Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.
Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.
Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pergi ke Kota
Pagi ini Dika terlihat tidak seperti biasanya. Waktu masih menunjukkan jam 8 pagi tapi dia sudah terlihat bersiap akan pergi. Aldo yang melihat itu menaikkan alisnya sebelah sedikit heran.
"Mau pergi kemana kau Dik?," tanya Aldo penasaran.
"Aku ada urusan ke kota, kalau yang lain tanya bilang aja kayak gitu," jawab Dika sambil memakai sepatunya.
"Aku ikut ya? Bosen nih kalau ngumpul sama anak-anak tapi kau nggak ada," sambung Aldo .
"Ck, dasar manja. Kalau kau ikut, siapa yang bakalan kondisiin anak-anak?," balas Dika yang ditanggapi cengengesan oleh Aldo.
"Ya udah deh, hati-hati bro. Cepet balik," ucap Aldo akhirnya kembali merebahkah tubuhnya di kursi tua ruang tamunya.
"Buruan bangun, jangan malas-malasan gitu napa!," peringat Dika pada sahabatnya itu.
"Sebentar lagi Dik, aku butuh energi lebih kalau kau nggak ada," saut Aldo masih memejamkan matanya. Dika hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Dika bersiap menaiki motornya. Sebelum dia sempat naik handphone berbunyi.
"Hallo, selamat pagi Pak," Dika menjawab teleponnya dengan sikap tegas tapi sopan.
"Pagi Dika, saya sebentar lagi sampai. Temui saya ketika sampai hotel nanti," perintah seseorang diseberang telefon.
"Baik Pak, laksanakan," jawab Dika sedikit rendah takut Aldo mendengar pembicaraannya.
Dika segera menyalakan motornya setelah panggilannya selesai. Dia tidak boleh terlambat menemui orang penting yang akan dia temui hari ini.
Sekitar 20 menit perjalanan akhirnya Dika sampai disebuah hotel terbesar diKota kecil tersebut. Walau di kota kecil, tapi fasilitas hotel tersebut lumayan lengkap dan sudah bagus.
Dika datang lebih dulu dihotel tersebut dan menunggu dilobi. Dia tidak boleh datang terlambat karena yang datang adalah atasannya.
Sekitar 10 menit kemudian datanglah dua buah mobil sedan hitam dengan plat khusus yang menandakan beliau bukanlah orang biasa saja. Lebih tepatnya adalah seorang jendral besar dinegara ini.
Seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu mobil bagian belakang. Seorang laki-laki paruh baya terlihat keluar dari dalam mobil dengan aura tegas dan berwibawa. Walau sudah berumur tapi perawakannya masih terlihat kuat.
"Selamat pagi Pak," ucap Dika memberi hormat pada laki-laki tersebut yang ternyata adalah Pak Herman. Papanya Kamila.
"Pagi Dika, bagaimana kabar kamu?," Pak Herman membalas hormat sebentar dan anggukan kepala pelan. Kemudian menepuk pundak Dika pelan dengan rasa bangga.
"Alhamdulillah sehat Pak. Bapak sendiri bagaimana kabarnya?," tanya Dika kembali.
"Seperti yang kamu lihat, saya masih segar nggak kalah sama anak muda. Ayo kita masuk biar ngobrolnya bisa lebih enak," ajak Pak Herman pada Dika yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Dika.
Sementara itu Kamila tengah bersiap akan berangkat ke kota menemui ayahnya dengan diantarkan Veni. Dia sudah sangat kangen sekali dengan Papanya. Kamila nggak mau kalau sampai Papanya datang ke kampungnya Veni atau menjemputnya paksa karena tidak mau menemuinya.
"Sudah belum Mil?," tanya Veni yang tumben sudah siap duluan.
"Iya bentar Ven, masih pakai sepatu nih," jawab Kamila pelan.
"Oke, udah lama banget nih nggak main ke kota. Aku jadi bersemangat," ucap Veni tiba-tiba.
"Pantesan udah siap duluan. Biasanya juga aku yang nungguin kamu," balas Kamila terkekeh.
"Udah?," tanya Veni lagi. "Ayo berangkat, keburu siang. Pasti panas banget entar di kota," lanjutnya nggak sabaran.
"Iya, ini masih pakai jaket," Kamila memakai jaket karena hari ini cuacanya cukup panas.
Mereka menempuh perjalanan sekitar 30 menitan untuk sampai ke hotel tempat Pak Herman menginap. Yah maklum lah perempuan, jadi naik motornya nggak terlalu kencang kayak laki-laki.
