung aja sama maksud Mama itu apa.”

“Yah, apalagi kalau kamu nggak paham. Ya udah, biarin aja otak kamu berpikir. Eh, ingat! Nanti malam jangan lupa, kita ada acara makan malam.”

“Baik, Mama ku yang cantik nan bawel. Eh, maksudnya cantik aja, nggak bawel.”

Mama merasa kesal dengan cara bicara Alia, tapi tetap sayang padanya. Bagaimanapun juga, Alia adalah anaknya yang selalu ia cintai.

“Untung aja kamu anak Mama. Kalau bukan anak Mama, udah Mama hukum, udah Mama pindahin ke planet lain.”

“Makanya, Mah, jangan cari anak yang sama kayak Mama. Jadinya kan nggak bisa disaingin.”

“Diam kamu! Pokoknya malam ini kamu harus pergi ke tempat yang Mama suruh. Kalau kamu nggak datang, liat aja nanti.”

“Kalau aku nggak mau datang gimana? Emang Mama bisa maksa aku? Lagian Mama kan nggak bisa maksa aku.”

Mama mendengar itu dengan rasa geram. Tapi akhirnya, perasaan geram itu terbalas karena papa yang mengambil alih telepon.

“Alia, kamu jangan suka membantah sama Mama kamu. Apa kamu nggak cukup? Udah Papa nggak suka sama kamu, masih mau bikin Mama kamu nggak suka juga? Udah, nggak usah aneh-aneh. Nurutin aja apa Mama kamu bicarain. Kalau kamu nggak nurut juga, Papa nggak tahu lagi harus kayak gimana sama kamu.”

“Kenapa sih, Pak, masih marah aja sama aku? Padahal aku niatnya baik, lho. Kenapa Papa selalu marahin aku? Lagian kan aku nggak ada salah, Pak. Aku mencoba jujur aja sama Papa. Memang itu salah?”

“Emang nggak salah. Tapi cara kamu yang salah. Harusnya kamu kasih tahu kalau misalkan kamu mau pergi sama cowok kamu itu. Tapi kamu malah diam-diam. Kan membuat Papa sakit hati, Papa kecewa sama kamu. Padahal Papa yang selalu ngebayarin uang sekolah kamu, tapi kamu jadi begini sekarang.”

Alia hanya merasa kesal dan dongkol, tetapi tidak bisa membalas karena itu adalah papanya yang bicara, bukan mamanya.

Arnold melihat pacarnya sedang ditelepon, dan ia mengerti itu dari siapa. Tapi dia tidak ingin ikut campur, karena itu urusan keluarga Alia.

Arnold selalu menjadi pria yang bisa diandalkan, tapi tidak ingin ikut campur dalam urusan pasangannya. Baginya, tidak semua hal harus ikut ia tangani.

Setelah selesai bertelepon dengan kedua orang tuanya, Alia berkata,

“Capek banget deh berbicara sama kedua orang tua ini. Tapi walau bagaimanapun, mereka adalah kesayangan aku, dan aku juga nggak bisa berbuat apa-apa.”

“Nggak apa-apa, sayang. Aku yakin kok dengan kesabaran kamu, pasti akan ada kebaikan yang dibalas. Tenang aja, oke? Apapun yang kamu lakukan sekarang, itu nggak akan sia-sia. Percaya aja sama aku.”

Alia merasa senang memiliki pria yang selalu memahami dirinya tanpa meminta dipahami sebaliknya.

“Makasih ya. Kamu udah selalu memahami aku. Kalau nggak ada kamu di hidup aku, aku nggak tahu lagi harus bagaimana.”

“Iya, sama-sama. Aku juga senang kok ada kamu di hidup aku. Ya udah, ayo kalau gitu kita pulang. Kamu mau pergi sama orang tua kamu kan?”

“Iya nih. Aku males banget sebenarnya. Aku maunya pergi sama kamu, tapi nggak bisa. Ya, mungkin next time deh. Nggak papa kan?”

