Mutiara, gadis yang menjadi korban keegoisan kedua orang tua berjuang untuk terus melanjutkan hidup dengan baik dengan bantuan sang eyang.
Namun saat orang terakhir yang menjadi alasan untuk hidup telah pergi untuk selamanya membuat Mutiara semakin terpuruk.
Namun hidup tidak lah seburuk itu.
Karena takdir memberikannya seseorang yang akan kembali menjadi alasan dirinya bisa kembali tersenyum pada kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Memanfaatkan fokus Rayden yang terbagi, Mutiara berusaha keluar dari kungkungan pria itu namun gerakannya kalah cepat dengan gerakan tangan Rayden.
"Mau kemana?" tanya Rayden yang sudah membawa Mutiara kembali ke dalam kungkungannya.
"Kak Ray, lepas"
Mutiara menghentakkan tangannya berusaha lepas dari genggaman tangan Rayden. Namun se kuat apapun usahanya semua berakhir sia-sia karena bukannya terlepas Mutiara malah merasakan sakit dan kulitnya memerah.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri Ara" Rayden mengerutkan keningnya merasakan kerasnya hentakan tangan Mutiara, dia segera melepaskan genggaman tangannya tapi tidak posisi tubuhnya. Dirinya masih mengungkung Mutiara bahkan kini jaraknya semakin rapat, Rayden memeluk Mutiara sembari mengelus rambutnya sayang.
"Kak, ku mohon jangan seperti ini"
Detak jantung Mutiara terasa begitu cepat, ada rasa nyaman serta takut hadir secara bersamaan.
"Kamu inginnya seperti apa?"balas Rayden pelan. dia menyukai posisi seperti ini.
"Kak kita bicarakan baik-baik dengan posisi yang baik-baik juga"
"Memang posisi kita tidak baik, hmm?"
"Tidak nyaman kak"
"Buat nyaman, sayang"
Mutiara menghela nafasnya pelan, rasanya sesak dengan posisi yang sangat intim seperti ini. Posisi yang tidak pernah Mutiara rasakan sebelumnya karena selama ini dia terus menjaga jarak dari lawan jenisnya. Mutiara memberanikan diri mendongakkan kepalanya menatap Rayden.
Rayden melihat mata Mutiara yang sudah berkaca-kaca merasa sedikit bersalah. Dari dulu dia tidak pernah suka jika Mutiara bersedih. Bahkan beberapa tahun dia sanggup menjauh dari kehidupan Mutiara karena gadis itu memohon dengan sangat untuk tidak melaksanakan niatnya.
Tapi yang dilihatnya hari ini merubah segalanya. Jika Mutiara sudah bisa menerima pria dalam hidupnya, maka Rayden akan memastikan bahwa pria itu adalah dia. Rayden tidak akan pernah rela jika Mutiara jatuh ke tangan pria lain.
Rayden mundur satu langkah, menjaga jarak dari Mutiara.Dilihatnya gadis itu dengan tatapan sendu. Di ambilnya tangan mutiara serta dibawanya duduk dikursi sedangkan Rayden berlutut didepan Mutiara.
"Kak jangan seperti ini"
Mutiara ingin berdiri tapi tidak bisa karena Rayden menahannya.
Mutiara benar-benar tidak nyaman dengan posisi mereka seperti ini. Memang siapa dia yang bisa membuat seorang Rayden Moviek berlutut seperti itu.
Sejak Mutiara bisa mengingat, Rayden memang selalu menjaga dan memanjakannya hingga usia 12 tahun. Hingga saat dia memasuki awal masuk kuliah, hubungan keduanya Awalnya dia berpikir sikap Rayden seperti itu karena menganggapnya sebagai adik, namun beberapa tahun yang lalu tiba-tiba Rayden mengungkapkan perasaannya.
Mutiara benar-benar terkejut dengan pengungkapan rasa yang di lakukan Rayden. Tidak taw bagaimana membalas perasaan itu, Mutiara memutuskan untuk tidak menerima dan memberikan alasan yang bisa Rayden terima.
"Mutiara lihat dan dengarkan aku" titah Rayden saat Mutiara mengalihkan netranya ke tempat lain. "Mutiara" panggil Rayden sekali lagi hingga Mutiara melihatnya.
"aku tidak akan membiarkan kamu menolakku dan menerima pria lain" Rayden memandang Mutiara dengan lekat.
"Aku sudah menolak malam itu tapi tadi dia datang bersama ibunya tadi"
"Kalau aku datang bersama mommy, kamu akan menerimaku?"
"Kak Ray, kita masih keluarga"
Mutiara mengalihkan atensinya pada telapak tangan yang di genggam Rayden.
"Sudah jauh Ara"
Rayden menunduk entah bagaimana lagi dia akan menjelaskan jika dengan hubungan yang mereka miliki bukanlah penghalang untuk menjalani kehidupan rumah tangga.
