Arella atau sering dipanggil Arel adalah siswi tercantik disekolahnya. Banyak sekali cowok tampan yang berbaris ingin menjadi kekasihnya. Namun, entah seperti apa tipe cowok yang disukai oleh Arel. Sejauh ini Arel tidak tertarik pada cowok manapun.
Bahkan Rey saja yang gantengnya luar biasa dan menjadi pangerannya para siswi disekolahnya, ia tolak begitu saja. Selama ini Arel tidak pernah jatuh cinta pada cowok. Entahlah, tidak ada cowok yang menarik perhatiannya sejauh ini.
Sehingga suatu hari, disekolahnya kedatangan siswa transfer dan kebetulan satu kelas dengannya. Awalnya ia biasa saja pada siswa pindahan itu. Namun, semakin Arel sering bertemu dan berbicara dengannya hatinya mulai tergerak dan luluh.
Apakah siswa baru itu adalah tipe yang Arel suka?
Memangnya seperti apa sih tipe cowok yang disukai oleh Arel?
penasaran? Yuk, mampir! Kali aja minat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf
Sungguh melegakan karena Satrya tidak jadi dikeluarkan untuk beberapa alasan dan tentunya permintaan dari Rey. Arel masih kecewa dan marah pada Satrya. Sejak dari tadi Arel bahkan tidak melirik atau melihat Satrya. Dan hal itu membuat Satrya sangat sedih. Apakah Arel begitu tersakiti olehnya? Sehingga ia begitu merasa sangat kecewa mengetahui keaslian dari Satrya?
Padahal para gadis lain malah mengidolakannya setelah mengetahui Satrya yang asli dan hebat dalam bertarung. Walau memang Satrya pun merasa risih karena para siswi kini silih sikut untuk bisa bicara atau berkenalan dengan Satrya. Dan mereka terus berusaha meminta nomor hp Satrya.
Hingga kelas usai dan semua siswa berhamburan keluar untuk pulang, Arel masih diam dan lewat begitu saja tanpa melirik pada Satrya. Devina pun merasa kalau Arel terlalu berlebihan pada Satrya. Arel bahkan mogok bicara pada Devina, karena Devina tidak merasakan hal yang sama dengan Arel terhadap Satrya saat ini.
"Sepertinya Arel benar-benar sangat marah," ucap Devina.
"Kau benar Dev. Sepertinya aku harus meminta maaf pada Arel," sahut Satrya menghela nafas.
"Tentu saja, teman. Itu harus! Ayo!" seru Devina menarik tangan Satrya untuk mengejar Arel dan meminta maaf padanya.
Tiba dipintu gerbang, Devina dan Satrya langsung menghadang Arel dengan tergesa-gesa.
"Arel! Tunggu!" seru Devina menghalangi jalan Arel. Arel hanya menatap sinis pada mereka. Tanpa menjawab ia kembali melangkah kesamping Devina agar bisa lewat.
Namun, dengan sigap lagi-lagi Devina menghadang langkahnya agar tidak maju. Arel menghela nafas berat. Lalu, kembali melirik mereka dengan tajam.
"Kalian mau apa, sih?" tanya Arel kesal.
"Hei, kenapa kamu bersikap seperti ini?" tanya Devina balik.
"Arel! Aku tahu, kamu kecewa. Mungkin sangat kecewa terhadapku. Aku memang salah, karena telah membohongi kamu. Jadi, aku minta maaf Arel," sela Satrya menatap Arel penuh harapan kalau Arel akan memaafkannya.
"Maaf? Kau tahu, apa yang membuatku sangat kecewa?" tanya Arel lagi. "Aku kecewa, karena Satrya yang pertama aku kenal, seseorang yang pemberani tetapi sangat lembut dan manis. Tapi, kamu bukan Satrya. Kamu hanyalah anak berandalan yang menyukai kekerasan. Dan bangga akan tinjumu itu," balas Arel, lalu lekas melangkah pergi berlalu meninggalkan Satrya yang masih terdiam membisu.
