novel ini sedang direvisi.
Menceritakan kisah Nana yang tumbuh di tengah keluarga yang berantakan.
Membuatnya hidup tanpa aturan, menjadi gadis yang liar mencari kebahagian.
Namun, suatu hari Nana harus menerima kenyataan bahwa dirinya memiliki Ibu tiri. Siapa sangka Nana yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu, kini mendapatkannya dari wanita simpanan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK TEGA.
Lian mengejar pria yang sedang mengejar Amara.
Lian meraih bahunya membuat pria itu yang ternyata adalah Anton, Anton menoleh dan hampir meninju Lian, beruntung Lian yang notabenenya adalah raja jalanan dengan gesit menghindari pukulan itu.
Lian membalas meninju perut dan memukul tengkuk Anton.
"Ck, siapa lo ikut campur," Decak Anton yang sudah tersungkur.
"Siapa gue bukan urusan lo,"
"Songong nih bocah," ucap Anton yang lalu menyerudug perut Lian, Lian terus menyikut punggung Anton tetapi Anton tak juga melepaskannya sehingga membuat Lian terjatuh dan Anton berada di atas Lian.
Anton terus meninju wajah Lian, Amara tak diam saja melihat itu, Amara mengambil batu bata yang tergeletak ditepi trotoar.
Amara ragu antara memukulnya atau tidak, Amara takut Anton mati apabila Amara memukulnya menggunakan batu.
Sekarang keadaannya sudah berbalik, Lian yang sedang berada diatas Anton dan meninju wajah Anton.
Dan akhirnya Amara tak perlu repot-repot untuk memukul Anton.
Lalu datang Randy melerai Lian dan Anton.
"Bos, udah bos jangan sampai lo masuk penjara karena bunuh orang," ucap Randy dengan menahan lengan Lian karena ingin mengejar Anton yang sedang tergopoh menyelamatkan diri dari Lian.
"Cih," ucap Lian dan ibu jarinya mengusap darah diujung bibirnya.
"Lo nggak papa?" tanya Amara yang sudah berdiri disamping Lian.
Lian merasa heran kepada Amara yang suka sekali berlari dan dikejar oleh lelaki yang sama.
"Bukan suka, tapi emang harus demi menyelamatkam diri," jawab Amara.
"Biar selamat jangan keluyuran malem - malem," ketus Lian yang membuat Amara mengerucutkan bibirnya.
Randy yang melihat bosnya sedang menyeramahi seorang gadis merasa menjadi kacang. "Kacang bos,"
"Apaan sih berisik lo, balik sana!"
Dan benar saja Randy pergi meninggalkan Lian dan gadis yang memang belum Randy kenal itu.
Setelah Randy pergi Lian menyeret Amara kearah motornya, Lian berniat untuk mengantarkan Amara untuk pulang.
"gue nggak mau pulang," ucap Amara dengan mengibaskan tangan Lian yang sedang menggandengnya, Amara melihat wajah Lian yang lebam dan bertanya, "Sakit?" tanya Amara dengan menyentuh luka di wajah Lian.
Lian mendesis kesakitan saat Amara menyentuh luka yang diujung bibirnya, "Sakitlah, gue bukan robot kali,"
"Makasih dan maaf," lirih Amara.
Lian berdecak dan bertanya mengapa Amara selalu dikejar oleh orang yang sama, lalu Amara menceritakan hubungannya dengan Anton..
Amara merasa heran dan juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba Anton berada di jakarta.
Lian juga menanyakan mengapa Amara sering sekali pergi malam seorang diri.
"Gue janjian lah, tapi dia nggak dateng,"
"Ck, kasian," decak Lian.
"Dah. Gue nggak mau tau pokoknya lo harus obatin luka gue," ucap Lian setelah mendengarkan cerita Amara.
Lian membawa Amara ke sebuah apotik untuk membeli obat yang dibutuhkannya, setelah mendapatkan obatnya Lian mendudukan bokongnya di bangku teras apotik dan Amara mulai mengoleskan obat tersebut.
Wajahnya berada dekat dengan wajah Lian, dan Lian memperhatikan wajah Amara yang cantik. Sejenak mata mereka saling bertemu membuat Amara tersadar kalau ternyata Lian memperhatikannya.
Amara merasa risih dan memberikan obat tersebut pada Lian, "Nih, obatin sendiri." ucap Amara dengan ketus.
"Dih judes banget sih jadi cewe,"
"Biarin judes gini gue dah laku,"
"Mana laku kok dia nggak dateng,"
Deg, ucapan Lian membuat Amara teringat kembali dengan rasa kecewa yang baru saja ia dapat.
