Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.
.
.
Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.
.
.
"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.
.
.
"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah dan nikmat
Kening Adam sedikit berkerut melihatku.
Apa yang dia pikirkan tentang sosis?
Lantas aku pun mengedipkan mata nakal seraya berjalan di depannya untuk membuka lemari pendingin.
Kukeluarkan sosis ayam dari dalam freezer dan menoleh kearahnya sambil menutup kembali pintu kulkas.
"Aku mau goreng sosis. Kamu mau gak?" tanyaku menepiskan pikirannya tentang sosis.
Adam tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.
Aku turut tersenyum. Ternyata benar apa yang aku pikirkan, pikirannya kemana-mana mendengar kata sosis yang kusebut.
Kutuang air panas dalam dispenser untuk menormalkan suhu sosis yang membeku.
"Nanti kalau aku makan jangan minta ya?" ucapku sambil membuang air panas setelah batu es yang menempel hilang. Kemudian aku bilas dengan air kran.
Adam sudah memanaskan minyak untukku. Kutiriskan air, sedang Adam melanjutkan memotong lasagna yang di panaskan di oven tadi.
Masalahmya sekarang, aku takut memasukkan sosis kedalam minyak yang telah panas. Jujur aku punya pengalaman buruk tentang minyak panas, hingga sedikit fobia untuk melakukannya lagi.
Nafas panjang kuhirup dalam-dalam, coba menyingkirkan pengalaman buruk itu. Namun, aku masih takut untuk memasukkan sebatang sosis yang berada di tanganku. Aku bingung, antara ingin melempar sosis itu kedalam kuali untuk menghindari percikan minyak panas, atau malah kuletakkan perlahan. Tapi kalau kuletakkan pelan-pelan, nanti sosisnya meletus-letus dan tanganku juga ikutan terkena minyak.
Aduh, gimana ini?
Heist! Itulah, tadi sok-sok-an mau makan sosis. Sekarang malah bingung mau menggorengnya gimana. Sementara minyak, asapnya sudah mengepul menandakan sudah panas.
"Loh, kenapa? Tidak jadi goreng sosis?" tanya Adam sambil mematikan api kompor.
Aku memandangnya dengan wajah meringis. "Aku takut minyak panas."
Adam malah tersenyum dan mendekatiku.
"Tidak perlu takut. Kamu letakkan saja pelan-pelan biar minyaknya tidak memercik keluar."
"Nanti kalau dia meletus-letus."
Adam tertawa kecil.
"Ya, memang kadang meletus sedikit, tapi tidak apa-apa. Sini saya kasih contoh."
Adam mengambil sebatang sosis di tanganku, dan menyalakan lagi api kompor sebelum memasukkan sosis itu kedalam.
Aku menyaksikan sendiri sosis itu meletus-letus dan mengenai tangan Adam, tapi sedikitpun dia tidak merasa kesakitan.
Apa jangan-jangan dia punya ilmu kebal?
"Sekarang giliran kamu. Ayo, cepat. Minyaknya sudah panas." Adam menarikku mendekat, lalu mengambil tanganku yang masih memegang sebatang sosis dan menuntun ke kukau. "Sekarang lepaskan pelan-pelan," bisiknya.
Kuturuti arahannya, lalu segera menjauhi kuali karna minyak mulai meletus-letus, tapi Adam lebih dulu menarikku agar tetap berada di sisinya.
"Winda, kamu harus berani. Sampai kapan kamu terus-terusan lari jika berhadapan dengan sesuatu yang kamu tidak suka?"
Pertanyaan Adam itu terdengar naif, tapi entah kenapa aku merasa kata-katanya itu seperti memiliki makna tersirat.
Aku terdiam beberapa saat. Ya, kuakui, selama ini aku memang selalu lari jika berhadapan dengan hal yang tidak aku suka. Aku lebih memilih menghindar, tidak mau berpikir untuk menghadapi hal yang tidak aku suka. Aku lebih suka mencari jalan mudah dan melupakannya.
"Ayo, coba lagi." Adam menarikku berdiri di depannya dan satu tanganku di pegang, di tuntun mengambil sebatang sosis untuk di masukkan ke dalam kuali.
"Sekarang lepaskan, pelan-pelan."
Adam kembali memberi arahan dengan lembut dan aku ikuti arahannya itu melepaskan sosis secara perlahan. Aku ingin menarik tanganku ketika sosis itu meletus-letus, tapi tangan Adam menahanku.
"Jangan takut. Kalau mau menggoreng kamu harus tahu jarak kami dengan minyak. Jangan terlalu jauh, karna bisa membuat minyak terpecik dan mengenai tangan. Tapi jangan juga terlalu dekat." Adam memeberi petunjuk sambil tanganku di tuntun mengambil sebatang sosis lagi.
Sedikit-sedikit rasa takut mulai hilang ketika semakin banyak aku masukkan sosis kedalam kuali.
"Tapi saat menggoreng ini, kamu juga harus perhatikan. Takutnya masakan gosong, dan kadang minyaknya bisa meletus lagi," ucap Adam sambil membalik sosis dalam kuali. Bersamaan dengan itu, satu sosis yang mengembang kembali meletus dan aku menjerit karna kaget, hingga berlari keluar dari pelukan Adam.
