Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Mulai Menyayangi
"Kamu pikir pernikahan kamu ini main-main, Medisya?! Tidak masalah jika kamu memang belum bisa menerima semua ini! Tapi tolong, hormati Alvian sebagai suami kamu!"
Bentakan Haris membuat Medisya memejamkan matanya erat. Ia hanya bisa terisak di pelukan Senja yang terus melindunginya.
Haris marah karena Alvian membawa Medisya pulang ke rumah tengah malam tadi. Mungkin Haris masih bisa mengontrol kemarahannya jika memang mereka berniat untuk pulang. Tapi setelah medengar penjelasan Alvian, tentang Medisya yang tidak nyaman tidur di rumah besar Abraham membuat Haris benar-benar emosi.
Sikap Medisya membuatnya merasa malu pada keluarga besar Alvian. Bagaimana bisa Medisya dengan egois tidak memikirkan perasaan Alvian dan keluarganya.
Apalagi sekarang Alvian tengah demam tinggi. Sudah jelas penyebabnya karena kelelahan dan selama ini tidak nyaman tidur di sofa.
"Sekarang Alvian sakit! Seharusnya kamu bangga karena Alvian mau menjaga kamu dan mementingkan perasaan kamu, Sya! Tapi ego kamu justru semakin tinggi. Ayah merasa malu pada Alvian!"
"Sudahlah, mas. Lagian Medisya--"
"Kamu juga! Sikap kamu yang terus membela Medisya membuatnya tidak mau berpikir jauh!" Sentak Haris pada Senja.
"Kenapa ayah selalu membela Mas Alvian? Ayah nggak mikirin perasaan aku?" Tanya Medisya memberanikan diri.
Haris menghela nafasnya kasar kemudian duduk di sofa. "Ayah tidak membelanya. Alvian memang salah. Tapi dia sudah mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Kamu merasa paling menderita karena terus memandang sisi buruk Alvian. Coba mulai sekarang lihat kebaikannya. Jadi kamu bisa mengerti kalau Alvian sangat menghargaimu sebagai seorang istri dan juga ibu dari anaknya."
Penuturan Haris berhasil membungkam Medisya. Perempuan itu menunduk dalam tanpa bisa menghentikan air matanya.
"Sudahlah. Berhenti menangis. Lebih baik kamu menyiapkan sarapan untuk Alvian dan minta dia untuk meminum obat," titah Haris tidak mau dibantah. Ia melirik Senja. Meminta istrinya untuk menyuruh Medisya melakukan apa yang ia minta.
Medisya mengikuti Senja ke dapur. Ia hanya berdiri pinggir meja pantry tanpa mau membantu Senja menyiapkan sarapan Alvian.
"Aku salah ya, bunda?" Tanya Medisya dengan tatapan kosong. Kata-kata Haris terus berputar dikepalanya.
"Menurut bunda iya, kamu memang salah. Seharusnya kamu bisa bertahan di situasi yang membuat kamu takut. Kamu harus bisa mengilangkan trauma kamu, Sya."
Senja tidak ingin membohongi Medisya dengan mengatakan perempuan itu tidak salah. Karena itu tidak akan baik untuk sifat Medisya kedepannya.
"Ini."
Senja menyodorkan nampan berisi sepiring nasi dengan lauknya, segelas air, dan juga beberapa butir obat.
Meski ragu, Medisya tetap membawa nampan itu menuju kamarnya. Ia membuka pintu, melihat Alvian sedang duduk di sofa sembari menempelkan ponsel di telinganya.
"Iya, kakak akan usahakan menemui kamu besok atau lusa. Kamu belajar yang rajin ya di sekolah. Hm,, love you more."
Alvian menaruh ponselnya kemudian mengangkat satu alisnya melihat Medisya masih berdiri di dekat pintu.
Medisya yang tersadar dari lamunannya berjalan mendekati Alvian. Ia menaruh nampan yang ia bawa di meja lalu duduk di samping suaminya itu.
"Siapa yang telfon?" Tanya Medisya basa-basi.
"Lily." Alvian memiringkan kepalanya ke samping kanan dan kiri guna mengurangi pegal di lehernya. Menyadari wajah Medisya yang sembab membuat Alvian mengernyit. "Kamu habis menangis?"
Medisya menganggukan kepalanya. Jari jemarinya saling tertaut, menandakan ia sedang gelisah sekarang.
"Kenapa?"
"Dimarahin ayah tadi," balas Medisya jujur.
"Memangnya kamu berbuat salah?"
"Ayah bilang aku salah karena pulang ke rumah ini."
