Seina, adalah seorang gadis kampung yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan, dia dari keluarga baik-baik, dia juga mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya, namun dia harus kehilangan anggota keluarganya karena sebuah bencana.
Seina pun satu-satunya yang selamat dan dibawa ke tempat pengungsian oleh para relawan, gadis itu cukup terpuruk dengan nasibnya, namun dia tetap harus menjalani hidupnya.
Karena yang bernasib sama dengannya itu juga cukup banyak.
Hal itu membuatnya bangkit dan merangkul anak-anak yang bernasib sama dengannya.
Suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik jelita, dari atas kepala sampai bawah kakinya, terlihat bernilai mahal, bahkan kibasan rambutnya pun berbau dollar.
"Jadi kamu ya Seina?" tanya wanita itu dengan angkuh.
"Ya, ada apa Nyonya?" tanya balik Seina.
Wanita itu segera membuka koper besar, dan di sana terlihat sangat banyak tumpukkan uang.
"Aku sewa rahimmu!" Tegas wanita itu.
Yuk kepoin baca lanjutannya 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Alfredo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Mona sayang
" Ada apa?" Martin yang merasa terganggu.
" Saya bisa bicara berdua di dalam?" ujar Mona sambil melihat keadaan sekitar dengan rasa takut.
Martin pun mempersilahkan Mona masuk ke dalam.
" Apa?, kakak ipar datang dan melakukan itu?" ujar Martin terkejut.
" Iya Tuan, saya masih takut dan Nona Seina masih menangis di kamar." ujar Mona sambil gemeteran.
" Apa kakakku diam saja?" tanya Martin.
" Tuan Matthew tidak ada Tuan." Jawab Mona.
Martin langsung menghambur keluar kamar dan menemui Gladys.
" Kakak ipar, apa kau gila berbuat kasar pada Cina dan Mona." ujar Martin berteriak.
" Wah tampaknya kau selevel dengan mereka ya, kau juga anak gundik, kalian memang pantas satu circle." Ujar Gladys dengan santainya.
" Gila memang kau ini kak, ternyata kau sangat jahat." ujar Martin.
" Tugasmu apa?, kau harus tahu itu, cukup diam saja, memangnya suamiku akan percaya jika kau mengadu, dia pasti lebih percaya aku, aku hanya memperingati anak itu saja agar tidak lupa daratan, dah aku pergi." ujar Gladys segera pergi begitu saja.
" Dia benar - benar jahat." Martin langsung pergi mendobrak Cina.
" Aghhhh, Martin kau mengagetkan ku." ujar Seina terkejut sambil masih menangis.
" Wah, maaf, maaf Cin, aku panggil dokter ya." Ujar Martin khawatir.
" Tapi kenapa kau tidak melawan?" tanya Martin.
" Inginnya begitu." jawab Seina sedih.
" Kepalaku sakit Martin." ujar Seina memegangi kepalanya.
Martin segera memanggil semua Dokter untuk memeriksa keadaan Seina.
" Nona sangat terguncang, memangnya dia sudah mengalami apa Tuan?" tanya Salah satu Dokter.
" Ada orang gila datang dan menarik rambutnya dengan kasar." ujar Martin sambil menggertakkan gigi.
" Rumahnya tidak aman berarti, kenapa tidak pindah saja?" ujar dokter itu khawatir.
" Ini masalah internal Dok, aku saja juga tidak yakin bisa membantu." ujar Martin.
Jelas pasti kakaknya akan membela istri tercintanya, ibunya saja berani dia lawan, apalagi dirinya yang hanya anak gundik.
" Sering-sering di ajak ngobrol saja Tuan, agar nona lebih baik dan segera melupakan kejadian hari ini." ujar dokter menyarankan.
" Ya nanti akan saya ajak jalan-jalan saja Dokter." ujar Martin.
" Bagus, kalau begitu saya permisi." Dokter segera pergi.
" Cina, ayo jalan-jalan yuk!" ajak Martin.
" Nggak mau, mau istirahat dulu." ujar Seina tampak masih tertekan.
Martin pun meminta Mona untuk menemani Seina di kamarnya, sebagai teman berbincang.
Semoga saja itu hanya peringatan saja, tidak ada kedua kalinya.
Martin juga terkejut dengan sikap Gladys yang sangat menyeramkan itu.
Kasihan sekali kakaknya yang begitu baik mendapatkan wanita seperti itu, pantas saja ibu tirinya sangat ingin menyingkirkan Gladys, karena benar - benar ular.
Dan hari itu pun berlalu begitu saja, untung saja Seina anak yang tidak lemah, dia kembali ceria setelah satu Minggu berlalu, dia mulai lagi memulai bisnis kecil-kecilan nya, dia tidak berkeliling lagi melainkan membeli lapak kecil untuk mereka berjualan berdua.
Martin pun turut membantu mengangkut semua dagangan Seina dan Mona ke lapak, nanti kalau sudah habis, Martin juga yang membongkar.
Dari hasil bersih mereka jualan, mereka bagi tiga.
Tidak berhenti di situ, Seina juga membuat kerajinan tangan dari kerang-kerang untuk dijadikan cindera mata.
