Ria seorang gadis berdarah Aceh yang berasal dari keluarga sederhana. Saat duduk di SMP ia menemukan cinta pertamanya.
Di masa SMA Ria membentuk sebuah persahabatan antara dua perempuan dan satu laki-laki. Laki-laki tersebut berasal dari keluarga yang kaya raya, diam-diam laki-laki ini mulai jatuh cinta kepadanya. Bahkan, ketika Ria mendapatkan beasiswa kuliah ke Jakarta ia selalu mengikuti kemana Ria pergi.
BUGH...
Ria terjatuh di kamar kosnya.
Apa yang terjadi dengan Ria?
Siapakah yang akan menjadi belahan jiwanya?
Cinta pertama atau sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Farida Ariani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Pawai Bersama
Langsung Ku tundukkan pandanganku. Setelah tepat berada di depan mejaku, dihentikan langkahnya.
"Ria,, Kamu jadi ikut pawai?". Tanya Dayat kepadaku.
"Insya Allah jadi Yat". Jawabku.
"Pakai pakaian apa?". Tanyanya kembali.
"Aku belum tahu". Jawabku singkat.
"Ayolah... Kita pasangan aja bajunya.." . Bujuk Dayat kembali.
"Aku tidak tahu Dayat, apakah Ibuku akan mengizinkannya". Jelasku.
"Ayolah Ria,,, Please.. ". Dayat mulai merayuku dengan memasang muka memelas.
"Aku tidak berani berjanji Dayat, akan Ku pertimbangkan lagi ya". Tambahku.
Tiba-tiba Bu Nisa masuk, pertanda bel istirahat telah selesai. Sekarang mulai jam pelajaran berikutnya.
Kami mengikuti pelajaran dengan sangat serius. Hingga tak sadar, bel jam terakhirpun berbunyi.
Aku dan Liani pulang sekolah dengan hati gembira.
Sesampai di rumah, Ku beritahu Ibu bahwa Aku ingin ikut karnaval saat 17 Agustus Minggu depan.
Tapi sayangnya, Ibu tidak mengizinkan Aku untuk mengenakan pakaian adat. Boleh saja ikut, tapi kenakan pakaian profesi saja. Jadi tidak perlu sewa pakaian adat. Begitu penjelasan Ibu.
"Bagaimana cara menjelaskannya pada Dayat besok ya". Hatiku berkata dengan wajah sedih.
Keesokkan harinya. Semua siswa sudah hadir di sekolah. Kami sudah berkumpul di dalam kelas menunggu bel pertama bunyi tanda jam pelajaran pertama akan dimulai.
Tampak Dayat, Rizki dan Arif juga teman laki-laki lainnya sedang bersenda gurau kelihatan sangat bahagia mereka.
Wahai hati..
Berdamailah
Bermain bersama awan yang indah
Angin lembut membelai pipi
Suara burung seakan berbisik sungguh menenangkan.
Wahai hati ..
Tersenyumlah
Tidakkah engkau melihat
Tawa mereka sungguh lepas
Terbang bebas seperti burung lepas dari sarangnya.
Wahai hati..
Jangan gundah lagi
Bangkitlah
Coba lihat disana, ada mentari yang mulai terbit
Walaupun terik, tapi dia menerangkan setiap sudut kegelapan
Bunyi bel mengejutkanku.
Lalu diikuti dengan suara pengeras suara memanggil semua siswa yang ikut karnaval minggu depan, diminta untuk berkumpul di lapangan yang berada di tengah sekolah.
Dayat dan teman-teman satu persatu meninggalkan kelas. Aku masih enggan beranjak dari kursi kelasku.
Liani menarik tanganku
"Ayo Ria.. Tunggu apa lagi?". Ajak Liani.
"Aku tidak usah ikut aja ya Liani? ". Tanyaku.
"Kenapa lagi Kamu Ria sayang? Kok plin plan gini?". Protes Liani.
"Aku tidak diizinkan Ibu untuk ikut pakaian adat?". Jawabku dengan muka sedih.
"Aku tidak ada teman nanti Ria..". Liani mulai resah.
"Kamu ikut saja, Kita pakai Baju Dokter, nah itu kan pakaian profesi". Jelas Liani lagi dengan memberi ide.
"Memang boleh???". Tanyaku tidak percaya.
"Boleh dong... Ayo kita baris dulu di luar, nanti Kita tanya ke Bu Wati". Pinta Liani sambil menarik tanganku.
Sementara di lapangan, Dayat mulai resah karena tidak menemukan Aku dalam barisan.
Lalu Aku dan Liani sampai di lapangan dan berbaur dengan teman lainnya.
Masih melihat kesana kesini, akhirnya Dayat melihatku yang baru saja tiba di lapangan bersama Liani.
Lalu Bu Wati mulai menjelaskan rencana Sekolah saat mengikuti karnaval nanti.
Setelah dijelaskan panjang lebar dan diakhiri dengan salam. Semua siswa berlarian masuk ke dalam kelas masing-masing.
Aku dengan malas masih berdiri dengan Liani menunggu yang lain masuk kelas dulu agar tidak berdesakan di jalan.
