Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Bekal makan siang
Laura memiliki kegiatan baru yang akan ia mulai hari ini. Membuatkan bekal makan siang untuk suaminya. Ah... Ia malas menyebut pria berwajah tembok itu suami, tapi ya mau bagaimana lagi. Memang suaminya 'kan? Sah secara hukum dan agama.
Suara wajan dan spatula saling bersahutan di dalam dapur penthouse. Aroma masakan tercium sangat harum memenuhi udara ruangan. Tangan kecil itu terlihat cekatan saat memotong dan menaburkan bumbu. Sudah terlatih sejak dulu, karena hobinya adalah memasak. Kegiatan yang sering ia lakukan bersama mendiang Ibunya beberapa tahun yang lalu.
Pelayan Kim hanya memperhatikan, memastikan tidak ada lecet sedikitpun pada tubuh Nyonyanya. Ia hendak membantu, namun dengan tegas Laura menolak.
Ia sudah mengambil keputusan, ia akan mencoba meluluhkan suaminya. Dalam artian mengembalikan sifat asli suaminya yang sudah lama terkubur dalam-dalam akibat tragedi kecelakaan dua tahun lalu.
Sudah ia fikirkan dengan matang, tekadnya sudah bulat. Mungkin langkah awal tidak akan mudah, namun ia akan tetap mencoba, sedikit menjatuhkan harga dirinya dan mengesampingkan egonya demi sebuah kebebasan.
Tidak masalah, demi kebahasaan akan ia lakukan apa saja. Ia berharap, jika waktu yang ia tunggu-tunggu tiba, Adeline menepati janjinya.
Pagi-pagi sekali ia mendatangi kamar pelayan Kim. Menanyakan apa saja makanan atau minuman yang di sukai oleh suaminya. Pelayan Kim sedikit heran, entah setan apa yang merasuki Nyonya mudanya. Namun walaupun begitu pelayan Kim tetap menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan Laura.
Bukan hanya bekal makan siang, ia juga memasak untuk sarapan pagi ini. Cukup banyak, sengaja karena ia ingin membagikan masakannya pada kelima pengawalnya. Ia ingin mereka mencicipi hidangan yang ia buat sendiri. Tentunya, ia ingin Owen menilai rasa masakannya. Barang kali ada yang kurang? Siapa yang tahu.
Anggap saja Owen sebagai juri dadakan. Pria itu 'kan ahli dalam memasak.
“Nyonya, biar saya bantu,” pelayan Kim kembali menawarkan diri. Namun Laura hanya menyahut dengan gelengan tegas.
“Ini khusus untuk suamiku. Tenang saja, dapurmu tidak akan hancur kok," ujarnya santai.
'Bukan masalah dapur hancur, Nyonya. Jika Nyonya besar tahu, bisa habis saya.'
Ya! Adeline memberikan mandat pada pelayan Kim untuk menjaga menantunya, memantau setiap pergerakan Laura. Mengatakan dengan tegas untuk memastikan tidak ada lecet sedikitpun pada tubuh menantunya.
Jika boleh di katakan dengan jujur, Adeline walaupun terlihat murah hati dan senyum, ketika ia diam, maka dunia sedang tidak baik-baik saja. Marahnya orang sabar adalah sebuah bencana. Pelayan Kim menghindari hal itu.
Tepat saat hidangannya selesai dan sudah tertata rapi di meja makan. Suara lift berdenting. Gaharu dan sekertaris Juan keluar dari sana.
Dapat di lihat jika kedua pria itu mengernyitkan keningnya dengan bingung. Tentu saja bingung, hidangan sarapan di meja makan benar-benar banyak, tidak seperti hari-hari biasanya.
Dan yang tambah membuat Gaharu bingung adalah, kehadian Laura dengan apron yang masih melekat pada tubuhnya.
'Apa yang sedang dia rencanakan'
“Oh! Suami sudah turun,” Laura melepas apronnya. Tersenyum manis pada Gaharu namun memberikan tatapan sinis pada sekertaris Juan.
'Apa salahku?'
“Ayok sarapan, aku sudah memasakan makanan favoritmu. Pelayan Kim yang memberitahukannya.”
Gaharu beralih menatap pelayan Kim seolah bertanya 'ada apa dengan istrinya?' namun hanya gelengan yang ia dapat.
Tidak ingin ambil pusing, pria itu langsung saja menjalankan kursi rodanya. Gaharu tidak berbohong untuk aroma masakan pagi ini, tercium sangat lezat. Namun ia ragu dengan rasanya. Barangkali istrinya ini memberikan racun tikus karena memiliki dendam kepadanya.
Oh.. ayolah Gaharu, jangan berburuk sangka.
Sekertaris Juan berdiri di samping pelayan Kim. Mereka berdua memperhatikan setiap gerakan tangan Laura yang dengan telaten menyajikan sarapan kepada Gaharu. Dari menuangkan nasi sampai pada lauk-pauknya. Ia juga menyiapkan teh chamomile.
“Pelayan Kim bilang kamu lebih suka kopi di pagi hari. Tapi, kopi itu tidak baik di konsumsi pagi hari apalagi perutmu sedang kosong.”
“Jadi, aku membuatkan teh ini untukmu. Ini bagus untuk relaksasi tubuhmu agar urat-urat kepalamu tidak tegang,” ucapan itu sukses mendapatkan lirikan tajam dari Gaharu.
