Pernikahan adalah hal yang diinginkan banyak orang, sayangnya pernikahan Aina Putri Arman tak semulus seperti yang di harapkan sebelumnya.
Calon suaminya tidak datang dan akhirnya, Davian Kin Sanjaya menggantikan posisi calon suami Aina di pelaminan.
Adakah sesuatu yang membuat calon suami Aina tidak hadir dalam pernikahannya sendiri?
Lalu bagaimana kehidupan rumah tangan Davian dan Aina selanjutnya?
Sekuel dari Takdir Janda Muda.
Ini adalah cerita hiburan semata, semoga suka😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Akhir dari Debat
"Jika aku mengatakan apa kau akan mengabulkannya?"
"Tentu saja jika aku bisa. Kenapa, kau tidak percaya?" jempol Dav mengusap air mata yang berada di bawah mata Aina.
"Apa kau punya rencana di balik kebaikanmu!"
Kembali pikiran buruk Aina pada Dav keluar, membuat mereka melepas pelukan dan menjauh satu sama lain.
"Rencana apa lagi?" dengus Dav kesal lantaran pikiran-pikiran Aina yang selalu buruk tentangnya.
"Apa yang kau rencanakan jika aku sudah sampai di rumah papa?"
Dav masih menunggu kelanjutan ucapan apalagi yang keluar dari mulut wanita ini dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku peringatkan jika rencana kalian tidak akan berhasil!" ucap Aina penuh keyakinan dalam tatapan matanya.
Bukan takut, bukan pula kesal, namun lebih pada geli. Dav menutup mulutnya dengan dua jari tangannya, berusaha sekuat tenaga agar tawanya tak lolos dari pertahanan yang ia buat.
"Apa ada yang lucu?" sayangnya usaha Dav tak berhasil, Aina menangkap basah Dav yang sedang menertawai dirinya.
"Tidak tidak. Nothing funny. Tapi ancaman darimu tak akan menggoyahkan seorang Davian Kin Sanjaya," Dav berdiri tegap di hadapannya membuat Aina mendongak menatapnya.
Jari telunjuk Dav jatuh pada kening Aina yang tak tertutup rambut poni." Mintalah bantuan untuk membersihkan isi kepalamu ini Aina, jangan kau pergunakan untuk berpikir kotor terus menerus!"
Setelah berkata demikian Dav melangkah hendak meninggalkan Aina, namun sayang, kakinya tersangkut pada kaki kursi yang membuatnya hendak terjatuh dan menelungkup pada tubuh Aina yang ikut terkejut.
Untung saja ada meja yang membuat sandaran kursi Aina tertahan pinggiran meja. Jika tidak makan bisa dipastikan, Aina pun ikut jatuh ke belakang.
Tatapan keduanya bertemu. Saling terkejut namun semua itu malah menimbulkan rasa yang berbeda, hingga mereka saling menahan napas di tenggorokan masing-masing.
"Apa ini?" gumam Aina di hati saat merasakan ritme jantungnya yang berdetak tak biasa, jauh lebih cepat.
"Si-singkirkan tubuhmu dariku!" ucap Aina lirih.
"Maafkan aku, tapi sepertinya aku menyukai ini!" ucap Dav tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan dari wajah cantik istrinya.
"A-apa?" seakan tak bisa dihentikan lagi jika sampai jantung Aina melonjak keluar. Dav masih pada posisinya dan tak ingin berpaling begitu saja. Aina adalah istrinya, tidak ada alasan baginya menjauh dari tubuh istrinya sendiri.
Pikiran nakal pun melintas pada kepalanya.
Tangan Dav merengkuh pinggang Aina dan mengajaknya berdiri sejajar." Tidak ada alasan bagimu untuk menolakku, kita sudah sah menjadi suami istri, lalu apalagi yang kita tunggu!"
Terlihat Aina menelan ludahnya yang kelu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan posisinya yang begitu dekat dengan Davian. Perasaannya campur aduk, tak di pungkiri jika dia sendiri juga menginginkan hal yang sama.
Tapi tak ingin ia di kasihani, ia yakin suaminya hanya mengasihani dirinya karena kerapuhan nya tadi.
Ia pun meronta, mendorong dada Dav menjauh darinya akan tetapi sesuatu terjadi.
Dav mencium bibirnya tanpa permisi dan menikmatinya hingga Aina tak bisa mengambil napas. Mata Aina menatap wajah Dav yang tertutup merasakan kelembutan bibirnya.
