Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.
Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.
Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJEMPUT AJAL
Langit hitam di atas tanah sebagai saksi bahwa waktu kini telah berganti malam hari. Berlari, pegal-pegal. Entah kemana kaki ini akan kulangkahkan. Pergi tanpa jelas arah tujuannya. Satu alasan, karena rindu.
Berkali-kali ku berlari ke arah kanan, ke arah kiri, maju terus, balik lagi, hasilnya sama saja. Bolak-balik di gang-gang yang sama, dengan harapan Vallen akan melewatinya seperti biasa saat akan berangkat dan pulang sekolah. Jalan yang selalu ia lewati tanpa kendaraan. Vallen masih trauma akan hal itu, berkendara mobil saat tetesan air hujan menyerbu seisi bumi. Karena ayahnya, satu-satunya keluarga yang ia miliki setelah ibunya tiada, kecelakaan dalam mobil, di malam hari, bersama hujan.
Aku merinding mengingat kembali kejadian di saat ia terburuk dan aku tak ada untuk menemani. Aku terlalu memikirkan diriku sendiri untuk membangun jarak, egois. Setelah ia ada untuk membangkitkanku, aku justru menjatuhkannya.
“Gimana kak, kak Vallen nya udah ketemu?”
“Belum,”
Setelah aku berpencar dengan Pelita, kami berjumpa lagi di pertigaan jalan. Kulihat keringatnya yang berjatuhan dengan air hujan, sama sepertiku. Kuduga Ia sama lelahnya, berlarian untuk mencari sosok yang hingga saat ini masih tak tampak batang hidungnya. “Setahu gue sih, kak Vallen nggak punya teman. Kalau mau curhat dan minta saran, datangnya ke gue. Jadi nggak mungkin kan kak Vallen nginep di rumah orang sampai nggak berangkat sekolah,”
Datangnya ke gue, kata yang Pelita lontarkan dari mulutnya sedikit tak enak di dengar.
“Vallen kena hukuman nggak boleh ikut ujian selama tiga hari tapi seharusnya kemarin Vallen sudah boleh ikut ujian.
Kemarin sih tante liat dia berseragam lengkap mau berangkat sekolah. Terus paginya dia WhatsApp tante Katanya dia pulang sekolah mau mampir dulu ke suatu tempat jadi katanya tante perlu khawatir kalau dia nggak pulang
Aku teringat lagi kata-kata tante Reta sore itu. Katanya, tante Reta lihat Vallen berseragam mau ke sekolah. Kuseretkan kakiku kencang menapaki jalanan aspal. Aku tak memikirkan Pelita yang kebingungan melihat ku tiba-tiba berlari meninggalkannya. Aku mungkin terlihat gila jika mencari Vallen disana. Entah untuk alasan apa, aku ingin memastikannya di sana. Ya mau bagaimana lagi, cinta memang bisa bikin orang menjadi gila dan aku sekarang telah menjadi gila karena cinta pertamaku membuatku begini.
Kesiur angin malam menggerakkan rambutku yang terurai. Hujan yang sedari tadi merembas jatuh telah mereda, berganti rintikkan air gerimis malam hari. Baju yang kukenakan saat ini basah diterjang hujan. Seharusnya aku kedinginan akan hal itu, tapi rasa khawatir ku membuatnya tak berasa sama sekali.
Sudah jelas seharusnya tak ada murid lagi di sekolah, hanya saja, aku lebih ingin berada di sini menyaksikan gedung kosong melompong di malam hari. Aku ingin masuk bagaimanapun caranya. Meski gerbang kokoh tegak menghadang kami untuk masuk sekalipun, meski gelapnya di dalam sana membuat bulu kudukku berdiri sekalipun, aku tidak akan menyerah untuk memasukinya. Pasti ada cara lain, aku yakin itu.
Aku menimbang-nimbang apakah aku bisa memanjat pagar hijau dihadapanku ini. “Harus bisa!” tekadku.
Aku mulai memanjatnya. Susah memang, berkali-kali kuterjatuh hanya untuk memastikan orang yang belum tentu ada di dalam sana. Hanya firasat.
“Tunggu di sini!”
Tiba-tiba seseorang memegang pundakku dari belakang. Tanpa perlu menunggu persetujuan, tubuh mungilnya melesat gesit menaiki pagar besi tinggi sekolah, seolah mudah saja seperti tanpa beban.
Dalam hitungan detik, Pelita menghilang dalam kegelapan. Masuk semakin dalam ditelan waktu. Tubuh kurusnya tak tampak lagi dari sini, menyatu dalam kegelapan karena lampu yang tak dinyalakan. Aku menunggu beberapa saat, sesekali mengintip ke dalam memastikan tubuhnya muncul.
Pelita kembali dengan membawa dua kursi kayu sekolah. Ia menaruh keduanya di pinggiran pintu gerbang. Begitu ia kembali menaikinya, tangan kanannya meraih salah satu untuk diberikan kepadaku. Menyuruhku memanjat gerbang dengan kursi yang sudah diambilnya dari dalam.
