Aku Raima Nur Fazluna, gadis yang baru saja menginjak usia 21 tahun. Menikah muda dengan Sahabat Kakakku sendiri yang sudah tertarik sejak awal pertemuan kita.
Namanya Furqan Hasbi, laki-laki yang usianya berbeda 5 tahun di atasku. Dia laki-laki yang sudah menyimpan perasaannya sejak masa sekolah dan berjanji pada dirinya sendiri akan menikahiku suatu saat nanti ketika dirinya sudah siap dan diantara kita belum ada yang menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Di tengah perjalanan pulang,
Mamah mulai menanyakan masalahku pada Bang Daffa, "Bang ada masalah apa Nur sama Furqan?"
Bang Daffa bingung menjawabnya, "Bang...." ucap Mamah menatapnya penuh harap.
"Mereka salah paham Mah. Awalnya Furqan yang salah paham sama Nur karena Nur ketemu sama Septian. Terus kemarin Nur yang salah paham karena Furqan lagi berduaan sama rekan kerjanya," ungkap Bang Daffa yang sudah mengetahui ceritanya dari Kak Furqan.
Mamah mengangguk paham dengan penjelasan Bang Daffa.
Sesampainya di rumah, Mamah langsung mengemasi pakaianku untuk dibawa kembali oleh Bang Daffa.
Bang Daffa sudah bersiap untuk pergi bekerja, Kak Asya bahkan mengantarnya ke depan rumah.
"Kamu hati-hati di sini ya!" pesan Bang Daffa.
Kak Asya mengangguk paham, "Iya Kak, tenang aja."
Bang Daffa melajukan motornya. Sebelum berangkat kerja, dia kembali ke Rumah sakit untuk mengantarkan pakaianku dan beberapa pakaian untuk Kak Furqan milik Bang Daffa.
"Assalamualaikum," salam Bang Daffa saat masuk ke ruang rawat inap.
"Waalaikumsalam,"
"Loh Bang Daffa kok balik lagi?" tanyaku heran.
"Gimana gak balik lagi orang kamu gak bawa baju," ujar Bang Furqan menyimpan tas-nya.
"Makasih ya Abang-ku," ucapku memujinya dengan manja.
Dia mencubit pipiku gemas, "udah ah geli. Abang berangkat dulu ya!" pamitnya. "Furqan-nya mana?" tanya Bang Daffa mencari sahabatnya.
"Dia lagi di kamar mandi, Bang," jawabku dianggukinya.
"Bilangin ke dia gak usah ngerepotin orang rumahnya. Abang udah bawain baju buat dia nginep di sini," ujar Bang Daffa, "udah baikan kan?" tanyanya diangguki olehku.
Bang Daffa mengusak puncak kepalaku, "yaudah Abang berangkat dulu ya!" pamitnya.
Kak Furqan keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Aku memandanginya tanpa sadar dengan degupan jantung yang tidak karuan.
"Dia..... kenapa ganteng banget?" batinku terus menatapnya.
Kak Furqan yang sadar akan hal itu, dia duduk di samping ranjangku dengan senyumannya.
"Ganteng ya aku?" godanya menahan tawa, "sampe di tatap begitu, kedip Neng!"
Aku memalingkan wajahku malu, "siapa juga yang natap Kak Furqan, percaya diri banget."
Dia terkekeh mendengarnya, "alasan terus, heran!" gumamnya pelan.
"Kak Furqan mau nungguin Neng di sini?" Dia mengangguk menjawabnya.
"Kenapa? Kan Kak Furqan kerja," tanyaku.
Kak Furqan malah terdiam setelahnya, dia hanya tersenyum lalu menawariku makan karena sudah siang.
"Mau makan sesuatu gak?" tawarnya mengalihkan pembicaraan.
"Mau ice cream," jawabku.
Dia menghela napasnya, "Neng masa ice cream yang bener aja. Kamu lagi sakit," ujarnya.
"Katanya barusan nawarin,"
"Ya gak ice cream juga Neng. Maksudnya makanan," ucap Kak Furqan.
"Yaudah nasi padang,"
Kak Furqan semakin menatapku heran, "gimana bisa kamu lagi sakit lambung malah minta nasi padang," tolaknya lagi.
"Tuh kan ditolak lagi, jadi yang boleh apaan dong?" tanyaku dengan cemberut.
Dia tersenyum melihatnya, "bubur baru boleh."
"Masa makan bubur tengah hari begini," protes-ku, "siang-siang begini tuh enaknya bakso, nasi padang, ice cream, seblak, -" ucapku.
Kak Furqan langsung menutup mulutku dengan telapak tangannya yang besar, "gak ada ya! Nanti kamu gak sembuh-sembuh Neng."
Aku menatapnya sinis, "yaudah belinya yang boleh aku makan aja, asal jangan bubur."
"Yaudah, aku gofood-in buah aja mau?" tawar Kak Furqan diangguki olehku.
Kak Furqan membeli melon dan pisang.
"Kak Furqan makannya apa? Gak beli makanan berat?" tanyaku beruntun.
Dia tersenyum, "perhatian banget sih calon istri aku ini," ucapnya sembari mengelus belakang kepalaku.
Pipiku memerah malu mendengarnya, "siapa yang calon istri kamu."
Dia menahan tawanya, "yaudah makan buahnya."
"Mau gak?" tanyaku sembari menyodorkan garpunya pada mulut Kak Furqan.
Dia memakan potongan melonnya, "manis banget melonnya, bisa-bisa diabetes aku."
"Kok diabetes?" tanyaku bingung, "perasaan melonnya juga gak manis-manis banget."
"Soalnya disuapin sama kamu, makanya tambah manis melonnya," jawabnya tersenyum mesra.
Aku mendecak kesal mendengarnya, "lama-lama aku sakit jantung!"
Kak Furqan tertawa mendengarnya.
Seharian ini, Kak Furqan terus menemaniku. "Kak Furqan gak bosen di sini seharian?" tanyaku.
"Enggak, kenapa harus bosen nungguin bidadari kayak kamu," ujarnya.
"Kak Furqan jago banget gombalnya, belajar dari siapa?" tanyaku.
"Gak belajar, aku juga gak pernah gombal sama siapapun selain kamu," jawabnya dengan santai.
"Udah ah, berisik!" ujarku membuatnya terkekeh.
Malam harinya,
Dokter datang untuk memeriksa. Dia menyapaku dan Kak Furqan dengan ramah.
"Sekarang dijagainnya sama suaminya ya Dek?" tanyanya, "kirain belum nikah?"
merinding jadinya
jangan sampai thor kasihan si ica