Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017
Kenapa Tiba-tiba?
Pagi berikutnya, Louisa datang ke Tanuwijaya Group tepat pukul sembilan.
Tidak lebih awal.
Tidak membawa kopi untuk tim.
Tidak membuka laptop sambil berjalan.
Ia hanya membawa tas kerja, satu map cokelat, dan ketenangan yang terasa sedikit asing di tubuhnya.
Di lobby, ia berhenti sebentar di depan logo Tanuwijaya Group. Dulu, logo itu membuatnya bangga. Ia pernah berpikir bekerja di sini berarti berada lebih dekat dengan Kevin, lebih berguna, lebih terlihat. Hari ini, logo itu hanya logo perusahaan.
Ponselnya bergetar.
Nathanael: Ingat, serahkan ke HR dulu. Simpan bukti penerimaan.
Louisa: Iya.
Nathanael: Kalau mereka menekanmu untuk tanda tangan apa pun, foto dulu.
Louisa membaca pesan itu dan hampir tersenyum.
Louisa: Kamu terdengar seperti pengacara.
Nathanael: Aku terdengar seperti suami yang membaca kontrak.
Kata suami masih membuat dadanya tersentak kecil, tetapi kali ini bukan karena takut.
Louisa memasukkan ponsel ke tas dan naik ke lantai HR.
***
Staf HR menerima surat itu dengan ekspresi profesional yang langsung berubah waspada begitu membaca judulnya.
"Surat pengunduran diri, Bu Louisa?"
"Iya."
"Sudah dibicarakan dengan atasan langsung?"
"Belum. Saya ingin menyerahkan secara resmi ke HR dulu."
Staf itu mengangguk, lalu memindai suratnya. "Sesuai kontrak, notice period tiga puluh hari. Nanti kami jadwalkan exit interview dan koordinasi handover dengan divisi."
"Saya paham. Saya juga ingin menggunakan sisa cuti untuk memperpendek masa efektif jika memungkinkan."
Staf HR tampak sedikit terkejut mendengar jawabannya yang rapi. "Baik. Nanti kami cek saldo cuti."
"Tolong beri tanda terima."
"Tentu."
Ketika stempel HR menghantam salinan surat, suara kecil itu terasa seperti pintu yang dikunci dari sisi yang benar.
Louisa menyimpan salinan bertanda terima di map terpisah.
"Bu Louisa yakin?" tanya staf HR, kali ini lebih pelan. "Kinerjanya selama ini bagus. Biasanya perusahaan akan coba retention dulu."
Louisa tersenyum sopan. "Saya sudah mempertimbangkan."
Ia tidak berkata bahwa perusahaan hanya mengingat kinerjanya saat ia hendak pergi.
***
Kabar itu sampai ke divisi lebih cepat daripada lift.
Saat Louisa kembali ke lantai dua belas, beberapa kepala langsung menoleh. Ada suara kursi bergeser, chat yang berhenti, mata yang berpura-pura tidak melihat.
Jessica berdiri di dekat meja meeting kecil dengan cangkir kopi di tangan.
"Louisa," panggilnya manis. "Aku dengar kamu ke HR."
"Iya."
"Ada urusan apa?"
Louisa meletakkan tas di meja. "Pengunduran diri."
Cangkir Jessica berhenti di depan bibirnya.
Untuk satu detik, seluruh area divisi menjadi terlalu sunyi.
"Kamu resign?" tanya salah satu staf junior, lupa pura-pura tidak mendengar.
Louisa menyalakan komputernya. "Iya."
Jessica tertawa kecil, tetapi nadanya tidak stabil. "Aduh, jangan bercanda. Gara-gara kemarin aku minta bantu kontrak?"
"Bukan."
"Atau karena meeting vendor?"
"Bukan."
"Terus kenapa?"
Louisa menatap Jessica. "Karena aku ingin berhenti."
Jawaban itu terlalu sederhana untuk orang yang berharap drama.
Jessica tampak tidak puas. "Kevin sudah tahu?"
"HR akan mengirim notifikasi. Aku juga akan bicara langsung."
Seolah dipanggil oleh kalimat itu, pintu ruang Kevin terbuka.
Raymond keluar lebih dulu, wajahnya tegang. Ia melihat Louisa, lalu map di mejanya, lalu menghela napas pendek.
"Lulu," katanya, "Kev minta kamu masuk."
Louisa mengambil salinan surat dari map.
Jessica memperhatikan gerakan itu dengan mata tajam, tetapi Louisa tidak melihat ke arahnya lagi.
***
Ruang kerja Kevin selalu dingin.
Dinding kaca menghadap ke teluk jauh di PIK, meja kayu besar tanpa barang pribadi, dan rak belakang berisi penghargaan perusahaan. Di sudut meja, pulpen yang dulu pernah Louisa berikan masih tergeletak. Retaknya kecil di bagian tutup, tetapi masih dipakai.
