NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Gelap.

Bukan gelap biasa yang datang saat lampu dimatikan dan mata masih bisa menyesuaikan diri. Ini gelap yang terasa seperti sesuatu yang hidup, yang duduk di atas dada dan tidak mau bergerak, yang mengisi paru-paru dengan udara yang terasa lebih berat dari yang seharusnya.

Pearl meringkuk di lantai, lutut ditarik ke dada, mencoba mempertahankan sisa panas tubuh yang terus bocor ke permukaan dingin di bawahnya. Di sudut ruangan, tetesan air dari pipa tua jatuh dengan ritme yang konsisten tetes, tetes, tetes, seperti jam yang menghitung waktu tapi tidak memberi tahu berapa lama sudah berlalu.

Malam atau pagi, Pearl tidak tahu lagi.

Yang ia tahu hanya perutnya perih, tenggorokannya kering, dan pikirannya tidak berhenti berputar ke satu tempat yang sama.

Ibunya.

Apakah Lorcan sudah benar-benar memindahkannya? Apakah mesin itu masih menyala? Apakah ada seseorang di sana yang tahu bahwa perempuan itu butuh dijaga?

"Lorcan..." bisiknya ke kegelapan, suaranya pecah menjadi sesuatu yang hampir tidak bisa disebut suara. "Tolong..."

Kesunyian tidak menjawab.

Suara kunci diputar.

Pearl menutup matanya dengan tangan saat cahaya lorong menyerbu masuk, menyilaukan, tidak ramah, setelah kegelapan yang sudah terlalu lama. Langkah kaki yang berat dan terukur mendekat.

Lorcan berdiri di depannya.

Setelan yang berbeda dari semalam. Wajah yang sudah kembali terkunci rapat. Di tangannya, sebotol air dan sepiring roti.

"Masih hidup?" tanyanya. Suaranya terdengar sangat jauh.

Pearl mencoba bangkit, lututnya tidak langsung mau bekerja sama. Ia merangkak mendekat, tangannya yang gemetar meraih ujung celananya. "Ibu... di mana Ibu, Lorcan? Tolong katakan padaku di mana dia--"

Lorcan menarik kakinya mundur, mundur satu langkah yang terasa seperti penolakan yang jauh lebih besar dari jarak fisiknya. "Kamu masih punya keberanian untuk menanyakan itu setelah semalam?"

"Aku tidak bersalah!" Sisa kekuatan Pearl keluar sekaligus. "Orla mengancam akan masuk ke kamar Ibu jika aku tidak datang! Aku pergi untuk menghentikannya, untuk melindunginya! Bukan untuk bersekongkol!"

Lorcan berjongkok.

Matanya sejajar dengan mata Pearl dan dari jarak sedekat ini, Pearl bisa melihat bahwa di balik semua dingin itu, ada sesuatu yang terbakar. Sesuatu yang sudah lama terbakar dan tidak tahu cara padam.

Tangannya mencengkeram rahang Pearl. "Cerita yang rapi. Tapi aku bukan orang yang mudah percaya pada cerita, Pearl, apalagi dari keluarga Rowan." Ia melemparkan beberapa lembar foto ke lantai beton di antara mereka. "Lihat ini."

Pearl menatap foto-foto itu.

Dirinya dan Orla di kafe, dari sudut kamera pengawas di luar, mereka tampak seperti dua orang yang sedang berdiskusi dengan tenang. Tidak ada tanda ketakutan. Tidak ada tanda ancaman. Hanya dua perempuan yang duduk berhadapan seperti sedang merencanakan sesuatu bersama.

Pearl menutup matanya.

Orla sudah tahu. Sudah tahu dari awal bahwa Lorcan akan membuntuti. Sudah menyiapkan semua ini jauh sebelum Pearl menginjakkan kaki di kafe itu.

"Dia bohong," bisik Pearl. "Orla selalu tahu cara membuat sesuatu terlihat seperti yang dia mau. Kamu tahu dia seperti itu, Lorcan kamu pernah mengenalnya. Kamu tahu--"

"Jangan." Suara Lorcan turun menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. "Jangan gunakan apa yang aku tahu atau tidak tahu tentang dia untuk membelamu."

