Jika orang lain memilih pergi saat tahu suaminya mendua, aku memilih bertahan dan memberi kejutan manis untuk suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susan saliman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MeGa
Pagi harinya Menur sudah sumringah karena hari ini rutinitas barunya akan di mulai, buka toko material, " MeGa Material ", Singkatan Menur-Yoga.
" Kreatif juga kamu ngasih nama tokonya Nur?", Ucap Yoga mendekati Menur saat melihat dua pegawsi tengah memasang spanduk besar di depan toko.
" Kan Mas yang memberi Menur inspirasi", Yoga mengkerutkan keningnya saat mendengsr Menur menjadikan diri Yoga inspirasi.
" Inspirasi yang mana Nur?", Tanya Yoga dengan wajah penasaran.
Menur mendekatkan wajahnya pada telinga Yoga, "Dari nama kedai, itu kan dari nama salah satu kekasih mas kan?", Bisik Menur.
Deg
Untuk beberapa waktu, detik Yoga tergagap, nanun dengan cepat dia menguasai keadaan hatinya yang terkaget barusan.
" Sok tahu!", Jawab Yoga, secepat mungkin untuk menutupi rasa kagetnya.
" Hemmm.... Tapi sepertinya iya", Jawab Menur lagi tersenyum.
Yoga hanya mendengus, " Nih!", Yoga memberikan Menur sebuah kotak hadiah pada Menur yang baru saja dia ambil dari dalam mobilnya.
" Apaan Mas?", Tanya Menur penasaran, namun dia menerima barang itu dari tangan Yoga.
" Buka saja, itu sebagai penyemangat usaha mu Nur, semoga sukses ya... ", Yoga mengajak pucuk kepala Menur ysng tertutup hijab warna navi.
" Buka", Tambahnya lagi.
" Ya Ampun, laptop! Kok di kasih ini mas, kan Menur sudah punya", Protes MENUR.
" Biar lebih baru lah modelnya, lagian mas kasih itu, karena untuk menyemangati Mu Nur, dan yang laptop lama mu bisa kamu berikan pada Ferdi", Ucap Yoga.
" Ya ampun terima kasih mas, jadi terharu aku tuh", Menur memeluk pinggang Yoga dan mengecup pipinya sekilas.
" Kok dikit sih yang banyak dong kalau cium tuh, ga kerasa!", Protes Yoga.
" Mulai deh, ga tulus ih ngasih laptopnya", Sungut Menur.
" Dih nuduh, siapa yang ga tulus coba, cium cuma sett... sekilas, itu namsnya ga ikhlas... kalau ikhlas yang lama, terus bukan hanya pipi lah", Yoga menunjuk bibirnya.
" Itu sih mau nya mad, lupa tadi malam sampai ambrug masih saja bicaranya aneh", Sewot Menur, namun grli juga mengingat duaminya itu godain sepsnjang jalan pulang dari kedai katanya minta nambah tapi di jabani menur hampir tiga jam, ambrug, alias tumbah.
" Aishhh.... itu karena kamu semalam kayak orang kesurupan Nur, mungkin kamu dimasuki penunggu batu besar itu sehingga tenaga mu super", Bisik Yoga pada Menur.
" Ngarang! Mana ada jin mengikutiku, yang ada ngikuti mas itu baru betul", Menur terkekeh lebar.
" Lha, yang aneh kamu kok, malah mas yang di tuduh nih", Protes Yoga.
" Aku ga aneh, tapi.... sudah lah, sana berangkat kerja sudah siang nih", Menur mendorong suaminya itu untuk berangkat kerja.
" Nanti, mas mau ke kantor mas jam 10 Nur, masih ada waktu 2 jam menemani mu", Jawab Yoga berbalik badan menghadap Menur.
" Oh, ya sudah, tapi jangan jahilin Menur terus mas, iseng banget jadi orang", Gerutu Menur kembali menuntun Yoga untuk duduk di kursi kerjanya.
" Mas, aku ini kan hanya kerja di rumah bukan di kantor yang gimana gitu, kok dibeliin laptopnya yang bagus sih, padahal itu juga sudah sangat cukup, maaf nya tidak berteima kasih, cuma sayang", ucap Menur manja.
" Biar kamu bisa melakukan lebih Nur, tidak terbatas oleh kemampuan laptop jadul mu itu, lagian yang ini baterainya lebih awet dan kamu juga bisa edit edit foto, video, apa saja dengan leluasa", jawab Yiga sekenanya biar istrinya tidak protes terus.
