NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KENAPA HARUS SUAMIKU, BU?!

Prang!

Prang!

Suara benda-benda yang jatuh dan pecah memenuhi gudang itu. Nafisa berdiri di tengah ruangan dengan napas terengah-engah.

Namun, menghancurkan barang-barang di ruangan itu ternyata belum cukup untuk meredakan amarahnya.

Matanya memerah. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai menggenang, tetapi ia segera menyekanya dengan kasar.

“Rumahku ... sudah kotor,” gumamnya lirih.

Tatapannya menyapu ruangan yang kini berantakan. Ranjang, perabot, dan benda-benda yang menjadi saksi perselingkuhan suami serta ibunya itu membuat perutnya terasa mual.

Selama ini, dirinya adalah istri dan anak yang paling beruntung bisa mendapatkan dua rumah sekaligus untuk menyampaikan keluh kesahnya.

Namun yang ada justru pengkhianatan dari dua orang yang dirinya percayai.

“Mas Damar, Bu Yulia ... kalian benar-benar keterlaluan!”

Suara Nafisa bergetar. Ia berusaha menahan tangis yang kembali mendesak keluar.

Lalu ia menghembuskannya perlahan. Setelah mengambil kertas yang tadi terjatuh di dekat ranjang, ia melipatnya dengan tangan gemetar dan menggenggamnya erat.

Ia akan menyimpan bukti itu. Kemudian melangkah keluar dari gudang. Langkahnya cepat menyusuri halaman belakang menuju dapur.

Setibanya di dapur, Nafisa segera menghampiri tempat penyimpanan barang-barang. Ia mengambil sebuah dirigen besar berisi bensin, lalu membawanya kembali ke halaman belakang.

Langkahnya terhenti tepat di depan gudang.

“Bagaimana pun caranya, tempat zina seperti ini harus ku lenyapkan.”

Nafisa kemudian mengelilingi gudang itu. Lalu ia kembali masuk ke dalam ruangan tersebut.

Pandangan matanya menyapu setiap sudut kamar rahasia itu. Ranjang, perabot, hingga benda-benda menjijikkan yang ditemukan sebelumnya masih berserakan di sana.

“Cukup sampai di sini.”

Ia segera kembali menyiramkan bensin itu ke kasur dan setiap sisi ruangan.

Setelah di rasa cukup, Nafisa keluar dari gudang, lalu menyalakan api menggunakan korek yang telah disiapkannya. Api mulai menyambar benda-benda di dalam ruangan hingga asap perlahan membubung dari bangunan tersebut.

Nafisa mundur beberapa langkah. Matanya terpaku pada kobaran api yang semakin membesar.

Nafisa kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Jemarinya bergerak membuka daftar kontak, mencari nomor telepon ibu mertuanya.

Setelah menemukannya, ia segera menekan tombol panggil sambil tetap menjaga jarak dari bangunan yang terbakar.

Beberapa saat kemudian, panggilan itu akhirnya tersambung.

“Nafisa, ada apa?” Suara Bu Suci terdengar dari seberang telepon.

Nafisa mengalihkan pandangan dari gudang yang masih terbakar.

“Bu, nanti malam bisa datang ke rumah?” tanyanya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.

“Ada apa, Nak? Kamu punya masalah?”

“Ada, Bu, tapi cuma masalah kecil. Ibu sama Ayah datang ya.”

Ia sengaja tidak menjelaskan lebih jauh.

“Baiklah. Nanti Ibu bilang kepada Ayah, ya.”

“Iya, Bu. Terima kasih.”

Setelah berpamitan, Nafisa mengakhiri panggilan tersebut. Namun di dalam pikirannya melayang satu nama.

Dewangga.

Atasannya itu mungkin bisa membantunya menghadapi masalah yang kini menghancurkan rumah tangganya. Terlebih lagi, Dewangga memiliki pengaruh dan koneksi yang bisa ia manfaatkan.

Jemarinya bergerak menyusuri nama-nama yang tertera hingga berhenti pada satu nama.

Dewangga.

Ia menatap nama itu selama beberapa detik, kemudian menekan tombol panggil.

Setelah memastikan panggilannya tersambung, Nafisa segera mendekatkan ponsel ke telinga.

“Pak ...”

“Ada apa, Naf. Kangen sama saya?”