“Buruan kak, manjat!”
Mau tak mau, aku menuruti perintahnya. Memang masih sedikit susah sih, tapi kursi itu setidaknya membantu agar aku tak perlu repot-repot membuka kaki ku terlalu lebar.
Setelah melewati gerbang yang menghambat kepergianku, kugerakkan cepat langkah kakiku untuk menelusuri tiap-tiap koridor sekolah, mengecek setiap kelasnya, tak lupa kamar mandi, barangkali. Semua ruangan yang terkunci kuperiksa satu per satu tapi hasilnya sama saja. Mungkin otakku sedang bermasalah hingga berpikiran ia ada di sini.
Seluruh sekolah tampak seram dengan kegelapan, beruntung aku berbekal senter dari rumah. Basah, benar saja karena kuterus gunakan saat hujan-hujanan.
Bermenit-menit hingga berjam-jam Pelita membantuku mencari di lain sisi, kami berpencar lagi. Kakiku pegal-pegal hingga rasanya aku ingin ambruk. Bajuku basah sedang angin malam menusukku. Di luar hujan berganti gerimis, lebih bersimpati, setidaknya hanya angin malam yang tak mau diajak bekerja sama.
Hatiku gundah, resah, memang seharusnya aku tak mencarinya di sini. Jelas-jelas bangunan ini kosong. Siapa pula yang mau datang ke tempat ini malam-malam.
BRUK
Kakiku sudah tak mampu menopangku lagi. Aku berlutut entah kepada siapa. Malam-malam, di gedung ini, sendirian. Air mata lagi-lagi jatuh. Aku rindu padanya, terakhir kali bertemu, kondisinya sedang tak sehat. Sekarang justru ia menghilang tanpa ada seorang pun yang tahu. Bahkan ibu tirinya sekalipun tak mengetahui keberadaannya
“Vallen—“
“Lo di mana?”
Suaraku melemah purau. Aku tak sanggup membayangkan apabila Ia benar tak kembali untuk selamanya. Berusaha kutepis pikiran itu berkali-kali tapi aku tetap merasakan itu. Aku merasakan kondisinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Vallen tipe orang yang susah berbagi. Kujamin ia tak memberitahukan pada tante Reta bahwa ia pernah pingsan ketika ditinggal nya ke Jogja.
“Kak Mer, udah yuk kita pulang. Nanti kalau kita masuk angin gimana?”
Aku seperti mayat hidup saja yang hanya menanti tarikan Pelita. Aku sudah pasrah, Vallen memang tak mungkin berada di sini
---
“”Eh, Pelita. Tunggu dulu. Gue mau mampir sebentar ke suatu tempat,”
Aku berlari ke arah kelas 11 IPA 2, kelasnya Vallen. Kelas dengan pintu dan jendela paling tinggi diantara kelas yang lain. Senyumku tanpa sadar berkembang mengingat saat itu diriku sedang berjinjit hanya untuk melihat Vallen melalui jendela, hanya dengan melihatnya saja itu bisa membuatku bahagia.
Meja Vallen, ah, sudah lima hari tak di penghuni oleh Sang Pemilik. Kudekati meja itu yang masih meninggalkan coretan kapur di atasnya. Penghinaan, pengejekan, kata-kata kasar, ingin rasanya kupukuli satu-satu teman sekelasnya Vallen jika bisa. Akan tetapi siapa aku? pacar bukan.
Segera kubersihkan meja itu dengan tisu yang tersedia di dalam lemari kayu. Memang tak akan bersih jika hanya dengan tisu, setidaknya mempersulit orang untuk membaca tulisan keji itu. Aku membasahi tisu itu dengan baju basah yang kukenakan sehingga nyaris menghilang. Nyaris bukan berarti menghilang dengan sepenuhnya.
Banyak remasan kertas berserakan dalam lacinya. Sudah dapat kutebak isi itu berupa makian. Aku bertanya-tanya, apa sih yang ada dipikiran mereka sehingga tampak senang membully Vallen? Apa karena Vallen pendiam? Ah, aku yakin karena Vallen terlalu baik, tak pernah membalas kejahatan orang hingga orang lain memanfaatkan kebaikan itu.
-Masih berani balik kelas rupanya
-Udah salah, ternyata lo nggak punya malu juga
-Eh, pelayan, mati aja sana!
-Pindah sekolah aja sana! Daripada lo kita bully terus. Hahaha
-Ke gudang sekarang, kalo lo gak mau ghosib itu menyebar!
Ku sobek-sobek semua kertas kecuali untuk kertas yang berakhir. Apa maksudnya?
Jangan-jangan, dia! Aku berlari ke arah gudang secepat yang kubisa. Kurasa berlari adalah kebiasaanku akhir-akhir ini.Sejauh tangkapan yang bisa ku ingat, aku telah mengecek seluruh ruangan, kelas kelas yang tak terkunci, yang terkunci hanya kuintip sekilas melalui jendela, gudang salah satunya. Aku terlalu meremehkan bagian gudang karena aku berpikir mana ada orang yang mau berlama-lama di sana. Rupanya, tempat itulah yang kemungkinan besar Vallen berada jika dijebak oleh seseorang, tempat itulah yang paling cocok untuk pelarian. Tempat sepi yang jarang dimasuki orang-orang.
