Di balik suami yang posesif, menyimpan sebuah rahasia besar!
Alan akan selalu melempar benda-benda yang terdekat dengannya ketika ia kecewa dengan Nesa, ia memang tidak pernah memukul istrinya—pria itu akan menumpahkan kekesalannya pada barang-barang di rumahnya.
Nesa sebenarnya tidak tahan lagi, tapi hanya demi Ribi—putri semata wayangnya dirinya bersabar menghadapi perangai buruk suaminya yang tempra mental. Tapi bencana itu datang, saat Nesa mengetahui jika sang suami tidur dengan wanita lain hanya satu kalimat yang terucap.
"Mari kita cerai!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 18
Hai... tahan emosi, yah. Setiap cerita atau perjalanan hidup pasti saja ada konflik. Bukannya Nesa bodoh. Tapi memang dia tipe wanita yang berbakti meski tersakiti.
Jangan lupa Follow Instagram @Novi_Wu01
_________
"Nduk!" Eriawan langsung berdiri menatap tajam ke arah putrinya. Mana mungkin dirinya bisa mengikhlaskan anak kesayangannya yang ia besarkan sepenuh hati. Dan kini ia akan kembali pada si bede*ah yang telah menghancurkan hidup Nesa. Lelaki paruh baya itu tidak mungkin tinggal diam. "Nduk! Ingat penderitaanmu!" pekik ayahnya sekali lagi.
"Pak... biarkan Nesa berbakti pada mas Alan untuk terakhir kalinya," sahut Nesa dengan berderai air mata yang merembes keluar dari kedua pipinya.
"Iya... Bapak tau kalau kamu adalah tipe anak penurut, tapi, Nes. Kamu pikirkan kebahagiaanmu juga!" tukas si Bapak yang tak kuasa menyaksikan kebodohan anak pertamanya itu. Nesa memang dibesarkan dengan penuh kasih sayang dengan kedua orang tuanya. Ketiga anak Eriawan memang tipe anak-anak penurut, dan lemah lembut—mungkin karena Eriawan dan istrinya mengajarkan unggah-ungguh leluhur mereka—Jawa. Tapi kali ini Nesa harus menolak dan berontak, keluar dari ajarannya sejak kecil. Hanya demi kebahagiaan wanita itu.
"Kalau Nesa-nya mau kembali dengan Alan. Seharusnya bapak Eri tidak boleh mencegahnya," celetuk mama Alan, yang mulai ingin menunjukkan taringnya.
"Apa?!" Nada suara Eriawan mulai meninggi. Karena sejak awal sebenarnya ia sudah ingin mengungkapkan isi hatinya. Tapi semua itu ia tahan hanya demi tidak ingin harga diri keluarganya jatuh begitu saja dan diinjak oleh keluarga Alan. Tapi ketika diamnya semakin ditekan. Maka ia juga harus melawan. "Kalian pikir masa depan anak saya tidak akan suram?! Ketika dia kembali dengan anak kalian, 'ha! Enam tahun bukan waktu yang sebentar, selama itu juga anak saya hidup di bawah tekanan suaminya. Dan lagi si b*j*ngan yang Anda banggakan itu, telah tidur dan bahkan mende*ah di atas tubuh seorang wanita malam! Dan kini ia tergolek lemah di atas tempat tidur rumah sakit menanti vonis penyakit mematikan!" seru Eriawan, dengan satu tarikan napas.
Kedua orang tua Alan terdiam seolah mulut kedua terkunci karena merasa malu karena kelakuan putra mereka.
"Tapi pak, ini keputusan Nesa. Nesa hanya ingin mengabdikan diri kepada suami Nesa."
"Maksudmu dengan konsekuensi kamu bakan tertular penyakit sama dengan suamimu?" dengus Eriawan mencoba menyadarkan Nesa yang bersikeras dengan upayanya kembali kepada pria yang tidak pernah memperlakukannya dengan baik itu. Karena jika Nesa dan Alan hidup bersama otomatis tidak mungkin jika Alan tidak berhasrat dengan Nesa. Dan sudah pasti lelaki itu akan menjamah Nesa, membayangkannya saja—lelaki paruh baya itu merasa ngeri.
"Nesa siap!" ucap Nesa, dengan penuh percaya diri.
