"Ketika pengorbanan seorang istri dibalas dengan penghinaan, takdir akan mengirimkan tangan lain untuk mengangkatnya menjadi ratu."
Nirmala diperlakukan seperti babu oleh suami dan keluarganya.
Perlakuan suaminya Nirmala, Antoni pada Nirmala disebuah acara kantor, secara tidak sengaja terlihat oleh Theo, seorang duda pengusaha kaya yang disegani didunia bisnis.
Merasa kasihan pada Nirmala dan diam-diam mengaguminya, Theo secara diam-diam selalu jadi penolong bagi Nirmala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Protes Ibu Mertua
Nirmala sempat menyentuh deretan gaun berdesain indah itu dengan ragu. Melihat harga yang tertera di label, dadanya berdesir pelan. "Mas, ini... harganya tidak kemahalan? Biasanya kan Ibu yang …."
"Jangan pikirkan soal harga atau Ibu," potong Antoni cepat seraya memegang kedua bahu Nirmala, menatap matanya dalam-dalam. "Hari ini fokusnya cuma kamu dan Andrew. Kamu pantas mendapatkan pakaian terbaik, Nir. Aku ingin istriku terlihat cantik dan bersinar."
Kalimat itu makin melambungkan perasaan Nirmala. Kelopak matanya menyipit karena senyum bahagia yang tak sanggup lagi dia tahan. Bagi Nirmala yang terbiasa hidup hemat dan selalu mengalah di bawah kendali mertuanya, pengakuan serta perlakuan istimewa dari Antoni sore ini bagaikan mimpi indah. Dengan rasa percaya diri yang kembali tumbuh, Nirmala akhirnya memilih sebuah gaun anggun berwarna lembut yang sangat pas di tubuhnya.
Tak berhenti di situ, Antoni juga membelikan Andrew beberapa setel pakaian baru dan membawa Nirmala ke toko perhiasan untuk memilih sebuah kalung yang simpel namun memancarkan kesan mewah.
Setiap kali Antoni membelai rambut Andrew atau merangkul pinggang Nirmala di depan para pelayan toko, hati Nirmala semakin berbunga-bunga. Rasa ragunya hilang sepenuhnya. Dia benar-benar yakin bahwa suaminya telah sadar dan kini berniat menjadi pelindung serta kepala keluarga yang penyayang.
Sementara Nirmala sibuk mengagumi kilau kalung di lehernya melalui cermin, Antoni berdiri sedikit di belakangnya dengan senyum tipis yang sarat akan makna terselubung. Di balik wajah suami idaman yang dia tampilkan, otak Antoni terus berputar menghitung keuntungan. Investasi yang tidak seberapa ini pasti akan terbayar lunas besok, batin Antoni penuh rasa puas. Lihat saja besok, Pak Theo pasti akan sangat terkesan melihat betapa sempurnanya keluargaku.
**
**
**
Kehangatan mimpi indah itu mendadak menguap begitu pintu rumah terbuka. Baru saja langkah Nirmala melewati ambang pintu dengan wajah berseri-seri, gema suara lantang bernada ketus langsung menyambut mereka.
"Dari mana saja jam segini baru pulang?!" Bu Yuli yang sedang duduk di sofa ruang tamu langsung berdiri, matanya membelalak lebar melihat Antoni dan Nirmala memegang beberapa kantong belanjaan bermerek.
Tatapan Bu Yuli tertuju tajam pada logo-logo emas yang tertera di kantong kertas tebal itu. Matanya seolah hendak melompat keluar. Tanpa membuang waktu, dia menyambar salah satu kantong paling besar dari tangan Nirmala dan melihat nama butik ternama yang tertera di sana.
"Gila kamu, Nirmala!" jerit Bu Yuli, suara melengkingnya memenuhi seluruh ruangan. "Butik ini?! Ini kan toko mahal tempat orang-orang kaya belanja! Kamu mau menghabiskan uang anak saya, hah?! Dasar perempuan tidak tahu diri, baru diberi pegang uang sedikit saja sudah bertingkah bagai ratu!"
Nirmala spontan melangkah mundur, tubuhnya bergetar pelan. Rasa percaya diri yang baru saja tumbuh beberapa jam lalu seketika ciut berhadapan dengan murka sang mertua. "I-Ibu... bukan begitu, ini tadi..."
"Tidak usah alasan!" potong Bu Yuli sadis, jari telunjuknya hampir mengenai hidung Nirmala. "Biasanya juga baju pasar atau baju diskonan cukup buat kamu! Kenapa sekarang malah bergaya beli di butik mewah? Antoni ini cari uang setengah mati, Nirmala! Bukan untuk memanjakan gengsi kamu yang tidak seberapa itu!"
Di tengah amukan yang membakar ruang tamu itu, Antoni melangkah maju secara perlahan. Raut wajahnya tampak sangat tenang, seolah adegan ini sudah masuk ke dalam skenario yang dia susun rapi di kepala. Dengan lembut, Antoni menarik pelan lengan ibunya untuk meredakan emosi yang meledak-ledak itu.
"Sudah, Bu. Jangan marah-marah begitu, kasihan Andrew kaget," ujar Antoni dengan nada suara yang begitu sejuk dan terkontrol.
Bu Yuli menoleh cepat pada putranya, masih dengan napas terengah-engah. "Gimana Ibu tidak marah, Ton?! Kamu lihat ini! Belanjaan sebanyak ini, belum lagi merknya mahal semua! Kamu terlalu memanjakan dia!"
Antoni tersenyum tipis, merangkul bahu ibunya seraya memberi kode mata yang begitu halus, kode yang hanya dipahami mereka berdua sebagai pertanda bahwa ada alasan besar di balik semua ini.
