Seralina Lexander adalah seorang wanita yang bekerja sebagai pengantar bunga dan dia anak yatim. Di siang hari Sera sangat terburu" pergi ke alamat tujuan, sebab dia hampir terlambat gegara membaca buku di perpustakaan, saat di perjalanan Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang membuat mobil tersebut menabrak Sera. darah mengalir dan bunga-bunga berserakan.
Li Qiang Xu adalah seorang wanita cantik, sebelumnya ia pernah di tidurin oleh Kaisar saat Kaisar mabuk, dan Qing di kabarkan hamil membuat permaisuri membencinya sebab dia seorang permaisuri tapi belum mempunyai keturunan. sedangkan Qiang hanya satu malam bersama Kaisar, sudah di kabarkan hamil.
semenjak Qiang sudah berstatus Selir, Kaisar menyanyangi Qiang dari pada permaisuri begitupun Selir lain. Ibu Suri pun terus menerus menemui Qiang membuat permaisuri semakin murka. Permaisuri pun membayar pelayan dapur untuk mencampurkan obat fiktif kepada makanan Qiang, hingga beberapa hari Qiang di kabarkan mengalami keguguran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Li Qiang Xu Mempunyai Darah Phoenix?
Wu Xia menoleh ke arah Qiang Xu, lalu melangkah hendak mendekatinya. Namun Xing Jin sigap melompat ke depan, menghalangi jalan ibunya.
"Ibu, jangan sakiti wanita ini!" seru Xing Jin tegas.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Wu Xia melambai dengan kuat salah satu ekornya—tubuh Xing Jin terlempar jauh hingga menghantam dinding, terdengar bunyi nyaring memecah keheningan. Ruyi yang masih terlelap di kursi sama sekali tidak terganggu, sihir yang dilakukan Ming sebelumnya membuatnya tetap tertidur pulas tak tergoyahkan.
Qiang Xu terpaku mematung, matanya terbelalak menatap Xing Jin, lalu menelan ludah dengan susah payah.
Wu Xia berhenti sejenak, hidungnya bergerak pelan seolah mencium sesuatu yang aneh. Tatapannya semakin menajam tertuju pada Qiang Xu.
"Kau... sepertinya bukan manusia biasa," gumamnya pelan namun penuh keyakinan.
Qiang Xu tetap diam mematung di tempat, kakinya terasa berat tak sanggup bergerak sedikit pun. Rasa takut menyelimuti sekujur tubuhnya, hingga ia tak berani mengeluarkan satu pun suara.
Xing Jin bangkit perlahan meski tubuhnya terasa nyeri, lalu berseru dengan suara masih serak.
"Ibu, dia hanya wanita biasa! Yang Ibu cium tadi hanyalah wangi bunga yang ada di pakaian yang dia kenakan!"
Wu Xia tidak segera menjawab. Ia melangkah perlahan mendekat lagi, matanya menyelidik tajam dari ujung kaki hingga kepala Qiang Xu, sementara sembilan ekornya melambai pelan di udara seolah menimbang kebenaran ucapan itu.
"Wangi bunga..." gumamnya pelan, masih tak sepenuhnya percaya. "Namun aroma itu bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih kuat... hal yang tak seharusnya dimiliki oleh manusia biasa."
"Sepertinya dia memiliki darah burung Phoenix," ucap Wu Xia perlahan sambil menatap tajam lurus ke mata Qiang Xu.
"A-aku sungguh hanya manusia biasa! Ayahku pun hanyalah manusia biasa..." sanggah Qiang Xu gemetar.
Wu Xia tak berkedip sedikit pun. "Lalu... apakah ibumu juga manusia biasa?" tanyanya pelan namun menekan, seolah satu jawaban itu bisa menentukan segalanya.
Qiang Xu terdiam mematung. Ia berusaha sekuat tenaga menelusuri balik ingatan yang dimilikinya saat ini—sejak Sera berpindah ke dalam tubuh Qiang Xu, yang selalu tampak jelas hanyalah sosok ayahnya, ibu tiri, serta adik tirinya. Tak sekilas pun wajah atau keberadaan ibu kandungnya pernah muncul di benaknya, seolah sosok itu tak pernah ada sama sekali.
"Aku... aku tidak tahu," jawabnya akhirnya dengan suara lirih penuh kebingungan. "Dalam ingatanku... sama sekali tak ada jejak ibu kandungku."
Wu Xia tersenyum miring penuh dugaan. "Aku yakin kau memang membawa darah burung Phoenix, namun sepertinya ada yang sengaja menyegel kekuatan itu di dalam tubuhmu—supaya tak ada siapa pun yang bisa menemukannya," ucapnya perlahan.
Ia lalu menunjuk ke arah Ming yang tetap berwujud kucing hitam, dan Xing Jin yang kini berdiri sambil menahan rasa sakit. "Buktinya jelas, kucing hitam itu dan rubah nakal ini—kau bisa berbicara dan memahami mereka, padahal mereka sering berada di wujud asli tanpa berubah menjadi manusia."
Xing Jin berjalan mendekati ibunya dengan cepat. "Ibu, jangan buat dia berpikir macam-macam," ucapnya berusaha meluruskan suasana.
Wu Xia seketika menatap tajam namun berkilat jenaka ke arah putranya. "Kau terlihat sangat cemas sekali... apa kau menyukainya? Jika memang kau menyukainya, kau bisa langsung menikah dengannya sekarang juga," ucap Wu Xia santai.
"Ibu dia..." Xing Jin tergagap, wajahnya memerah seketika.