"Lah, tadi kan sudah saya bilang kita harus waspada. Jadi kalau pun meletus tidak sampai terkena badan kita." Adam melanjutkan menggoreng sosis, sedang aku sudah melarikan diri menjauhi kuali. Setelah semua sosis itu matang dan ditiriskan, Adam memindahkan ke dalam piring yang telah dialas dengan tisu, lalu membawa kemeja makan.
"Menggoreng itu sama seperti menyelesaikan masalah. Kalau kita lari, sementara minyak semakin panas, maka apanyang terjadi. Bisa kebakaran atau bahkan gas meledak karna ruangan berubah panas. Dan kalau kita masukkan kedalam minyak dengan cara yang salah, maka tangan kita yang cidera. Jadi, kita harus dekati secara pelan, atur jarak yang sesuai, baru masukkan kedalam minyak panas dan tetap hati-hati karna kemungkinan akan meletus. Goreng sampai matang, baru enak di makan." Adam melanjutkan tiori analoginga sembil memindahkan lasagna kedalam 2 piring.
"Gimana caranya agar minyak tidak meletus?" tanyaku sambil mengambil satu sosis kedalam piringku.
Adam mengambil tempat duduk di hadapanku dan tersenyum. "Keluarkan dulu. Kalau belum matang masukkan lagi. Goreng sampai matang."
Apalagi menggoreng sosis ini memang terdengar sederhana, tapi aku paham, pesan apa yang ingin Adam sampaikan. Obrolan kami terhenti ketika kami sama-sama makan diganti dengan suasana ruangan yang sunyi.
Selesai makan, Adam mengemasi dapur, sedang aku mengelambil leptop dan meletakkan diatas meja dapan TV.
Sejak sakit, di tambah berlibur kerumah Oma, tentunya banyak tugas kuliah yang makin menumpuk. Kubuka portal kampus, melihat tugas organisasi kelas Sains Komputer.
Adam ikut duduk di tangan TV selesai mengemasi dapur. Aku duduk diatas karpet, sedang Adam duduk di sofa yang berada di belakangku.
"Kamu belum mau tidur?" tanyaku tanpa berpaling kearahnya.
"Belum. Saya mau nonton TV dulu sambil melihat kamu membuat tugas," jawab Adam sambil merubah posisi duduknya, lalu dia tertawa sendiri.
Reflek kepalaku menoleh kebelakang, tapi mata Adam fokus pada TV yang menyala. Aku pun melihat siaran TV yang menayangkan siaran kartun.
Kubiarkan Adam dengan film kartunnya, mencoba fokuskan pikiran menjawab soal di leptop.
Aplikasi google aku jelajahi, mencari pada pelajaran yang telah hilang dari kepala ini. Tawa Adam di belakang masih terdengar, taoi aku abaikan.
Setelah hampir satu jam berkutat dengan leptop, aku menyadari suasana yang hening. Tidak kudengar lagi tawa atau pergerakan. Lantas aku menoleh kebelakang, taunya Adam sudah tidur sambil memeluk bantal sofa.
Ide jahil dikepalaku tiba-tiba datang. Lansung kuambil ponsel dan membidikkan kamera ke wajah Adam yang sedang tidur. Walau sedang tidur, wajahnya tetap saja menggemaskan.
Uuuh! Rasa mau kugigit.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tugas masih belum selesai, tapi mata sudah mulai berat. Kuambil romite TV di tangan Adam, lalu mematikan layar tipis itu.
"Sorry, sayang. Saya ketiduran."
Aku menolah ke arah Adam yang tiba-tuba terbangun. Aku memang sering mendengarnya memanggilku sayang, dan hatiku selalu berbunga mendengarnya, apalagi panggilan itu dia ucapkan ketika baru bangun tidur.
Apa dia benar-benar menyayangiku?
"Tugasnya susah selesai?* tanyanya lagi sambil menggeliat.
Aku menggeleng. "Belum, tinggal sedikit lagi. Sambung besok aja."
"Oh, ya udah. Ayo tidur," ucapnya lalu menarik tanganku. Aku menurutinya ke kamar. Leptop yang telah kumatikan kubiarkan saja diatas meja, ini malam kedua aku dan Adam berada di rumahnya.
Aku di tarik kedalam pelukannya setelah kami berbaring di ranjang. Kuperhatikan wajahnya yang telah menutup kedua belah mata. Dia pasti lelah setelah mengemudi cukup lama. Tapi, analohi sosisnya masih menghantui pikiranku.
Jangan lari dari masalah.
"Adam." Kupanggil namanya dan mata Adam kembali terbuka.
"Hmm..," sahutnya seraya memandangku.
"Aku gak suka kamu terlalu dekat dengan Linda," ungkapku meluahkan apa yang aku rasa. Aku tidak suka menghadapi rasa cemburu ini terus-terusan, dan aku juga tidak ingin lari lagi, mengetepikan apa yang kurasa. Sampai kapan aku akan memandam? Mungkin ini saatnya, aku belajar menghadapi masalah yang mengantuiku.
Dan akan di mulai hari ini.
"Saya tahu," jawab Adam singkat. Ibu jarinya di pinggangku mulai mengusap lembut.
"Kayaknya aturan dasar kita perlu di ubah. Aturan 1 dan 2 gak bisa di pakai lagi karna ada orang yang gak mau lagi menuruti," ucapku. Sadar akan aturan dasar yang kubuat sendiri telah kulanggar.