“Aku hanya becanda,” Laura memegangi kedua sisi kepala Gaharu agar memfokuskan kembali pandangannya pada makanan di depan pria itu. “Jangan menatapku seperti itu, makan saja.”
Perilaku itu membuat tubuh ketiga pria di dalam ruang makan menegang. Selama ini, tidak ada yang berani memegangi kepala Tuannya seperti itu. Tapi hari ini, detik ini, Laura dengan berani memegangnya.
Gaharu terdiam. Sentuhan jemari Laura di pelipisnya terasa hangat, kontras dengan hawa dingin yang biasanya ia bangun di sekelilingnya. Untuk sejenak, keheningan di ruang makan itu terasa begitu pekat hingga suara detak jam dinding pun terdengar jelas.
Gaharu menepis pelan tangan Laura, namun tidak dengan kasar. Ia memperbaiki posisi duduknya, lalu menatap piring yang penuh dengan hidangan rumahan itu.
“Kamu tidak memasukkan sesuatu yang aneh ke sini, 'kan?” suara Gaharu berat, datar tanpa ekspresi.
Laura tertawa kecil, suara tawa renyahnya memecah ketegangan. Ia menarik kursi di samping Gaharu dan duduk dengan santai. “Kalau aku ingin meracunimu, aku tidak akan memasak sebanyak ini. Mubazir bumbunya.”
Sekretaris Juan tersedak ludahnya sendiri mendengar kejujuran Nyonya mudanya yang kelewat batas itu. Sementara Gaharu hanya mendengus, akhirnya mengambil sendok dan mencicipi suapan pertama.
Mata Gaharu sedikit melebar. Rasa masakan itu... familiar. Gurih, namun ada sentuhan lembut yang mengingatkannya pada sesuatu yang sudah lama hilang. Ini mirip seperti masakan Ibunya...
“Bagaimana? Enak? Kamu juga harus coba ini,” Laura menyendokkan hidangan lain di atas piring Gaharu.
“Juan, pelayan Kim, jangan hanya menonton. Meja ini terlalu besar kalau hanya dihuni satu patung bernapas dan satu wanita cantik.” Laura melambaikan tangan kepada mereka berdua.
“Nyonya, saya rasa—”
“Ini perintah dari istri pemilik rumah,” potong Laura cepat, senyum manisnya masih terpasang, meski tatapannya pada Juan kembali menajam. “Duduk. Atau aku akan bilang pada mertuaku kalau kalian membiarkanku makan sendirian sampai aku menangis.”
Ah... Sebenarnya ancaman itu tidak yakin akan mempan. Namun mereka dengan patuh ikut duduk saat melihat isyarat Gaharu. Laura mendengus saat melihat.
'Cih! Cuma lirikan doang langsung patuh. Pilih kasih banget.'
Dengan ragu kedua pria berbeda usia itu duduk. Sementara Gaharu, pria itu justru sibuk mengunyah dalam diam, meskipun dalam hati ia harus mengakui bahwa masakan Laura jauh lebih baik dari pada koki bintang lima manapun yang pernah disewa olehnya.
“Suami,” panggil Laura lembut saat pria itu baru saja menyesap teh chamomile-nya.
Jika boleh jujur, ia mual sekali berbicara lembut kepada pria di sampingnya ini. Tapi tidak masalah, strateginya saat ini adalah membuat Gaharu luluh.
Gaharu menoleh sedikit. “Apa?”
“Aku juga membuatkanmu bekal. Sekertaris Juan akan membawanya ke kantor untukmu.”
Gaharu meletakkan cangkirnya. “Aku tidak butuh bekal. Aku punya akses—”
“Aku tahu kamu punya segalanya, suami," potong Laura. Gadis itu menopang dagu dengan satu tangan, menatap Gaharu tepat di matanya. “Tapi restoran tidak memasak dengan perasaan ingin melihatmu cepat sembuh. Makanlah. Kalau tidak habis, berikan pada sekertaris Juan. Dia terlihat kurang gizi karena terus-terusan mengikutimu.”
Juan yang sedang mengunyah sepotong daging hampir saja tersedak. Ia melirik Tuannya, menunggu ledakan amarah yang biasanya meledak jika ada yang mengaturnya.
Namun, Gaharu hanya terdiam selama beberapa detik. Ia menatap kotak bekal berwarna biru navy yang sudah disiapkan di sudut meja, lalu kembali menatap istrinya.
“Terserah,” gumam Gaharu singkat sebelum memutar kursi rodanya meninggalkan meja makan. “Juan, siapkan mobil.”
Laura tersenyum lebar melihat punggung itu perlahan menjauh. Baiklah, langkah pertama sepertinya berjalan lancar. Ia membutuhkan rencana lainnya. Akan ia pikirkan strategi berikutnya.
“Pelayan Kim, jika makanannya tidak habis berikan pada pelayan yang lain saja, ya? Sayang kalo di buang. Aku mau kasih makanan ini kepada pengawalku dulu.” Laura menunjukkan dua wadah makan bertingkat itu kepada pelayan Kim.
“Baik, Nyonya.”
Setelah mendengarkan jawaban itu, Laura langsung saja ngacir menuju paviliun belakang. Ia tidak sabar dengan komentar yang akan di berikan kelima Kakak-kakaknya soal masakan yang ia buat.
***
Jadwal update harusnya besok, tapi karena besok aku sibuk, jadi aku update hari ini. Jangan lupa berikan sedikit 🤏🏻 support untuk author agar semangat menulis, terimakasih!
Selasa, 21 April 2026
Published : Selasa, 21 April 2026