Amara bangkit dari duduknya dan mulai melangkah tetapi tangannya tertahan oleh tangan Lian yang sudah mencekal lengan Amara.
"Gue anter," ucap Lian seraya menuntun Amara ke motornya.
___________
Brian terlihat panik karena Amara tak juga menerima panggilan darinya, "Ini anak kemana," gerutu Brian dengan memandang layar ponselnya.
"Atau mungkin udah balik," gumam Brian yang
akhirnya memutuskan untuk pulang dan berharapa Amara sudah berada dirumah.
Brian melihat jam ditangannya sudah pukul 23:06 wib, kali ini entah alasan apalagi yang akan Brian berikan pada Amara.
Brian terus melajukan mobilnya menuju ke apartemennya.
sesampainya di apartemen Brian melihat Amara yang sedang memasak mie instan, Brian mendekat dan ingin memeluk Amara tetapi Amara menghentikannya, "Stop, Mara lagi ngambek sama om," ucap Amara yang sekarang sudah duduk di kursi meja makan dan menyantap mie instan yang dipenuhi cabai rawit merah, sawi, dan telur.
Amara makan tanpa melihat ke arah Brian, Amara takut kalau dirinya melihat Brian akan mengugurkan niat ngambeknya.
"Sayang, om nggak sengaja telat," ucap Brian yang duduk disamping Amara dengan menatapnya.
Brian yang melihat cabai terlalu banyak di mangkuk mie milik Amara lalu mengambil mangkuk itu, "Kamu makan mie apa makan cabai?" tanya Brian.
Amara masih tak mau menatap Brian, Amara bengkit dari duduknya dan berbalik badan membelakangi Brian. Amara tak ingin Brian tahu kalau dirinya sudah hampir menangis.
"Mara pengen makan yang pedes om, kalau Mara lagi kecewa," ucap Amara lalu pergi meninggalkan Brian masuk kedalam kamar dan tidak lupa untuk mengunci pintu kamarnya.
Brian mengetuk pintu kamarnya dan terus memanggil Amara, Brian merasa bersalah karena telah membuat janji tetapi lagi-lagi dirinya tak bisa menepati.
Amara membuka pintu dan menyembulkan badannya membawa selimut dan bantal lalu memberikannya pada Brian.
Brian menatap tak percaya kalau Amara akan tega menyuruh Brian tidur diluar kamar, "Hukuman buat om," ketus Amara lalu kembali masuk kedalam kamarnya.
Brian mengusap kasar wajahnya, Brian merasa dilema. Belum lagi esok pasti Melinda akan merengek untuk ditemani.
Brian merasa tak tega pada Melinda yang mengatakan kalau dirinya sedang sakit dan mungkin tidak akan lama lagi sisa hidupnya.
Brian melepaskan jas, kemeja dan celana kerjanya, tersisa celana kolor dan kaos dalam saja, sebenarnya Brian bisa saja tidur di kamar sebelah tetapi entah mengapa Brian memilih tidur didepan pintu kamar.
Brian menggelar selimut yang Amara berikan untuk dijadikannya alas tidur.
sedangkan Amara, dirinya merasa tak nyaman tidur seorang diri didalam kamarnya, Amara mencoba memejamkan matanya tetapi selalu tak bisa Amara selalu mengingat Brian.
Amara berfikir mungkin Brian tidur dikamar sebelah, "Atau jangan-jangan om pergi lagi?" gumam Amara.
"Mara tau, kalau hubungan kita terlalu cepat om, Mara ingin tahu segalanya tentang om, tetapi om sangat susah untuk Mara gapai akhir-akhir ini," ucap Amara dalam hati.
Amara memilih bangun dan membuka pintu ingin memastikan apakah Brian ada dirumah atau memilih pergi lagi, Amara terkejut melihat Brian yang meringkuk di lantai.
"Om, bangun. Mara nggak mau om sakit kalau tidur dilantai." ucap Amara dengan menggoyangkan kaki Brian.
Brian yang sebenarnya belum tidurpun akhirnya mengambil kesempatan. Brian tersenyum sepertinya memikirkan rencana.
Bersambung.
soalnya ini kenapa tiba2 si nana meninggal? trus melinda sakit? sama amara berhubungan sma brian? dan brian tiba2 udah cerai sma melinda?
ini apa gue yang ngelengkah2 bacanya apa gimna sii😭
tapi perasaan gue liat ulang kagak salah bacanya🥲