Mutiara terdiam melihat Rayden yang menunduk bertumpukan tangan mereka yang saling menggenggam.
"Ayah tidak akan setuju" Tangan Mutiara mengelus rambut Rayden.
Rayden tersenyum merasakan sentuhan dikepalanya. "Aku akan bicara pada Om Dwi"
"Kak Ray...."
Perkataan Mutiara terpotong karena bunyi deringan dari ponsel Rayden namun pria itu tetap dalam posisi semula.
"Kenapa berhenti?" Rayden merasakan usapan tangan Mutiara pada rambutnya terhenti.
"Sepertinya ada yang telepon kak"
"Biarkan saja" Masih dalam posisi yang sama. Rayden merasa nyaman dengan perlakuan Mutiara.
"Mungkin itu telepon penting?"
Rayden melepaskan genggaman tangannya lalu memgambil ponsel dari saku jasnya.
"Ada apa?" Rayden terdiam sebentar "Kalau begitu tunggu sebentar lagi" sambungnya lalu menghela nafas pelan.
Rayden berdiri, merapikan serta mengancingkan jasnya.
"Aku akan pergi sekarang" Mutiara hanya bisa menganggukan kepalanya. Dia tahu kalau Rayden pastinya sangat sibuk. Hal aneh jika pria itu tetap berada di butik Mutiara seharian.
Rayden mengusap rambut Mutiara pelan. "Tunggulah, aku akan segera datang kembali"
"Jangan pernah mencoba untuk menolakku lagi" ucap Rayden penuh peringatan. Mutiara menegang saat Rayden mencium keningnya.
"Aku pergi"
Sepeninggal Rayden, Mutiara masih berada di tempat yang sama. Berusaha menenangkan diri dari degupan jantung yang terasa sangat menyesakkam, entahlah.
Rayden benar-benar berhasil membuat dunia Mutiara jungkir balik. Jika beberapa pria Yang mencoba mendekatinya mampu dibuat bungkam oleh kata-kata yang dikeluarkan Mutiara berkat keistimewaannya, maka beda halnya dengan Rayden.
Mutiara hanya mampu melihat sisi luar dari pemikiran Rayden sedangkan sisi dalam nampak kosong.
Tok.. tok...
"Masuk"
Pintu terbuka dan Salana muncul dari baliknya. Tangannya bersidekap di dada serta menatap penuh Mutiara.
"Kau harus menjelaskan yang tadi"
Mutiara hanya mengangguk pasrah. Sudah waktunya untuk memberi tahu Salana tentang hubungannya dengan keluarga Moviek.
Salana menarik nafas dan membuangnya perlahan. Bertahun-tahun bersama Mutiara ternyata ada rahasia besar yang tersimpan rapi.
"Ada Nyonya Ruzyn" Mutiara segera berdiri dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.
"Ayo turun" Mutiara merangkul lengan Salana yang wajahnya masih cemberut.
"Maaf membuatmu menunggu Nyonya" Sambut Mutiara pada wanita yang tetap cantik meski usianya sudah setengah abad lebih.
"Apa kabar sayang?" balas Ruzyn dengan senyum menawan seraya memberikan pelukan pada Mutiara.
"Baik Nyo.. "
"Mami, sayang"
"Baiklah...Mami" Mutiara masih merasa aneh saat memanggik Nyonya Ruzyn seperti itu.
"Perkenalkan ini Jihan, keponakan Mami, kalian kenalan dulu dong"
Mutiara dan Jihan saling memperkanalkan diri. Setelah sedikit berbasa-basi Ruzyn menceritakan tujuannya sampai membawa Jihan.
"Jihan ini ingin menikah dan sedang mencari gaun pengantin tapi seleranya unik. Kita sudah pergi ke beberapa desainer tapi tidak ada yang cocok dengan selera anak ini. Tapi lucunya saat melihat gaun yang Muti buat kan untuk ulang tahun Mami di dalam album, dia ingin menggunakan itu. Pusing tahu nggak sayang"
"Gaun itu kan besar mana bisa dia pake. katanya nanti dia kecilin, bisa-bisa rusakan gaun Mami" ucap mami sambil memberenggut melirik Jihan yang hanya bisa menampilkan deretan giginya yang tertata rapi.
"Jadi bisa tidak Muti membuatkan gaun pengantin untuk Jihan seperti punya tante itu?" tanya Nyonya Ruzyn pada Mutiara setelah berbicara panjang lebar.
"Maaf tan... eh maksud saya Mami. Jujur saja gaun itu terlalu sederhana untuk digunakan saat pernikahan apalagi pesta yang akan diadakan nanti bukan pesta biasa"
"Mbak, dari mana mbak tahu bagaimana bentuk pesta yang nanti digelar?"
(Ω Д Ω)
babai hadir disini untuk memberi semangat kaka author yang kecteh.. /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/