Qin Yue, agen elit paling mematikan dari dunia modern, mati dalam misi. Ia terbangun di tubuh Putri Feng Xiuying—gadis cantik, lemah lembut, dan terkenal bodoh seantero istana.
Tapi dunia akan segera tahu bahwa kelinci mungil ini kini bertaring.
Pedangnya lebih cepat dari lidah bangsawan istana, dan kelicikannya bahkan bisa mempermainkan para pejabat tua.
Hanya satu orang yang tak bisa ia taklukkan. Jenderal Han Ziyu, pria dingin berjulukan "Serigala Salju."
“Ayo bertarung!”
“Maaf, aku tak melawan kelinci,” katanya dingin.
Tapi ketika kelinci itu mulai menggoda pangeran lain, serigala itu menggeram pelan.
“Kelinci milikku... tak boleh bermain di kandang rubah lain.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seojinni_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Rencana Beracun dan Luka Masa Lalu
Istana Chunhui – Tengah Malam
Langit malam terasa lebih sunyi malam ini. Di dalam Aula Istana yang dingin, Wu Huang sedang berlutut di lantai. Entah sudah berapa lama dia disana, karena kakinya sudah mati rasa. Luka di pipinya bahkan belum sempat di obati.
Di seberang, Permaisuri Lan menatap tajam dari singgasananya, seolah menimbang, apakah seorang pangeran yang wajahnya penuh luka masih pantas menjadi putra angkatnya.
“Apa aku harus mengulangi pertanyaanku?” Suara permaisuri lembut, tapi menusuk.
“Maafkan aku, Ibu Permaisuri.”
“Kau putraku. Tapi Xiuying berani memukulimu? Apa kau tidak merasa malu?” lanjut Permaisuri.
Wu Huang menelan ludah, menjawab pelan. “Dia... hanya marah, Ibu Permaisuri. Tapi aku berjanji akan memperbaikinya.”
Permaisuri tertawa pelan, tawa yang menusuk lebih dari sekedar ocehan. “Wu Huang. Kau terus saja berjanji, tapi selalu mengecewakanku.”
Setelah hening sejenak, Permaisuri melanjutkan. “Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi. Tapi, jika sampai pesta musim semi kau masih tidak bisa membuatnya tunduk... anggap saja kau tak pernah menjadi putraku. Aku akan menghapus namamu dari catatan kekaisaran.”
“Tidak! Ibu Permaisuri!” teriak Wu Huang.
“Kalau begitu, buktikan jika kau pantas!”
Ia lalu melambai pada Wu Huang, menyuruhnya untuk pergi. Sebelum pria itu menghilang, Permaisuri kembali mengingatkan. “Ingatlah Wu Huang. Ini kesempatan terakhirmu.”
Pintu perlahan tertutup, Permaisuri melirik pada bayangan disudut. Seseorang sedang berdiri di balik tirai. Wu Yao.
“Wu Yao...” ucap permaisuri.
Wu Yao melangkah keluar. Ia mengenakan gaun sutra biru pucat, terlihat anggun, tapi tak ada kelembutan dalam langkahnya. Tatapan matanya tajam, seolah bisa menghancukan apa saja.
“Ibu. Sepertinya kau terlalu lembut akhir-akhir ini. Kau membiarkan gadis itu besar kepala. Aku dengar, dia bahkan bersenang-senang bersama Jenderal Han.”
Permaisuri mengangkat alisnya. “Apa kau cemburu?”
Wu Yao tidak menjawab. Tapi sorot matanya menjelaskan semuanya.
Permaisuri tersenyum sinis. “Jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan rencana. Tugasmu hanya memastikan dia terjatuh dengan sempurna. Bukan dengan pedang, tapi dengan jarum dan benang.”
Wu Yao tersenyum kecut.
“Tapi, tidak akan ada yang menolongnya, bukan?”
Permaisuri memejamkan matanya, menghirup aroma teh yang mulai mendingin.
“Jika seseorang ingin menolongnya... mungkin dia harus memilih antara kehormatan... atau wanita yang memalukan.”
Xiuying... karena aku tidak bisa membalas ibumu, jangan salahkan aku melampiaskannya padamu!
***
Mansion Keluarga Bai – Pagi Hari
“Apa-apaan ini? Menyulam, menjahit, dan... memasak?” teriak Xiuying penuh amarah. Dia meremas surat ditangannya, lalu melemparnya ke tempat sampah.
Rong Yi muncul dari pintu samping. “Putriku. Kenapa kau terlihat marah? Itu adalah kompetisi untuk musim semi. Kaisar sendiri yang membuatnya.”
Xiuying menatapnya tajam. “Yi. Jika itu kompetisi seni, aku masih bisa memakluminya. Tapi menyulam burung bangau?! Bagaimana aku bisa melakukannya! Bahkan menyayat leher seseorang lebih mudah dari itu.”
“Putriku!!!” Rong Yi ketakutan, siapa yang ingin dibunuh oleh tuan putrinya?
Xiuying menghela napas, tidak, dia sudah berjanji jika dia akan memenangkan semua kompetisi. Ini demi masa depannya. Jadi, dia menarik napas dalam, mengikat rapi rambutnya, lalu mulai memegang jarum dan benang.
“Mari kita lakukan!!!” seru Xiuying.
Dua jam kemudian...
“ARGHHH!!!”
Xiuying membanting jarum ke mejanya. delapan dari sepuluh jarinya sudah terluka, dan penuh plester obat.
“Jarum sialan! Kau benar-benar menyusahkanku, hah?!”