Satrya benar-benar terpuruk akan ucapan yang Arel lontarkan. Apakah salah jika ia menggunakan kekerasa untuk menolong orang lain? Apakah salah, jika ia bangga dengan tinjunya untuk melindungi seseorang?
Satrya terus digelanyuti oleh pikiran yang abstrak tentang dirinya saat ini. Itulah sebabnya ia menyamar menjadi anak culun. Bukan berarti untuk dilihat sebagai lelaki lemah, melainkan untuk melindungi tinjunya.
"Hah! Arel benar-benar keterlaluan! Apakah itu masuk akal untuk dijadikan alasan mengapa ia marah?" oceh Devina tidak terima.
Satrya tidak menggubris ucapan Devina karena hanyut dalam pikiran abstrak untuk menilai perangainya sendiri saat ini. Tidak lama ia mendesah, lalu melengos pergi begitu saja mengabaikan Devina yang dari tadi tengah bicara padanya.
"Hei, Satrya! Kau mau kemana?" teriak Devina berlari menyusul Satrya.
¤☆¤
Arel tiba dirumahnya dan bergegas pergi kekamarnya. Ia membanting tubuhnya diatas ranjang miliknya yang empuk. Ia terus saja kepikiran akan Satrya. Mengapa ia bisa merasakan kekecewaan yang amat terhadap Satrya? Kini pikirannya mulai kacau dan membuat kepalanya terasa sakit karena pikiran itu.
"Satrya. Ada apa denganku? Ada apa dengan perasaanku? Kenapa aku bisa sekecewa ini sama kamu? Aku benar-benar Syok saat tahu, kalau kamu Ghost Fighter. Dan entah kenapa, aku begitu marah mengetahui hal ini."
Arel tidak bisa berhenti memikirkan Satrya yang culun yang beberapa kali menolongnya. Ia terus memikirkan saat pertama kali Satrya menolongnya dari kejaran para lelaki yang tidak jelas itu. Dan saat Satrya menangkapnya agar tidak jatuh ketika Rey mendorong Arel karena amarah yang mengamuk untuk pertama kalinya. Juga saat Satrya memeluk dirinya agar tidak terkena lemparan bola saat itu.
Semua pikiran itu terus menggelayuti isi kepalanya. Mengingat hal itu, membuat jantungnya kembali berdetak dengan cepat. Arel meraba dadanya dan ia bisa merasakan kehidupan jantungnya yang mencepat hanya dengan memikirkan hal-hal romantis yang Satrya tunjukkan padanya. Walau itu hanya sebuah kebetulan dan ketidak sengajaan.
"Kenapa? Kenapa jantungku berdegup secepat ini, ketika aku memikirkannya? Ada apa denganku sebenarnya?"
Untuk pertama kalinya Arel merasa segelisah ini terhadap perasaannya sendiri. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Satrya benar-benar telah membuat Arel terlihat seperti orang bodoh untuk dirinya sendiri.
Tapi mengingat kembali akan Satrya yang begitu menakutkan dengan tinju yang tiada ampun dan tatapan liarnya terhadap lawannya. Membuat perasaan Arel semakin kacau. Semua perasaan yang ia rasakan dan emosikan dalam hatinya bercampur aduk.
¤☆¤
Tidak ada perasaan yang tidak merasa bersalah dan takut setelah memukuli seseorang. Semua orang pasti merasakan hal itu. Tergantung siapa orang yang dipukul. Satrya kini mencoba menjenguk Rey dirumah sakit, karena walau bagiamana pun juga, perasaan itu kini menggelanyut dalam hatinya untuk Rey. Perasaan bersalah karena telah memukuili Rey terlalu berlebihan dan karena hilang kendali. Sehingga Rey harus mendapatkan perawatan yang cukup serius.
