NovelToon NovelToon
Unforgettable

Unforgettable

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:865.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Kasih Kurnasih

Arga Aldiano siswa tampan berprestasi, multi talent, dan idola di SMA kencana. Dipuja kaum hawa adalah takdirnya. Dingin dan cuek itulah sifatnya. Peduli? bukanlah bagian dari hidupnya. cowo yang dijuluki sebagai Badboy ini adalah cowo yang paling di takuti seisi sekolah. Lalu apa jadinya jika cowo seberbahaya Arga justru di lindungi oleh seorang cewe culun? Apakah mungkin? bagaimana bisa?

Fika Pricilla, adalah gadis biasa yang memiliki ciri khas yaitu dua rambut berkepang dan kaca mata besar menutupi matanya yang sipit.

Berbagai pertentangan terus menggeluti keduanya. lalu bagaimana mungkin cewe berambut kepang itu mampu melindungi seorang Arga?

Simak ceritanya disini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasih Kurnasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saingan

"Apa yang akan kau lakukan?"

Suara bass milik seorang laki-laki berkacamata duduk di atas kursi kebesarannya. Asap rokok yang mengepeul ke udara memenuhi ruangan tersebut.

Laki-laki berjas hitam yang menghadap ke kaca gedung menatap bentangan kota sambil menyesap rokoknya. Menyesapnya hingga ia kembali merasa tenang. "Balas dendam."

"Kau yakin?" Tanya laki-laki berkaca mata.

"Menurutmu?" Laki-laki berparas tampan itu berbalik badan lalu menatap dingin ke arahnya. "Sebentar lagi. Waktunya akan tiba."

"Dia masih SMA, apa kau tidak terlalu pengecut membalas seorang anak SMA?"

Laki-laki berjas hitam itu membuang kuntung rokoknya ke sembarang arah. "Dia bukan hanya sekedar anak SMA, tapi dia adalah sumber penghalang kehidupanku. Kau tau aku tidak akan pernah melepaskannya."

Laki-laki berkaca mata tersenyum miring. "Kau mempersiapkan waktu bertahun-tahunmu hanya untuk melawan seorang anak ingusan? Yang benar saja."

Laki-laki tampan itu memasang wajah dingin. Tatapannya begitu tajam. "Kedengarannya memang menggelikan, tetapi dia bukanlah seorang ingusan biasa. Dia cukup cerdik dan licik. Kau tau, aku membabaskan dia selama bertahun-tahun hanya untuk mencari kelemahannya."

"Lalu... bagaimana hasilnya?" Tanya laki-laki berkaca mata sbil menompang satu kakinya.

"Tentu saja aku sudah mendapatkannya. Tinggal tunggu tanggal mainnya saja. Sebentar lagi, hari itu akan tiba. Dan dendamku akan segera terbalaskan."

*****

Sudah 15 menit lamanya sebuah mobil sport berwarna merah ini melaju dengan kecepatan standar di pertangahan jalan kota yang cukup lenggang.

Dan selama itu pula hanya ada keheningan diantara kedua insan yang kini tengah duduk bersampingan menatap kosong kearah depan jalan.

Fika yang sejak tadi terus berkelit di roknya juga tak henti-hentinya enggerutu kesal di dalam hatinya. Bagaimana tidak? Saat ia keluar dari ruangan bu Shinta, Arga tiba-tiba saja datang lalu menyeretnya paksa ke dalam mobilnya. Hal itu membuat Fika kesal sekaligus bingung. Tingkah lagu Arga yang selalu semena-mena menjadi hal yang paling ciri khas dari cowo berdarah dingin itu.

Ingatannya begitu kalut, belum lagi saat ia mengingat perkataan bu Shinta tadi. Kalau Arga akan menkadi guru privatenya, membayangkannya saja sudah membuat Fika merindinh sendiri. Apa mungkin Fika akan tahan berada di dekat Arga? Bagaimana kalau Arga memarahinya habis-habisan? Rasanya sudah cukup Lussy saja yang selalu memerahinya saat belajar. Tapi kalau Arga? Mungkin bisa membuat Fika menjadi mayat hidup di tempatnya.

