Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Sejak hari pencucian pakaian dalam mandiri itu, Arkan berubah sedikit.
Ia mulai memberi tahu jadwal makan lewat pesan.
`Hari ini makan malam di luar. Jangan masak untuk saya.`
Atau:
`Rapat selesai pukul tujuh. Saya pulang makan.`
Kadang pesannya terlalu singkat sampai terdengar seperti instruksi militer. Tetapi bagi Naura, itu tetap kemajuan besar. Setidaknya tidak ada lagi makanan terbuang karena klien lupa memberi kabar.
Hari Jumat, pesan Arkan datang pukul empat sore.
`Saya pulang pukul enam.`
Naura membalas:
`Baik, Pak.`
Ia menyiapkan ayam bakar madu, cah kailan, sup jagung, dan buah. Setelah semua siap, ia duduk di ruang keluarga dengan laptop sendiri. Jadwal makan masih setengah jam lagi.
Ia membuka aplikasi saham.
NewTech Robotics sudah mulai bergerak naik.
Di kehidupan lalu, perusahaan itu menjadi salah satu bintang teknologi Indonesia setelah mendapat kontrak perangkat rehabilitasi dan robot asistif untuk rumah sakit swasta. Tahun 2017 harganya masih dianggap terlalu mahal dan pasarnya terlalu kecil. Banyak analis meremehkannya.
Naura tidak.
Ia pernah membedah laporan keuangannya sampai hafal.
Sekarang ia membeli pelan-pelan, tidak serakah. Uang pesangon yang akan masuk juga sudah ia bagi: dana darurat, kebutuhan hidup, investasi jangka menengah, dan satu pos kosong bernama `usaha`.
Ia belum tahu usaha apa.
Tapi setelah membaca buku pemberian Arkan, pikirannya mulai bergerak.
Home care.
Elder care.
Household management profesional.
Indonesia punya banyak keluarga urban yang merasa bersalah karena tidak bisa menjaga orang tua sendiri, tetapi juga tidak tahu cara mencari bantuan yang layak. Di sisi lain, banyak pekerja rumah tangga tidak dilatih, tidak dilindungi, dan dianggap rendah.
Kalau ada perusahaan yang menjembatani keduanya dengan benar...
Naura menulis beberapa poin di dokumen.
`Pelatihan standar`
`Kontrak jelas`
`Caregiver lansia`
`Menu medis`
`Monitoring obat`
`Layanan rumah elite tapi tidak merendahkan pekerja`
Ia terlalu fokus sampai tidak mendengar pintu utama terbuka.
Bayangan jatuh di layar laptopnya.
Naura mendongak.
Arkan berdiri di belakang sofa, menatap grafik di layar.
"NewTech."
Naura refleks menutup setengah layar, lalu berhenti. Tidak ada yang perlu disembunyikan. Nilai investasinya kecil bagi orang seperti Arkan.
"Iya, Pak."
Arkan berjalan memutari sofa dan duduk di kursi seberang.
"Kamu beli?"
"Sedikit."
"Kenapa?"
Naura menatap layar. "Teknologi mereka belum sempurna, tapi arah pasarnya jelas. Rehabilitasi, rumah sakit swasta, lansia urban, alat bantu mobilitas. Indonesia belum siap penuh sekarang, tapi akan butuh."
Arkan tidak berkedip.
"Lanjut."
Naura merasa seperti kembali di ruang pitch, tetapi anehnya tidak tertekan.
"Masalah mereka ada di biaya produksi dan distribusi. Kalau mereka menemukan partner manufaktur yang tepat dan masuk ke layanan B2B, pertumbuhannya bisa besar. Produk home care mereka juga menarik, walau sekarang masih terlalu mahal untuk pasar umum."
Arkan menyandarkan punggung.
"Kamu membaca laporan publik?"
"Sebagian. Sebagian lagi dari ingatan waktu proyek."
"Mahardika pernah memegang mandat mereka."
"Pernah."
"Kamu yang menang dari Aruna."
Naura menatapnya.
"Pak Arkan masih mengingat kekalahan?"
"Saya mengingat orang yang membuat saya kalah."
Kalimat itu jatuh terlalu tenang.
Naura tiba-tiba merasa telinganya panas.
"Saya hanya menjalankan pekerjaan."
"Dengan sangat baik."
Pujian itu tidak dibungkus apa pun.
Naura menunduk ke laptop.
"Terima kasih."
Arkan melihat dokumen di sisi layar. "Kamu menulis rencana usaha?"
Naura hendak menutup, tetapi Arkan sudah melihat judulnya.
`Catatan Awal Layanan Home Care Profesional`
Ia tidak bertanya dengan nada menguji. Hanya menunggu.
Naura akhirnya berkata, "Masih ide kasar."
"Boleh saya baca?"
Pertanyaan itu sopan.
Naura menggeser laptop sedikit, tetapi tetap memegang kendali.
"Boleh. Tapi jangan tertawa."
"Saya jarang tertawa."
"Justru itu membuatnya lebih menakutkan."
Sudut mulut Arkan bergerak.
Ia membaca poin-poin itu dengan serius. Tidak menyela. Tidak meremehkan. Tidak langsung menawarkan uang.
Itu membuat Naura lebih nyaman daripada yang ia kira.
Beberapa menit kemudian, ia berkata, "Masalah utamamu nanti rekrutmen dan trust."