" Terima kasih ya mas, moga rejeki mas lancar terus, mas sehat terus dan bahagia", Jawab Menur memeluk suaminya.
" Iya, Aamiin... ", Yoga tersenyum, terbersit ingatan di hatinya, Menur selalu mengucapkan terima kasih jika diberikan sesuatu, membuat hatinya senang dan merasa di hargai sebagai suami.
" Mas berangkat sekarang saja, hampir jam sepuluh", Yoga melihat jam di pergrlangan tangannya.
" Ita mas, hati hati", Jawab Menur mencium punggung tangan Yoga.
" Assalamualaikum", Ucap Menur, yang di balas senyum oleh Yoga.
" Jawab dong mas, Menurksn menfoakan mas", Kata Menur cemverut.
" iya, waalaikum salam", Yoga menjawab pelan kemudian masuk mobil dan segera berangkat.
🐝🐝🐝🐝
Dan sore hari Menur sudah beres dari toko dan sekarang berada di rumah, hari ini dia berencana untuk membereskan kamar agar lebih rapih dan wangi, berusaha mengatur waktu antara kerja, ngurus suami dan rumah, karena tadi pagi Menur tidak sempat membersihkan kamar hanya melipat selimut dan merapikan sprai saja, sementara menyapu dan memvacum, ngepel belum sempat dia lakukan.
Menur memang tidak menyerahkan itu pada mbak Nah, dia ingin mengurus rumah meski hanya sebatas kamar saja, minimal tempat itu kena dengan sentuhan tangannya setiap hari.
" Nur, meski bekerja jadi perempusn itu ya gitu kudu gesit, lincah, segala bisa", Ucap bu Salim melihat Menur dengan slat perangnya yang baru saja beres mengeprl kamar.
" Iya bu," Jawab Menur pasrah dengan nasehat ibu mertuanya.
" Kalau bangun itu ga boleh boleh siang siang entar rejekinya di patok ayam", Imbuh bu Salim, masih mengawasi kegiatan Menur.
Menur menarik nafas dalam, sambil mendengar setiap ucapan ibu Salim, tidak ada niatan untuk menjawab, tenaganya sudah habis, belum lagi harus menyetrika pakaian kerja Yoga, yang semenjak Menikah tidak boleh di lakukan lagi sama mbak Nah, mbak Nah hanya boleh mengangkatkan dan melipatkan saja tidak boleh nyetrikain, itu nasehat bu Salim 2 hari setelah menikah pada Menur.
" Mandi tidak boleh kemaleman Nur, usahsin beberes kamar itu pagi pagi sebelum jaga toko", Ucapnya lagi, Menur cuma mengangguk.
Kali ini Menur berfikir memang benar seharus membersihkan kamar pagi pagi saja, saat Yoga mandi, " Oke", batin Mrnur memvenarkan nasehat ibu mertuanya.
" Maaf bu, Menur mau mandi dulu keburu maghgrib", Menur segera pergi dari hadapan ibu mertuanya.
Bu Salim memandangi punggung Menur yang sudah berjalan menjauhinya.
Kebiasaan bu Salim jika melihat sesuatu itu langsung berkomentar, mengkritik, mencela, memuji, mencibir, semua yang beliau lihat, dipandang dengan mata kemudian beliau ungkapakan dengsn lisannya.
Begitu juga saat melihat Menur, cara kerjanya, sopan santunnya, kebiasaan Menur, yang tidak sesuai pasti akan beliau kritik langsung.
" Hahhh.... ", Desah Menur saat sampai di kamar.
" Sabar sabar..... ga papa ibu begitu karena perhatian, karena sayang.... iya sayang ... tapi sama mas Yoga, saking sayangnya sama anak semata wayangnya itu... hemmm... ", gumam Menur bermonolog dengan hatinya.
" Ya Alloh.... Apa aku bahagia? Apa aku sekuat baja? atau aku bisa menjadi lentara untuk keluarga Salim ini.... Astaghfirulloh.. Beri hamba banyak kekuatan", Menur beranjak menuju kamar mandi, tidak ingin mendapat kompain dari ibu mertuanya lagi hari ini, cukup lelah sudah, ingin segera istirahat dengan tenang.
BACA JUGA KARYAKU YANG LAIN YA🙏🙏😘😘😘
Sama tokoh yoga,gak ada insyafnya
Semakin tua,bukannya keimanan diperkuat,dipeluk diam aja,kaya kucing
Garong,udah thor pisahin aja mereka
Biar aja menur jadi janda daripada dibohongi terus,tobat sambel
bagus ceritanya
sukses
semangat