"Apa kamu tidak mengatakan bahwa aku yang membawamu pulang?"
"Mas Alvian ngajak aku pulang juga karena aku, kan? Tetap aja aku salah."
Alvian menatap Medisya lekat. Lalu tersenyum kecil. "Maaf," ucapnya tulus, "maaf karena sudah membuatmu takut kemarin."
Bukannya senang dengan permintaan maaf Alvian, Medisya justru kembali menangis. Bahkan perempuan itu sampai memeluk Alvian erat. Membuat pria itu mematung ditempatnya.
"Kenapa Mas Alvian minta maaf? Aku jadi ngerasa semakin bersalah," tutur Medisya sembari menghirup dalam aroma menenangkan dari tubuh Alvian.
Tangan Alvian terasa kaku untuk membalas pelukan Medisya. Entahlah, mungkin ia terlalu terkejut akan sikap Medisya ini.
"Jika aku tidak meminta maaf, maka hubungan kita akan stuck pada satu titik kesalahan. Aku tidak ingin seperti itu," jelas Alvian.
"Tapi Mas Alvian menikahi aku cuma karena tanggung jawab, kan? Mas Alvian bisa saja mencer--"
"Hey."
Alvian menghentikan kalimat Medisya dan memaksa perempuan itu menatapnya. Mau tidak mau Medisya melepaskan tangannya dari tubuh Alvian.
"Berapa kali harus aku katakan berhenti berpikiran buruk, Medisya?! Aku tidak main-main dengan pernikahan ini."
Untuk pertama kalinya Medisya menatap Alvian lekat. Ia berusaha mencari kebohongan di sana. Namun ia tidak bisa menemukannya.
Melihatnya membuat Alvian mengangkat sudut bibirnya. Ia menarik tengkuk Medisya dan mengecup keningnya lembut.
"Jangan nangis lagi. Nggak baik buat bayi kita," ucap Alvian. Ia mengambil makanan yang dibawa Medisya.
"Ini buat aku, kan?" Tanyanya sembari menyendok nasinya.
Medisya mengangguk dan memandang Alvian yang menikmati sarapannya. Berada dalam kedekatan seperti ini ternyata tidak semenakutkan yang ia kira. Ayahnya benar, selama ini ia merasa takut karena terus mengingat sikap kasar Alvian tanpa memandang sisi baiknya.
"Kamu sudah makan?" Tanya Alvian membuat Medisya sedikit tersentak
"Udah tadi."
"Susunya sudah diminum, kan?"
"Udah, maas."
Alvian terkekeh mendengarnya. Setelah selesai menghabiskan sarapannya, ia langsung meminum obat yang disiapkan. Setelah itu ia kembali menyandarkan tubuhnya dan menarik Medisya ke dalam dekapannya. Ia tersenyum merasakan pelukan singkat dari Medisya tadi terasa candu.
"Besok aku mulai kerja di kantor. Kamu tidak masalah 'kan aku tinggal?"
"Iya," balas Medisya singkat. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Alvian. Rasanya sangat nyaman berada dalam posisi seperti itu.
"Aku mau tinggal di apartemen lagi, mas," lirih Medisya membuat Alvian membuka matanya lebar. Ia tidak yakin dengan pendengarannya tadi. Medisya ingin tinggal di apartemen lagi?
"Mas Al?" Panggil Medisya saat Alvian tak kunjung bersuara.
"Kamu yakin?"
Medisya mengangguk mantap. Ia mengeratkan pelukannya pada Alvian. Entah kenapa Medisya merasa bodoh karena selalu menolak pelukan Alvian yang menenangkan.
"Kata Mas Alvian aku harus mencoba menghilangkan ketakutanku."
"Aku memang memintamu untuk melakukan itu. Tapi jika kamu belum bisa ya jangan dipaksakan. Aku takut itu akan berpengaruh pada kesehatan kamu dan anak kita," ucap Alvian sembari mengusap rambut beraroma melon itu.
"Tapi aku mau mencobanya," kekeh Medisya.
Alvian menarik nafasnya dalam. Meski ragu, ia tetap mengangguk. Karena sejujurnya ia bahagia karena Medisya mau mencoba hal besar itu. "Baiklah kalau itu mau kamu. Kita pindah nanti sore, ya?"
"Iya."
"Medisya," panggil Alvian dengan mata terpejam. Menikmati hangat tubuh Medisya di pelukannya.
"Hm?"
"Mau dengar sesuatu?"
"Apa?"
"Sepertinya aku mulai menyayangimu."
###