🖐❤JANGAN LUPA UBAH KE FAVORITE KALIAN YA, biar ngga ketinggalan update setiap harinya.
like dan vote biar authorr nya semangat nulis🔥🔥
...
Menceritakan kisah Raya. Gadis flat dengan persahabatannya bersama Alula gadis polos.
Entah apa yang membuat Raya selalu dihantui kisah persahabatannya yang kian mirip dengan cerita Debu dan Bintang. persahabatnnya mulai merenggang, namun Alula tetap lah bintang yang bersinar berbeda dengan Raya yang hanya menetap dalam zonanya.
Semakin dalam, sosok misterius membuka awal kisah romantis remaja SMA.
“Motor sialan !!! apes banget sih. Gerutu Raya dalam hati. Gara-gara motor sport merah yang barusan lewat headsetnya menjadi korban tabrak lari.
Bagaimana persahabatan mereka akan di uji dari sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deputi g rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Perkara Buku
...hai...hai...hai lanjut lagi🥰🖐 semoga masih terhibur ya......
...jangan lupa like, coment dan vote nya ya...
.......
.......
.......
.......
...be enjoy...
Setidaknya perkataan Tama yang menenangkannya berhasil membuat hati Raya menjadi sedikit tenang.
Bersyukur juga ketika malam, Genta, sang ayah mengajak Raya untuk makan malam diluar, menambah mood Raya semakin fres. Kata Ayahnya, mereka akan makan di dalam Mol, namun ia tidak tahu jika makan malam kali ini juga mengikutsertakan keluarga Lula.
Raya tidak ada masalah sebenarnya, hanya saja ia kepikiran dengan Lula, apakah gadis itu masih tetap mempertahankan gaya bicaranya yang telah dia ubah di tengah keluarganya.
“ Raya ! udah siap belom?” teriak Genta dari balik pintu kamar Raya.
Merasa cukup siap dengan pakaian kasualnya, Raya berjalan menuju pintu. “ Udah kok yah..”
Keluar dari rumah, tidak lupa menguncinya. Ayah dan anak itu berjalan masuk kedalam mobil.
“ Oh iya, nanti kita makannya sama Mami,Papi loh Ray.” Ucap Genta dari balik stir.
“Berarti Lula ikut dong yah?”
“ Ya.. kemungkinan, masa ditinggal sendirian di rumah” Ucap Genta dengan nada bercanda.
Mengangguk Raya tanda mengerti ber-oo tanpa suara.
Sampai di perkiran Mol, ternyata itu berbarengan dengan munculnya Luna dan Bima, orang tua Lula entah dari arah mana. Merasa ada yang kurang, Raya terus mencari sosok Lula yang tidak terlihat.
Luna yang tahu jika Raya sedang mencari anaknya, angkat bicara.
“ Lula tiba-tiba ketoilet dulu tadi, katanya kita duluan aja, dia udah tahu kok nanti makan dimana,” jelas Luna sambil mengelus sayang kepala Raya.
Raya hanya tersenyum menanggapinya, membalas dengan memeluk tubuh ramping Luna dari arah samping. Orang awam mungkin akan berpikir jika mereka adalah ibu dan anak.
Akhirnya semua memutuskan untuk masuk ke dalam Mol terlebih dahulu.
Mengambil tempat di salah satu meja yang cukup besar, cukup untuk 2 keluarga itu makan malam di salah satu kafe.
Begitu pelayan datang dan menuliskan menu pilihan mereka semua, barulah Lula datang. Tapi ia tidak sendiri, melainkan bersama Angkasa.
Pandangan yang langka tidak biasa, membuat mata semuanya mengarah kepada Lula dan Angkasa.
“ Sayang, kamu bawa siapa kok ganteng banget?” tanya Luna, menatap Angkasa tanpa kedip. Bima yang melihat gelagat istrinya mengagumi sang brondong, menutup dan menarik kepala istrinya untuk kembali menghadap kepadanya.
“ Oh iya.. mmm Mi,Pi,Om kenalin ini temen Lula, namanya Angkasa, dan Angkasa, ini mami ak—“
“ Ah,... ya ampun kamu toh yang namanya Angkasa,” teriak Luna lagi tidak biasa. Baru ingin berdiri menuju Angkasa, Luna mendadak duduk kembali, saat sang suami menahannya bahkan menukar posisi duduk mereka. Luna berakhir dengan mimik manyunnya.
Jangan tanya bagaimana ekspresi Raya dari tadi. Bahkan dirinya dan sang ayah hanya diam, memang begitu lah sikap mereka. Raya juga masih ingat jika ia sudah menganggap Angkasa adalah orang asing.
Entah bagaimana awalnya, pada akhirnya Angkasa harus bergabung bersama kedua keluarga itu untuk makan malam. Tadinya ia sudah mencoba untuk menolak namun Luna, mami Lula bersikeras menahannya.