"Ekhm.." Fika mendehem berusaha memecah keheningan. Namun hal itu sama sekali tidak mengusik posisi Arga yang sedang menyetir dengan satu tangan kanannya.

"Ehmm.. Arga-"

"Gue di suruh mamah buat ngajak lo beli pot bunga. Jangan mikir yang aneh-aneh."

Perkataan Arga yang tanpa pertanyaan namun mampu menjawab pertanyaan di benak Fika itu membuat ia hanya menatapnya tidak percaya. Fika kembali memandang ke arah depan. Matanya ikut melirik saat Arga membelokkan mobilnya dan menuju ke arah sebuah toko besar disana.

Setelah memarkirkan mobilnya, Arga mematikkan mesin mobilnya lalu segera turun dari mobil tanpa berkata apapun kepada Fika. Fika yang menyaksikan sikap acuh Arga itu hanya bisa menghela nafas pelan. Mungkin hal yang tidak mungkin jika Fika berharap Arga akan membukakan pintu untuknya. Namun apa yang terjadi? Diluar nalarnya Fika menatap bingung saat Arga berjalan memutari mobilnya lalu membukakan pintu untuknya. Hal itu pun berhasil membuat Fika membeku di tempat nya sedangkan Arga seperti biasa menatapnya datar.

"Cepet turun! Gue gak punya banyak waktu!" Ketus Arga membuat rona di pipi Fika hilang musnah.

Entah mengapa meskipun sikap Arga yang berubah-ubah setiap waktunya terkadang dingin, galak, ketus namun juga terkadang bersikap manis. Menurut Fika apapun sikap yang dimiliki cowo itu akan tetap hal yang berarti baginya. Terutama saat kejadian di lapangan basket itu adalah hal yang sama sekali tidak akan Fika lupakan.

"Arga kita mau pilih pot yang kaya gim-"

"Terserah lo."

Fika kembali diam sebelum ia kembali bicara. "Kapan tante-"

"Tadi siang.

Fika tercenung, kehabisan kata-kata. Sepertinya sia-sia saja mengobrol dengan Arga. Hanya akan membuatnya semakin bodoh. Apaboleh buat, ia hanya bisa mengikuti laki-laki itu dari belakang saat mereka memasukki toko itu.

"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" Ucap seorang pelayan di dalam toko tersebut. Toko itu terlihat begitu besar dan luas, kemewahan di dalamnya sudah menunjukkan betapa mahalnya interior toko itu. Rak-rak kac besar yang tertatarapih menyimpan berbagai jenis pot bunga mewah yang bahkan sama sekali belum pernah Fika lihat.

"Mari ikuti saya."

Pelayan berseragam hitam putih itu berjalan menuju rak-rak kaca dibuntutti Arga dan Fika di belakangnya.

"Kami memiliki banyak sekali variasi pot bunga dengan motiv yang khusus di design mewah. Silahkan, dilihat mungkin ada yang kalian suka?" Ucap pelayan itu sambil memperlihatkan pot-pot yang berjajar rapih di rak.

Seumur hidup Fika tidak pernah melihat atau pun tau jenis-jenis pot yang sedang ia lihat saat ini. Pot-pot yang berbaris berdasarkan ukuran itu tertata begitu rapih di dalam lemari kaca besar. Yang sedang di depan Fika saat ini adalah pot-pot berukuran kecil sedangkan pot-pot berukuran besar berada di pinggir sudut ruangan.

"Mari ikuti saya lagi, kesebelah sini." Ucap pelayan itu lagi mengarahkan ke arah belakang lemari pertama.

