NovelToon NovelToon
Ketika Sinta Memilih Rahwana

Ketika Sinta Memilih Rahwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Perjodohan
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rani

Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.

Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 15

Sinta langsung melambaikan kedua tangannya di depan. "Tidak, kak. Tidak. Sudah cukup."

"Iya. Ini sudah sangat cukup. Jangan lihat badanku kecil, kamu mau pesan banyak makanan. Beneran deh, aku gak mau bikin tubuh ku gendut." Canda Sinta lagi.

Wana hanya terdiam. Sesaat, suasana langsung canggung. Wana memang kaku. Sangat kaku malahan. Maklum, dia adalah pria yang sangat tertutup. Mungkin bisa dibilang, dia pria yang sudah terpisah dari dunia luar sejak lama. Jadi, sikapnya itu sangat wajar.

"Ee ... Sinta."

"Iya?"

"A-- anu ... aku .... " Kata-kata itu terputus. Wana terlihat sedikit kesulitan untuk mengatur kata-kata yang akan ia ucapkan.

"Anu-- "

"Katakan saja, kak. Gak papa. Aku akan mendengarkan."

Mata di balik topeng itu menatap Sinta dengan tatapan lekat. "Sinta .... "

"Hm?"

"Kamu yakin ingin melanjutkan pernikahan ini?"

Sinta yang sedang mengunyah makanan langsung berhenti. Sesaat waktu seolah ikut berhenti berdetak. Hingga akhirnya, Sinta melepaskan kata-kata yang sebenarnya, sama sekali tidak dia pikirkan sebelum dia lepaskan.

"Kenapa kamu bertanya begitu, kak Wana? Pernikahan kita, hanya tinggal beberapa hari saja lagi. Apa ... kamu keberatan untuk menikah dengan ku?"

"Percayalah. Aku dan Rama tidak pernah punya hubungan yang melewati batas, kak Awan. Aku masih suci."

"Bukan itu maksudku, Sinta." Wana berucap cepat. "Sungguh. Bukan itu. Aku tidak meragukan kesucian mu karena aku sangat yakin, kamu tidak akan memberikannya pada seseorang yang belum bergelar suami." Wana menjelaskan dengan manik mata yang sangat serius. Di balik topeng itu, juga nada yang dia sampai, penuh dengan rasa bersalah.

"Aku tidak meragukan kesucian mu. Sumpah," kata Wana lagi. Kali ini dengan nada yang sangat pelan. Namun, Sinta masih bisa mendengarkannya dengan sangat jelas.

'Karena sekalipun kamu sudah tidak suci lagi, aku akan tetap bersedia menerima kamu sebagai istriku, Sinta.' Wana berucap dalam hati.

Suasana di ruangan tersebut menjadi semakin tidak nyaman. Andai saja Sinta bisa melihat wajah bersalah yang sedang Wana sembunyikan di balik topeng itu, mungkin suasana akan jadi semakin berbeda.

"Kak Wana."

"Iy-- iya. Tolong, jangan bahas soal yang tabu lagi, Sin. Jujur saja, aku tidak suka. Karena hal yang tabu itu membuatku merasa tidak nyaman," ucapnya dengan cepat.

"Terus, apa yang ingin kamu katakan padaku sebelumnya, Kak? Kamu tidak bicara, maka aku yang membahas hal-hal yang muncul di benak ku."

"Tolong jangan sungkan padaku, kak Awan. Karena aku sudah sangat yakin dengan pilihan ku. Tolong, pilihan ku ini jangan sampai memberatkan dirimu. Jika kamu tidak suka padaku, maka aku tidak akan memaksa."

Seketika, Wana menjawab dengan cepat. "Aku suka."

Sontak, dia sadar apa yang baru saja ia katakan. Nada bicaranya pun langsung berubah. "Ma-- maksud aku ... siapa yang bisa menolak-- Ah, bukan itu. Maksud aku, aku bersedia. Hanya saja, mama mungkin benar, Sinta. Aku bukan pilihan yang tepat untukmu. Kamu masih punya jalan keluar yang lain selain memilih aku sebagai suami. Jangan seret dirimu ke jurang tanpa dasar."