Ia berdiri, meletakkan piring roti di lantai dengan gerakan yang lebih kasar dari yang diperlukan.

"Besok pagi ada pernyataan pers. Kita akan mengumumkan bahwa istriku perlu beristirahat dan akan meninggalkan kota untuk sementara." Nada bicaranya kembali ke register yang datar dan dingin, register bisnis, register kontrak. "Kamu akan dibawa ke vila di pegunungan. Penjagaan ketat. Tanpa ponsel, tanpa akses ke luar."

Pearl mendongak. "Kamu ingin membuangku?"

"Menyingkirkan masalah sampai aku tahu harus melakukan apa," jawab Lorcan. "Dan jangan bicara soal hukum, ayahmu sudah menyetujui ini. Selama dana terus mengalir ke perusahaannya, ia tidak akan mengajukan pertanyaan apa pun."

Kata-kata itu mendarat lebih keras dari tamparan.

Ayahnya.

Pearl tertawa, bukan tawa yang hangat, bukan tawa yang bahagia. Tawa kecil yang keluar dari tempat paling kosong di dalam dirinya, tempat yang sudah tidak punya energi untuk menangis lagi.

"Ambil semuanya," katanya akhirnya, suaranya tenang dengan cara yang terasa lebih menyeramkan dari tangisan mana pun. "Ambil semua yang kamu mau. Tapi biarkan aku melihat Ibu sekali saja. Setelah itu, bawa aku ke mana pun yang kamu mau."

Lorcan menatapnya.

Dan untuk sepersekian detik, sangat singkat, sangat kecil, sesuatu bergerak di wajahnya. Pearl melihatnya. Kehampaan di mata Pearl yang mengingatkannya pada sesuatu, pada seseorang, pada waktu yang sudah ia paksa untuk tidak diingat.

Tapi ia segera membuang pandangannya.

"Makan rotimu," katanya. "Aku butuh kamu dalam kondisi yang cukup baik untuk tampil besok."

Ia berjalan ke pintu.

Berhenti di ambang.

Punggungnya membelakangi Pearl saat suaranya keluar, pelan, tanpa ekspresi, tapi tepiannya tajam seperti selalu.

"Dan jangan lakukan sesuatu yang bodoh malam ini. Jika ada sesuatu yang terjadi padamu di ruangan ini, pengobatan ibumu berhenti"

Pintu besi menutup.

Suara kunci berputar.

Kegelapan kembali.

Pearl menatap piring roti di lantai.

Ia tidak menyentuhnya.

Ia merebahkan tubuhnya di beton yang dingin, menatap langit-langit yang tidak bisa ia lihat, dan membiarkan kegelapan itu duduk di atasnya tanpa melawan.

Ia memikirkan ibunya, berbaring tenang di suatu tempat yang tidak lagi bisa Pearl jangkau, tidak tahu bahwa putrinya sedang meringkuk di lantai beton di bawah tanah dengan harapan yang semakin tipis.

Ia memikirkan Orla dan betapa rapinya semua ini direncanakan, betapa mudahnya ia terjebak, betapa bodohnya ia percaya bahwa pergi ke kafe itu adalah pilihan yang benar.

Air matanya jatuh ke beton tanpa suara.

Di ruang bawah tanah yang dingin itu, Pearl berbaring sendirian dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak tahu lagi dari mana ia harus mengambil kekuatan untuk hari berikutnya.

**

Di lantai atas, Lorcan berdiri di depan jendela ruang kerjanya.

Kota terbentang di bawahnya, lampu-lampu kecil yang berkedip, kehidupan yang terus berjalan tidak peduli apa yang terjadi di dalam mansion ini.

Tangannya tidak gemetar kali ini.

Tapi ada sesuatu di dadanya yang tidak mau diam, sesuatu yang berdenyut di tempat yang sudah lama ia putuskan untuk tidak ia pedulikan.

Ia mengingat tawa kecil Pearl tadi.

Tawa dari tempat yang kosong.

Lorcan menutup matanya sebentar, menekan jemarinya ke kaca jendela yang dingin.

Dia hanya bagian dari kontrak,ia berkata pada dirinya sendiri.

Tapi kali ini, bahkan ia sendiri tidak yakin siapa yang sedang ia coba yakinkan.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!