Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Ruang tamu hingga halaman luas kediaman Abi Musthofa telah disulap bak aula gedung mewah dengan dekorasi bertema white and lilac. Untaian bunga melati segar menggantung di beberapa sudut, menyebarkan aroma semerbak khas pernikahan yang sakral. Berbagai menu hidangan lezat sudah tertata rapi, siap menyambut para tamu undangan.
Di dalam kamar pengantin pengantin, Syifa duduk terpaku di depan cermin besar. Prosesi rias baru saja selesai. Syifa tampak begitu memukau dalam balutan gaun pengantin muslimah putih simple namun sangat elegan. Hijab syar'inya yang menutup dada dihiasi ronce melati yang menjuntai anggun, lengkap dengan mahkota kecil berkilau di atas kepalanya. Siapa pun yang melihatnya pasti akan berdecak kagum atas pesona alaminya yang keluar hari ini.
"Ya Allah, Syifa... ih, cantik banget! Masya Allah tabarakallah!" Jihan yang sejak tadi mendampingi langsung heboh, menutup mulutnya tak percaya.
"Beda banget ya, Kak Adiba... seperti bukan Kak Syifa," imbuh Tasya, adik perempuan Syifa, ikut memuji dengan mata berbinar.
Syifa hanya tersenyum malu, menatap pantulan dirinya di cermin yang terasa asing. Di dalam dadanya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga tangannya mendadak dingin.
Adiba melangkah mendekat, lalu menggenggam lembut tangan Syifa yang terasa sedingin es. "Tenang, Syif... tarik napas dalam-dalam. Perbanyak baca sholawat dan istighfar di dalam hati ya, biar gugupnya hilang."
Syifa mengangguk pelan, mencoba meyakinkan para sahabatnya melalui tatapan mata bahwa ia baik-baik saja, walau sebenarnya ia merasa ingin pingsan saat itu juga.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok Kakek Ali yang berjalan perlahan dengan tongkatnya. Begitu melihat cucu perempuannya yang sudah anggun berpakaian pengantin, langkah kaki Kakek Ali terhenti. Matanya seketika berkaca-kaca.
"Kakek..." sapa Syifa, langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri sang kakek dengan senyum tulus.
"Masya Allah... cantiknya cucu Kakek," ucap Kakek Ali, suaranya bergetar menahan haru yang membuncah. Beliau mengusap lembut puncak kepala Syifa yang tertutup jilbab. "Terima kasih ya, Nak. Kamu memang anak yang baik. Terima kasih sudah mau mewujudkan keinginan terakhir Kakek dan mendiang Kakek Nizar." Setitik air mata akhirnya lolos membasahi pipi keriputnya.
Melihat kakeknya menangis, pertahanan Syifa runtuh. Ia melangkah maju, memeluk tubuh ringkih Kakek Ali dengan erat, menumpahkan rasa haru yang menjalar di dadanya. "Kakek jangan bicara begitu. Syifa bahagia kok melakukannya. Yang terpenting sekarang Kakek harus selalu sehat, ya?"
Kakek Ali melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap lekat kedua netra cucunya. "Iya, Nduk. Nanti... kalaupun Kakek sudah tidak ada umur lagi di dunia ini, Kakek minta satu hal sama kamu. Jangan sampai kamu berpisah dengan Nak Fadhlan, ya? Dia sangat menyayangimu, Nak. Tolong, jangan pernah berpisah dengannya... Kakek tidak ingin memisahkan kalian berdua lagi."
Syifa tertegun di tempatnya. Dahinya berkerut tipis. 'Memisahkan kita berdua lagi? Maksud Kakek apa? Kan kami baru saling kenal dua minggu yang lalu karena perjodohan ini?' Pertanyaan itu berputar-putar di dalam benak Syifa, memicu rasa heran yang mendalam. Namun, melihat kondisi kakeknya yang emosional, Syifa memilih menepis egonya.
"Ehmm... Kakek. Insya Allah tidak, Kek. Syifa dan Mas Fadhlan akan selalu ingat semua pesan Kakek," jawab Syifa, mencoba menenangkan sambil tersenyum manis. "Kakek jangan sedih lagi ah, nanti riasan Syifa luntur karena ikut nangis, hehe."
Reyhani, adik laki-laki Syifa yang berdiri tegap mendampingi Kakek di belakang, akhirnya bersuara demi mencairkan suasana. "Ayo, Kek... kita tunggu di luar saja. Sebentar lagi rombongan pengantin pria sampai. Kita langsung bersiap ikut ke masjid untuk menyaksikan akad nikah Kak Fadhlan dan Kak Syifa."
Kakek Ali mengangguk, lalu berjalan perlahan keluar ruangan dituntun oleh Reyhan.
...----------------...
Tak berselang lama setelah Kakek Ali keluar, deru suara mesin mobil yang bertenaga besar terdengar berhenti tepat di depan pintu gerbang utama. Beberapa mobil mewah berjejer rapi, memecah keheningan jalanan di depan rumah Syifa.
