Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Dua pengawal di belakangnya. Wajahnya pucat, bukan pucat karena sakit, tapi pucat karena amarah yang sudah melewati batas berteriak dan masuk ke wilayah yang jauh lebih berbahaya dari itu.
"Lorcan--" suara Pearl hilang di tengah jalan.
Orla, dengan kecepatan yang mengejutkan, langsung berdiri dan menggenggam tangan Pearl erat, seolah mereka baru saja menyelesaikan percakapan yang sangat berbeda dari kenyataannya.
"Terima kasih, Pearl," ucap Orla dengan suara yang cukup keras untuk sampai ke telinga Lorcan. "Aku tahu aku bisa mengandalkanmu untuk membantuku."
Lorcan melangkah masuk.
Setiap langkahnya terdengar di lantai kayu kafe yang sepi itu, terukur, terkontrol, dengan cara yang justru lebih menakutkan dari langkah yang terburu-buru. Matanya berpindah dari tangan Orla yang menggenggam tangan Pearl, lalu naik ke wajah Pearl yang basah oleh air mata.
"Jadi ini alasanmu keluar hari ini?" Suaranya sangat rendah. Sangat tenang. "Untuk bertemu dengannya?"
"Tidak, Lorcan-- ini bukan seperti yang kamu lihat! Dia mengancam Ibu, aku harus--"
"Pearl bilang kamu lelah tinggal di mansion itu," potong Orla dengan nada yang dibuat-buat terdengar polos. "Bukankah tadi kamu bilang ingin pergi jauh?"
"DIAM!"
Suara Lorcan memotong udara kafe itu seperti pisau.
Tapi matanya tidak beralih dari Pearl.
Ia melangkah mendekat, mencengkeram lengan Pearl dan menariknya menjauh dari meja dengan gerakan yang tidak kasar tapi tidak menyisakan ruang untuk perlawanan. Ia menoleh ke arah pengawalnya.
"Bawa dia." Dagunya menunjuk ke arah Orla. "Pastikan dia tidak kemana-mana."
Lalu ia menatap Pearl dan di mata itu Pearl melihat sesuatu yang lebih menyakitkan dari amarah. Kekecewaan. Dalam, nyata, dari seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak pernah kecewa lagi tapi ternyata masih bisa.
"Dan kamu," bisiknya, "akan belajar apa artinya benar-benar mengkhianatiku."
**
Perjalanan kembali ke mansion berlangsung dalam keheningan yang paling berat yang pernah Pearl rasakan.
Lorcan tidak berkata apa pun. Ia menatap keluar jendela dengan rahang yang mengeras, tangannya menggenggam sandaran pintu dengan tekanan yang membuat buku-buku jarinya memutih.
Pearl menangis dalam diam di sisi lain kursi belakang.
Ia tidak mencoba menjelaskan. Tidak ada gunanya, tidak sekarang, tidak dalam kondisi ini.
**
Lorcan tidak membawanya ke kamar.
Ia membawanya ke bawah, menuruni tangga sempit yang Pearl tidak tahu keberadaannya, menuju sebuah ruangan di lantai paling bawah mansion yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ruangan itu dingin, dindingnya batu, lampunya kuning redup dan tidak ramah.
Lorcan mendorongnya pelan ke kursi kayu di tengah ruangan.
"Tahu apa yang paling aku benci?" tanyanya, membuka kancing jasnya dan menggulung lengan kemejanya dengan gerakan yang sangat terukur. "Bukan kegagalan. Bukan kerugian. Pengkhianatan dari orang yang mulai aku beri ruang."
"Aku tidak mengkhianatimu!" suara Pearl pecah. "Orla mengancam Ibu, aku tidak punya pilihan selain pergi! Aku hanya ingin menghentikannya!"
Lorcan tertawa.
Suara yang kering dan menyakitkan.
"Pergi diam-diam. Bertemu di tempat tersembunyi. Dan kamu masih bilang ini bukan pengkhianatan?" Ia mendekat, mencengkeram dagu Pearl dengan tekanan yang membuat Pearl meringis. "Kamu sama seperti kakakmu. Kalian berdua tahu betul cara membuat seseorang mulai percaya, lalu menggunakan kepercayaan itu tepat saat waktunya paling menyakitkan."
"Lorcan, dengarkan aku--"
"Mulai sekarang tidak ada lagi kenyamanan." Ia melepaskan dagunya. "Tidak ada laporan tentang ibumu. Tidak ada akses. Tidak ada apa pun."
Pearl berdiri dari kursi "Jangan. Lakukan apa pun padaku, tapi jangan jauhkan aku dari Ibu. Aku mohon."
"Ibumu akan dipindahkan ke fasilitas yang tidak akan bisa kamu temukan." Suaranya tidak bergetar. "Kamu tetap akan menjadi istriku di depan publik. Kamu tetap akan menjalankan semua yang ada di kontrak itu. Tapi sampai aku merasa dendamku lunas, kamu tidak akan tahu di mana ibumu berada."
"Tolong--" Pearl jatuh berlutut, tangannya mencengkeram lengan baju Lorcan. "Aku akan melakukan apa pun. Apa pun yang kamu minta. Tapi jangan pisahkan aku dari Ibu. Dia satu-satunya yang aku punya."
Lorcan menatap Pearl yang berlutut di depannya.
Sesuatu melintas di wajahnya, sangat cepat, sangat singkat, sebelum ia melepaskan lengan bajunya dari genggaman Pearl dengan gerakan yang pelan tapi tegas.
"Kamu sudah menjadi milikku sejak kontrak itu ditandatangani, Pearl," bisiknya. "Kamu hanya lupa diri karena aku sedikit lengah beberapa hari ini."
Ia berjalan ke pintu.
Menutupnya.
Suara kunci berputar terdengar dari luar.
Kegelapan menelan ruangan itu sepenuhnya.
Pearl duduk di lantai batu yang dingin, memeluk lututnya, mendengarkan suara napasnya sendiri yang tidak teratur di tengah keheningan yang mencekik. Di luar, guntur menggelegar jauh, terdengar seperti sesuatu yang runtuh di tempat yang tidak bisa dilihat.
Ia tidak tahu berapa lama ia akan dikurung di sini.
Ia tidak tahu di mana ibunya sekarang.
Yang ia tahu hanya satu hal, malam ini ia telah kehilangan satu-satunya benang tipis yang sempat menghubungkannya dengan sesuatu yang terasa seperti harapan.
**
Di balik pintu yang terkunci, Lorcan berdiri diam di koridor.
Tangannya gemetar.
Ia mengepalkannya, memaksanya berhenti tapi suara Pearl yang memohon tadi masih menggema di tempat yang tidak bisa ia tutup dengan kepalan tangan mana pun.
Ia menekan punggungnya ke dinding, menutup matanya.
Kebencian itu masih ada. Masih nyata. Masih terasa seperti satu-satunya hal yang solid di dalam dadanya.
Tapi di sampingnya, sesuatu yang lain juga tumbuh, sesuatu yang tidak ia minta, tidak ia izinkan, dan tidak tahu bagaimana cara ia hentikan.
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