Sinta menatap Wana dengan tatapan lekat.

"Kak ... Awan mendengarkan obrolan aku dengan tante Intan?"

Seketika, Wana menunduk sesaat. Setelahnya, pria itu kembali mengangkat wajah secara perlahan. "Itu ... iya. Aku mendengar tanpa sengaja."

"Oh, tapi sepertinya, kamu tidak mendengarkan obrolan kami sampai selesai, Kak. Makanya, kamu tidak tahu kelanjutan dari obrolan itu, bukan?"

"Sampai akhir? Aku rasa, aku tidak perlu mendengarkannya. Jadi, aku pergi. Lagian, aku tidak kuat untuk di sana. Aku tidak cukup kuat untuk mendengarkan semua obrolan itu." Wana bicara dengan jujur pada Sinta.

Seketika, Sinta langsung mengukir senyum kecil. "Sayang sekali, kak Wana. Coba saja kamu dengarkan sampai akhir, maka kamu akan tahu sebulat apa hatiku yang telah memilih kamu."

"Maksud kamu?"

Hembusan napas pelan Sinta lepaskan.

"Pernikahan ini aku yang putuskan, kak. Pilihan ini, aku juga yang buat. Kamu memang bukan pilihan yang paling akhir yang aku pilih. Tapi, aku sengaja ingin memilih kamu untuk jadi suamiku."

"Tapi aku tidak sepadan untukmu, Sinta. Aku .... " Wana menggantungkan ucapannya sebentar. Kemudian, melanjutkan lagi. "Buruk rupa. Tidak cocok untukmu yang cantik jelita."

Manik mata Sinta menatap lekat wajah yang di tutupi topeng separuh, yang ada di depan matanya kini. Gadis itu menatap tanpa berkedip. Membuat jantung yang di tatap semakin tak terkendali.

"Sinta." Wana memanggil dengan nada pelan yang terdengar sangat lembut juga penuh kasih.

"Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" Nada bicara itu kini berubah sedikit takut.

Sudah bisa dipastikan, jika menikah kelak, Wana akan jadi pria bucin yang takut pada istri. Ah, ciri-ciri pria takut istrinya terlihat dengan sangat jelas sekarang. Belum menikah saja nyalinya sudah ciut hanya karena tatapan Sinta. Apalagi sudah menikah nanti. Sudah jelas ini akan jadi suami takut istri.

Dengusan pelan Sinta lepaskan menanggapi pertanyaan Wana barusan. "Heh .... Sungguh, aku bingung dan juga tak habis pikir dengan kalian semua. Kenapa sih, kak? Kenapa yang selalu jadi permasalahan di sini terus saja fisik. Apakah aku terlihat sangat mengutamakan fisik dari pada hati? Apakah itu sangat-sangat terlihat dengan jelas di mata semua orang?"

"Sinta."

"Iya. Aku tidak bilang kalau aku tidak membutuhkan fisik saat melihat orang. Tapi, aku juga bisa melihat orang lain lewat hati. Jika fisik bagus, tapi hatinya buruk, aku juga bisa melepaskannya. Karena yang membuat bahagia tidak sepenuhnya fisik, bukan?"

Sinta menjelaskan panjang lebar dengan sedikit emosi yang susah payah ia tahan. Jujur saja, dia sudah sangat lelah dengan permasalahan fisik ini. Sejak hari pertama keputusan ia buat, semua orang telah mempermasalahkan fisik dari pria yang ia jatuhi pilihan untuk menjadi pendamping hidupnya kelak.

"Sinta ... maaf."

Sinta menggeleng cepat. "Tidak, Kak. Kamu tidak perlu minta maaf. Karena yang salah di sini adalah aku. Karena pilihan ku, kamu jadi dapat masalah."