Adam tertawa kecil. "Itulah. Kalau kamu tidak bisa berenang, harusnya jangan mandi di laut."
"Iiih! Jahatnya!" Aku pura-pura ngambek sambil memukul tangannya, lalu coba bangun dari pembaringan, tapi Adam lebih dulu menarikku agar tetap berbaring.
"Hehehe. Saya hanya bercanda. Jangan lah marah. Oke oke, saya tidak akan sentuh kamu." Lalu Adam bangun, mengurai pelukannya padaku dan mengangkat kedua tangan.
Dan entah kenapa aku malah rasa ada yang kurang. Ya, aku butuh kehangatan pelukannya.
"Oke, aku tidak suntuk lagi. Kamu mau bicara apa tadi?" tanyanya lagi sambil mengucek mata.
Tiba-tiba aku merasa bersalah karna mengganggu tidurnya. Kuraih tangannya dan menarik agar kembali berbaring. Adam sedikit keheranan dengan tindakanku itu.
"Winda, kamu mau bica---"
"Nggak. Sebenarnya aku gak mau bicara apa-apa kok. Aku hanya mau bilang kalau aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Linda, itu aja kok,' ucapku memotong kata-katanya.
Adam bangun lagi, lalu naik ke tubuhku. Tubuhnya yang tegap di tekan ke badanku. Berat tubuhnya menenggelamkan kasur dan tubuhku. Kedua tangan di topang agar tidak menimpakan seluruh berat tubuhnya.
"Ya, saya tahu. Saya pikir, tadi kamu akan mendekati saya dan bermanja, tapi nyatanya tidak. Kamu malah menghempaskan pintu mobil, lalu masuk ke dalam rumah begitu saja," desisnya sambil mengelus hidungnya yang mencung ke hidungku.
"Hatiku sakit melihat kamu bermesraan dengan dia. Makanya aku banting pintu dan masuk kedalam rumah. Bodoh amat mau rusak," omelku. Wajah masih kubuat secemberut mungkin biar dia mati-matian membujukku.
"Tidak masalah. Pintu mobil bisa di ganti. Tapi kalau kamu, tidak ada yang bisa menggantikan," balasnya membuatku semakin tersipu. Apalagi saat dia menatap bola mataku begitu dalam, aku lansung mengelak karna tidak sanggup bertentang mata lama-lama dengannya.
"Tadi kamu bicara apa saja dengan dia?" tanyaku lagi, masih menayangkan wajah cemberut. Mata juga masih kupalingkan dari wajahnya.
"Tidak ada. Dia hanya menanyakan kita dari mana. Saya jawab kita habis mudik."
"Lain kali bilang aja kita habis honeymoon, biar mulutnya itu diam. Gak kegatalan lagi menggoda suami orang," omelku geram, tapi Adam malah tersenyum lebar . "Kenapa ketawa?"
Adam menggeleng.
"Kamu tau gak-"
Belum selesai aku bicara, Adam lebih dulu menempelkan bibirnya ke bibirku. Mengecup bibirku beberapa kali.
"Masih marah?" bisiknya lembut. Matanya sayu memandangku, mungkin ngantuk.
Aku menggeleng, barulah Adam berguling ke sebelahku. Di tarik lagi aku kedalam pelukannya dan mengecup telingaku.
"Tadi itu saya hanya sekedar bertegur sapa saja dengan Linda, sebagai tetangga. Saya harap kamu mengerti," bisiknya tepat di telingaku.
"Kamu jangan selingkuh di belakang aku ya? Aku gak suka. Kalau kamu memang suka dia, bilang terus terang. Jangan main rahasia-rahasian. Atau kalau kamu mau, buat aku sendiri pinangkan dia untuk."
Adam tertawa kecil mendengar omelanku. Padahal aku bicara sungguh-sungguh. Aku tidak mau berbagi kasih sayang Adam dengan siapapun. Aku tidak mau perhatiannya berbelah bagi.
"Iya, sayang. Nanti kalau saya sudah menyukai dia, saya beritahu kamu. Tidak akan ada rahasia diantara kita. Oke."
Sungguh, jawaban itu menyakitkan hatiku, meski nadanya hanya bercanda.
"Bagus. Karna aku gak mau ada rahasia diantara kita!" jawabku mantap.
Adam kembali mengecup telingaku seraya berbisik, "siap, sayang."
"Janji?" Aku ingin kepastian darinya.
"Iya, Winda sayang. Saya Adam, berjanji, tidak akan berahasia pada istri saya. Sudah, kan? Sekarang kita tidur ya?"
Lega sedikit hatiku mendengar janjinya. Lalu tubuh kumiringkan ke kanan dan Adam memelukku dari belakang.
***
Pagi-pagi sekali Adam sudah keluar jogging. Tadi sempat kutanya, untuk apa alat-alat gym di rumah ini, kalau tetap jogging keluar, tapi dia malah jawab, "udara pagi itu kain, Winda."
Alah, paling itu alasannya saja biar bisa cuci mata lihat cewek-cewek montok di taman.
Siangnya, Adam menunjukkan kepiawannya memasak. Sementara aku memilih menyelesaikan tugas kuliah yang belum selesai, sambil menunggu Adam menyiapkan makan siang.