Arga telah mengukuti pelayan itu namun lain halnya Fika yang justru masih tertahan disana. Mata cokelatnya menatap sebuah pot di jajaran paling atas. Sebuah pot cantik berukuran bulat sedang serta bunga mawar yang menghiasinya dengan corak-corak emas di balik backgroundnya yang hitam. Rupanya sudah menyita perhatian seorang Fika.

Dengan reflex dan nalurinya sendiri, Fika menjinjitkan kakinya dan berusaha meraih pot tersebut dengan satu tangan menumpu pada lemari.

Arga yang baru menyadari ketidak hadiran Fika di sampingnya pun menghentikan langkahnya. Mata elangnya langsung reflex melirik tajam ke arah samping dan secara spontan tubuhnya langsung berbalik bersamaan langkah kakinya yang ia percepat.

"Fika!" Arga berteriak sambil berlari ke arah Fika yang hampir jatuh tertimpa pot kaca dengan gerakan kilat Arga sigap menangkap lengkuk pinggang Fika lalu menariknya ke tubuhnya.

BRRRAAAAKKKK!!

Suara benda pecah bersamaan membuat kedua insan yang masih saling menatap ini akhirnya memusatkan perhatiannya ke benda yang kini telah hancur di samping mereka. Ternyata jatuhnya lemari pertama berakibat runtuhnya lemari yang berada di belakangnya. Akibatnya semua lemari ambruk secara beruntun.

"Apa yang sudah kalian lakukan?!"

Teriakkan seorang laki-laki berjas hitam membuat semua orang disana terpaku. Wajahnya memerah akibat amarah yang kian memuncak menyaksikan seluruh barangnya telah hancur berkeping-keping. Ia melangkah tegap dan sangar mendekati Arga dan Fika.

"Kalian! Kalian harus bertanggung jawab!"

Teriak si pemilik toko sambil menunjuk Fika dan Arga bergantian. Fika yang sudah menegang sejak tadi hanya bisa menunduk takut. Beda halnya dengan cowo di sampingnya yang justru memasukkan kedua lengannya ke daku celana depan. Dengan santainya Arga menatap datar pemilik toko yang tengah meluapkan emosi.

"Apa kalian tuli!? Kalian harus tanggung jawab! Atau saya akan melaporkan kalian pada polosi!"

Fika tertegun. Ia mendongkak menatap takut pemilik toko. "Pak, ja-jangan." Ucap Fika terbata. Ia tidak mampu mengontrol gemetar di tubuhnya. Bagaimana pun ia merasa bersalah karena semua ini adalah kecerobohan yang telah ia lakukan.

"Kalau begitu kalian harus membayar semua kerugian saya!"

"I-iya pak, berapa kira-kira saya harus ganti rugi?" Tanya Fika secara spontan. Entahlah karena gugup ia sama sekali tidak memikirkan konsekuensi saat ini.

Pria berjas itu tersenyum miring. "Tidak terlalu mahal, kalian cukup membayarnya 200 juta saja."

Fika membelalakkan mata, 200 juta? Itu semua adalah uang? Bagaiamana mungkin dia menadaptkan uang sebanyak itu? Bahkan membayangkannya saja ia belum pernah. Lalu bagaimana ia bisa mengganti rugi sekarang?

"Pak apa tidak bisa kurang?" Tanya Fika ragu. Dan hal itu rupanya telah berhasil merubah ekspresi pemilik toko yang semakin menyeramkan.

"Kurang ajar! Dikasih murah masih mau penurunan harga. Kamu pikir toko ini milik nenekmu? Lihat! Apa kamu tidak lihat semua pot ini telah hancur sia-sia gara-gara anak ingusan seperti kalian!"

Fika terbungkam. Bagaimanapun ia telah bersalah. Rasanya ia ingin mati begitu saja sekarang. Sedangkan Arga sampai saat ini masih bermuka datar hanya terdengar suara helaan nafasnya. "Itu salahmu sendiri."

Hening.

