Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.
Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.
Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.
Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.
Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Entah mengapa, hari Senin ini aku sangat ingin mampir ke kantin Starlight Bimbel. Biasanya, aku hanya akan menghabiskan waktu di kelas dengan menonton video favoritku. Jika lapar pun, aku tak segan titip ke salah seorang teman kelasku. Namun, hari ini berbeda. Berhubung Pak Glenn sedang berada di ruang tutor, aku memutuskan untuk segera menuju kantin.
Oh, ya. Hari ini aku berhasil mendapatkan kembali permukaan pipiku yang mulus. Bekas luka sayatan akibat kejadian tempo hari sudah benar-benar bersih. Ah, senangnya!
Kemarin, aku baru mendapat kabar bahwa ujian kejar paket B akan dilaksanakan mulai hari Senin depan, dengan jangka waktu empat hari. Jujur saja, sejak kejadian Bagas malam itu, pikiranku menjadi sedikit terganggu. Tapi, berkat om-om bastard yang punya sejuta cara untuk menggodaku, bayang-bayang akan ekspresi Bagas malam itu jadi terlupakan. Harus kuakui, kehadiran Pak Glenn dan tingkah bastard-nya sedikit bermanfaat kali ini.
Setelah cukup lama mengantre, akhirnya giliranku untuk memesan semangkuk bakso tiba. Tentu, aku tidak akan melewatkan kesempatan emas ini. Kuambil lima sendok sambal dan memasukkannya ke dalam mangkuk. Tenang, aku sudah meminum obat maag di kelas tadi.
"Berapa, Bang?" tanyaku begitu si abang penjual memberikan bakso sesuai permintaanku.
"Tujuh ribu sama es tehnya, Dek."
Aku bergegas meraih uang dari saku celana jeans-ku. Namun, saat aku akan mengulurkan selembar uang sepuluh ribuan, seseorang lebih dulu menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan.
"Sekalian sama dia, Bang," ucapnya sambil menunjukku menggunakan ibu jari. Seorang pemuda. Umurnya tidak berbeda jauh denganku, kurasa. Aku tidak dapat menangkap gambaran wajahnya dengan jelas, karena pemuda itu mengenakan topi putih polos.
"Eh ... nggak us—"
Dia menoleh, membuat kata-kata yang semula akan meluncur dari bibirku kembali tertelan. "Bagas?!"
Bagas hanya mengulas senyum, lalu mengajakku duduk di bangku depan warung bakso. Manik matanya menatap mangkuk bakso milikku, dia menatapku dengan alis bertaut. "Bukannya lo nggak boleh makan pedas?"
Aku tersenyum nyengir. "Tenang aja, udah ada penangkalnya, kok."
Hening.
Demi menekan euforia canggung yang entah sejak kapan menyergap, aku mulai melahap bakso di hadapanku.
"Lo ngapain di sini?" tanyaku, mengusir suasana hening nan canggung yang menyesakkan.
"Mulai hari ini, gue les jurusan biologi di sini. Persiapan buat UN dan SBMPTN."
Aku hanya manggut-manggut sebagai balasan. Bingung harus berkata apa.
"Ekhem. Mel, soal malam itu ... nggak usah lo pikirin, ya?" kata Bagas. "Gue beneran nggak ada niat apa-apa, kok. Gue sadar lo bakal jadi milik orang lain. Maka dari itu, gue cuma mau jujur ke lo, supaya lega. Lagipula, kayaknya Pak Glenn memang yang terbaik buat lo. Dia keren, mapan, dewasa, cocok sama lo. Jadi, lo nggak usah mikirin gue, ya? Kita tetap sahabatan aja."
Lagi-lagi, aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum tipis, persis seperti orang linglung yang lupa akan jalan pulang. Beruntung, tak lama kemudian, Tita datang.
"Di sini lo ternyata." Tita duduk di sebelahku. "Dicariin Pak Glenn, tuh. Tadi gue papasan sama orangnya."
"Ngapain?" tanyaku.
"Ya, mana gue tahu."
Tatapan Tita beralih ke atas meja. Dia mencomot tahu goreng di mangkuk Bagas tanpa permisi, membuatku dan Bagas sama-sama tercekat.
"Lo main comot-comot aja, sih!" seru Bagas, yang ditanggapi Tita dengan santai.
"Sama lo ngapain izin segala? Harusnya, lo yang peka sebagai cowok. Begitu gue dateng, tawarin, kek!"
"Ogah banget! Lo siapa gue emangnya? Cuma manusia yang pernah singgah di hati, terus pergi tanpa pamit!"
Ya. Bagas dan Tita adalah mantan di masa SMP. Kedekatan mereka sudah dimulai sejak duduk di bangku SD. Aku juga baru tahu beberapa bulan lalu, saat Bagas dan Tita bertemu di rumahku, lalu cek-cok dengan bawa-bawa kata mantan.