Naura mengangguk. "Saya tahu."
"Keluarga elite sulit percaya orang baru masuk rumah. Pekerja juga sering tidak percaya perusahaan karena takut dipotong terlalu besar."
"Maka sistemnya harus transparan."
"Dan legal."
"Iya."
"Kamu butuh pilot project."
"Saya belum sampai sana."
"Kakek dan Nenek bisa jadi studi kasus."
Naura langsung menatapnya.
Arkan mengangkat tangan sedikit. "Bukan sekarang. Maksud saya, kalau suatu hari kamu serius, kamu sudah punya bukti perubahan kualitas hidup."
Naura diam.
Ia tidak menyangka Arkan akan memahami idenya secepat itu.
"Pak Arkan tidak berpikir ini terlalu kecil?"
"Kecil?"
"Dibanding bisnis Bapak."
Arkan menatapnya dengan wajah yang tiba-tiba sangat tenang.
"Bisnis yang menyelesaikan masalah nyata tidak kecil."
Naura kehilangan kata-kata.
Di kehidupan lalu, orang-orang memuji kerjanya karena menghasilkan transaksi besar. Tidak ada yang pernah mengatakan masalah rumah, lansia, pekerja, dan perawatan sebagai sesuatu yang layak dianggap besar.
Arkan berkata lagi, "Kalau kamu ingin, saya bisa..."
Naura langsung menegang.
Arkan berhenti.
Ia seperti membaca perubahan wajahnya.
"Memberi masukan," lanjutnya. "Bukan uang."
Naura perlahan rileks.
"Masukan boleh."
"Baik."
Hening sebentar.
Lalu Arkan bertanya, "Makan malam?"
Naura menutup laptop. "Sudah siap."
Di meja makan, suasana terasa berbeda. Bukan karena menu. Bukan karena rumah lebih hangat. Tapi karena Arkan sekarang tahu sebagian isi kepala Naura, bukan hanya cara ia bekerja.
Ia makan lebih pelan daripada biasanya.
Setelah selesai, ia berkata, "Kamu tidak makan di sini?"
Naura sedang mengambil piring.
"Saya makan di dapur belakang."
"Kenapa?"
"Batas kerja, Pak."
Arkan memandang kursi kosong di seberangnya.
"Di rumah Kakek-Nenek juga begitu?"
"Iya."
"Mereka tidak protes?"
"Sering."
"Kamu tetap menolak?"
"Iya."
"Kenapa?"
Naura menaruh piring di nampan.
"Karena kalau saya sendiri tidak menjaga batas, nanti orang lain lebih mudah menghapusnya."
Arkan tidak menjawab.
Naura membawa piring ke dapur.
Saat ia sedang mencuci, Arkan muncul di pintu. Kali ini ia berdiri di tempat yang tidak menghalangi laci, sabun, atau tempat sampah.
Kemajuan lagi.
"Mbak Naura."
"Iya, Pak?"
"Batas itu berlaku untuk semua orang?"
Naura menatap air mengalir di tangannya.
"Seharusnya."
"Termasuk saya?"
Pertanyaan itu membuat udara dapur terasa diam.
Naura mematikan keran.
Ia menoleh.
Arkan berdiri dengan wajah datar, tetapi matanya tidak sedingin biasa.
"Terutama Bapak," jawab Naura pelan.
Arkan menerima jawaban itu tanpa tersinggung.
"Baik."
Hanya itu.
Ia pergi ke ruang kerja.
Naura berdiri di depan wastafel lebih lama dari perlu.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Ibu.
Nomor pribadi, karena ia sudah keluar dari grup keluarga.
`Kamu pikir keluar dari grup membuatmu bukan anak kami lagi? Minggu depan Bapak dan Bagas ke Jakarta. Kita bicara di kantormu.`
Naura membaca pesan itu.
Darahnya terasa dingin.
Kantor.
Mereka belum tahu ia sudah keluar dari Mahardika.
Jika mereka datang ke sana, keributan baru bisa terjadi. Namanya bisa kembali menjadi bahan gosip. Atau lebih buruk, mereka mencari tahu tempat kerjanya sekarang.
Arkan muncul lagi di pintu dapur.
Mungkin hendak mengambil air.
Ia melihat wajah Naura.
"Ada masalah?"
Naura langsung mengunci ponsel.
"Tidak, Pak."
Arkan menatapnya.
"Kamu terlalu bisa diam," katanya lagi.
Naura menggenggam ponsel erat.
Untuk beberapa detik, ia hampir ingin bercerita.
Tapi ia menelan semuanya.
"Urusan keluarga."
Arkan tidak mendekat.
Tidak memaksa.
Ia hanya berkata, "Kalau mereka mengganggu pekerjaanmu di rumah ini, itu bukan lagi hanya urusan keluarga."
Naura mengangkat mata.
Arkan berdiri tenang, tetapi suaranya membawa ketegasan yang biasa ia pakai di ruang rapat.
"Beri tahu saya sebelum terlambat."
Naura tidak menjawab.
Ponselnya kembali bergetar di tangan.
Pesan lain dari Ibu:
`Jangan sampai Ibu harus mempermalukan kamu lagi supaya kamu ingat diri.`
Kali ini, tangan Naura benar-benar dingin.
jgn setengah 2 ya