Kebalik ya? Harusnya istri yang menyiapkan makan untuk suami, ini malah suami yang menyiapkan makan untuk istri. Tapi Adam yang menyuruh kok.
Sedang sibuk mencari jawaban di google, satu pesan masuk ke ponselku.
Dari John.
Hai, Win. Hari ini Lo free gak. Gue mau ketemu. Penting!
John ngajak ketemuan? Hal penting apa yang mau dia bicarakan? Aku bertanya-tanya sendiri dalam bersama perasaan yang tidak enak, tapi tetap keketik balasan menyanggupinya.
Oke, malam ini. Mau ketemuan di mana?
Tidak sampai semenit, balasan kuterima
Top 100, pukul 9. Gue datang sama Erin.
Sudah lama aku tidak menjejakkan kaki ke tempat itu. Terakhir kesana dua bulan lalu karna kedua orang tua Rehan datang menjenguk ke rumah kontrakan mereka, jadinya Adri dan John terpaksa bawa pasangan masing-masing keluar. Aku yang saat itu jadi pasangan Adri ikut sekali.
"Adam. Malam ini aku mau keluar dengan mama," ucapku mengarang alasan sewaktu kami makan siang. Entah kenapa enteng sekali lidahku ini berbohong. Aku tahu, Adam pasti tidak mengizinkanku keluar dengan John. Parahnya kalaupun mengizinkan, ikut sekali.
"Oh, ya udah. Nanti pulang kesini atau bermalam di rumah mama?" Adam menjawab enteng. Tak curiga sama sekali. Bagus deh.
"Pulang kesini. Tapi mungkin agak telat. Tau sendiri lah, banyak yang mau kuceritakan pada mama dan papa." Kebohonganku semakin menjadi-jadi.
"Ya udah. Tapi jangan terlalu malam. Besok ada kelas kan?" pesan Adam.
Ya, besok ada kelas programming dengannya. Aku mengukir senyum menyembunyikan perasaan bersalah padanya.
.
.
.
Malamnya, aku pergi ke Top 100 yang terletak di pusat kota. Setelah tiba di clab malam itu, kuhubungi nomor John, tapi dia dalam perjalanan. Terpaksa aku tunggu dia di loby.
15 menit berselang, kami sudah masuk ke dalam clan. Erin belum datang, John bilang pacarnya itu akan telat sedikit. John sengaja membuat janji denganku lebih awal karna hanya ingin bicara berdua saja denganku.
John memesan dua gelas minuman setan. Cukup lama tenggorokanku tidak meneguk minuman haram itu. Sejak tinggal di London, aku sudah mengenal rasa minuman itu, bisa di bilang menjadi suatu kebiasaan. Baru saja bartender meletakkan minuman yang di pesan John, lansung kuteguk setengah.
"Lo haus ya?" John agak kaget dan ketawa melihatku yang begitu rakus meneguk minuman itu.
"Haus dan nervous mendengar hal penting yang mau Lo sampein," jawabku.
Jihn memandangku, tapi pandangannya kali ini tidak seperti biasa. Membuat rasa cemasku semakin bertambah. Entah apa yang mau dia bicarakan.
"Oke, sebelum gue ceritain masalah penting ini. Gue mau nenya sesuatu dulu sama Lo. Setelah kejadian di rumah kontraka kami itu, Lo tau gak apa yang terjadi pada Ad dan Rei?"
Kedua nama yang ingin aku lupakan sejak kejadian malam itu, hari ini disebut lagi.
"Jadi gak penting ini yang mau Lo sampein? Kalau iya, gue pulang aja," balasku.
"Oke, gue paham lo mungkin gak mau tahu tentang mereka. Tapi masalah yang mau gue sampaikan ini ada hubungan dengan mereka, dan Lo harus tau, karna sekarang Lo juga terlibat dalam masalah ini."
"Ma-maksud Lo?" tanyaku semakin cemas.
John menarik kursinya lebih dekat padaku dan berbisik, "Boy mencari Lo."
Boy? Siapa Boy? Aku memandang John dengan kening berkerut.
"Oke, gue akan cerita sedikit biar Lo paham. Malam kejadian itu, Lo pingsan dan si gayboy itu membawa Lo kerimah sakit setelah polisi datang menggerebek. Adri dan Rehan di tahan dan mereka positif setelah polisi melakukan test urine." John mulai menceritakan kejadian malam itu, hal yang sama sekali tidak aku ketahui dan tidak ingin tahu. Sebutan gayboy yang di tujukan pada Adam, membuat hatiku panas mendengarnya.
"Jadi, malam itu Adri dan Rehan di tahan polisi. Tapi yang jadi masalahnya bukan itu. Besok malamnya polisi kembali datang, menggeledah rumah dan mereka menemukan barang haram itu di kamar Adri. Jumlahnya gak sedikit, Win." John melanjutkan dengan wajah serius, membuatku semakin cemas.
"Punya siapa? Berapa banyak?" tanyaku lagi.
"Punya Adri. Dan nilai barang itu hampir 100 juta, Win. 100 juta!" jawab John berbisik kuat di telingaku. Lalu dia mengedarkan pandangan kesekeliling sebelum kembali memandangku.
"So? Apa hubungannya dengan gue?" tanyaku lagi. Aku yakin, John dapat melihat kecemasan di wajahku saat ini. Sumpah, aku kaget mendengar Adri memilki barang senilai 100 juta.