Louisa melihat pulpen itu hanya satu detik.
Lalu ia mengalihkan pandangan.
Kevin berdiri di belakang meja dengan surat HR di tangan. Wajahnya tidak sepenuhnya marah. Lebih tepatnya, bingung. Seperti seseorang yang membuka laci dan menemukan benda yang selalu ada tiba-tiba hilang.
"Ini apa?"
"Surat pengunduran diri."
"Aku bisa baca." Kevin meletakkan surat itu di meja. "Maksudku, kenapa?"
Louisa berdiri di depan mejanya. Tidak duduk karena Kevin tidak mempersilakan. Dulu, ia akan tetap berdiri tanpa merasa apa-apa. Hari ini, ia menyadarinya.
"Aku ingin berhenti."
"Kenapa tiba-tiba?"
Kalimat yang sudah ia bayangkan sejak semalam akhirnya datang, tetapi efeknya tidak seperti dulu. Ia tidak panik. Tidak buru-buru menjelaskan. Tidak takut Kevin salah paham.
Ia hanya tersenyum kecil.
"Nggak apa-apa."
Kevin mengerutkan kening. "Apa maksudnya nggak apa-apa? Orang tidak resign begitu saja."
"Aku sudah mengikuti prosedur."
"Lulu, aku tanya alasan."
"Aku butuh lingkungan kerja baru."
"Karena Jessica?"
Louisa diam.
Kevin menangkap diam itu sebagai jawaban, lalu langsung berkata, "Kalau ada masalah dengan Jessica, kita bisa atur ulang pembagian kerja."
Kita.
Kata itu datang setelah semuanya terlambat.
"Tidak perlu."
"Atau kamu mau pindah divisi?"
"Tidak."
"Naik gaji?"
Louisa menatapnya.
Kevin tampak semakin tidak mengerti. Bagi orang seperti Kevin, masalah selalu bisa ditata ulang dengan posisi, angka, atau instruksi. Ia tidak terbiasa menghadapi sesuatu yang sudah rusak di tempat yang tidak terlihat.
"Ini bukan soal gaji."
"Lalu soal apa?"
Louisa hampir berkata, soal sepuluh tahun. Soal malam gala. Soal kamu tertawa saat Yvonne bertanya apakah aku suka padamu. Soal aku yang kamu panggil hanya ketika butuh.
Namun semua itu bukan lagi utang yang perlu ia tagih.
"Aku hanya ingin berhenti, Kev."
Kevin menatapnya lebih tajam. "Sejak kapan kamu memutuskan ini?"
"Semalam."
"Setelah kita bicara di lift?"
Jadi ia tahu.
Louisa menatapnya tanpa berkedip.
Kevin terlihat sedikit tidak nyaman, tetapi tetap mencoba mempertahankan nada datarnya. "Kalau kamu tersinggung soal ucapanku..."
"Aku tidak tersinggung."
"Jelas kamu tersinggung."
"Aku hanya akhirnya paham posisiku."
Ruangan menjadi sunyi.
Di luar kaca, langit PIK terlalu cerah.
Kevin meletakkan kedua tangan di meja. "Lulu, kamu teman lama. Aku tidak pernah menganggap kamu tidak penting."
Kalimat itu seharusnya menghangatkan sesuatu.
Namun Louisa hanya mendengar celahnya.
Teman lama.
Tidak penting, tapi juga tidak cukup penting untuk dilihat.
"Aku tahu," ucap Louisa pelan. "Karena itu aku berhenti."
Kevin tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia tampak benar-benar kehilangan kalimat yang biasa ia pakai untuk mengatur keadaan.
Louisa meletakkan salinan surat bertanda terima HR di meja.
"Aku akan selesaikan handover dengan rapi."
"Tunggu." Kevin mengambil surat itu, seolah kertas tersebut bisa dibatalkan dengan dipegang lebih kuat. "Jangan buru-buru. Kita bahas lagi sore ini."
"Tidak perlu."
"Aku belum menyetujui."
"Pengunduran diri bukan permintaan izin, Kev. Ini pemberitahuan."
Kevin menatapnya.
Louisa membalas tatapan itu dengan tenang.
Di antara mereka, pulpen retak di sudut meja memantulkan cahaya kecil.
Dulu, Louisa pernah berharap Kevin memakai pulpen pemberiannya karena menyukainya.
Sekarang ia akhirnya mengerti.
Kevin memakainya karena pulpen itu ada.
Seperti ia memakai kehadiran Louisa karena Louisa selalu ada.
"Aku kembali ke meja," ucap Louisa.
Ia berbalik sebelum Kevin bisa memanggil lagi.
Ketika pintu ruang kerja tertutup di belakangnya, Louisa mendengar suara kertas diremas pelan dari dalam.