Sudah 2 bulan berjalan, mereka semakin menambah jenis dagangan mereka.
Dan 2 bulan berlalu ditempat itu, Gladys dan juga Matthew tidak pernah mengunjungi Seina.
Seina tentu saja sangat senang sekali dengan itu, dia sangat lega.
" Seina perutmu kok masih rata saja?" ujar Martin.
" Itu kan karena Nona tubuhnya sangat ramping Tuan." sahut Mona.
" Eh Martin, sebenarnya apa yang kau bicarakan dengan warga, mereka mengatakan kita suami istri." ujar Seina.
" Ya kalau aku bilang yang sebenarnya nggak mungkin, terus kalau aku bilang kau hamil tanpa suami nanti kau akan di olok, atau mungkin kita di kira kumpul kebo." ujar Martin menggaruk kepala.
" Ya tidak masalah kok, kalian tahu kenapa warga sangat memperhatikan aku?, aku sebenarnya bukan anak kandung ibuku, aku ditemukan terapung di laut di dalam kresek merah oleh nelayan, saat ibu melihatku dia langsung membawaku pulang dan merawat sepenuh hati." ujar Mona sambil terkekeh.
" Kau bisa cerita sambil tertawa begitu?, padahal itu menyedihkan." ujar Martin tampak merasa kasihan.
" Mungkin karena aku jelek orang tua kandungku membuang aku, hehehe." ujar Mona.
" Ya, memang tidak semua orang tua baik." ujar Martin mencoba menghibur Mona.
" Mana ada jelek, Mona kau tampak seperti gadis manis asli pribumi." ujar Seina.
" Ya aku rasa kau juga tidak hitam, itu sangat eksotis, bule - bule aja sampe berjemur seharian untuk mendapatkan kulit seperti itu. " sambung Martin.
" Terimakasih Tuan dan Nona sudah menghibur saya." Mona tampak sangat senang.
" Ya baguslah, kalau begitu jangan bahas itu lagi." Ujar Martin.
Terdengar suara bel berbunyi.
Seina sudah tampak panik.
" Tenanglah Cin, aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu." ujar Martin.
Martin segera membuka pintu, dan rupanya itu Olivia yang datang dengan sangat heboh membawa banyak oleh-oleh untuk Seina.
" OMG, di mana Seina?" ujar Olive sangat bersemangat.
" Nyonya." Seina sangat terkejut.
" Maaf, maaf ya aku baru bisa datang, lihat aku bawa banyak buah-buahan, daging-daging dan sayur segar dengan kualitas tinggi, ya ampun bagaimana keadaanmu, Martin kau bawa masuk, eh kamu anak yang tinggal di sini ya." ujar Olive menyapa Mona.
" Iya, Nyonya selamat datang, saya akan bantu Tuan muda." Mona segera membantu Martin yang tampak terpaksa memindahkan barang bawaan ibunya.
" Nyonya banyak sekali?" ujar Seina.
" Tentu saja, untukmu dan cucu-cucuku, aku akan memberikan yang terbaik." ujar Olive.
Olive menanyakan kabar Seina, dan apa saja yang dia lakukan di tempat itu, mendengar Seina melakukan bisnis kecil, justru Olive sangat senang dan akan menambahkan modal.
Namun Seina menolak karena uang yang diberikan Matthew masih sangat banyak.
" Baiklah, aku belikan kios saja ya, di tempat yang paling strategis, apa di sini tidak ada motor atau mobil?, sungguh terlalu Matthew." Olive menggeleng kepala.
" Aku belikan motor listrik satu dan mobil satu ya." ujar Olive.
" Tidak usah Nyonya, saya tidak mau merepotkan." ujar Seina.
" Butuh mobil barang kan?, pickup aja deh." ujar Olive.
" Tapi saya tidak bisa naik mobil." jawab Seina.
" Ada Martin, dia serba bisa, jangan khawatir." ujar Olive.
" Tidak Ibu, aku seorang Martin masak jadi sopir pickup?, mana ada aku tidak pernah pakai mobil begitu." protes Martin.
Mona dan Seina terkekeh mendengarnya, ibu dan anak itu ribut setiap bertemu, tapi bukan yang menegangkan tapi membuat semua tertawa.
" Kalau tidak ibu beli becak ya." tegas Olive.
" Becak?, tidak mau, ya sudah tapi yang Strada Triton ya, yang buat ambil pohon sawit itu." ujar Martin masih bernegosiasi.
" Itu kan bak belakangnya tidak luas, Mitsubishi aja dah." ujar Olive
" Bu, biar aku beli sendiri saja." ujar Martin.
" Ya sudahlah Strada, aku kan niat membelikan Seina, kau sebagai sopir seharusnya tidak banyak menuntut." ujar Olive.
" Aduh Nyonya jangan begitu, Martin membantu kami dengan tulus loh." ujar Seina.
" Entahlah Ibu itu, aku kan hanya sopir-sopiran saja." ujar Martin kesal.
" Ya sudah semoga usahanya semakin baik ya." ujar Olive.
Olive tinggal di tempat itu hanya satu hari saja, kemudian dia berpamitan, karena dia tidak suka pantai.
semangat seina, semoga author cepat membuat bahagia 🤣