Ucapan mendadak Arga yang tidak masuk akan membuat semua orang disana mengerutkan dahinya. Begitu pula dengan Fika yang ikut menoleh menatap wajahnya serius.

"Apa maksudmu?!" Ketus pria itu menatap tajam Arga. Namun tidak setajam mata elang milik Arga.

"Kau menaruh pot-pot berbahan kaca dan juga keramik di dalam lemari kaca tanpa penyangga? Apa menurutmu itu bukanlah hal yang beresiko?"

Pria itu terdiam namun kepalan di tangannya mulai terlihat.

"87 pot kaca dan 50 pot keramik berbagai ukuran yang tertata secara random di dalam lemari kaca seperti ini sungguh hal yang modoh."

Arga mendekap tangannya di dada. "Lemari kaca polos tanpa penyangga di belakangnya tentu sangat merugikan. Dan kau sama sekali tidak memikirkan hal itu? Bahkan dengan menyenggol sedikit lemarinya saja akan membuat lemari ini runtuh dengan sendirinya. Dengan beban  hampir mencapai 500 kg dan kau masih mementingkan sebuah interior agar terlihat mewah tanpa memikirkan konsekuensinya?"

Pria itu membelalak, wajahnya semakin memerah. Sedangkan Fika tercenung menatap tidak percaya Arga. Bagaimana mungkin Arga bisa menganilisis dengan se detail itu? Bahkan ia sendiri tidak tahu kalau ada jenis pot keramik disana. Namun Arga? Bagaimana dia mengetahui berat lemari itu? Setelah ditambah beban pot? Terutama jumlah potnya. Apa Arga sudah menghitungnya tadi?

"Bahkan pelayanmu sendiri menyadari hal itu." Arga melirik tajam pelayan yang kini berdiri menunduk di samping pria pemilik toko. "Dia sendiri tau konsekuensinya apabila terlalu dekat dengan lemari ini. Itulah sebabnya saat ia memperlihatkan beberapa pot, ia tidak berani mengambilnya. Bukan begitu?"

Arga kembali menatap tajam pelayan itu. Namun pelayan itu hanya bisa diam ketakutan.

"Memangnya kau ini siapa hah?! Beraninya menyalahkanku! Tidak usah pamer kepintaran disini, aku hanya butuh uang ganti rugi. Kalau tidak sekarang juga akan ku laporkan kalian berdua ke polisi!"

Sepertinya pria paruh baya itu tidak main-main dengan ucapannya. Karena saat ini ia sedang mengetik sesuatu di ponselnya. Sesaat itupula Fika kembali tegang. "Halo polisi-"

"Pak tunggu sebentar!" Sergah Fika berhasil menghentikan pria itu. "Kami akan ganti rugi."

Entah apa yang ada dipikirannya saat ini namun Fika sepertinya tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia kini justru menoleh ke samping lalu mencubit sedikit kaus milik Arga dan menarik-nariknya sedikit. "Arga.. aku pinjam uang yah."

Alhasil Arga menatapnya tajam. "Gak!"

"Arga please.."

Arga mendesis. "Dia itu mau nipu lo bego!"

Fika merengut. Ia masih menarik-narik lengan kaus Arga.

"Tapi gimanapun kita yang salah Ga, kita harus tanggung jawab."

"Lo yang salah bukan gue!"

"Iyah iyah.. Fika yang salah, tapi kali ini aja yah. Fika pinjem uang, nanti kalo Fika udah ada uang Fika janji bakal ganti." Fika mengatakkannya dengan begitu hati-hati takut jika cowo itu akan semakin menyemprotnya dengan amarah.

Arga kembali menatap lurus kedepan.

"Arga.." Fika belum menyerah ia terus merengek hingga akhirnya Arga mendengus gusar. Lalu merogoh sakunya.