Tidak. Tangan Aina mendorong dada Dav dan Dav mulai kembali pada kesadarannya. Ia melepaskan tubuh Aina dan membiarkan istrinya itu pergi menjauh darinya.
"Astaga, apa yang aku lakukan?" rutuknya pada dirinya sendiri.
Beberapa jenak berlalu hingga ia menatap tubuh Aina yang sudah menghilang dari anak tangga.
"Dia pasti akan tambah marah denganku, yaampun, aku terbawa suasana!" ia menyeret kakinya untuk menaiki anak tangga dan kembali ke kamarnya sendiri.
Sedangkan Aina di dalam kamarnya masih berdiri termangu di depan pintu, menyentuh bibirnya yang masih merasakan sentuhan lembut yang diberikan Dav di sana.
Dadanya naik turun, jantungnya masih terpacu cepat di dalam sana.
"Ini ciuman pertamaku, Vi telah mengambilnya, sial kenapa indah sekali!" Aina menghentakkan kedua kakinya karena begitu malu akan hal itu.
"Aku pasti terlihat amatir, sedangkan pria itu sudah biasa melakukannya berkali-kali dengan kekasihnya, mengingat wanitanya yang cukup banyak. Dia pertama bagiku, tapi aku yang ke berapa baginya?"
"Pertama kali!" Dav menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan begitu kasar. Ia masih merasakan manisnya bibir Aina yang begitu merekah saat ia melepasnya.
Tersenyum, itulah yang di lakukan Dav saat ini. Kejadian tadi tak lepas dari ingatannya begitu saja, seakan masih sangat nyata dan baru saja mereka lakukan.
"Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Huft sudahlah!"
Dav beranjak kembali dan melonggarkan dasi kemudian melepasnya, menanggalkan satu persatu pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
**
"Nomor tanpa nama. Siapa dia?" Aluna yang sudah hendak memejamkan mata mengurungkan niatnya lantaran ponselnya bergetar di atas nakas membuatnya segera mengambil dan melihatnya.
"Hallo," ucapnya.
"Hallo, night Ruby. Kau sudah tidur?"
"Ruby?" Aluna terlihat berpikir dan mencoba mengingat suara siapa yang ia dengar sekarang." Who are you?"
"Alee. Aku tidak mau basa-basi dengan teman baruku!"
"Ah!" Aluna tertawa kecil sebelum dirinya membahas panggilan Alee padanya. Ruby. Tidak ada yang memanggilnya Ruby selain pria itu dan satu-satunya.
Tegur sapa dan menanyakan kabar masing-masing pun di mulai. Keduanya tengah asyik bersua hingga pertanyaan Alee membuat keduanya kembali serius.
"Kapan aku bisa konsultasi. Aku butuh sekali teman bicara setelah kejadian empat bulan lalu!"
"Aku selalu punya waktu senggang karena pekerjaanku free, bisa aku lakukan kapan saja dan dimana saja!"
"Okay, di kafe dekat taman kota. Kita bisa berbincang nyaman di sana! Besok di waktu senja, setelah aku pulang bekerja!"
"No problem, Al. Aku akan ke sana!"
"Ok thanks, good night Ruby, see you tomorrow!"
Panggilannya terputus, dan Aluna memasang senyum setelahnya.
Ia tidak menyangka menjadi kenal dekat dengan pria yang baru ia temui empat bulan yang lalu, bahkan tanpa sengaja.
Tarikan napas panjang, kemudian ia memejamkan mata kembali, sedikit menggerakkan jarinya yang kaku lantaran seharian ia gunakan untuk menggambar gaun pengantin terbarunya di atas kertas.
Beberapa hari ini ia sedikit kehilangan waktu bersenang-senang karena ia mendapatkan banyak pesanan desain gaun pengantin dari kantornya. Salah satu rekan kerjanya sakit dan pekerjaannya di delegasi kan padanya, membuat pekerjaannya menjadi menumpuk dan harus selesai tengah bulan ini.
Tak apalah, banyak pekerjaan banyak pula honornya.
Lagian masih ada sekitar tiga belas hari untuk menyelesaikan semuanya, ia bisa meminta bantuan Naomi untuk memberinya saran apabila ia kehabisan ide.
Membuat desain gaun pengantin berjumlah 20 dengan model yang berbeda tidaklah mudah. Maklum, yang memesan adalah orang papan atas, mereka tidak mau jika gaun pengantin mereka sama dengan gaun pengantin wanita lain, satu dari sejuta adalah selalu menjadi pilihan kaum elit.
untuk penjahatnya tidak di hukum
jd kurang gereget dan kurang puas endingnya..