"Ini semua Antoni yang suruh, Bu," ucap Antoni mantap, lalu menoleh menatap Nirmala dengan binar mata yang tampak begitu penuh kasih sayang di mata sang istri. “Antoni sudah mengecewakan Nirmala dan andrew.”
Nirmala terpana mendengar pembelaan Antoni. Dadanya kembali dihinggapi rasa haru yang membuncah. Di mata Nirmala, Antoni benar-benar telah berubah menjadi sosok suami pelindung yang berani berdiri membela istrinya di depan sang ibu.
Namun, di sudut mata Bu Yuli, amarah itu perlahan surut, melihat tanda dari Antoni yang mengedipkan mata beberapa kali.
"Tetap saja... ini berlebihan," gumam Bu Yuli, memelankan suaranya meski tatapan matanya pada Nirmala masih digenangi rasa tidak suka.
"Tidak apa Bu, sesekali …." sahut Antoni lembut. Dia kemudian berbalik menatap Nirmala, mengelus rambut istrinya dengan penuh kehangatan yang terasa begitu nyata. "Nir, kamu bawa Andrew ke kamar ya. Kasihan dia sudah mengantuk. Soal kantong-kantong ini, biarkan dulu di sini."
Nirmala mengangguk pelan, menyunggingkan senyum penuh rasa terima kasih yang mendalam pada suaminya sebelum menuntun Andrew menuju kamar. Dia merasa sangat beruntung memiliki Antoni sore ini.
Sepeninggal Nirmala ke dalam kamar, raut kehangatan di wajah Antoni mendadak sirna tanpa sisa. Senyum suami penyayang itu berganti menjadi seringai dingin yang penuh perhitungan saat dia menatap sang ibu.
Bu Yuli yang menyadari perubahan raut wajah putranya langsung mendekat, menyilangkan dada seraya mendengkus pelan.
"Jadi ini semua taktik kamu?" bisik Bu Yuli dengan suara ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar sampai ke dalam kamar. "Harus banget beli barang-barang semahal ini cuma buat dia?"
Antoni terkekeh sinis, menyisir rambutnya ke belakang dengan santai. "Ibu pikir Antoni rela buang-buang uang cuma buat nyenengin Nirmala? Sama sekali tidak, Bu."
Dia meraih salah satu tas kertas bermerek itu, mengamati logonya dengan tatapan dingin. "Besok Antoni akan membawa Nirmala dan Andrew makan siang di restaurant mewah dimana Pak The makan siang.”
“Cih, pemborosan lagi namanya!”
“Ibu, dengarkan dulu … Pak Theo itu tipe pengusaha konvensional yang sangat menjunjung tinggi nilai keluarga. Dia cuma mau kerja sama dengan orang yang kelihatan stabil, penyayang, dan menghargai istrinya. Kalau besok Antoni bawa Nirmala dengan baju pasaran yang kusam, Pak Theo bakal menilai Antoni tidak bisa menyejahterakan keluarga sendiri. Mana mau dia investasi miliaran ke orang begitu?"
Mata Bu Yuli berbinar cerah saat menangkap arah pikiran sang putra. Senyum culas kini terbit di wajah bahagianya. "Oh... jadi ini semua cuma panggung, Ton?"
"Tentu saja," jawab Antoni mantap. "Baju mahal, kalung kilat itu, sampai perlakuan manis Antoni di depan umum tadi... itu cuma modal investasi. Besok, di depan Pak Theo, Nirmala harus terlihat seperti wanita paling beruntung di dunia. Dengan begitu, Pak Theo melanjutkan lagi kerjasama di perusahaan Pak Baskoro dan jabatan Direktur pemasaran pasti jatuh ke tangan Antoni."
"Lalu kalung itu?" tanya Bu Yuli penasaran. "Kamu beneran beliin dia emas?"
"Cuma kalung simpel, Bu. Begitu urusan sama Pak Theo selesai dan kontrak ditandatangani, Antoni bisa cari alasan buat nyimpan lagi kalung itu, atau bahkan dijual lagi kalau perlu," sahut Antoni santai tanpa beban. "Lagipula, Nirmala itu gampang dibodohi. Dikasih perhatian sedikit saja langsung percaya kalau Antoni sudah berubah."
Bu Yuli tertawa kecil penuh kemenangan sambil menepuk pelan bahu putranya. "Memang anak Ibu paling pintar. Ya sudah, Ibu tidak akan protes lagi. Tapi ingat ya, habis urusan Pak Theo selesai, jangan biarkan dia minta barang-barang mahal lagi!"
"Tenang saja, Bu. Antoni tahu cara mengembalikannya ke posisi semula," bisik Antoni dengan senyum dingin yang sarat kepalsuan.
Sementara itu di dalam kamar, Nirmala baru saja selesai mengganti pakaian Andrew dengan piyama tidur. Setelah mengusap punggung putranya hingga tertidur lelap, Nirmala berjalan perlahan menuju cermin rias.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, dia menyentuh liontin kalung yang melingkar cantik di lehernya. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Dalam benaknya, ucapan manis Antoni dan pembelaannya di depan Bu Yuli tadi terus berputar bak pita kaset yang mengalun indah.
Nirmala memeluk tubuhnya sendiri, mengembuskan napas lega yang sudah lama tidak dia rasakan. Terima kasih, Ya Tuhan... akhirnya Mas Antoni kembali seperti dulu, batinnya penuh rasa syukur, tanpa menyadari sedikit pun bahwa gaun anggun dan kalung indah di tubuhnya hanyalah kostum sandiwara yang dirancang untuk menjebaknya dalam kebohongan yang lebih besar besok hari.
****