"Nesa! Kamu gila!" Mata Eriawan hampir saja melotot dan reflek tangannya ingin memukul sang putri.
"Pak—" Ibu Nesa langsung menenangkan suaminya yang tengah emosi menghadapi putrinya.
"Terserah koe, Nduk! Bapak sudah nggak bisa mencegahmu. Tapi satu hal yang Bapak Ibumu ini minta. Jika kamu ada apa-apa, jangan pulang ke rumah ini!" Eriawan beranjak dari tempat duduknya. Dan pergi meninggalkan ruang tamu dengan amarah bercampur dengan kesedihan. Sementara Nesa hanya bisa menangis tersedu saat mendengar Ayahnya berkata demikian.
"Kemasi barangmu, Nes!" Mertua Nesa berkata namun dengan nada yang tidak enak didengar.
Nesa berjalan ke kamarnya, mengambil tas dan memasukkan barang-barangnya ke dalam benda berwarna hitam itu. Ia harus kembali ke Jakarta, sekarang juga. Melanjutkan penderitaan yang diciptakan olehnya sendiri.
Ibu Nesa masuk ke dalam kamar putrinya, dengan gurat kesedihan di wajahnya yang sudah mulai keriput. Wanita paruh baya itu, sebenarnya juga tidak setuju dengan keputusan putrinya, tapi Nesa sudah dewasa dan tidak bisa lagi dicegah apapun keputusannya.
"Nduk. Kamu yakin?"
"Njih, Buk. Nesa yakin." Tangan Nesa masih sibuk melipat baju Ribi dan memasukan ke dalam tas besar tersebut.
"Bapakmu marah, dan bilang nggak akan bela kamu kalau ada apa-apa. "
"Itu konsekuensi yang harus Nesa terima, Buk."
"Ibuk cuma bisa doain kamu, semoga selamat dunia akhirat." Keduanya saling berpelukan, melepas kesedihan. Begitu berat untuk seorang ibu melepaskan anak kandungnya sendiri, bahkan ia tahu kemana putrinya akan pergi, dan apa yang akan dihadapi Nesa ke depan..
Nesa keluar perlahan, semantara Ribi di gandeng dengan Papa Alan. Eriawan tidak mengantar kepergian putrinya dan memilih berdiam diri di kamar.
***
Sesampainya di rumah sakit yang berada di Jalan Kawi Semarang. Alan ditempatkan di ruangan VIP rumah sakit tersebut, semantara orang tua Alan menginap di hotel yang ada tepat di depan rumah sakit tersebut.
Kedua orang tua Alan memerintahkan menantunya untuk agar menjaga Alan yang tengah tergolek lemah, dan bersiap untuk dipindahkan di rumah sakit ibu kota hari ini juga.
Wanita itu menuruti perintah mama Alan dan pergi menemui suaminya. Saat ia membuka pintu kamar Alan ia melihat pria itu tengah memejamkan matanya.
Mendengar suara pintu terbuka, Alan mengerjapkan mata, mendapati istrinya telah berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.
"Nes... kamu kok kesini?"
"Aku mau ikut kamu pulang, Mas."
Mendengar ucapan Nesa membuat Alan bahagia, di sisi lain, ia juga ingin melihat Nesa hidup bahagia. Alan menghela napas panjang, lalu berkata, "Nes... pulanglah ke orang tuamu. Aku akan menceraikanmu mulai hari ini—aku talak kamu."
"Tapi, mas—"
"Nes, ini keputusanku. Aku tau selama kamu hidup bersamaku, kamu sekalipun nggak pernah bahagia. Kali ini aku minta sama kamu, carilah pasangan hidup yang baik, dan bisa menjadi ayah sambung buat Ribi."
"Mas...." Air mata Nesa seketika mengalir deras, hatinya hancur. Seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tapi ini sudah keputusan Alan. Pria itu telah menolak dirinya, otomatis keduanya sudah bercerai secara agama.
"Pulanglah ke rumah Bapak. Pasti Bapakmu juga kecewa dengan keputusanmu. Biar aku di sini menanggung segala dosaku terhadapmu sendiri. "
Bersambung--
Jangan lupa tinggalkan kesan dan pesan di kolom komentar.
Tencu,
Novi Wu
suka bgt
mudah2 Han author nya GX lama2 up ny