"Dah, ya, lanjut aja perdebatan suami-istri. Gue ke kelas dulu," ucapku sambil meneguk es teh manis yang tersisa sedikit hingga tandas.
"Dih! Ogah banget punya suami pelit!"
"Lo kira gue mau punya istri demen clubbing macam lo?!"
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala seiring langkahku meninggalkan area kantin. Aku harus segera menemui om-om bastard itu di kelas, atau dia akan melakukan sesuatu yang jelas akan merugikan untukku.
***
Aku berdecak pelan begitu mendapati sosok Pak Glenn yang sejak pulang dari Smart Bimbel, tak henti berkutat dengan laptopnya. Rupanya, decakan itu mampu menjangkau telinga Pak Glenn.
"Kenapa kamu?" tanyanya, tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Ponselku kehabisan baterai. Oleh sebab itu, aku keluar dari kandang dan menuju ruang tengah untuk menonton televisi.
"Nggak apa-apa," jawabku.
"Mau sesuatu?"
Aku, tuh, bosen, Om! Peka, dong, sama calon istri! Eh? "Nggak."
Pak Glenn merebahkan tubuh di sandaran sofa. Laptopnya tampak telah ditutup. "Akhirnya, selesai juga," gumamnya.
Aku berlagak cuek. Tatapanku terus fokus ke layar televisi yang menampilkan jeda iklan.
Melalui ekor mata, aku dapat melihat Pak Glenn bergerak mendekat. "Kamu beneran nggak mau apa-apa? Mumpung saya lagi nganggur, lho."
Aku menggeleng singkat sebagai jawaban.
"Masih jam delapan. Mau jalan-jalan? Sekalian kita cari makan. Kamu belum makan malam, 'kan?"
"Ke mana?" Kali ini, aku menoleh.
"Kamu yang pilih tempatnya."
***
Sepotong iga bakar menjadi menu pilihanku. Tampilan aslinya, tidak jauh beda dengan gambar dalam buku menu. Sesuai ekspektasiku. Akan lebih tampak nikmat jika ada sambal sebagai pe—
"Loh?!" Aku memekik tertahan begitu Pak Glenn mengambil alih sesendok sambal—yang sudah siap kutuangkan ke dalam piring—kembali mendarat dalam wadahnya.
"Jangan harap saya izinkan kamu makan sambal itu," ucapnya, telak.
"Sedikit aja ... ya?" Kutampilkan ekspresi puppy eyes andalanku, berharap Pak Glenn luluh begitu melihatnya.
"No!"
"Please ...." Aku masih enggan menyerah. "Sedikit ... aja!"
"Tidak!"
"Sesendok aja—"
"Nurut. Atau saya cium kamu di sini."
Lagi-lagi ancaman itu! Hah! Memuakkan sekali! Om-om bastard sialan! Menyebalkan!
"Makan, atau saya ci—
Enggan mengizinkan Pak Glenn menyelesaikan kalimat horor andalannya, aku melahap makanan di hadapanku, seraya menatapnya nyalang.
Berbanding terbalik dengan ekspresiku, om-om bastard itu malah ketawa-ketiwi. Layaknya ibu-ibu yang baru kalap dalam diskon besar-besaran di mall.
Tunggu! Meskipun tanpa sambal, makanan ini boleh juga. Boleh banget malah! Ini makanan tanpa sambal pertama yang pas dengan selera lidahku.
Terlalu bersemangat, hingga pada akhirnya aku tersedak. Dengan sigap, Pak Glenn meraih lemon tea milikku, lalu mengulurkannya hingga ujung sedotan berada tepat di bawah bibirku.
"Pelan-pelan, dong, Sayang."
Bukannya mereda, tenggorokanku semakin terasa panas karena mendengar panggilannya barusan. Dasar om-om bast—ah! Cukup, Melati!
***
Karena tidak tahu harus melakukan apa, setelah makan, kami memutuskan pulang. Oh, tidak! Aku memutuskan untuk pulang.
Dia belum jadi suamiku!
Dua jam berkutat dengan rumus-rumus matematika, tak lantas membuat kantuk hinggap di pelupuk mataku.
Sebuah panggilan tiba-tiba masuk saat aku tengah asyik menonton video. Dahiku berkerut heran melihat nama yang tertera di layar ponsel. 'Calon Suamiku'.
Calon Suamiku? Pak Glenn? Si om-om bastard itu?! Perasaan, aku tidak pernah menyimpan nomor kontak Pak Glenn, tahu berapa nomor ponselnya saja tidak. Lagipula, kami sedang berada di rumah yang sama, mengapa tidak memanggilku saja?
Oh! Om-om bastard itu pasti melakukannya saat dia memegang kendali penuh atas ponselku waktu itu.