“Nggak apa-apa kok, aku ngerti. Lagian kamu juga butuh waktu kumpul bareng keluarga kamu. Aku nggak masalah, selama itu keluarga kamu. Dan asal kamu mau pergi sama teman kamu juga boleh, aku nggak ngelarang. Asal kamu bahagia aja.”

Alia merasa apa yang Arnold katakan itu bohong. Tapi walau bagaimanapun, ia tahu kalau memang prianya itu sebaik itu.

“Ya udah. Nanti kalau sampai sana aku bosan, aku chat kamu ya. Bukan berarti aku cari kamu pas bosan, tapi maksudnya aku sih berharapnya kamu ada di sana. Tapi kan nggak mungkin. Jadi ya udah, kita chat-chat aja. Nggak papa kan?”

“Iya, nggak papa kok. Aku ngerti. Lagian kamu juga nggak bisa maksa sesuatu yang nggak kamu mau. Aku paham maksud kamu apa.”

“Ya udah deh, bye-bye. Aku pulang duluan ya.”

“Nggak apa-apa, aku anterin kamu pulang sekalian. Rumah kita searah. Ngapain sih harus pisah-pisah? Kalau bisa bareng, kenapa nggak?”

Alia merasa terhibur dengan sifat Arnold. Namun, saat mereka ingin pergi, tiba-tiba ada seseorang memanggil Arnold dari belakang.

“Ka Arnold, maaf ganggu waktunya. Tapi kita butuh sesuatu. Ka Arnold bisa ke ruangan OSIS dulu nggak? Soalnya penting.”

Arnold merasa ada yang janggal dengan perkataan adik kelasnya itu, yang juga anggota OSIS. Tapi ia tidak ingin berpikir buruk, akhirnya ia mengikuti adik kelas tersebut.

“Sayang, aku pergi bentar ya. Nanti aku balik lagi kok. Kalau misalkan aku lama, ntar aku kabarin kamu ya.”

“Oke, bye. Kabari ya, jangan lupa. Pokoknya kalau kamu nggak ada kabar, aku langsung cabut aja. Soalnya aku takut telat di tempat Mama dan Papa aku.”

“Oke.”

Arnold pun pergi dari hadapan Alia. Tapi Alia sama sekali tidak peduli dengan urusan Arnold. Baginya, nggak semua hal harus ia pedulikan. Walaupun mereka pasangan, tetap punya privasi masing-masing.

Sampai di ruang OSIS, Arnold berkata,

“Loh, ini kenapa kok mading kita jadi hancur? Gara-gara siapa ini? Dari kalian? Kalau nggak ada yang ngaku, akan aku hukum beneran! Lama banget loh ngerjainnya, sampai berbulan-bulan. Masa iya sih kalian nggak tahu siapa yang ngerusakin?”

Semua diam saja tanpa berkata apa-apa. Arnold merasa geram karena semua anggota hanya diam dan tidak ada yang berani jujur siapa perusaknya.

Arnold kecewa dengan grup OSIS-nya. Padahal OSIS diciptakan untuk selalu bersama dan jujur, meski ada kerusakan yang tidak disengaja.

Tapi dengan sikap OSIS sekarang, Arnold jadi tidak respek. Ia bahkan bingung harus bicara apa pada kepala sekolah.

“Ini kalau masih nggak ada yang ngaku, beneran akan kakak hukum. Mending kalian jujur daripada bohong. Karena nggak semuanya harus kalian pendem sendiri. Kakak juga bukan tipe orang yang akan marahin kalian tanpa sebab.”

Namun semua tetap diam. Itu membuat Arnold makin geram dan akhirnya marah besar kepada grup OSIS yang selama ini ia banggakan.

Tiba-tiba, terdengar nyanyian berisik:

“Selamat ulang tahun…”

Arnold bingung. Siapa yang ulang tahun? Padahal dirinya tidak ulang tahun hari ini. Sejak kapan anggota OSIS tahu hari ulang tahunnya? Arnold lalu mengecek tanggal hari ini, ingin memastikan sebenarnya hari apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!