"Adri mengambil barang itu dari Boy, dia bilang untuk dijual. Tapi masalahnya, semua barang itu sudah di sita polisi. Dan Adri pun menghilang setelah di bebaskan. Gak ada jejak darinya. Jadi Boy mengambil kesimpulan mencari Lo, karna dia tau hubungan Lo dengan Ada." John kembali menjelaskan.
Aku bukan cemas lagi, tapi seluruh tubuhku sudah menggigil.
"Kenapa dia malah cari gue. Lo tau kan, gue sama sekali gak ada hubungan dengan barang itu."
"Tapi Lo pacar Adri, Winda. Siapa yang akan Boy cari kalau bukan Lo? Dia tahu, selama ini Adri beli barang itu buat Lo. Jadi secara gak lansung Lo terlibat dalam masalah ini. Dia menduga Lo bersekongkol menyembunyikan barang itu."
"Sumpah, John! Gue sama sekali gak tahu Ad memiliki barang sebanyak itu." Suaraku makin meninggi dan John lansung membekap mulutku. Dia mengedarkan pandangan kesekeliling sebelum kembali memandangku.
"Shhh! Pelankan suara Lo? Jangan sampai ada yang mendengar cerita ini."
Aku mengangguk. Mataku sudah berkaca karna takut. John melepaskan tangannya dari mulutku.
"Masalahnya, nilai barang yang diambil Ad pada Boy lebih dari 100 juta, tapi 150 juta. Kemana perginya yang 50 juta lagi? Itu sebabnya Boy menduga Lo yang menyembunyikan barang itu."
Aku menunduk lemas. Ya tuhan, cobaan apa ini?
"Win, gue tau Lo gak terlibat dalam masalah ini. Tapi gue juga gak tau, kenapa Boy mencurigai Lo yang menyembunyikan barang itu. Mungkin bagi dia, hanya orang terdekat yang akan melakukan itu, dan Lo satu-satunya orang terdekat Ad waktu itu. Mungkin dia cari Lo buat ganti rugi, atau malah ingin menanyakan dimana Ad bersembunyi. Sekarang Lo harus hati-hati, Win. Dan kalau Boy menemui Lo, kasih tau gue. Biar kita bicara bertiga."
Cerita John kali ini mengingatkan aku pada nota di kaca mobil dan lelaki misterius yang aku temui kemarin. Rasanya masuk akal jika lelaki itu ada kaitannya dengan Boy. Aku menangis, karna ketakutan dalam diri. Ini bukan masalah kecil.
Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan?
"John. Gu-gue takut John. Gue gak ada uang mengganti barangnya itu. Gu-gue juga gak tau dimana Ad berada. Gue gak tau harus ngapain? Gue bingung. Gue takut, John!" Tangisku semakin pecah dan John menarikku ke pelukannya.
"Tenang, Win. Sekarang Lo hanya perlu berhati-hati dang orang di sekitar Lo. Kali Bot bersail menemukan Lo, gue minta Lo jangan kasar pada dia. Karna boy gak suka ada orang yang berani dengan dia. Bicara baik-baik, minta aku ikut sekali menjelaskan masalah ini. Oke?" bujuk John, sambil mengusap punggungku.
Kulerai pelukan, lalu melap hidung dan pipiku. Kepalaku anggukan tanda setuju dengan sarannya. Jujur, sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa, kecuali menjelaskan pada Boy agar percaya kalau aku tidak terlibat dalam masalah ini.
"Nah, gue tahu, Lo lagi butuh barang ini." John berbisik di telingaku sambil tangannya meletakkan sesuatu ketelapak tanganku.
Perlahan aku menunduk kebawah, melihat pil kecil berwarna Oren di tangan.
"Itu barang bagus, efeknya gak begitu berat. Gak akan buat Lo hilang kesadaran, tapi cukup buat Lo ikangin stress. Cobalah."
Tanpa pikir panjang, lansung kutelan pil itu dan mebikas dengan minuman haram diatas meja hingga habis.
John mengangkat tangan memanggil bartender meminta mengunggu lagi gelasku. Pil yang baru kutelan sepertinya mulai bereaksi, karna aku tiba-tiba senyum-senyum sendiri dan rasa happy.
John kembali mengulurkan gelas yang sudah berisi penuh minuman.
"Hai, guys!"
Satu suara tiba-tiba menyapa kami. Aku menoleh kearah suara itu, ternyata Erin.
"Alaa, kalian gak asyik. Masa mulai duluan tanpa aku?"
Erin kini telah berdiri di sebelahku.
"Winda, senang bertemu kamu lagi." Erin sedikit menuduk mencium pipiku. Aku juga membalas ciumannya, tapi lebih lama dari yang sewajarnya. Mungkin moodku telah berubah setelah menelan pil Oren tadi.
"Ooo, ada yang lagi ON." Erin ketawa dan aku juga tertawa lebih ngakak darinya. Kemudian dia mengeluarkan ponsel dan membidikkan kemera kewajahku.
"Senyum!"
Aku memonyongkan mulut yang jadi trend sekarang.
"Sumpah, ini imut banget Winda! Kalau teman aku jadi datang, kamu mau gak threesome? Kayaknya aku pengen merasakan sensasi lain malam ini," ucap Erin tanpa rasa segan sedikitpun.