Di barisan paling depan, sebuah mobil Lamborghini Urus hitam metalik milik Fadhlan tampak mendominasi. Aidan keluar dari pintu kemudi dengan setelan jas rapi, sementara dari kursi penumpang, Fadhlan melangkah turun. Pria itu tampak begitu gagah, berwibawa, dan sangat tampan dalam balutan setelan jas pengantin putih bersih. Di belakangnya, Paman Romi dan Haikal ikut turun mendampingi sebagai wali.
Sementara itu, di mobil belakang, Tante Silvi, Tante Sarah, dan Nafisah tampak turun dibantu oleh Salim dan Alwi yang membawa seserahan baki-baki hiasan yang mewah.
Jihan yang penasaran setengah mati sejak tadi sudah menempelkan wajahnya di kaca jendela teras, mengintip dengan mata berbinar-binar. Ia langsung berbalik dan berbisik heboh pada Adiba.
"Betul kan, Diba! Pak dosen itu emang bukan orang biasa!" bisik Jihan berapi-api. "Lihat tuh, rombongannya aja pakai mobil milyaran semua! Meleleh gue lihat ketampanan Pak Fadhlan hari ini."
Adiba langsung menarik lengan baju Jihan menjauh dari jendela sambil menggelengkan kepala. "Ssttt... Jihan, jangan kepo begitu. Nanti terdengar sama rombongan keluarga di luar, kan malu-maluin. Yuk, mending kita masuk lagi, temenin Syifa di dalam. Waktunya akad sudah tiba."
...----------------...
Pagi itu, matahari bersinar begitu cerah, seolah ikut merestui hajat besar yang tengah berlangsung. Dari pelataran masjid, Fadhlan melangkah turun dari mobil Lamborghini Urus-nya. Sosoknya tampak begitu gagah dan memukau dalam balutan setelan jas pengantin putih bersih, dan peci senada yang membingkai wajah tegasnya.
Di bawah tatapan kagum dari seluruh kerabat dan tetangga yang memadati area masjid, Fadhlan berjalan dengan langkah mantap. Ia didampingi oleh Paman Romi, Aidan, Haikal, Salim, dan Alwi yang berjalan beriringan di belakangnya, membentuk barisan groomsmen yang berwibawa.
Tepat pukul 09.00 pagi, atmosfer di dalam masjid seketika berubah menjadi sunyi dan sakral. Fadhlan duduk bersila di depan meja akad, berhadapan langsung dengan Abi Musthofa yang bertindak sebagai wali nikah. Di samping mereka, saksi-saksi dan para pemuka agama telah siap.
Abi Musthofa menarik napas dalam, menatap lekat pemuda di hadapannya, putra dari sahabat dekatnya, Fadhil Ganendra. Dengan tangan yang saling menjabat erat, Abi Musthofa memulai kalimat yang akan mengubah takdir dua insan tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim... Ya Muhammad Fadhlan Ganendra bin Fadhil Ganendra."
"Na'am Abi, saya," jawab Fadhlan. Suaranya terdengar bariton, tenang, namun sarat akan ketegasan yang mutlak.
"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Asyifa Humaira alal mahri wahid bilyun rupiah haalan."
(Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, putriku Asyifa Humaira dengan mahar satu miliar rupiah dibayar tunai).
Tanpa ada jeda sedetik pun, dengan satu tarikan napas yang mantap, Fadhlan mengikrarkan janji sucinya.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahri madzkur haalan."
(Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan).
Gema kata "Sah" bergaung di dalam masjid, disusul seruan hamdalah serempak.
......................
Sementara itu, di ruang tamu rumah Abi Musthofa, suara Fadhlan yang meluncur tegas melalui pengeras suara masjid terdengar begitu jernih. Detik itu juga, pertahanan Syifa runtuh. Air matanya merembes membasahi pipi. Diapit oleh Ummi Salwa, Jihan, Adiba, dan Ummi Fatima tubuh Syifa bergetar hebat. Ia meremas kuat jemari Ummi Salwa. Perasaannya campur aduk tak karuan, ada rasa sesak yang aneh, haru yang membuncah, sekaligus kesadaran penuh bahwa sejak detik ini, seluruh hidupnya telah berpindah ke dalam genggaman pria bernama Fadhlan.
Di sudut masjid, Kakek Ali mengusap matanya yang basah dengan saputangan. "Alhamdulillah... Ya Allah, semoga Engkau menjadikan rumah tangga mereka sakinah, mawaddah, warahmah," bisiknya penuh rasa syukur.
Kakek Ali kemudian menatap langit-langit masjid, bermonolog dalam keheningan batinnya. 'Cucumu baru saja melakukan ijab kabul, Zar. Apa kamu bahagia di sana? Sekarang mereka telah dipersatukan dalam janji suci pernikahan. Mereka sudah resmi menjadi suami istri, persis seperti keinginan terakhirmu.'
Setelah Ustadz Taufiq memimpin doa pernikahan yang diaminkan dengan khusyuk oleh seluruh yang hadir di sana, Fadhlan bergeser untuk menyalami Abi Musthofa, Kakek Ali, Paman Romi, Paman Andi serta sanak saudara yang lain. Kini, saatnya momen yang paling mendebarkan, mengantar sang mempelai pria menemui belahan jiwanya untuk pertama kali sebagai mahram.
...****************...