Ia mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam di dalamnya. Atau sering kita kenal sebagai Black Card, kartu dimana hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja dan tentunya orang yang hanya memiliki kekayaan paling menjelit yang mampu memiliki Black Card. Meskipun Arga masih dibawah umur, namun ia sudah memiliki hak sepenuhnya dalam kartu itu.

Sekatro-katronya Fika tentu saja dia tau akan Black Card, bahkan ia sama sekali tidak menyangka Arga bisa memilikinya. Bukan hanya Fika saja yang merasa tidak percaya tapi si pemilik toko beserta pelayannya pun terperangah. Sampai usianya segitu si pemilik toko pun belum sanggup menyimpan Black Card di tangannya. Sedangkan anak yang tadi ia bilang ingusan rupanya telah jauh melampauinya.

"Urusan kita selesai." Kata Arga.

Setelah selesai, Arga dan Fika keluar dari toko. Yah meskipun mereka sama sekali tidak mendapatkan potnya namun Arga tidak ingin ambil pusing. Ia berniat akan membelinya lain waktu saja.

Fika masih tertunduk berjalan di belakang cowo itu seperti biasanya, entah sampai kapan jarak diantara mereka akan musnah. Mungkin hingga ada seseorang yang menggugahnya.

"Lo Fika kan?"

Suara bass dari seorang laki-laki menahan pergelangan tangan Fika. Alhasil Fika terperanjat lalu menoleh ke arah cowo itu. Ia mengerutkan dahi merasa tidak asing drngan raut wajah tampan itu. "Iqbal?"

Cowo berambut hitam itu tersenyum hangat menatap Fika. "Ternyata lo masih inget gue."

Fika membalas uluran tangannya dan tersenyum sumringah. "Pasti ingetlah, masa sama sahabat sendiri lupa. Eh, tapi kapan kamu pulang dari Amerika?"

Cowo tampan yang hampir sama tampannya dengan Arga itu tiba-tiba merangkul bahu Fika posessive seolah-olah ia adalah miliknya. "Baru kemarin sih, kenapa? Lo kangen sama gue?"

Fika dan Iqbal sama-sama tertawa. Suasana dulu terasa menyelimuti keduanya. Persahabatan yang tidak akan pernah mati membuat keduanya semakin tidak pernah terpisahkan. Rupanya obrolan menyenangkan mereka telah melupakan seseorang yang kini sedang menatap dingin keduanya.

Yups, Arg sejak tadi hanya berdiam diri sambil mendekap dada menatap dingin kedua insan yang sedang melepas rindu satu sama lainnya tepat di depan matanya sendiri. Dan hal ini membuatnya semakin muak.

"Ekhem." Arga berdehem membuat keduanya menoleh. Dan Fika mulai menelan salivanya berat. Ia tahu Arga paling benci di cuekkin. Meskipun dia sendiri tidak pernah peduli pada siapapun.

"Eh, Iqbal kenalin ini Arga. Arga ini Iqbal sahabat kecil aku."

Tatapan keduanya saling bertubrukan. Iqbal menatap datar Arga begitupun dengan Arga. Seolah suhu disana berubah menjadi sedingin kutub utara. Tatapan keduanya sama-sama tajam dan dingin.

"Iqbal." Iqbal mengulurkan tangannya. Menunggu hingga Arga membalas ulurannya, namun sepertinya sia-sia. Arga justru kembali mendekap lengannya didada. Arogan.

"Kita pulang sekarang." Ujar Arga menatap Fika.

"Ta-tapi Ga. Iqbal.."

"Gue gakpeduli. Pulang sekarang!"

Arga menarik lengan kanan Fika namun aksinya terhentikan saat justru tangan kiri Fika juga di tarik Iqbal.

"Gue anter lo pulang ya Fik." Tawar Iqbal menatap lembut Fika. Sebenarnya posisi ini semakin membuat Fika bingung. Namun disisi lain, Arga semakin menajamkan tatapannya pada Iqbal.