Tepat saat dia melolong ganas, terdengar ketukan lembut di pintu. Nyonya Han muncul sambil tertawa, sepertinya dia mendengar kesengsaraan Xiuying dari luar.
“Ying'er, apa kau baik-baik saja?”
Di belakang Nyonya Han, Han Ziyu berjalan mengikuti, sikapnya masih tenang seperti biasa. Tapi tatapannya langsung menangkap jari Xiuying yang dibalut plester obat.
“Apa jarum berhasil mengalahkanmu?” tanyanya tenang.
Melihat wajah Han Ziyu, Xiuying langsung mengerang pelan, mengeluarkan air mata buaya nya.
“Han Ziyu... sepuluh jariku terluka... Hiks! Sakit sekali...”
Han Ziyu mendekat, duduk di sisi meja, menatap luka-luka kecil itu.
“Ternyata begitu,” ucapnya. “Gadis yang berani melempar belati ke arahku... terluka oleh jarum?”
Xiuying mendengus kesal. “Itu berbeda!”
Melihat Xiuying kesal, sudut bibirnya Han Ziyu sedikit naik. Dia meraih jarum dan benang dari meja. Lalu... dalam satu gerakan, dia memasukkan benang ke dalam lubang jarum tanpa ragu.
Xiuying terkejut.
“...Kau bisa melakukannya?!”
“Aku seorang prajurit.” balasnya datar. “Menjahit adalah hal dasar.”
Xiuying merasa ditampar oleh fakta. “Tapi... kau pria! Kenapa kau bisa dan aku tidak!”
Han Ziyu meliriknya sejenak, lalu tersenyum samar. “Mungkin karena aku hebat sejak lahir?”
“Aku semakin kesal!” Xiuying berdiri, memutar badan, berlagak dramatis sebelum mengajak Nyonya Han pergi.
Han Ziyu masih duduk diam, memperhatikan punggung Xiuying yang menghilang dibalik ruangan. Lalu, tanpa suara, dia merapikan kain sulaman Xiuying yang berantakan, melipatnya rapi, dan dia menemukan sulaman lambang keluarga Bai yang setengah jadi.
Han Ziyu memandangi sulaman itu begitu lama. Bai Xiuying. Meskipun kau putri di luar pernikahan... tapi kau tidak pernah lupa siapa dirimu.
Senyum di wajahnya menghangat. Untuk seorang pria yang selalu terlihat dingin, itu adalah keajaiban kecil.
***
Istana Kekaisaran – Malam Hari
Langit ibukota dipenuhi bintang, namun di ruang kerja Kaisar, malam tak seindah itu.
Wu Xuan, sang Kaisar Agung, duduk menyendiri di meja kerjanya. Hanya satu lilin kecil yang menemaninya, menerangi sebuah lukisan tua diatas meja.
“Yujian...” gumam Kaisar, jari-jarinya menyusuri tepi lukisan perlahan, seolah mengelus wajah yang tak akan pernah kembali. Pikirannya melayang jauh, mengingat kenangan indah namun menyakitkan.
Klak... Pintu ruangan terbuka pelan.
Seorang pria berseragam militer melangkah masuk.
“Kau kembali.” tanya Kaisar.
“Ya. Aku segera datang setelah mendapatkan laporan.” jawab Jenderal Tua Han dengan suara berat.
“Jadi... apa kau menemukan petunjuk?” tanya Kaisar.
Han Baichen menggeleng. “Kami mendengar mereka berada di Fengyuan. Tapi saat kami tiba, tidak ada jejak yang ditemukan. Sepertinya, seseorang sengaja membuat laporan palsu.”
Kaisar memejamkan matanya. Harapannya kembali sirna.
Han Baichen menatap lukisan di hadapan Kaisar, lalu mendesah panjang.
“Kau masih memandangi lukisan itu?” tanyanya. “Wu Xuan. Jujur saja, kau harus mulai belajar melepaskan.” jelas Han Baichen.
Kaisar tertawa pelan mendengar ucapan temannya. “Lepaskan? Bagaimana caranya... wajahnya terus saja menghantuiku.”
Ia menatap langit malam diluar, seolah mencari jawaban.
“Baichen. Apa kau tahu? Xiuying... dia berubah akhir-akhir ini. Dulu, selain wajahnya, aku tidak menemukan bagian Yujian dalam dirinya. Tapi sekarang, bukan hanya wajahnya. Sikapnya yang berani menatapku tanpa berkedip, sangat mirip.”
Han Baichen merasa temannya terlalu melankolis. “Itu sudah lama sekali. Wu Xuan. Sadarlah! Kau sekarang seorang Kaisar. Bukan pria muda yang dibutakan cinta. Lagipula, kau yang memilih jadi Kaisar.”
“Aku tahu.” bisik Kaisar sambil tersenyum pahit.
Han Baichen merasa temannya sudah tua tapi masih menyebalkan. Dia melototi Wu Xuan, berkata dengan tegas.
“Sadarlah! Xiuying bukan Yujian.”
Kaisar tersenyum. “Tapi mereka ibu dan anak.”
Han Baichen menghela napas, lalu mengingatkan. “Wu Xuan. Berhati-hatilah... Sikapmu pada Xiuying, mungkin akan membawa lebih banyak masalah untuknya.”
Kaisar tak menjawab. Ia hanya menatap lukisan di mejanya. "Yujian... jika waktu dapat diputar, apakah kau akan tetap memilih hal yang sama."
baru ini nemu MC yang pemalas🤣
😘😘
q tak rela pisan cepat' am xiuying Thor....
sehat2 ya, semangat selalu dalam berkarya