Nada dering telepon terputus. Namun, kembali berbunyi dalam jangka waktu tiga detik. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aku segera menekan tombol answer.
"Hallo?"
"Kenapa belum tidur?"
"Hah?"
"Kenapa belum tidur?"
Dia tahu dari mana? "Memangnya kenapa?"
"Sudah jam sebelas, waktunya tidur, Melati."
Aku beranjak dari kasur, berniat untuk kembali berkutat dengan soal-soal di luar matematika yang belum kupahami. Bahasa Inggris, misalnya.
Baru saja aku akan berbicara pada Pak Glenn, suara dengan nada rendah nan tegas itu kembali terdengar. "Mau ngapain lagi kamu? Ini sudah malam, Melati. Waktunya tidur."
Rasa heran semakin menyergapku. Dia tahu dari mana, sih? Ada mata-mata, kah? Atau ....
"Kenapa malah garuk-garuk kepala? Balik ke kasur, tidur. Oke?"
"Om tahu dari mana, sih?"
Pak Glenn tergelak. "Coba lihat ke belakang." Refleks, aku menoleh. Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang berubah.
"Masih belum mengerti?" tanyanya, yang kujawab dengan gelengan. Sengaja, untuk mengetes apa Pak Glenn benar-benar sedang mengawasiku saat ini.
"Oh, astaga! Ke mana perginya kecerdasan kamu itu, Melati?"
Tuh, kan! Dia benar sedang mengawasiku. Tapi, dari mana? "Di mana?"
"Siapa?"
"Om."
"Di kamar tamu."
"Dari mana Om tahu yang saya lakukan?"
"Kan, sudah saya bilang, lihat ke belakang."
"Serius, deh, Om!"
"Dua-rius, Melati!" Ih! Maunya apa, sih?!
Enggan lebih lama mengabaikan diriku yang dibuat kesal oleh om-om bastard itu, aku memutuskan panggilan secara sepihak. Masa bodoh jika dia akan mendatangi kamarku. Bodo amat!
Baru saja melintasi pikiran, suara ketukan pintu terdengar. Dengan malas, aku beranjak dari meja belajar dan membukanya.
Aku tidak tahu apa yang lucu, tetapi aku menangkap ekspresi menahan tawa dari wajahnya. Oh! Mungkin, karena aku sedang memanyunkan bibir dan menatapnya nyalang. Heh! Memangnya lucu?!
"Apa?!" tanyaku ketus.
Alih-alih menjawab, Pak Glenn malah mencubit kedua pipiku dengan gemas. Mentang-mentang sudah sembuh!
"Kamu sangat menggemaskan." Sorry to say, nih, om baru tahu, ya?!
Melihatku hanya diam dengan ekspresi datar, dia mendaratkan kedua telapak tangan kekarnya di bahuku, lalu memutarnya hingga seratus delapan puluh derajat.
"Tuh!" ucapnya, sambil menunjuk sudut ruangan di atas kasur bagian kiri. "Di situ."
Aku memicingkan mata, mengamati lebih dalam benda kecil berwarna hitam yang menempel di sana.
"Astaga!" Aku terkesiap. Bagaimana tidak? Ada CCTV di kamarku!
Dengan sekali sentakan, aku membalikkan badan dan kembali menatapnya. "Om ngapain pasang CCTV di kamar saya?!"
"Biar saya bisa ngintai kamu dua puluh empat jam."
"Hah! Emang Om kira saya bocah?!"
"Kamu memang masih bocah, Melati. Kalau tidak, kamu sudah menjadi istri saya sekarang."
Sial! Aku kalah telak!
"Udah, ah! Pergi sana, Om! Saya mau tidur. Ngantuk!" Aku berseru seraya mendorong punggungnya sekuat tenaga. Napasku terasa ngos-ngosan begitu aksi itu selesai. Meski demikian, aku berhasil.
"Selamat malam, Calon Istriku," ucapnya, dengan senyum yang membuat seluruh isi perutku ingin mencuat. "Diba—"
Sebelum Pak Glenn berhasil menuntaskan satu kata, aku menarik kedua ujung bibirku dengan paksa, demi menciptakan senyum manis—palsu—terbaik. "Selamat malam, Calon Suamiku!"
'Brak!'
Aku menutup pintu rapat-rapat sebelum om-om bastard itu sempat merespon. Mulai detik ini, aku tidak bisa merasa bebas di kamarku sendiri. Semua ini gara-gara Pak Glenn!
Dasar om-om bastard sialan!
*
*
*
*
*
HAI, GUYS! APA KABAR?
AKU MAU NGASIH TAHU SESUATU, NIH!
EKSPRESI PAK GLENN KETIKA MENATAP MELATI:
HAI, KALIAN PARA COWOK! ADA YANG SAMA? 🤣🤣
Jangan lupa like, vote, rate, dan komen, ya! :)
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
ngilu bayang kan nya..