Mungkin dalam keadaan normal, aku akan emosi dengan komennya tadi, tapi malam ini aku hanya tertawa saja.
"Teman Lo?" John menyela.
"Yup! Seorang teman yang sangat tampan. Dia bilang dia sibuk, tapi aku paksa dia agar datang. Oh ya, ngomong-ngomong aku beleh kirim gambarmu ini kan pada dia kan Win? Biar dia melihat dan semangat datang kesini."
Aku hanya diam dan meneguk lagi minuman di depanku setelah adu TOS dengan gelas John.
"Oke. Susah kukirim. Pasti dia bakal ngebet datang kesini." Erin tersenyum, menyiratkan sesuatu yang tidak bisa kuartikan.
"Lo ngirim apa?" tanya John sambil merangkul pinggang Erin.
Erin pun membacakan pesan yang di kirimnya pada temannya itu keras-keras, hingga aku bisa mendengar.
"Tadi aku tulis, 'Kamu harus datang! Disini ada temanku yang cantik sedang horny dan siap untuk aksi threesome! Lalu, aku lampirkan foto Winda yang kuambil tadi." Dengan santainya Erin membacakan pesan itu padaku. Dan Jihn turut tertawa mendengarnya.
"Siapa yang ko maksud? Gue kenal dia gak?" tanya John sambil membaca pesan yang ada di pesan Erin.
"Suprise!" jawab Erin dengan riangnya.
"Winda, ayo. Kita turun," pinta Erin dan menarik tanganku. John di tinggalkan sendiri di meja.
Aku dan Erin berjalan berhimpitan dengan ratusan manusia yang sedang berjoged mengikuti irama musik beat.
Aku pun hanyut dalam alunan musik. Keringat mulai mengalir di wajah dan tubuh, tapi tidak aku pedulikan.
Aku hanya mau bersenang-senang. Sudah lama aku tidak seperti ini.
Ketika musik di ganti, aku dan Erin kecewa. Orang di sekiling hampir semua berpasangan lelaki dan perempuan. Erin melihatku, aku pun melihat padanya, kemudian kami sama-sama tertawa besar karna aku tahu apa yang terlintas di pikirannya, sama dengan apa yang melintas di benakku.
"Oke. Aku belum cukup ON, untuk melakukan lesbian denganmum, ayo kita minum lagi!" Erin menarikku lagi ke meja. John tersenyum melihat kami kembali. Ketiga gelas di isi penuh lagi, dan kami mengangkat gelas, ber TOS sebelum meneguk minuman. Tapi belum sempat minuman haram itu membasahi tenggorokanku, gelasku di rebut paksa.
Erin meletakkan gelasnya dan bertepuk tangan, tapi wajahnya seperti kaget melihat gelasku di rebut.
Aku pun turut kaget dengan tangan kasar yang merebut galaaku itu, hingga minuman di dalamnya tumpah ke baju. Aku menoleh kesebalahku, dan wajah yang paling tidak kusangka hadir di depan mata. Matanya tajam menikamku.
"Ini, orang yang Lo bilang mau datang tadi?" desis John pelan, tapi terdengar jelas di telingaku seolah tempat ini terasa hening dengan kehadiran lelaki yang berdiri di depanku ini.
"Hai Adam! Kamu masih ingat Winda, kan? Thanks ya, udah mau datang kesini," ucap Erin tanpa mengabaikan tanya John, malah menyapa lelaki yang masih memandangku tajam.
"Winda, pulang sekarang!" Adam memberikan perintah dengan suara dinginnya. Gelasku yang tadi di rebutnua telah di letakkan diatas meja.
"Helo? Ini masih terlalu pagi untuk pulang, Adam. Kamu pun baru sampaikan? So, nikmati dululah malam ini." Erin menyela tapi, Adam tak memperdulikan kata-katanya itu.
"Gue gak mau pulang. Kalau Lo mau pulang, pulang aja sendiri. Ini bukan tempat Lo," jawabku. Entah keberanian dari mana hingga aku mengucapkan kata-kata itu. Seolah kami pun tidak saling kenal.
"Saya bilang pulang sekarang!" Adam semakin emosi. Tanganku di tariknya, tapi aku tarik kembali.
"Gue bilang gue gak mau pulang. Jangan paksa!"
"Oi, bro? Apa ini kasar-kasar? Santai, oke. Dia pun di sini gak ngapa-ngapain." John pun mulai ikut campur. Dia berdiri dan menepiskan tangan Adam dariku.
Wajah Erin pun tampak kebingungan. Dia memandang aku dan Adam bergantian, mengharap jawaban, tapi lidahku kelu, tidak tahu harus menjawab apa.
Sesaat Adam menutup mata. Rahangnya mengeras sambil menghirup nafas dalam-dalam sebelum membuka mata lagi dan memandangku.
"Winda. Tolong. Tolong ikut saya pulang sekarang!" Suara Adam kali ini lebih di tahan, tapi aku masih bisa merasakan marahnya masih belum hilang.
"Oi, bro? Sejak kapan Lo pulang ngajak perempuan? Pakai maksa lagi? Emang Winda siapa Lo? Adik?" tanya John seraya melangkah setapak kedepan dan aku sudah menyumpah serapah sendiri mendengar pertanyaannya itu.