BUK BUK BUK
Tubuhku bergetar seiring dobrakan yang kulakukan. Terasa denyutan nyeri ketika bahu menghantam pintu. Terkunci, ia masih tak ingin terbuka dengan tubuh selemah ini. Aku sungguh tak dapat membukanya. Bahkan dengan tekad sekalipun, aku masih kepayahan. Aku meraung-raung layaknya anak kecil yang memaksa masuk, tak peduli, biarlah aku terlihat kecil apabila permasalahannya menyangkut Vallen.
Berlari kembali mengambil meja ke kelas terdekat. Bahkan aku rela menelusup lewat jendela sekalipun hanya untuk memastikan dirinya. Menaikinya lantas terjun ke dalam.
Tanganku terjulur ke depan. Meraba-raba sekitar mencari saklar. Seperti buta saja. Begitu kumenemukannya, gerakan refleks tanpa disuruh oleh otak menyalakan lampu. Gudang sungguh berantakan. Barang rusak berserakan di kelilingi oleh jaring laba-laba. Tak terawat, lantai kotor, dan... darah.
Aku bergidik ngeri melihat banyaknya tetesan darah kering di atas lantai kotor. Sudut pandangku mengikutinya dan bertemulah aku dengan lelaki yang sudah kucari selama dua hari ini. Vallen terlihat sangat buruk, terkapar lemah tak berdaya di pojokan sana. seragam hari kemarin lusa masih dikenakannya, bercampur bercak-bercak merah melekat pada seragamnya yang lusuh. Aku tak bisa membayangkan betapa tersiksanya ia dikurung dengan kondisi mengenaskan selama dua hari terakhir. Tak makan? tak menghirup udara segar?
Aku menghampiri sosok kurus yang terbaring itu. Wajahnya bonyok penuh luka memar. Pucat seperti mayat. Aku harap ia tak sungguhan menjadi mayat.
Lagi-lagi mata bengkakku dibendungkan oleh air mata. Ya Tuhan, kenapa ada orang yang sungguh kejam menyiksa Vallen seperti ini? Kurasakan wajah pucatnya yang dingin dengan sentuhan jemari ku. Lukanya memar keunguan di ujung mulut dan matanya yang tertutup. Aku sempat histeris untuk membangunkannya tapi dirinya tak kunjung membuka mata. Kuperiksa detak jantungnya, oh Tuhan, aku sungguh tak merasakannya. Mungkinkah Vallen meninggal? Jangan, aku belum siap kehilangannya lagi. Lebih baik aku kehilangan dirinya didekatku daripada aku harus kehilangan raganya untuk selama-lamanya. Aku belum siap Tuhan, janganlah kau ambil nyawa cinta pertamaku, selamanya ia akan menjadi obat untukku bertahan. Jika ia menghilang, aku sungguh sesak berada didunia ini dengan Kehampaan.
Bagaimana aku harus mendeskripsikan rasa sakitku ini setiap tetes yang kujatuhkan Percuma saja, tak berarti lagi jika Vallen sungguhan lenyap dari muka bumi. Rasa sakit hati yang selama ini kutahan, rasa berjuang untuk mendapatkannya kembali, semua telah usai. Berakhir sampai disini jika ia sungguhan hanya menjadi jasad.
Aku memeluk tubuh kaku itu, takut andai kala ini adalah yang terakhir kali ku dapat mendekap tubuhnya. Kujatuhkan seluruh air mata yang kupunya, hanya untuknya seorang aku berbagi air mataku. Seperti sedari kecil ketika aku sering berbagi padanya dan aku rela memberikannya lagi saat ini.
Kepalaku kutempelkan pada dadanya. Andai aku bisa begini ketika ia sedang sadar, andai tangannya yang terdiam itu dapat membalas pelukanku, Ahh, aku tak ingin berandai-andai apabila semua itu pasti tak mungkin terjadi lagi.
“Setiap momen yang kita lakukan bersama, aku bersyukur pernah merasakannya sama kamu. Aku bersyukur itu adalah kau yang memberikan semangat hidupku. Cinta pertamaku selamanya. Aku mencintaimu, aku sangat sakit ketika ditinggal pergi olehmu, dan kali ini kamu pergi lebih jauh, menyulitkanku. Kau selalu menyulitkanku, Len."
Selalu seperti itu. Akan tetapi jantungku ikut berbahagia saat aku merasakan kesulitan menggapaimu. Itu membuatku berkorban lebih hanya untuk bisa bersamamu. Menjadi tangguh untuk bisa kau sakiti kesekian kalinya. Aku ingin menghabiskan malamku disini bersamanya. Meski dalam kondisi tak sadar, dirinya yang kurindukan, dirinya yang sangat kucintai.
---
aku akan lanjutin nanti... 🥰
salam cilamici