NovelToon NovelToon
Aku Atau Dia Yang Pelakor

Aku Atau Dia Yang Pelakor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:96.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.

Semuanya berawal dari ...

Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.

Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.

Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : Brownis untuk suamimu.

Akhirnya pekerjaan Isyana selesai juga. Saat dia mengangkat tangan dan melirik arloji ditangan kiri. Ternyata sudah jam 5 sore, waktunya pulang. Isyana meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian mencari kontak Ikbal dan menelpon nya.

“Halo, Mas. Hari ini aku mau kerumah ayah ... kamu jemput aku ya, kita barengan jenguk ayah,” ucap Isyana pada Ikbal di telepon.

“Kamu saja duluan ya, aku masih sibuk ini. Nanti aku nyusul, naik taksi online saja,” jawab Ikbal.

Isyana menghela nafas nya. “Baiklah.”

Panggilan pun terputus.

Isyana terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dia pasti sedang sibuk dengan selingkuhan nya.”

Tak menunggu lama Isyana pun memesan taksi online.

Diperjalanan Isyana mengusap-usap memar yang ada di pergelangan tangan kanan nya. Perih, tapi itu tidak seberapa dari rasa perihnya melihat sang ayah yang jatuh sakit. Sudah hampir dua bulan belakangan, kondisi Pak Germian ayahnya memburuk.

“Pak, tolong turunkan saya di toko kue itu saja,” ucap Isyana menunjuk toko kue yang ada di seberang jalan.

“Baik, Bu.” Supir itu pun membelokkan setirnya dan berhenti di depan toko yang Isyana tunjuk.

“Ini Pak, ambil saja kembalian nya,” ucap Isyana seraya memberikan ongkos taksi yang berlebih kepada supir itu. Kemudian dia keluar perlahan dari mobil.

Isyana berdiri didepan toko kue itu dengan tersenyum. “Ayah suka sekali brownis dari toko ini.”

Kring kring.

“Selamat datang, silahkan dipilih kak,” sambut pegawai di toko kue itu. Saat Isyana melangkahkan kakinya di dalam toko tersebut.

Aroma manis dari kue-kue tersebut memanjakan indra penciuman nya. Isyana menatap sekelilingnya mencari kue kesukaan Pak Germian. Namun, saat sedang memilih-milih tidak sengaja Isyana bertemu dengan Elvano.

Seketika, kakinya membeku tidak bisa bergerak. Disaat dirinya dalam keadaan terpuruk entah kenapa Elvano selalu muncul dihadapan nya. Isyana terdiam menatap Elvano dengan intens. Ingin rasanya dia menghambur ke dalam pelukan pria di hadapan nya itu. Dan berkata...

“Aku sedang tidak baik-baik sekarang ini ... aku butuh kamu El,” batin Isyana.

Elvano tidak bisa menahan senyuman bahagianya karena dipertemukan secara tidak sengaja lagi pada Isyana. Perlahan dia mendekat. Akan tetapi dia sedikit heran dengan mata indah Isyana yang berkaca-kaca menatapnya sangat intens dan dalam.

“Jika kamu berlari kepadaku, Sya ... aku bisa berjanji kalau aku tidak akan melepaskan tangan mu, dan akan selalu ada untukmu,” batin Elvano.

Isyana tersadar karena tatapan nya yang tidak wajar pada Elvano. Dia pun menundukkan pandangannya. Mengatur agar hatinya bisa tenang, jangan menampakkan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Akan tetapi itu mustahil, karena Elvano menyadari bahwa saat ini Isyana membutuhkan pundak untuk bersandar.

“Pak Elvano,” sapa Isyana.

“Bu Isyana, kita bertemu lagi,” ucap Elvano tersenyum.

“Ya, aku juga tidak percaya kita banyak bertemu akhir-akhir ini,” jawab isyana dengan tersenyum canggung.

“Kata orang jika kita sering bertemu secara tidak sengaja, itu sudah takdir,” tutur Elvano seraya berpaling menatap kue-kue yang berada di dalam etalase.

Deg.

Jantung Isyana berdetak sangat cepat saat itu. Dia menoleh menatap wajah tenang Elvano yang tersenyum menatap deretan kue. Air matanya hampir terjatuh, tapi dengan cepat dia usap.

“Saya mau yang ini, Mba,” kata Elvano menunjuk salah satu kue.

“Baik Pak.” Pegawai toko mengambil kue yang dipilih Elvano dari etalase.