Nafisa memejamkan mata sejenak, menahan keinginan untuk menghela napas panjang.

“Bukan, Pak. Saya mau minta bantuan Bapak.”

“Bantuan apa?”

Nafisa menggenggam ponselnya lebih erat. Ia berusaha menguatkan hati sebelum menyampaikan tujuannya.

“Carikan saya pengacara, Pak. Saya mau bercerai dari suami saya.”

Sejenak, tak terdengar jawaban dari seberang.

“Loh, kenapa bercerai? Bukannya kamu cinta mati sama suami kamu”

Nafisa mengembuskan napas perlahan. Pandangannya beralih ke gudang yang masih dilalap api.

“Pak, tolong jangan bahas itu dulu. Saya ingin segera berpisah dari Mas Damar. Kalau bisa, proses perceraian saya segera dimulai. Saya punya banyak bukti, Pak. Tolong bantu saya.”

Namun, jawaban yang diterimanya justru membuatnya terdiam.

“Tidak gratis, Naf.”

Nafisa mengernyit. “Bapak mau minta bayaran apa? Saya akan bayar.”

“Besok, datang ke ruangan saya. Saya tunggu.”

“Baik, Pak, tapi—”

Tut.

Sambungan terputus sebelum Nafisa sempat menyelesaikan kalimatnya.

Ia menjauhkan ponsel dari telinga, lalu menatap layar dengan alis berkerut.

“Pak? Halo?”

Tidak ada jawaban. Panggilan itu benar-benar telah berakhir.

Nafisa mendecakkan lidah pelan, lalu menurunkan tangannya.

“Pak Dewangga ... apa sebenarnya yang Bapak inginkan dariku?” gumamnya kesal.

. . .

Malam pun tiba.

Nafisa duduk di sofa ruang tamu dengan punggung bersandar pada sandaran. Tatapannya kosong mengarah ke layar laptop yang terbuka di atas meja. Di sana, sejumlah foto dan rekaman telah tersimpan rapi. Semuanya merupakan bukti pengkhianatan Damar dan ibunya.

Tepat saat itu, suara mobil terdengar dari halaman rumah.

Nafisa tidak langsung beranjak. Pandangannya justru beralih ke jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

“Pasti Mas Damar,” gumamnya pelan.

Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Nafisa tetap duduk di tempatnya tanpa menoleh untuk memastikan siapa yang baru saja masuk.

“Naf ...”

Suara yang sudah dikenalnya itu terdengar dari arah pintu.

“Mas, duduk dulu di sini,” pinta Nafisa tenang.

Terdengar langkah kaki mendekat. Dari sudut matanya, ia melihat Damar berjalan menghampiri sofa, lalu duduk tepat di sebelahnya.

Nafisa segera menggeser tubuhnya menjauh. Ia tidak ingin bersentuhan dengan pria yang selama ini menjadi suaminya, tetapi diam-diam telah mengkhianatinya.

“Ada apa, Naf?”

“Tunggu saja, Mas. Nanti juga Mas akan tahu,” jawab Nafisa tanpa menoleh sedikit pun.

Ruang tamu kembali sunyi. Nafisa mengarahkan pandangannya ke layar ponsel, berpura-pura sibuk

“Mas, kamu masih ingat perjanjian kita, kan?”

Damar mengernyit. “Perjanjian apa?”

Nafisa menarik napas perlahan sebelum menjawab.

“Perjanjian yang menyatakan bahwa kalau salah satu dari kita melakukan kesalahan besar, seperti berkhianat, seluruh harta bersama akan menjadi milik pihak yang tidak bersalah.”

Ia berhenti sejenak, memastikan Damar memperhatikannya.

“Kita sudah menandatangani perjanjian itu sebelum menikah. Semuanya juga sudah disahkan secara hukum.”

Damar terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil.

“Ya, Naf. Mas ingat.”

“Baguslah,” jawab Nafisa singkat.

Ia kembali mengalihkan pandangan ke layar laptop. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tak mencapai mata.

Tak lama kemudian, pintu depan kembali terbuka. Dari sudut matanya, Nafisa melihat Damar menoleh ke arah pintu ketika seseorang memasuki rumah.

“Loh, Bu? Ibu kenapa ada di sini?” tanya Damar, tampak heran.