“ Kalau boleh tahu, Angkasa kenapa bisa ada disini?, jalan-jalan ya?, bareng temen? Atau keluarga?” tanya Luna bertubi-tubi.
“ Enggak kok tante, saya tadi cuma lagi ngater barang, ketemuannya di Mol ini tadi,” jelas Angkasa.
“ Barang? Bukan yang macem-macem kan ?” suara berat keluar dari mulut Genta.
“ Engga kok om, barangnya itu kaos ju—“
“ Ow.. yang usaha kamu itu ya Sa..” ucap Lula memotong, ia ingat jika Angkasa itu punya sebuah usaha.
Mendengar ucapan Lula tentang usaha Angkasa, semua mata tertuju lagi pada satu titik. Sangat menarik menurut mereka sekaligus penasaran.
“ Kamu punya usaha, pribadi?” tanya Bima penasaran.
“ I..Iya om, tapi usaha bareng temen saya juga,” jelas Angkasa.
“ Wah... hebat dong kamu nih, masih muda, sekolah tapi udah punya usaha pribadi, udah cocok nanti tinggal nikah aja hahaha” ucap lebay Luna.
Setelahnya,, semua kembali fokus ke makanan masing-masing. Mungkin saat ini hanya Lula lah yang menjadi pemeran utama, karena bisa di bilang dirinya yang paling bersinar. Setelah berhasil membawa sosok Angkasa, kini Raya hanya diam, tidak seperti dirinya yang biasa ceria saat di sekeliling keluarganya.
Walau begitu, tidak jarang tatapan Raya dan Angkasa bertemu, tapi tidak lebih hanya saling melihat kemudian saling memutus.
***
“ Ya udah, gue duluan ya Bim, gue mau ngajak anak gue keliling dulu,” Pamit Genta sambil menepuk pundak Bima.
Raya? Ia hanya pamit sekedarnya, tersenyum pada Luna dan Bima, lalu dengan Lula hanya melambai.
Ayah dan anak itu berjalan berlainan arah, saling bergandengan sangat terlihat kasih sayangnya seorang Genta. Raya sebenarnya ingin bertanya kemana Genta akan membawanya, ia rasa ayahnya sangat jarang mau berkeliling di tengah Mol.
“ Ayah,, kita mau kemana sih?” tanya Raya akhirnya.
“ Kita lihat-lihat buku gimana?” saran Genta.
Belum juga menyetujuinya Genta sudah berlalu masuk kedalam toko buku. Pasti bukan tanpa alasan kan ayahnya seperti itu, menurut Raya. Namun pikirannya tidak bisa menebak.
Memutuskan untuk mengikuti saja ayahnya, Raya ikut melihat-lihat buku di sana.
Dalam beberapa menit Raya sudah mendapatkan buku novel yang ia inginkan, kemudian berjalan kearah ayahnya.
Berhenti sejenak sebelum benar-benar sampai. Raya melihat ayahnya seperti sedang berperang dalam dunianya sendiri. 2 buku di tangan namun tidak kunjung menentukan pilihan.
Diam-diam dari arah belakan Genta, Raya menghintip. Bibirnya membaca judul buku yang di pegang oleh Genta.
Hah?? Istri kedua?
Tips dekatnya ibu tiri?.
Raya yakin iya tidak salah membaca. Memiringkan kepalanya, mencoba menebak kecurigaannya sejak tadi.
Sadar tiba-tiba Mata Raya melotot, ternyata ia menemukan jawaban absurd dari pikirannya.
Jangan-jangan-.
“ Ay—“
Baru ingin mengatakan sesuatu kepada ayahnya. Genta malah pergi berlalu berpindah tempat ke rak buku di depannya tanpa tahu jika Raya sudah ingin menuntut penjelasan.
Mata elang Raya tidak lepas dari gerak gerik Genta, ia harus mengorek semuanya setelah pulang nanti.
_
Dari arah yang lain, seorang gadis tidak sengaja melihat hal menarik di depannya.
“ Bentar-bentar itu kan Raya,, tapi dia..dia, eh dia sama cowok astaga,” monolog tak biasa dari gadis itu.
“ Lo ngapain sih?” tanya gadis satunya dari arah belakang. Melihat temannya dengan wajah terkejut tidak percaya membuatnya ikut penasaran.
“ Lo pasti ngga percaya kan, tadi gue lihat Raya-jalan-sama-cowok,” terang gadis itu lagi penuh penekanan.
Entah apa yang di pikirkan lawan bicaranya, salah satu gadis tersenyum misterius.
Kena lo Ray. Katanya dalam hati.
.
.
.
.
salam manis dari author 🥰❤
Mampir ya ke Novelku, WITHOUT YOU dan MENGENANG JEJAK MASA LALU
*hujan dibalik punggung
*suamiku cek ganas
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganas
tinggalin jejak jg di Novel ku ya ASIYAH AKHIR ZAMAN