Kemuning seorang gadis kecil murid sekolah dasar di desa yang cukup makmur. Dia diasuh oleh kakek dan neneknya.
sehari-hari dia sering dibully oleh teman-temannya di sekolah karena lahir tanpa ayah dan ibunya adalah bekerja sebagai TKW di Korea Selatan.
Ibunya pulang dalam keadaan hamil tanpa suami. Setelah melahirkan beberapa bulan kemudian ibunya kembali bekerja di Korea dan sejak saat itu Kemuning tumbuh besar dalam pengasuhan kakek dan neneknya.
Bagaimana Kemuning menghadapi bullian dari teman-temannya? Bagaimana nasib Kemuning di masa depan dengan labelnya sebagai anak Haram?
ikuti keseruan kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Soehardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Agus betul-betul membuktikan kata-katanya dia mencari rumah kontrakan dan mengajak istrinya pindah keesokan harinya.
Terpaksa Narti mengikuti keinginan suaminya. Agus membeli perabot yang dibutuhkan di rumah kontrakannya.
“Dek arisan-arisanmu mu itu bisa tidak kamu operkan saja ke orang lain. Cukup arisan RT sajalah kegiatanmu itu. Daripada kamu arisan-arisan tidak jelas lebih baik mulai belajar digital marketing dan mulailah bekerja dari rumah supaya kamu tidak terlalu bosan dirumah dan bergaul dengan ibu-ibu bergaya Hedon kredit macam-macam arisan sana sini. Mas tidak suka ya.” Kata Agus memarahi istrinya.
Narti hanya menuruti suaminya. Dia tidak lagi sering ikut arisan-arisan lagi. Dan mulai ikut kelas online marketing digital.
Sementara itu kakaknya Narti yang sudah menikah dengan duda tanpa anak sedang berjuang melahirkan anak pertamanya. Dia awalnya mengeluh sakit perut yang hilang dan pergi. Dia menelepon suaminya yang saat itu bekerja di pabrik.
“Mas perutku terasa sakit jangan-jangan ini sudah waktunya melahirkan.” Kata Inah.
“Mas masih kerja dek, mas usahakan pulang secepatnya. Mas akan menghubungi ibu biar kamu ada yang menemani.” katanya sambil menutup telephone nya.
Inah menghubungi Narti dan tidak lama kemudian Narti datang ke rumah Inah untuk menemaninya.
“Mbak bagaimana keadaanmu? Aku antar ke rumah sakit ya.”
“Siapa yang mau ke rumah sakit?” Tidak perlu ke rumah sakit. Melahirkan dirumah saja ini ibu sudah membawa dukun beranak yang biasa membantu kelahiran warga desa.” Kata mertua Inah.
Dukun itu pun mulai menyiapkan untuk pasiennya yang akan melahirkan.
Inah ragu-ragu tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia menatap adiknya seolah meminta tolong melakukan sesuatu.
Adiknya paham. Dia keluar dari rumah itu dan menghubungi ibunya dan menghubungi suaminya.
Dia mengetik pesan kepada ibunya dan suaminya tentang apa yang sedang terjadi.
Narti masuk lagi ke rumah kakaknya. Dan duduk disamping kakaknya sambil menggenggam tangannya.
Tak lama ibunya Inah datang dan langsung masuk ke kamar Inah.
“Nak bagaimana rasanya apa perutmu sudah sakit sekali dan rasa sakitnya semakin sering?”
“Iya bu, aku kencing terus.” Jawab Inah.
“Ini bukan kencing nak tapi air ketubannya sudah keluar harusnya kamu sudah dibawa ke rumah sakit.” Kata ibunya.
“Enak saja melahirkan di rumah sakit disini sudah ada dukun beranak kok. Jangan manja melahirkan dirumah saja” ketus ibu mertuanya.
“Bu Minah jangan begitu melahirkan itu taruhan nyawa, bagaimana kalau terjadi apa-apa sama anak saya?” Protes ibunya Inah saat besannya melarang membawa anaknya ke rumah sakit.
Neneknya Kemuning mendengar dari Agus kalau Inah akan melahirkan. Dia datang ke rumah Inah untuk melihat keadaannya.
Mertua Inah tetap bersikeras kalau Inah harus tetap melahirkan dirumah saja dengan dukun beranak.
“Melahirkan di rumah sakit memangnya biayanya murah. Anakku kerja keras memberimu makan kamu buang-buang duit hanya untuk melahirkan di rumah sakit? Dirumah dan dirumah sakit toh ya sama-sama melahirkan.” Katanya.
“Membiayai istri melahirkan itu sudah menjadi kewajiban suami bu. Kalau tidak mau keluar duit untuk istri melahirkan ya jangan nikahi anak orang.” Kata neneknya Kemuning.
Tak lama Agus datang dan dia membawa mobil sesuai permintaan ibunya.
“Gus aku tidak mau ambil resiko terjadi apa-apa sama anakku. Tolong bantu ibu bawa Inah ke rumah sakit “ kata ibunya Inah.
“Besan jangan lancang membuat keputusan sendiri. Hanya suaminya yang berhak membawanya bukan orang lain.”
“Aku ibu kandung Inah bukan orang lain. Kalau anakmu tidak bertanggung jawab terhadap istrinya begitu anaknya lahir mereka bisa bercerai dan Inah bisa kembali kepada orang tuanya. Minggir.” Ketus ibunya Inah sambil mendorong besannya.
Inah sudah tidak kuat bangun. Agus menggendong Inah dan membawanya ke mobil. Sementara itu Narti menyiapkan beberapa baju ganti kakaknya dan mengambil dompetnya yang berisi identitas diri kakaknya. Lalu menyusul ibu dan kakaknya ke mobil. Mobil pun meluncur tanpa menghiraukan sumpah serapah mertua Inah.
Sesampainya di rumah sakit Inah langsung di geledek ke ruang bersalin. Agus mengurus administrasinya. Mereka menunggu diluar ruang bersalin dengan cemas.
Tak lama dokter keluar dan menanyakan keluarga Inah. Ibu Inah dan Agus berdiri. Dokter menjelaskan bahwa persalinan Inah sangat sulit dan harus dibantu dengan alat supaya bayinya bisa keluar untuk itu salah seorang dari keluarganya harus menanda tangani dokumen persetujuan tindakan.
Ibu Inah menanda tangani dokumen itu. Dan dokternya kembali masuk ke ruang bersalin.
Tak lama terdengar suara tangis bayi. Susternya keluar sambil membawa ari-ari bayi dan mengabarkan kalau bayinya sudah lahir. Ibu dan bayinya baik-baik saja.
Agus, ibunya Inah dan Narti mengucapkan Alhamdulillah. Semua merasa lega bercampur bahagia.