“Ibu mau kue yang mana?” tanya pegawai itu pada Isyana.

“Saya mau brownis coklat itu,” jawab Isyana seraya menujuk kue pilihan nya.

“Baik, mohon di tunggu kami akan bungkus kuenya ... untuk pembayaran silahkan ke kasir.” Pegawai itu pun pergi.

“Untuk suami mu?” tanya Elvano tiba-tiba.

“Hah?” Isyana menoleh ke arah Elvano.

“Itu Brownisnya ... karena setahuku kamu suka brownis tiramitsu.” Elvano menunjuk brownis tiramitsu yang juga ada di dalam Etalase.

Isyana tertegun.

“Ternyata kamu masih mengingat kue kesukaan ku, El. Tapi kenapa kamu tidak melupakan nya saja, bukan kah aku sudah menyuruhmu untuk melupakan kenangan kita?” batin Isyana.

“Mba, tolong bungkuskan brownis tiramitsu nya juga,” ucap Elvano kepada pegawai toko.

“Baik, Pak. Bayarnya dikasir ya,” jawab pegawai toko.

Elvano menatap Isyana yang sedari tadi menatap nya terus menerus.

Isyana pun tersadar dia segera memalingkan wajah. Lalu berjalan cepat ke arah kasir. Saat Isyana mengeluarkan kartunya. Elvano memberikan kartu nya kepada kasir terlebih dulu.

“Semuanya di bayar pakai ini, Mba.”

“Baik, Pak.” Kasir itu menerima kartu Elvano.

“Anggap saja sebagai tanda terima kasihku, karena kamu mau bermain dengan Nino di hari parenting waktu itu.” Elvano menatap Isyana dan tersenyum. Membuat jantung isyana semakin berdetak tidak karuan.

“Silahkan, Pak. Ini kuenya ... brownis tiramitsunya ada di kotak berwarna pink,” ucap pegawai itu memberikan kotak-kotak berisi kue yang mereka beli.

Diluar toko, Elvano meraih tangan Isyana.

Langkah Isyana terhenti dia menoleh ke arah Elvano yang berada di belakang nya.

“Ini untukmu,” ucap Elvano memberikan kotak kue berwarna pink ke tangan Isyana.

Isyana mengerutkan dahinya menatap penuh tanya. “Pak Elvano, anda tidak perlu seperti ini hanya untuk berterima kasih. Nino sudah saya anggap seperti murid yang lain, dan sudah kewajiban saya untuk berinteraksi pada semua murid.”

“Ini bukan untuk tanda terima kasih, tapi untuk pertemuan kita lagi,” ucap Elvano.

Isyana terdiam tidak bisa berkata-kata. Elvano berhasil membuat bibirnya membeku. Isyana pun mengalihkan pandangan nya ke lain, berusaha menetralkan perasaan nya saat ini. Jangan sampai dia kembali jatuh tidak berdaya kepada Elvano.

Tiba-tiba saja rintikan hujan jatuh ke kepala Isyana. Dia menengadah menatap langit yang saat itu sangat gelap. Isyana menoleh kearah Elvano yang membuka jasnya kemudian menutupi kepala Isyana mengunakan itu.

“Dimana mobilmu? Biar aku antar ke mobil,” ucap Elvano.

“Aku naik taksi online, tinggalkan saja aku disini. Aku bisa menunggu di dalam toko,” ucap isyana seraya menjauh sedikit dari tubuh Elvano yang kini sangat menempel padanya.

Bukan nya meninggalkan Isyana. Elvano malah menggandeng tangan Isyana dan mengajak nya berlari di tengah hujan. Isyana tidak bisa apa-apa selain mengikuti langkah Elvano. Tiba-tiba dia teringat saat mereka juga berlari seperti ini saat hujan waktu di Newyork.

Elvano membukakan pintu mobil untuk Isyana. “Masuklah.”

Isyana diam dan menatap Elvano.

“Masuklah, hujan nya semakin deras,” ucap Elvano dengan mata yang berkedip-kedip karena rintikan air hujan.

Isyana yang melihat nya pun langsung masuk kedalam mobil Elvano. awalnya ragu tapi melihat Elvano kebahasan karena melindunginya dari hujan. Dia pun tidak punya pilihan lain selain masuk kedalam mobil pria itu.

Isyana memperhatikan Elvano yang berlari memutari mobil lalu masuk ke kursi kemudi. Isyana merasa aneh dengan pria yang ada di sebelahnya itu. Bukan nya pergi meninggalkan nya, tapi Elvano malah rela di guyur hujan hanya untuk melindungunya. Bahkan saat ini dia malah tersenyum seperti orang bodoh.

