Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Misi Rahasia Mangga Pak RT & Joget Kaset Rusak
Suara ayam jantan di belakang rumah baru dua kali berkokok, tapi Menik sudah duduk bersedekap di pinggir tempat tidur. Matanya berkedip-kedip menatap Arga yang masih tertidur lelap dengan napas teratur.
Menik mengulurkan tangan, lalu menepuk-nepuk paha Arga pelan... lalu sedikit makin kencang.
"Mas... Mas Arga, bangun..." bisik Menik pendek-pendek.
Arga yang baru memejamkan mata dua jam setelah menyusun jadwal acara EO langsung terlonjak panik. Matanya yang merah berusaha terbuka. "hmmm... Kenapa, Dek?! Perutnya kontraksi?! Mau melahirkan sekarang?!"
"Bukan," jawab Menik kalem.
"Calon adik bayi bilang... dia mual kalau Mas Arga pakai baju hitam terus. Terus dedeknya mau susu kedelai hangat buatan Mbok Yem yang biasa jualan di ujung gang."
Arga mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan nyawanya. "Lha, Mbok Yem kan baru buka lapak jam enam pagi, Dek... Ini baru jam setengah lima."
"Tapi dedeknya maunya sekarang, Mas Arga! Kalau nunggu jam enam nanti keburu ileran anakmu! Udah gitu, belinya Mas Arga harus pakai baju warna hijau melon. Katanya biar seger dipandang."
Arga cuma bisa mengelus dada. Baju hijau melon?! Mana punya Arga kaos warna begitu. Akhirnya demi calon buah hati, Arga membongkar tumpukan lemari subuh-subuh dan menemukan kaos hadiah jalan sehat lima tahun lalu yang warnanya hijau menyala.
Dengan celana training dan kaos melar itu, Arga meluncur menembus dinginnya angin subuh naik sepeda motor.
Mentari sudah naik dari peraduannya sedari tadi, dan Arga baru saja mau selonjoran santai di sofa sambil menyesap kopi hitam. Tiba-tiba Menik berdiri di dekat jendela ruang tamu sambil menunjuk ke luar rumah.
"Mas Arga... lihat deh."
"Apaan, Dek?" tanya Arga curiga.
"Itu... pohon mangga Pak RT di seberang jalan. Ada mangga golek yang menggelantung manis banget di dahan yang dekat pagar."
Arga menggeleng cepat. "Dek, itu mangga kesayangan Pak RT! Kemarin Bagas cuma numpang nebak harganya aja langsung disemprot! Lagian rumah Pak RT dipagari tembok tinggi."
Menik langsung memegang perutnya yang membuncit, matanya mendadak berkaca-kaca dengan raut wajah paling merana di dunia.
"Oh... jadi Mas Arga tega biarin anak kita nanti pas lahir ileran gara-gara ayahnya takut sama Pak RT? Ya sudah deh, biar Menik saja yang panjat pakenya daster..."
"Ehh! Jangan! Jangan ngaco kamu, Dek!" Arga langsung berdiri tegak, panik setengah mati melihat Menik sudah bersiap membuka pintu.
"Biar Mas yang panjat! Tapi kalau Mas ditangkap warga gara-gara disangka maling, kamu yang tanggung jawab ya!"
Dengan keahlian parkour dadakan ala kadarnya, Arga menyelinap ke pekarangan samping Pak RT. Berbekal tangga kayu tua, Arga mengendap-endap. Baru saja tangannya hendak memetik dua buah mangga yang paling ranum...
"Sopooo kuuuuwiiiiiii?!" Suara berat Pak RT menggelegar dari balik pintu belakang.
Arga kaget setengah mati, langsung memetik paksa dua buah mangga itu, lalu melompat pagar tembok tanpa memikirkan keselamatan jiwa!
BRAKK!
Arga jatuh telentang di atas rumput tepi jalan. Celana jeans kesayangannya robek di bagian lutut dan sikunya lecet, tapi kedua tangannya tetap memeluk dua buah mangga itu bagai piala trofi.
Sambil meringis kesakitan, Arga berjalan pincang balik ke rumah. "Nih, Dek... mangga Pak RT. Mas pertaruhkan harga diri dan celana robek demi ini..."
Menik mengambil mangga itu, mengendusnya sebentar, lalu ditaruh begitu saja di atas meja.
"Makasih ya Mas Arga. Tapi... kok tiba-tiba Menik cium bau mangga malah jadi mual ya? Mas Arga saja deh yang makan."
Arga: (Hening. Batinnya menjerit meratapi nasib di sudut ruangan)
Sore harinya, Arga sudah pasrah sepenuhnya pada takdir. Badan pegal-pegal, siku berbalut perban, dan mental lelah. Ia duduk lemas di samping Menik yang asyik makan keripik singkong.
"Dek... jujur sama Mas. Ada ngidam aneh apa lagi sebelum Mas Arga pingsan?" tanya Arga dengan suara serak.
Menik menoleh, lalu menyunggingkan senyum manis—senyuman khas Jawa yang paling ditakuti Arga seharian ini.
"Ada satu lagi, Mas. Ini yang terakhir... beneran deh."
"Apa itu, Dek?"
"Adik bayi mau dengerin Ayahnya nyanyi lagu dangdut koplo sambil joget tipis-tipis di depan Menik."
Arga membelalakkan mata. "Hah?! Joget?! Dek, Mas ini manajer EO! Mantan drummer band rock! Mana bisa Mas joget koplo?!"
"Nabila aja seneng lihat Ayahnya joget, ya kan Nabila?" Menik memanggil putri kecil mereka.
Nabila yang sedang main di lantai langsung melompat riang. "Iya! Ayah joget! Ayah joget!"
Arga menatap dua wanita kesayangannya itu. Dinding pertahanannya runtuh seketika.
Akhirnya, sore itu ditutup dengan pemandangan langka: Arga Bagaskara—pria kaku yang dulu hemat bicara—memegang gagang sapu sebagai mikrofon, berjoget kaku memutar pinggulnya menyanyikan lagu Pamer Bojo, sementara Menik dan Nabila tertawa ngakak bahagia sampai sakit perut.
Di balik lelah dan kekonyolan itu, Arga tersenyum dalam hati. Bagi Arga, melihat tawa lepas Menik adalah bayaran paling setimpal dari segala keletihannya.