“Nafisa yang menyuruh Ibu datang. Katanya, ada sesuatu yang mau dibahas.”

“Naf—”

“Kita tinggal menunggu Ibu dan Ayah mertua datang,” potongan Nafisa.

“Mereka juga?”

“Hm.”

Setelah itu, ia kembali sibuk dengan ponselnya.

Beberapa menit berlalu, suara deru mesin mobil terdengar dari halaman.

. . .

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Nafisa menyambut kedatangan mereka.

“Nafisa ...” panggil Bu Suci begitu memasuki ruang tamu.

Nafisa menoleh sekilas kepada kedua mertuanya, lalu kembali mengarahkan pandangan ke layar laptop yang masih terbuka di atas meja.

“Duduk dulu, Bu, Ayah.”

Bu Suci dan suaminya saling berpandangan sebelum akhirnya duduk di sofa yang berhadapan dengan Nafisa.

Nafisa mengamati wajah mereka satu per satu. Kebingungan jelas terlihat dari cara mereka saling melirik.

Setelah memastikan semua orang sudah duduk, Nafisa menarik napas perlahan.

“Karena semuanya sudah datang, langsung saja, ya.”

Ia mengangkat wajah, lalu menatap Damar dan ibunya secara bergantian.

“Mas, Bu, kalian enggak punya sesuatu yang ingin disampaikan kepadaku?”

Bu Yulia mengerutkan kening. “Maksud kamu apa, Naf?”

Nafisa menatap wanita yang telah melahirkannya itu.

“Bu,” panggilnya lirih. “Katakan saja, Bu. Lagi pula, aku sudah tahu semuanya.”

Wajah Bu Yulia tampak menegang sesaat.

“Naf, sudahlah. Jangan membuat semua orang penasaran,” sela Damar. “Apa sebenarnya tujuanmu memanggil orang tua kita kemari?”

Nafisa mengembuskan napas panjang sebelum kembali mengangkat wajah.

“Kalian benar-benar enggak mau mengatakannya sendiri, ya?”

Tatapannya beralih dari Damar kepada Bu Yulia.

“Kalau begitu, biar aku saja yang menceritakan semuanya tentang kalian.”

Suasana ruang tamu seketika hening.

Nafisa kemudian menoleh kepada kedua mertuanya beberapa saat sebelum akhirnya tangannya bergerak meraih laptop di atas meja.

“Bu, Ayah, izinkan kami untuk tidak melanjutkan pernikahan ini.”

Ucapan Nafisa membuat suasana ruang tamu kembali hening.

“Jangan bercanda kamu, Nafisa! Apa alasanmu?!”

Nafisa menatap suaminya dengan dingin.

‘Kenapa dulu aku bisa begitu mudah percaya pada kata-kata manis dari mulutnya?’

Nafisa mengembuskan napas perlahan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.

“Aku enggak pernah bercanda, Mas.”

“Naf, kalau ada kesalahpahaman di antara kalian, selesaikan baik-baik. Jangan melibatkan kami. Kamu sudah dewasa, Naf.”

Nafisa mengalihkan pandangan kepada ibunya.

“Enggak ada kesalahpahaman, Bu,” jawabnya tegas. “Justru aku memang ingin melepaskan Mas Damar.”

“Nafisa!” Bu Suci segera menyahut. Wajahnya tampak cemas. “Ibu enggak mau kamu bercerai dari Damar.”

Nafisa menoleh kepada ibu mertuanya. Tatapan tulus wanita itu membuat hatinya sedikit terenyuh. Sayangnya, keputusan yang telah ia ambil tidak mungkin ditarik kembali.

“Maaf, Bu. Ini sudah menjadi keputusanku.” Nafisa menelan ludah sebelum melanjutkan, “Surat cerainya akan segera aku urus.”

“NAFISA!” bentakan Damar kembali menggema di ruang tamu. “APA KAMU MAU JADI JANDA TUA?!”

Plak!

Tamparan Nafisa mendarat di pipi suaminya hingga wajah pria itu terlempar ke samping.

Semua orang terdiam.

“Tutupi mulutmu, Mas!” bentaknya, menatap Damar dengan mata berkaca-kaca. Ia menunjuk dadanya sendiri. “Aku jadi begini karena kamu! Kamu yang membuatku mengambil keputusan ini! Karena kamu sudah mengkhianati aku, Mas.”