Hampir copot jantungku, melihat Adam seperti akan memberi respon dari pertanyaan John. Dia memutar tubuh menghadap John seperti akan berkelahi. Orang di sekeliling juga sudah mulai berkerumun menyaksikan keributan ini.
"Adam-" Aku menarik tangannya, aku tidak mau dia menjawab pertanyaan John, aku tidak mau dia menangapi pertanyaan itu, tapi Adam sudah lebih dulu bicara.
"Winda istriku! Apa ada masalah kalau aku mau bawa dia pulang?" Suara Adam keras dan tegas. Dadanya dibusungkan dan matanya tajam menatap John. Rahangnya keras dan bergerak-gerak, wajahnya juga memerah karna marah.
"Adam!" Aku mendorong tubuhnya yang hanya beranjak sedikit karna doronganku itu. Jika tadi hanya dia saja yang marah, kini aku juga ikut emosi.
Berani sekali dia membocorkan rahasia pernikahan kami!
"Kenapa?! Apa masalahnya kalau mereka tau kamu istri saya?" Adam berteriak keras padaku.
Malu. Itu yang aku rasa menebal di wajah. Marah. Itu yang aku rasa menebal di hati. Belum pernah ada orang yang membentakku di tempat umum seperti ini dan Adam sudah melakukannya, hingga lidah dan tubuhku membatu.
"Jawab! Apa salahnya kalau mereka tahu?!" Suara Adam masih sama, berteriak membentakku hingga hatiku terasa di cabik-cabik karna suaranya itu.
Dia yang sering mengucapkan sayang padaku, yang selalu memelukku tidur, yang selalu mengecupku penuh kasih, kini mulai menunjukkan belangnya. Hatiku hancur.
Tas yang kuletakkan diatas meja kuambil, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkan diatas meja. Wajah John dan Erin yang masih kaget dengan pengakuan Adam barusan aku pandang sekilas sebelum berlalu keluar.
Suara Adam yang memanggil aku hiraukan, kaki terus kuayunkan meninggalkan tempat yang begitu menyesakkan ini. Kakiku terus melangkah cepat menuju perlairan, tapi tanganku di pegang lagi.
"Winda, saya suruh kamu berhenti kan?" Suara Adam masih dengan marahnya. Tapi dengan beraninya aku dorong tubuhnya hingga dia beringsut dua langkah kebelakang.
"Lo itu kenapa, hah? Tadi Lo yang menyuruh gue pulang, kan? So apa masalah Lo sekarang?" teriakku. Hilang rasa hormat dan perasaan sayang yang baru berputik jauh di sudut hati.
"Iya, tapi saya tidak akan biarkan kamu pulang sendiri. Kamu lagi mabuk, Winda? Dan saya tidak akan membiarkan kamu mengemudi dalam keadaan seperti ini?" Suaranya tidak tinggi seperti tadi. Raut wajahnya juga tampak khawatir, hilang sudah riak marahnya.
"Lo gak usah khawatir, Adam. Dulu gue juga sering minum, bahkan lebih banyak dari ini. So, Lo gak usah khawatir berlebihan," bidasku dan Adam terdiam dengan kata-kataku itu. Kemudian aku masuk kedalam mobil.
Dalam perjalanan aku bisa lihat mobil Adam mengikuti di belakang. Aku tahu, dia ingin mematikan aku selamat sampai di rumahnya.
Radio yang tadinya menyala kumatikan, aku inginkan ketenangan. Dan perjalanan berteman kan kesunyian itu membuat kusadar kalau aku sudah sayang pada Adam.
Namun realita itu mengentak hatiku. Air mataku jatuh bercucuran.
Kenapa?
Kenapa semua yang pernah mengucapkan sayang padaku pada akhirnya membuatku sakit? Kenapa?
Sesampainya didepan rumah Adam, aku keluar dari dalam mobil. Pagar rumahnya yang di kunci kubuka dengan kunci yang kubawa, kemudian kukunci lagi. Aku lansung masuk kerumahnya, tanpa menunggu Adam. Biar dia yang memasukkan mobil dan menutup kembali pagar.
Aku lansung menuju kamar yang berada di lantai dua dan mencuci wajah. Aku tidak mau dia melihat sisa tangisku sejak di mobil tadi.
Dan ketika aku keluar dari kamar mandi, Adam sudah duduk di pinggir ranjang.
"Winda-"
Aku angkat kedua tangan, tak ingin mendengar apa pun dari mulutnya.
"Gue lagi gak mau ngomong sama Lo! Bersyukur lah malam ini gua masih mau pulang ke sini. Kalau Lo tetap mau coba, gue angkat kaki dari rumah ini!" ancamku dan Adam tampak panik.
"Oke, saya tidak akan bicara. Kamu jangan pergi ya?" pinta Adam dengan wajah panik. Tapi tanganku tetap mengambil koper dan melemparkan kelantai. Kemudian aku pergi kelemari pakaian, mengambil beberapa baju di sana, lalu memasukkan kedalam koper.
"Tunggu dulu. Kamu mau kemana? Kenapa baju-baju kamu masukkan ke koper?" Adam semakin panik dan mengambil koperku.
"Sini-in koper gue!" teriakku dan Adam menggeleng, malah dia menyembunyikan koperku di belakang badannya.
"Kembaliin tas gue, Adam!* pintaku dengan suara lebih tegas, tapi Adam tetap menggeleng.