“Pakai ini, untuk mengeringkan rambutmu,” Elvano memberikan handuk kecil yang dia ambil dari dashbor mobilnya.

“Kenapa diam?” Elvano bertanya heran melihat Isyana mematung.

Isyana mengusap-usap kepalanya dengan handuk tersebut menggunakan tangan kanan nya.

Elvano menarik tangan kanan Isyana, melihat bekas memar ditangan wanita itu. “Tangan mu terluka, Bu Isyana.”

“Tunggu sebentar, aku carikan salep penghilang memar,” ucap Elvano seraya bergerak sibuk mencari sesuatu di dalam kotak P3k kecil.

Isyana pun menutup kotak tersebut dan menatap Elvano dengan lekat. Begitu pun juga dengan Elvano yang terdiam menatap Isyana.

“Nggak usah repot-repot, aku bisa mengatasinya sendiri,” ucap Isyana datar sembari memalingkan wajah nya menatap luar jendela.

Seperti sebuah batu yang dilemparkan Isyana ke dadanya. Elvano seketika itu juga membisu seribu kata. Dia tidak sadar kalau sikapnya barusan membuat Isyana tidak nyaman.

“Maafkan aku,” ungkap ELvano.

“Tidak apa-apa,” jawab Isyana pelan. Masih dengan tatapan nya ke arah luar jendela. Elvano pun menyalakan mobil, lalu mengemudi dengan tenang di tengah hujan deras. Isyana memberitahu lokasi tempat tinggal sang ayah kepada Elvano.

Setelah sampai ke kediaman Pak Germian Sen, ayah Isyana.

“Maafkan atas kelancangan ku tadi, Bu isyana.” Elvano memasang wajah bersalah.

“Tidak apa-apa, Pak Elvano.” Isyana tersenyum.

Saat dia membuka pintu dan hendak keluar dari mobil. Isyana terhenti dan menoleh ke arah Elvano. “Sebenarnya kue ini, untuk ayah ku ... terima kasih juga untuk kue ini.”

Lalu dia menutup pintu mobil dan berlari masuk kedalam rumah mewah milik sang ayah. Elvano tertegun mendengar ucapan Isyana. Dia geleng-geleng kepala sambil tersenyum menggaruk kepala belakangnya.

“Ternyata aku salah paham, aku pikir brownis coklat itu untuk suaminya ... Elvano kamu pasti sudah gila, kenapa perasaanmu padanya tidak bisa hilang. Padahal sudah tiga bulan berlalu setelah kalian mengakhiri hubungan salah itu.” Elvano menggerutui dirinya sendiri di dalam mobil.

To be continued....

1
Elok Pratiwi
cerita tidak menarik
Elok Pratiwi
sangat tidak menarik tokoh utama wanita nya lemah hanya bisa menangis .. cerita yg sangat buruk
Cis Siu
uhuy
Ruth Khoiriyah
sama mbuletnya thor kenapa ceritanya mbulet
Ruth Khoiriyah
mbulet coba langsung ambil perusahaan nya aja biar tau rasa
Endang Supriati
oneng si isyana, lola lemot
Endang Supriati
ya iyalah ibunya berzinah, anak yg jadi korvan. adq hadisnya.
Wiwit
bingung dgn cerita isyana nya bodoh atw gmn ya
A Yes
❤️❤️❤️🌺🌺🌺🌺
A Yes
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
A Yes
ikuuuut💃💃💃💃😂😂😂😂😂✌️😅
YuWie
bunga untuk evan yg bisa teges...
YuWie
el gak peka..tio aja paham
YuWie
heran aku..gampang bgt diprovokasi. wong ya sdh tau sama2 janda dan duda dan ada anak. Isyana malah perasa bgt klo sama nino..
YuWie
duluuu disia2 elvanonya..sekarang kelimpungan sendiri nabila.
YuWie
ngonooo wae..nino ya gitu, dah pernah diabaikan ibunya jadinya skrg cari perhatian.
YuWie
hah
YuWie
ini baru laki2 hentelmen...gak dibalas cintanya mundur bukannya bikin hal yg licik2
YuWie
nahhh gitu...komunikasi tanpa emosi.
YuWie
buruk banget sih komunikasi el dan is.. padahal sdh sama2 pernah gagal tapi gak belajar dr kegagalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!