Damar memegangi pipinya. Tatapannya beralih kepada Nafisa dengan ekspresi tak percaya.

“A-apa maksudmu, Naf? Siapa yang mengkhianati kamu?” tanyanya terbata-bata.

Nafisa tak langsung menjawab, justru bangkit dari sofa, lalu melangkah mendekati Damar.

“Kamu, Mas Damar.”

Nafisa mengangkat telunjuknya, menunjuk tepat ke dada suaminya.

“Kamu yang mengkhianatiku.”

Kemudian, ia mengalihkan telunjuknya ke arah Bu Yulia yang duduk kaku di sofa.

“Dan dia ... ibuku sendiri juga mengkhianatiku.”

“KAMI GAK PERNAH MENGKHIANATIMU!” teriak Damar.

Nafisa menatap Damar tanpa berkedip.

“Enggak pernah mengkhianatiku?” tanya Nafisa sekali kagi.

“Ya, apa kamu punya bukti, hah?! Jangan asal menuduh! Kalau kamu menuduhku tanpa bukti, aku bisa melaporkanmu!”

Nafisa menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Bukan karena takut, melainkan karena ia nyaris tertawa mendengar ucapan pria itu.

“Kamu ingin bukti, Mas?” tanyanya. “Baiklah, akan ku tunjukkan buktinya.”

Nafisa tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia berbalik, lalu kembali duduk di sofa. Setelah meletakkan kedua tangannya di atas meja, ia mengarahkan pandangan ke layar laptop.

Ia menggeser perangkat itu ke arah kedua mertuanya, kemudian membuka berkas video yang telah disiapkannya.

Jarinya menekan tombol putar.

Rekaman pun muncul di layar. Nafisa sengaja memilih rekaman yang memperlihatkan kedekatan Damar dan mertuanya sendiri, disertai percakapan mesra yang selama ini mereka sembunyikan darinya.

Suasana ruang tamu seketika berubah tegang.

“Nafisa, dengarkan Ibu dulu, Nak.” Bu Yulia buru-buru bangkit dari sofa. “Ini cuma salah paham. Ibu dan Damar hanya Khilaf sesaat.”

“Khilaf sesaat?” sela Nafisa, menoleh tajam. “Kalau begitu, coba dengarkan yang ini, Bu.”

Ia membuka rekaman lain, lalu memperbesar volumenya.

Suara percakapan dari rekaman di dapur terdengar memenuhi ruang tamu. Nafisa masih ingat betul bagaimana ia berdiri tak jauh dari sana, merekam setiap gerakan dan perkataan mereka tanpa sepengetahuan keduanya.

“Pantas saja,” ucapnya lirih, lalu tertawa hambar. “Rupanya Ibu cemburu kepadaku, ya? Ibu enggak suka melihat aku bahagia bersama suamiku sendiri?”

“Enggak, Naf. Bukan begitu. Ibu bisa menjelaskan—”

“CUKUP, BU! Sampai kapan Ibu akan terus mengelak? Semua buktinya sudah ada di depan mata. Apa lagi yang ingin Ibu bantah?”

Ia menarik napas gemetar, lalu menatap perut ibunya.

“Dan sekarang, Ibu bahkan sedang mengandung anak suamiku sendiri!”

Nafisa melangkah mendekati ibunya. Pandangannya mulai memburam ketika menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu.

Kedua tangannya terangkat, lalu menggenggam bahu Bu Yulia. Nafisa mengguncangnya pelan, berharap ibunya segera memberikan penjelasan yang masuk akal.

“Bu, kenapa?” Suaranya bergetar. “Kenapa Ibu tega melakukan ini kepadaku?”

“Kenapa, Bu? Kenapa harus suamiku? Dari sekian banyak laki-laki di dunia ini, kenapa Ibu harus memilih Mas Damar?”

Nafisa menggeleng berkali-kali, seolah masih berharap semua yang dilihatnya hanyalah mimpi buruk.

1
Mundri Astuti
iya ih Nafisah masih percaya beud sama emaknya ..
kasih kaca yg gede emakmu Nafisah, perut dah gede gitu ..dah tua juga, masih ga insaf juga...
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!