"Tidak, Sinta. Bukan gitu. Aku tidak mengalami masalah karena pilihan mu. Sungguh."

Sinta kembali menatap Wana dengan tatapan lekat. Manik mata di balik topeng yang Sinta tatap terlihat sedikit bercahaya.

"Kak Awan."

"Iya?"

"Sekarang, kamu pilih menikah dengan aku atau membatalkan? Sungguh, aku tidak akan memaksa kamu untuk melanjutkan. Walau sebenarnya, aku juga berharap kamu terima aku," ucap Sinta sedikit lebih pelan.

"Kalau kamu mau, tentu saja pernikahan ini akan kita lanjutkan. Aku setuju untuk menikah dengan mu, Sinta."

'Karena itu adalah mimpi yang jadi nyata buat aku, Sin. Menikah dengan mu adalah harapan yang tidak pernah berani aku ungkapkan walau hanya di depan Tuhan saja. Sedikitpun aku tak berani berharap sebelumnya, Sinta.' Wana bicara dalam hati sambil menatap wajah Sinta.

1
Soraya
msih mbulet thor lanjut
partini
aihhh badan besar tapi gitu ,,yg kau butuhkan tuh seseorang yg bisa bikin hatimu yg panas jadi dingin
wana wana
partini
lah emang kamu yg di pukul semua orang juga tau dah lihat so what ?
aihhh Rama gendeng
aku
wkwkwkwk yg dihajar sopo yg ditanyai sopo 🤣🤣🤣 nyahokk kowe rama 🤣🤣🤣
Anonim
Rama bloon emang ,laki egois g tahu diri .ayo wana dan sinta harus tegas tunjukan sinta kamu itu milik wana sekaranf
Evy
gemes sama Rama ...pingin tak hiiiiih ajah 😅
partini
sejak kapan tunangan lebih berhak dari pada suami,,aihhh Ramayana emang rada"
Patrick Khan
risa sakit jiwa kah🤣🤣🤣🤣
Rani: wuahahahah.... sekarang masih belum. tapi sudah hampir mendekati🤣
total 1 replies
Patrick Khan
rama km ribet bgt sih🤣
Rani: jangan di kata. memang ribet dia
total 1 replies
Soraya
nex
Rani: sabar yuhu🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Anonim
Si intan ibu yg oon ko bisa pilih kasih begitu,tolol.anak salah ko malah di dukung ,blok
Rani: nama juga anak sayangan dia.
total 1 replies
partini
dulu pas th 90 an ada drama India Rama dan Sinta ini kembali nya nikahnya sama wana jadi penasaran
Rani: wkwkwkw.... iya lho. tahun ini Sintanya malah milih Wana. Iya kan?
total 1 replies
partini
udah unboxing belum sih
Rani: jawabannya, udah pasti belom dong yah. ini Si Wana lho yah. Wana. Lama prosesnys. 🤭
total 1 replies
Dew666
💜
Rani: makasih buanyak😘🫰
total 1 replies
Anonim
Ah g seru si wana masa cowo gitu sih lemah amat ,gugup mulu
Rani: iya, anak angkat aku yang ini kan hidupnya penuh dengan penyisihan. jadi, wajar kalo dia kek gini kan yah
total 1 replies
Soraya
lanjut
Rani: sabara yah....
total 1 replies
Anonim
Ibu yg aneh ko bisa nanya kaya gitu bukan nya senang anak nya yg biasa menyendiri jadi ceria lagi,jangan jangan wana bukan anak kandung nya kah thor?
Rani: ish, nggak kok. anak kandung dia. Hanya saja, dia sejak kecil emang dekat dengan neneknya. Singkatnya, ibunya kek ibu tetanga aku 🤣 punya anak kesayangan gitu dia.
total 1 replies
Patrick Khan
ram ram karepmu wes..😄😄😄
Patrick Khan: sebel muak sm rama🤣🤣🤣
total 2 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Rani: 🫰🫰🫰🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Soraya
nex
Rani: 👍👍👍👍👍👍🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!