Sejenak Satrya merasa ragu untuk masuk setelah sampai didepan kamar rawat inap Rey. Namun, ia meneguhkan hatinya untuk meminta maaf atas kesalahannya itu. Satrya memang berandalan, tapi bukan berarti ia tidak memiliki perasaan. Jika ingin tahu, Satrya itu adalah orang yang sangat lemah dan pengecut. Sehingga disaat ia ingin meminta maaf, ia selalu takut dan malu. Sehingga selama ini ia tidak pernah berani untuk meminta maaf kepada siapapun yang telah ia lukai dengan sengaja ataupun tidak.
Satrya mengetuk pintu dan masuk. Ia dapati Rey yang tengah makan siang bersama Ayahnya.
"Ternyata kau murid transfer? Ada apa kau kemari?" tanya Rey heran.
"Maaf telah mengganggu. Aku kesini hanya ingin menjengukmu. Bagaimana keadaanmu?"
Rey tersenyum kemudian tertawa terbahak-bahak. "Kau serius? Kau benar-benar sangat naif. Tapi yah, kuhargai keberanianmu."
"Maaf pak. Tapi bisakah saya dan Rey bicara berdua saja?" pinta Satrya pada Pak Haris yang sedari tadi hanya terdiam menyimak.
"Baiklah. Ini urusan kalian. Jadi, selesaikanlah urusan kalian dengan baik, ok?" sahut Pak Haris lekas pergi keluar meninggalkan mereka berdua.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Rey sambil melahap kembali makanannya.
Satrya mendekat dan duduk disamping Rey. "Aku senang. Sepertinya kau memang baik-baik saja."
Satrya terus saja basa-basi pada Rey. Kenapa begitu sulit ia katakan maaf pada Rey?
"Kau kesini hanya untuk itu? Wahhh..!!"
"Tidak! Ada hal lain yang ingin kuucapkan."
Sejenak Satrya terdiam dan bersiap diri untuk mengatakannya. Ia menghela nafas panjang.
"Maaf Rey. Aku hanya hilang kendali. Aku tidak bisa mengontrol emosiku saat tinjuku telah keluar," ucap Satrya penuh akan penyesalan.
"Yah, itu memang harus. Aku sangat mengagumi keberanianmu itu. Kau bahkan menatapku dengan sangat liar saat itu. Kau memang lelaki sejati, bung. Dan karena kamu sudah disini, aku akan mengatakan sesuatu padamu," balas Rey.
"Apa?"
"Bisakah kau menjaga Arel?"
"Kenapa? Bukankah selama ini memang kamu yang selalu melindunginya?"
"Wahh.. Kau menyadari hal itu?"
"Tentu saja. Mungkin, kau berlagak membencinya. Tapi kau sangat menyukainya dan diam-diam kau melindunginya juga. Kenapa kau memintaku untuk melindunginya sekarang?"
Rey sejenak terdiam dan tersenyum. "Karena aku harus pergi. Aku hanya ingin Arel bersekolah dengan nyaman dan damai. Dengan adanya kamu disisinya, aku yakin Arel bisa belajar dengan baik tanpa gangguan apapun. Jadi, lindungilah dia!"
Satrya tersenyum. "Sepertinya aku telah salah menilaimu, kawan. Baiklah, aku akan melakukan itu. Teman?" sahut Satrya mengepalkan tangannya dan mengulurkannya pada Rey, berharap Rey membalas dan tos bersama.
"Dasar licik! Baiklah, teman," balas Rey tersenyum kembali dan menerimanya dengan senang hati. Setelah saling menonjok dan bertinju, pada akhirnya mereka menjadi teman. Dan hal itu telah menguntungkan dua pihak.
Kau akan melindunginya. Aku yakin, karena kamu menyukainya. Dengan begitu, aku tidak perlu mencemaskan apapun lagi. bathin Rey.
by the way..... thank you so much thor.....
😍😍😍😍😘😘😘😘😘