"Jika kau benar-benar menyukainya, Ibu berikan waktu padamu untuk memenangkan hatinya," bisik Wu Xia lewat batin, hanya bisa didengar oleh Xing Jin seorang diri.
Belum sempat Xing Jin menjawab, sosok Wu Xia lenyap seketika bersamaan dengan lenyapnya hembusan angin kencang, seolah tak pernah ada di sana sejak awal.
"Aku sudah lama berada di sini, mengisi tubuh ini... Kenapa baru sekarang aku tahu kalau pemilik aslinya ternyata membawa darah Phoenix? " batin Qiang Xu, terpaku tak percaya.
"Maafkan ucapan ibuku," ucap Xing Jin buru-buru. "Mungkin saja indra penciuman ibuku sedang terganggu, jadi dia sembarangan menyebut kau memiliki darah Phoenix."
Qiang Xu menatap bergantian ke arah Xing Jin, lalu ke Ming. "Jika memang benar aku memilikinya, bagaimana cara membuktikannya?" tanyanya pelan.
"Ibu Xing Jin sempat bilang, kekuatan itu tersegel rapat di dalam tubuhmu," sahut Ming.
"Lalu bagaimana cara melepaskan segel itu?" tanya Qiang Xu lagi.
Xing Jin terdiam sejenak sebelum menjawab lembut, "Segel itu dipasang dengan sihir tingkat tinggi, tujuannya jelas, melindungimu, agar tidak ada yang berburu dan memaksamu menyerahkan kekuatan itu."
Ming melompat ke atas meja, sepasang matanya berkilat samar. "Hanya ada satu cara yang diketahui, segel itu akan terbuka sendiri saat nyawamu benar-benar di ujung tanduk, atau saat hatimu memancarkan keinginan yang sangat tulus dan kokoh untuk melindungi apa yang paling berharga bagimu."
"Jadi tidak bisa sekadar dibuka lewat sihir biasa?" tanya Qiang Xu masih ragu.
"Benar," Xing Jin mengangguk mantap. "Jika dipaksa buka, bukan hanya kau akan terluka parah—kekuatan purba itu bisa meluap tak terkendali dan menghancurkan tubuhmu sendiri sebelum kau sempat menguasainya."
"Apa ibuku adalah seorang Phoenix juga? Makanya aku memiliki darah Phoenix... Tapi aku tak pernah sekalipun melihat seperti apa rupa ibu kandungku," gumam Qiang Xu pelan, matanya sayu menatap kosong ke depan.
"Mungkin saja ibumu sendirilah yang memasang segel itu," ucap Xing Jin pelan.
"Hm... Aku akan pergi ke kediaman ayahku untuk mencari tahu... Oh iya, ada apa dengan Ruyi?" tanya Qiang Xu tiba-tiba teringat.
"Dia sedang tidur nyenyak," jawab Ming.
"Benarkah? Kalau sekadar tidur biasa, kenapa tadi dia sama sekali tidak terbangun mendengar keributan dan suara tinggi di sini?" tanya Qiang Xu makin bingung.
"Mungkin dia sedang terjebak dalam mimpi yang sangat dalam," tambah Xing Jin.
"Kalau begitu aku akan membangunkannya sekarang juga," ucap Qiang Xu sambil melangkah maju.
Seketika kabut tipis menyelimuti tubuh Xing Jin, berubah kembali menjadi wujud rubah berwarna oranye berpadu kilau keemasan yang halus di setiap helai bulunya. Qiang Xu pun berjalan mendekati Ruyi yang masih terlelap di kursi, lalu perlahan menyentuh bahu pelayan setianya itu.
"Ruyi... bangunlah, sudah aman sekarang," bisik Qiang Xu lembut.
Ruyi perlahan membuka matanya, lalu menatap Qiang Xu sejenak sebelum bangkit duduk tegak.
"Maaf Nyonya Qiang Xu, aku tidak sengaja tertidur," ucap Ruyi pelan sambil mengusap matanya.
"Tidak apa-apa. Sekarang ayo kita berangkat ke kediaman ayahku," ucap Qiang Xu tenang.
"Baik, Nyonya," jawab Ruyi patuh sambil segera berdiri dan merapikan pakaiannya.
Saat Ruyi sibuk merapikan kerah dan lipatan pakaiannya, Ming dan Xing Jin seketika melayang perlahan. Tubuh mereka menyusut mengecil, lalu berubah halus menjadi dua gelang indah yang mendarat pas di pergelangan tangan Qiang Xu, satu berwarna hitam pekat berkilau samar perak, satu lagi berwarna oranye hangat dengan kilau keemasan yang lembut.
"Eh... kalian bisa berubah jadi gelang juga? " tanya Qiang Xu lewat batin, terkejut melihat perubahan itu.
"Tentu saja. Dengan begini kita bisa ikut ke mana pun kau pergi tanpa menarik perhatian siapa pun, " sahut suara Ming di dalam benaknya.
"Dan kita bisa langsung menjagamu kapan saja, tanpa perlu berjalan di belakang, " tambah suara Xing Jin pelan.
"Ming, kau sudah lama bersamaku, kenapa baru sekarang kau berubah menjadi gelang? " tanya Qiang Xu lewat batin.
"Itu karena... kekuatanku belum pulih seutuhnya, tidak seperti Xing Jin bisa memulihkan tenaga hanya dalam sekejap," jawab Ming.
Qiang Xu mengangguk pelan, paham sepenuhnya. Matanya kembali menatap kedua gelang di pergelangan tangannya—satu berkilau gelap, satu lagi memancarkan hangat keemasan—sambil merasakan ketenangan perlahan menyelimuti hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...