Mengorbankan segalanya dan bahkan mendonorkan ginjalnya untuk sang ibu mertua.
justru membuat dirinya dibuang seperti sampah oleh sang suami dan keluarganya.
Karna dianggap penyakitan dan tidak dibutuhkan lagi.
Apa yang akan dilakukan pada si wanita cantik,untuk membalaskan dendamnya pada sang mantan suami dan juga keluarganya??
Follow Ig Me : Mitha_shin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Zia terus berjalan tanpa tujuan.Pikirannya pun saat ini kacau dan tidak beraturan.Meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan.Dengan segala pengorbanan yang dilakukan,karena hanya untuk memiliki keluarga yang bahagia.Tapi justru hanya lah sebuah khayalan dan tipuan yang sudah mempermainkan hidupnya.
Zia yang berjalan dengan kepala menunduk tanpa melihat ke depan,tanpa sadar sebuah motor datang dari arah berlawanan sambil membunyikan klakson.
Tiiinn... Tiinn..
Seketika seseorang dengan reflek menarik tubuh Zia sebel dirinya akan ditabrak oleh pesepeda motor tersebut.
"Goblok..!! kau mau bunuh diri.!!" sentak pengendara sepeda motor tersebut yang sesaat berhenti dan kembali mengendarai motornya.
Orang menolong Zia hanya menatap bingung pada si pengendara motor yang sudah pergi.Dan beberapa saat ia pun menoleh kearah Zia.
"Apa kau baik-baik saja??" tanya seorang lelaki tersebut bernama Dean.
Bukan menjawab,Zia justru memilih pergi dengan tatapan yang kosong.Membuat Dean hanya menatap bingung dan aneh dengan sikap Zia yang tidak merespon.Dean pun meninggalkan tempat dimana dia menolong Zia.
Zia akhirnya memilih kembali pulang ke rumah kontrakannya.
Tiba di rumah kontrakannya,ia langsung dikejutkan dengan kedatangan Aurel sang kakak sepupunya.
"Kak Aurel." sahut Zia dengan reaksi kaget.
Aurel hanya melihat Zia dengan tatapan serius.
Zia mempersilakan Aurel untuk.memasuki rumah kontrakannya.Dan ia pun segera membuatkan teh untuk Aurel.Sambil menunggu sesaat Aurel memperhatikan suasana rumah yang baru sebulan Zia huni.
Begitu sempit dan sangat sederhana.Tidak memiliki barang-barang yang berharga,hanya kasur dan lemari pakaian.Melihatnya Aurel menarik nafas panjangnya.
Tak berapa lama Zia pun datang menghampiri Aurel sembari menyuguhkan teh untuk nya.
"Silakan di minum kak." ujar Zia.
"Terima kasih." jawab Aurel langsung meminum teh tersebut.
"Jadi sekarang kau tinggal di kontrakan kecil ini?" tanya Aurel dengan nada serius.
"Iya benar kak..aku baru menempatinya sebulan ini." jawab Zia menunduk.
"Oh begitu." ujarnya datar.
"Bagaimana kakak tahu aku tinggal disini??" tanya Zia penasaran dan menatap takut kearah Aurel.
"Apa itu penting untuk mu??kau berpisah dengan si bajingan itu tanpa memberitahu ku,kau menjalani hidupmu yang menyedihkan juga tanpa memberitahu ku??apa kau pikir aku akan berpura-pura tidak tahu??" tanya balik Aurel dan langsung memberikan sindiran.
Zia langsung terdiam menunduk.Aurel hanya menarik nafas panjangnya.Merasa ia langsung tidak tega dengan ekspresi wajah Zia yang memang sangat menyedihkan.
"Aku sudah menduganya dari awal jika si brengsek itu tidak akan pantas untuk mu.tapi karena semua ini sudah terjadi,ku harap kau tegar dan kuat menghadapi kenyataannya.Jangan berpikir jika hidupmu sudah berakhir." ucap Aurel.
Zia pun masih memilih diam.
"Lupakan semuanya,dan kembali lah ke kehidupan mu semula.Aku akan membantu mu untuk bangkit kembali..biar bagaimana pun kau tetap adik ku." kata Aurel yang kini mendukung Zia.
Zia pun seketika menoleh dan menatap Aurel.Dengan perasaan yang haru dan bersyukur memiliki seorang kakak sepupu yang masih menganggap dirinya keluarga.
Zia langsung memeluk tubuh Aurel dengan erat.Meluapkan seluruh kesedihan dan juga rasa bahagianya pada Aurel.Orang yang selalu ada untuknya di setiap masalah yang ia hadapi.
"Terima kasih kak..maaf,aku sudah mengecewakan mu selama ini..hiks." isak Zia yang akhirnya menangis pilu.
Aurel pun hanya mengusap rambut hingga ke punggung Zia agar tetap tenang.
"Iya,aku mengerti keadaan mu..Biarkan apa yang sudah mereka lakukan padamu,akan ada saatnya mereka akan menerima balasannya."ucap Aurel menguatkan Zia.
Zia hanya mengangguk dan tetap menangis.
puaskan balasdendanmu Zia