"Jawab dulu, kamu mau kemana?" tanyanya.
Aku menghela nafas panjang, lalu bercakak pinggang, "gue mau pindah ke kamar bawah. Gue gak mau tidur sekamar dengan Lo! Puasa!" Jawabanku membuat Adam sedikit lega, tapi wajahnya masih menunjukkan kesal.
"Kenapa harus tidur di kamar bawah? Apa masalag ini tidak bisa di selesaikan baik-baik?" protesnya.
"Karna gue masih marah sama Lo! Dan gue gak bisa bayangin tidur di sebelah Lo!" balasku, lalu merebut koperku dan kembali kelemari untuk mengambil baju.
"Winda--"
"Gue bilang jangan ngomong, Adam!" potongku sebelum dia selesai bicara. Aku benar-benar tidak ingin dengar apa pun darri mulutnya. Aku masih sakit hati dengan apa yang dia lakukan tadi. Aku masih mau marah padanya.
Tapi tanpa di duga, Adam merangkul pinggangku dan memutar tubuhku. Koper yang kupegang sudah lapas karna kaget. Tangannya turun kebawah dan pinggulku di tarik kepinggulnya.
Nafasku serasa tercekat dengan keintiman yang tiba-tiba di lakukannya ini.
"Adam, aku bilang gak mau ngomo-"
"Ya, kamu tidak mau bicara dengan saya. Tapi saya tidak sedang bicara," potong Adam. Lalu kepalaku di pegang dan wajahku di dongakkan, bibirnya di benamkan ke bibirku
"Adam-" Aku masih mencoba menolak, tapi Adam tidak peduli. Bibirnya masih rakus mencium bibirku membuat gairahku semakin terbakar.
"Tidak Winda. Aku butuh ini. Sekarang aku perlu tahu kamu juga mengingkannya. Katakan Winda...katakatan," mohonnya dan kembali mencium bibirku. Dan aku tidak bisa untuk tidak membuka mulut. Seraya dengan itu tubuhku diangkat, di bawa keranjang, dan aku melilitkan kaki di pinggangnya.
"Aku gak mau, aku masih marah sama kamu!" Mulutku berkata tidak, tapi sejujurnya tubuhku mengingkan lebih. Dan aku kembali memperingatkan saat dia membaringkanku di ranjang.
"Saya tahu, sayang." Adam membuka kedua kakiku, lalu menimpaku. Pinggulnya di tekan ke pusat gairahku dan aku semakin tak karuan apabila rasa nikmat semakin menjalar di bawah perutku.
"Kamu minum bir, kan? Dan saya juga masih marah dengan perbuatanmu. Tapi itu tidak akan menghentikan saya untuk menginginkanmu, sayang," bisik Adam saat ciumannya pindah keleherku dan aku memiringkan kepala memberi rumah untuk mencium belakang telingaku. Seakan tau apa yang aku mau, dia melakukan itu. Membuat rasa nikmat ini semakin membakar tubuhku.
"Ooh, yeah. Disana...." Aku sempat memberikan komentar, tapi itu malah menghentikannya dan Adam memandang wajahku lekat.
"Kalau saya melanggar batas, kamu akan memberi tahu, kan?"
Ah, sial! Kenapa dia malah menanyakan batasan. Apa dia serius dengan batasan yang kami bahas tempo hari?
Aku tak menjawab tanya konyolnya itu, wajahnya aku tarik agar kembali menciumku dan dia menuruti kemauanku itu. Kencing kemeja putihnya juga sudah kubuka di bagian dada.
Sesekali dia menekan pinggulnya, menggoda gairahku dengan ereksinya yang jelas kurasa. Bibirku semakin dikerjainya dengan rakus, lidah kami saling membelit mencari kepuasan tersendiri.
Suara desahan mengisi ruangan dan semakin lama semakin keras terdengar. Kedua tangan Adam berada di kepalaku, sekedar bermain di rambutku. Dia menahan berat badannya yang di topang di bawah ketiakku.
Sumpah, aku ingin tangannya menyentuhku. Lalu kulepaskan bibirnya dan mendorong tubuhnya hingga dia terbaring. Adam kaget dengan tindakanku itu, tapi dia tidak membantah.
Tapi, ahhh. Jeansnya mengganggu. Aku inginkan ereksinya, bukan Jeansnya. Cepat cepat kubuka kain tebal itu sambil memandangnya.
Mata Adam membuat melihat tindakanku yang semakin agresif.
Setelah menurunkan Jeansnya separas lutut, akupun turut melakukan hal yang sama.
Kini aku dan dia sama-sama menggunakan celana dari lutut ke kaki.
Adam menutup rapat matanya ketika aku merayap naik ketubuhnya. Tangannya kuambil dan kuletakkan di pingulku. Kini tangan itu ikut mengontrol pergerakan pinggulku diatas ereksinya.
"Winda..." Adam mengerang dan tangannya naik kepinggangku membakar gairahku yang semakin memuncak. Seluruh wajahku terasa panas. Kemudian kutarik tangannya kedada dan tanpa kusuruh dia mulai meremas pelan disana.
Bersamaan dengan itu, tubuhku mengejang bagai di sengat aliran listrik bertegangan tinggi.
Aku terengah-engah diatasnya, mencari kembali nafasku yang hilang.