Lalu tiba-tiba Dayat datang dengan muka sumringah.
"Ria.. Kita jadi pakai baju berpasangan bukan? Kita pakai baju Padang aja gimana Ria?". Ucap Dayat sangat bersemangat.
"Maaf Dayat, Aku tidak bisa. Tapi Aku tetap ikut karnaval kok". Jawabku mulai bersemangat.
Aku mulai berjalan bersama Liani menjauhi Dayat yang masih berdiri kaku di lapangan sekolah.
Saat Aku menaiki tangga hendak menuju ke kelas, Dayat mengejarku dari belakang.
"Ayolah Ria,,, Kita pakai baju adat Padang ya..". Dayat masih belum menyerah membujukku.
Aku menoleh ke samping ke arah dimana Dayat berdiri persis disebelahku. Aku hanya terdiam dan melanjutkan kakiku sampai kedalam kelas dan duduk di kursiku.
Ternyata Dayat masih mengikuti Aku sampai di kursi.
"Ria...". Dayat menunggu jawaban dariku.
Aku hanya tersenyum dan melihat ke arah pintu dengan maksud memberitahukannya bahwa Ibu Wati sudah datang.
Cepat-cepat Dia berlari menuju ke kursi dimana tempat dia duduk.
Dia menoleh ke arahku dengan muka manyun.
Aku hanya tersenyum geli melihatnya bertingkah seperti itu.
Setelah mengucapkan salam, Bu Wati mulai mencatat nama-nama siswa di kelasnya yang ikut karnaval lengkap dengan pakaian apa yang akan dikenakan nanti saat hari "H".
"Ria, ikut pakaian apa?". Tanya Bu Wati langsung kepadaku.
"Sama seperti Liani Bu, Kami pakai baju profesi Dokter atau Perawat". Jawabku.
Dayat mendengar pengakuanku kepada Bu Wati. Dia tampak lesu tak seceria tadi pagi.
"Kamu Dayat?". Sambung Bu Wati.
"Saya belum tahu Bu, tapi saya usahakan pasti ikut". Jelasnya kepada Ibu Wati.
"Oke anak-anak, sekarang buka buku LKS halaman 20 kerjakan soal-soal di halaman tersebut hingga selesai". Perintah Bu Wati.
Diam-diam Aku melihat ke arah Dayat, Dia masih terlihat murung. Apa karena Aku tidak jadi pakaian berpasangan sama Dayat ya Sahabat...???
Saat jam istirahat, Dayat masih duduk di kursinya. Dia memang siswa yang jarang pergi ke kantin, Dia lebih suka titip jajanan pada saudara kembarnya.
Ku beranikan diri untuk berbicara dengannya.
"Dayat...". Panggilku dari kursi dimana Aku duduk.
Dia menoleh dengan malas ke arahku tanpa suara.
"Kamu marah ya?". Tanyaku.
"Tidak..". Jawabnya sambil membuang muka dan kembali membaca buku di atas mejanya.
"Kamu pakai baju Pak Dokter saja Yat". Bujukku.
Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi....?". Tanyaku lagi dengan suara lembut.
"Lihat saja nanti". Jawabnya singkat tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.
Aku hanya diam, Aku tahu Dayat marah padaku.
Selesai makan dari bekal yang Ku bawa. Aku keluar kelas menuju kamar mandi.
Diam-diam Dayat melihat ke arah dimana Aku biasanya duduk. Dia tidak menemukan Aku. Dia hanya menghembuskan nafas sedikit kasar seperti biasanya.
Dia tidak perduli. Dia tetap duduk sabar menunggu Abangnya datang membawa jajanan yang telah dipesannya.
Rizki datang.
"Kenapa Kamu Yat?". Tanya sang Abang yang melihat Adiknya cemberut tidak seperti biasanya.
"Kita pakai pakaian apa nanti Bang? ". Tanyanya.
"Itu saja Kamu bingung... Nanti Kita tanya Bu Wati, bagusnya Kita pakai baju apa". Jawabnya.
"Aku juga sama seperti kalianlah". Sambung Arif.
Bel berbunyi, Aku telah kembali kedalam kelas. Saat masuk kelas. Ku lihat kelas sedikit sepi tidak seperti biasanya.
Ternyata tidak Ku temukan Dayat, Rizki dan Arif di dalam kelas.
"Sepertinya Dia masih marah padaku". Hatiku berkata.
Sebelum pelajaran selanjutnya hampir dimulai, masuklah Dayat, Arif dan Rizki ke dalam kelas.
"Maaf Pak,, Kami dipanggil Bu Wati tadi". Jelas Rizki kepada Guru Olahraga Kami sebelum diminta.
"Iya.. Silahkan duduk..". Ucap Pak Dedi.
Dayat, Rizki dan Arif duduk di kursinya masing-masing. Dayat menoleh melihatku dan tersenyum. Aku hanya membalas senyumnya tanda tidak mengerti.
😁
suka banget sama karya kaka
salam dari *make sure you love me*
karya baru kak..
Tentang Kenangan💙 disini
Salam dari ❤️Sepenggal Kisah di Negeri Jiran❤️
di tunggu feedbacnya.. 😊