Saat cinta menyapa, mampukah Resti menepis rasa dendam itu?
Restina Adelia, menerima pinangan Raka Abhimana. Pernikahan mereka, hanya diwarnai pertengkaran demi pertengkaran. Suatu hari, Raka pulang dalam keadaan mabuk, hingga membuka rahasia kematian orang tua Resti.
Resti pun memutuskan pergi dari kehidupan Raka. Saat itulah, Raka menyadari perasaannya pada Resti. Mampukah Raka menemukan Resti? Bagaimana cara Raka meyakinkan Resti, bahwa hanya Resti pemilik hatinya, setelah Raka menyakiti Resti terus menerus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruth89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16 ~ Undangan
"Baiklah," jawab Raka setelah sekian lama.
Resti pun tersenyum. Meski hatinya tak bisa percaya dengan mudah. Paling tidak, Raka sudah memenuhi permintaannya. Selebihnya, Resti hanya bisa mengawasi dari jarak jauh.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di rumah. Resti turun lebih dulu. Ia memilih membersihkan dirinya. Merendam tubuhnya di dalam bath up berisi air hangat. Berharap rasa lelah dan keresahan dalam dadanya ikut menghilang.
Saat ia keluar dari kamar, ada Bayu di sana. Resti tersenyum ramah pada asisten dari suaminya itu. Ia menuju dapur dan menyiapkan makan malam. Sebelumnya, ia membuatkan minum untuk tamunya lebih dulu.
"Silakan," ucap Resti ramah.
"Terima kasih," jawab Bayu.
Saat Resti akan kembali ke dapur, Raka memanggilnya dari ruang kerja. Resti pun mendekati Raka ke sana.
"Ada apa, Mas?" tanya Resti.
"Kamu lihat berkas yang ada di meja?" tanya Raka.
Resti menggelengkan kepalanya. "Aku belum pernah masuk ke sini. Ini pertama kalinya aku masuk," jawabnya.
"Oh. Ok! Tolong temani Bayu sebentar. Boleh, 'kan," pinta Raka.
Hanya anggukkan kepala yang Resti berikan sebagai jawaban. Ia pun keluar dari kamar itu. Matanya menatap sekeliling ruangan itu. Ada banyak foto gadis yang ia tahu bernama Riska di sana. Resti pun berusaha mengabaikan pemandangan itu.
Ia pun duduk di sofa single. Kemudian tersenyum pada Bayu. "Sudah lama, kerja dengan Mas Raka?" tanyanya.
"Cukup lama, Bu," jawabnya.
"Panggil Resti saja. Lagi pula, Mas, sepertinya seusia dengan Mas Raka," ujar Resti.
"Kami, satu sekolah sejak SMA," jawab Bayu kemudian.
Resti menganggukkan kepala mengerti. "Apa, Mas Bayu, mengenal Riska?"
Entah mengapa, Resti mempertanyakan Riska pada Bayu. Ia merasa, Bayu mengetahui semua hal tentang wanita itu. Ia bisa melihat, Bayu terkejut mendengar nama wanita dari masa lalu suaminya itu.
"Dia ... mantan kekasih Raka," jawab Bayu lirih.
"Aku tahu. Apa penyebab mereka putus?"
"Riska berkhianat." Tanpa sadar, tangan Bayu terkepal erat.
Pria itu pun menceritakan kejadian beberapa bulan lalu. Di mana Raka marah dan kecewa pada Riska, hingga berakhir dengan kecelakaan yang menewaskan orang tua Resti.
"Jadi, dia yang seharusnya menjadi pemilik rumah ini," gumam Resti.
"Maksudnya?" tanya Bayu tak mengerti.
"Tidak ada. Apa menurut, Mas Bayu, Mas Raka masih mencintai Riska?"
"Aku tidak tahu masalah ini. Apa wanita itu kembali?" tanya Bayu penasaran.
Resti menganggukkan kepala. "Kami tidak sengaja bertemu dengan dia di mall siang tadi," cerita Resti.
"Resti, bisa aku minta sesuatu?" tanya Bayu.
Resti terkejut. Namun, ia menganggukkan kepala. Terlihat Bayu akan berbicara dengan serius.
"Apa pun yang terjadi, jangan mempercayai Riska. Dia, adalah wanita paling licik yang pernah aku kenal. Kamu mengerti maksudku?"
Resti terdiam sesaat. Kemudian menganggukkan kepala pasti. Meski tida terlalu mengerti dengan maksud ucapan Bayu, ia tetap menyetujuinya.
***
Saat akan tidur, ponsel Raka berdering. Resti menoleh sesaat. Raka masih berada di dalam toilet.
"Mas, ponselmu bunyi," ucap Resti sedikit keras.
"Lihat saja, Sayang. Tidak apa!" Raka berteriak dari dalam.
Resti pun mengambil ponsel Raka dan melihat pesan dari Riska. Tidak, Resti tidak membuka ponsel itu. Ia hanya melirik bar notifikasi di layar ponsel Raka.
Aku ingin mengundangmu makan ke apartemenku sebagai permintaan maaf. Ajak istrimu sekalian, ya. Sampai jumpa. _Riska_
Resti menaruh ponsel Raka kembali. Tak lama, Raka keluar dari dalam toilet.
"Dari siapa?" tanya Raka.
Pria itu memeluk Resti dari belakang. Mencium tengkuk sang istri berkali-kali. Tangannya mulai terlihat nakal.
"Riska. Dia ingin mengajak kita makan malam. Sebagai permintaan maaf katanya," jawab Resti.
Raka menghentikan gerakannya. Ia mengangkat wajahnya dari tengkuk sang istri.
"Riska?" ulang Raka.
Resti menganggukkan kepala. Terlihat perubahan di wajah sang suami. Pria itu bahkan melepas pelukannya. Resti pun memilih merebahkan dirinya. Melihat ekspresi Raka yang sudah terlihat penuh tanya.
Apa kau akan mengajakku, atau justru pergi sendiri ke sana? Kita lihat saja nanti, gumam Resti dalam hati.
Kpan lgi nie kax🥰🥰🥰🥰🥺🥺🥺🥺🥺🥺