Setibanya dihotel Kamila dan Veni segera menuju ke kamar hotel yang sudah Papanya kirimkan tadi lewat chat. Jadi kamila nggak perlu tanya lagi ke bagian resepsionis.
"Aku tunggu disini aja ya Mil? Nggak enak kalau ikut masuk," Veni berdiri mematung karena canggung jika harus ikut masuk ke dalam. Rasanya ngeri-ngeri sedap gitu jika bertemu dengan orang penting.
"Kok gitu sih, jangan dong Ven! Kamu harus ikut masuk, diluar panas tau," bujuk Kamila melihat sahabatnya yang terlihat canggung itu.
"Tapi..," Veni masih sedikit ragu tapi sejenak kemudian tetap mengikuti langkah Kamila.
"Udah, ayo ikut!," Ajak Kamila lagi menggandeng tangan Veni.
Mereka berjalan menyusuri koridor yang cukup panjang menuju kamar VVIP. Saat hampir sampai di kamar Papanya, Kamila melihat seorang laki-laki yang terlihat familiar keluar dari kamar Papanya. Tapi wajahnya tidak terlalu jelas karena dia berjalan membelakangi Kamila dan Veni.
"Kok kayak nggak asing ya sama laki-laki itu?," batin Kamila.
Sedangkan Veni nggak fokus dengan orang tadi. Dia sedang mengagumi bangunan hotel yang sangat mewah itu menurutnya. Karena memang baru kali ini dia masuk ke hotel, apalagi ruang VVIP nya.
"Wah, gini ya rasanya masuk ke dalam hotel mewah," gumam Veni masih dengan pandangan takjub.
"Gimana suka?," tanya Kamila senang melihat sahabatnya itu.
"Tentu dong, kalau aku nggak kenal kamu mungkin aku nggak akan pernah merasakan masuk hotel mewah Mil," kata Veni jujur.
"Jangan gitu lah, nasib orang siapa tahu Ven," timpal Kamila merendah.
Sesampainya di depan kamar Papanya, mereka disambut oleh dua orang pengawal yang langsung mempersilahkan mereka masuk. Mereka sudah tahu jika yang datang adalah putri dari atasannya. Kamila mengangguk pelan pada kedua pengawal tersebut.
"Pagi Pa," ucap Kamila saat sudah memasuki kamar Papanya yang sangat luas.
"Pagi sayang," Pak Herman langsung beranjak dari kursinya untuk menyambut putri kesayangannya.
Tak lupa Kamila salim pada Papanya diikuti oleh Veni. Kemudian Pak Herman mengajak mereka untuk duduk disofa agar suasana sedikit santai.
"Kamila kangen banget sama Papa," ucap Kamila sambil duduk disofa disamping Papanya.
"Iya kah?," ledek Papanya sambil menaikkan alisnya sebelah
"Iih, Papa gitu sih. Beneran tau?," rengek Kamila nggak terima.
"Habisnya kamu nggak pernah nelfon Papa duluan," ucap Pak Herman datar.
"Ya Papa kan sibuk. Kamila nggak mau ganggu Papa," timpal Kamila beralasan.
"Alasan, bilang aja kamu sudah lupa sama Papa," balas Pak Herman dengan wajah dibuat cemberut.
Veni yang melihat perdebatan ayah dan anak itu hanya tersenyum canggung. Dia bingung harus bersikap bagaimana.
"Nggak Pa, suer," jawab Kamila sambil mengedipkan matanya manja yang hanya dibalas Pak Herman dengan mencebikkan bibirnya.
"Oh iya, nak Veni terima kasih ya sudah menjaga Kamila selama di rumah kamu. Maaf juga sudah merepotkan orang tua kamu," ucap Pak Herman pada Veni dengan penuh wibawa. Sangat kontras dengan saat dia berbicara dengan Kamila tadi.
"Nggak kok Om, saya dan orang tua saya sangat senang sekali Kamila mau menginap dirumah kami yang sangat sederhana, berbeda dengan rumah Om yang gedongan," balas Veni malu-malu.
Pak Herman tersenyum mendengar penuturan sahabat putrinya itu. Beliau tau jika Veni masih canggung ketika mengobrol dengannya.
"Kalau saja kamu datang lebih pagi, kamu pasti ketemu dengan orang yang akan Papa jodohkan dengan kamu sayang," ucap Pak Herman sambil mengambil gelasnya yang berisi jus jeruk.
Uhuk.. Uhuk..
Kamila tersedak minumannya mendengar ucapan Papanya tadi.