"Dia satu rumah sama gue. Jadi dia pulang bareng gue." Ucap Arga tak mau kalah.

"Trus apa masalahnya? Emang kalo dia serumah sama lo, gue gakboleh nganterin dia pulang?" Iqbal mengatakannya dengan nada dingin sama seperti Arga biasanya. Hal itu membuat Fika tertegun. Bagaimana ini?

"Fik, pulang bareng gue aja yah? Mobil gue ada disana. Ayo!" Iqbal baru saja akan menarik Fika namun Arga tiba-tiba mencekal kerah jaket Iqbal kuat.

"Hati-hati sama tangan lo kalo lo masih sayang sama tubuh lo."

Iqbal menggertakkan rahang kokohnya, ia melepaskan cengkramannya terhadap Fika dan beralih mencengkram kuat kerah Arga.

"Lo pikir gue takut sama lo?"

BUG!

Fika terperanjat saat Arga melayangkan satu pukulannya ke wajah mulus Iqbal. Iqbal pun terpental hingga tubuhnya menubruk mobil di melakangnya yang sedang terparkir. Tubuhnya kembali melorot dan terduduk di tanah. Disaat itulah Arga melangkah tegap menghampirinya. Ia beridiri di depan Iqbal yang tengah menyentuh memar di wajahnya akibat pukulan keras Arga. Tatapan Arga semakin dingin seperti jiwa membunuh mulai merasukinya.

"Lo inget baik-baik. Dia milik gue."

________

Maaf yah lama banget updatenya. Seperti yang udah aku bilang. Sebenernya aku udah mau update dari lama cuman bab yang ini ke hapus. Jadi terpaksa aku tulis ulang deh. Maaf yah...

Jangan lupa like dan komennya yah.

Makasih banget bagi kalian yang udah dukung dan juga udah sabar nunggu.

Kata Fika "Orang sabar dapet jodoh ganteng." 😍😘😘

1
lizkook
xmz z. z. .z z
Sunarsih Bagus Inara
thor karakter ceweknya dibikin sesempurna mungkin agar bisa menandingi si aga
Herta Siahaan
isss jgn terlalu mudah percaya Fika. buat dia bener2 berubah
Herta Siahaan
dah berapa kali dihina masih jg g ngerti duh Fika saya yg jdi nangis. dah doonkkkk Fika jgn lagi terlalu baik
Herta Siahaan
duh Fika jgn terlalu lugu deh. terlalu hina kali.
Herta Siahaan
belum tahu kenapa fika bisa sampai dikeluarga arga dan Fika please deh ,. culun sich boleh tpi jgn terlalu lah sayang. dah dihina gitu dah biarin aja arga
kusyiwa hiroshi
menurut saya, lbh baik settingannya bukan anak SMA, krn saya rasa ceritanya terlalu sadis utk anak usia dibawah 20th..hanya saran saja 👌😊
Suryani
ternyata aku salah menebak kali ini yg aku kira ikbal jahat gk taunya gino yg mala jahat
Suryani
oh ternyata seperti itu ceritanya
Suryani
apa arga udah punya anak
Suryani
banyak misteri
Suryani
emang ada visual nya ya kok aku gk ada ya
Suryani
😴😴😴
Suryani
masih tanda tanya siapakah sebenarnya alan
Suryani
klu tebakan ku sih ikbal itu jahat soalnya ni ceritanya hampir mirip sama ceritanya aska dan salsa yg berjudul cinta dan masa lalu
Suryani
emang ma2 nya kemana thor
Suryani
ini ceritanya hampir mirio sama yg judulnya cinta dan masa lalu
Oh Dewi
Wah seru banget ceritanya kaya Novel (Siapa) Aku Tanpamu
Awal Ginting
kamu yg sabar mungkin suatu hari nanti seseorg itu akan mencintaimu km semangat jgn bersedih🌹🌹🌹❤️❤️
Sudaryanto
aku sayang you
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!