NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Dilamar Ceo Dingin

Tiba-tiba Dilamar Ceo Dingin

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Airlangit

Follow IG-Airlangit9

Nekat pergi ke kota, bermodalkan Ijazah SMA untuk mengadu nasib. Siapa sangka, sebuah insiden membuatku terperangkap dalam hubungan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airlangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa curiga

Hari kedua di kamar Arsila

Di atas lemari yang kecil itu, terjajar rapi botol-botol kecil dan beberapa tempat kecil persegi empat. Dilara penasaran benda apa sebanyak itu, ia baru melihatnya. Jika dibilang obat, bentuknya tak meyakinkan.

Suara air mengalir berhenti, pertanda Arsila selesai mandi. Terdengar pintu kamar mandi terbuka beberapa detik setelahnya dan Arsila muncul hanya mengenakan tangtop, celana pendek serta rambut yang digulung handuk.

Gadis itu memasukkan colokan ke terminal, kemudian mengarahkan benda hitam bermoncong besar ke rambutnya yang basah. Bunyi nyaring pun terdengar, dan Dilara terkejut saat pertama kali mendengarnya.

"Itu apa, Ars? Pistol besar."

"Bukan, ini pengering rambut." Arsi menjawab di sela-sela mengibas-ngibaskan rambutnya ke arah mulut benda hitam itu. "Kalau rambut saya tak kering, bagaimana saya bisa berpenampilan rapi ke kantor?"

Dilara terus memerhatikan apa yang Arsila lakukan. Perempuan itu tampak mengoleskan aneka macam cairan ke wajah dan lehernya dari botol dan kotak kecil yang tadi berada di atas lemari kecil.

"Itu apa, Ars?" Tak kuasa menahan penasaran, Dilara pun kembali bertanya.

"Ini tuh skincare, Sayang. Agar wajah saya senantiasa bersih tidak kusut. Para karyawan perempuan tuh wajib memiliki ini untuk menjaga penampilan."

"Aku pun tak punya yang kaya begituan. Saya melihat kamu memakainya ribet sekali." Dilara berkomentar.

"Karena kamu belum terbiasa. Ibarat perut, kulit pun musti diberikan asupan makan dan nutrisi. Jika tidak, nanti seperti kulitmu yang gampang kusam dan berminyak. Atau saya ibaratkan tanaman, deh. Kalau tak dirawat akan rusak dan mati."

Dilara langsung memegang wajahnya yang dikatakan kusam. Hatinya sedikit sakit mendengar penuturan Arsila, meskipun sebenarnya ia merasa jika tengah hari di kantor saat kerja, wajahnya selalu berubah seperti gorengan penuh minyak. "Saya baru melihatnya skincare itu. Di kampung saya, para perempuan hanya memakai seger snow dan bedak viva."

"Untuk sehari-hari itu bagus. Kita ini kerja hampir seharian, Sayang. Jadi wajah kita dan kulit kita ini harus menerima perawatan ekstra."

Dilara diam, ucapan Arsi sedikit ada benarnya. Selama ini ia menggunakan seger snow dan bedak Viva kulit wajahnya mudah kusam dan berminyak. Mungkin jika hidup di kampung menggunakan dua kosmetik tersebut cocok saja, kampung bebas polusi. Sedangkan di kota, polusi di mana-mana, serta udara yang selalu panas.

"Saya sengaja pakai skincare ini agar wajah tetap terlihat rapi, Dil. Kalau pakai bedak untuk kerja terkesan menor. Bedak itu ya cocoknya buat acara-acara pesta gitu."

"Apakah selama ini saya terlihat menor?" Dilara bertanya.

"Ya menurut saya. Kamu itu lucu, wajah tebal oleh bedak dan cara berpakaian--" Arsi menggantung kalimatnya, sadar tak baik jika diteruskan.

Dilara langsung manyun paham betul Arsila akan mengatakan apa.

Setelah mengoleskan body lotion ke tangan, kaki dan leher. Arsi berdiri kemudian mengenakan pakaian formalnya. Mula-mula, kemeja putih, rok mini dan terakhir jas luar.

"Kamu dapat seragam bagus itu dari mana, Ars?" tanya Dilara.

"Nanti kamu juga diberikan seragam seperti saya oleh perusahaan. Pas gajian pertama, tunggu saja."

"Oh, begitu, ya."

"Kalau begitu, saya pamit dulu, ya, Dilara. Lekas sembuh, sepertinya ada pria yang merindukan kehadiranmu di kantor."

"Siapa, Ars?" Ada-ada aja kamu. Mana ada pria yang melirik saya yang katanya kuno ini."

Arsila terkekeh. "Ah, pokoknya lekas sembuh, ya, Dilara. Saya kesepian kalau tidak ada kamu di kantor. Selain kamu, teman-teman yang lain tak asik."

"Baiklah, mungkin esok demam saya sudah reda, Ars."

Arsila meraih tasnya, gadis itu berjalan ke arah rak sepatu dan mengambil high hill lantas mengenakannya. "Saya pergi dulu, ya, Dilara. Assalamualaikum, jaga diri, ya. Jangan masukin orang yang tak dikenal. Kalau ada orang, terima depan kamar saja."

"Baik, Ars. Kamu pun hati-hati di jalan."

Arsila membuka pintu kemudian menutupnya pelan. Seperginya kawannya itu, Dilara merebahkan tubuhnya merasakan kepalanya masih pening.

Beberapa detik berlalu, pesan terdengar masuk ke ponsel pintarnya, nama kontak sang ibu yang tertera.

"Nak, terima kasih sudah kirim uang yang sangat banyak ke kampung. Adik-adikmu bukan hanya bisa bersekolah lagi, mereka juga bisa makan enak dan beli baju baru, Nak. Uang ini lebih dari cukup, bisa untuk menghidupi adik-adikmu setahun lebih."

Membaca pesan tersebut, Dilara tersenyum, air matanya menitik. "Sama-sama, Mak. Jaga kesehatan, ya. Agar bisa menjaga adik-adik." Ia mengirimkan uang 20 juta ke kampung dan sisanya ditabung di Bank untuk masa depan.

Tiba-tiba saja Dilara teringat pada Said yang telah memberikan ponsel sebagai ganti ponselnya yang rusak.

***

Saat sedang menggambar karakter tokoh animasi di komputer, ponsel Dilara berbunyi. Ia tak langsung memeriksa ponselnya, merasa tanggung dengan pekerjaannya yang hampir selesai.

Setelah menyelesaikan beberapa gambar pemandangan dan gedung-gedung visualisasi dari cerita di naskah yang ia baca. Barulah Dilara melihat pesan yang masuk. Rupanya sebuah email. Pemberitahuan transaksi sebuah bank.

Dilara membuka mobile banking-nya dan memeriksa mutasi hari ini. Uang sejumlah 4.500,000, 00 ditransfer dari nomor rekening perusahaan. Rupanya ia mendapatkan gaji pertamanya. Dilara tersenyum merasa sangat bangga dan bahagia mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya.

Gadis itu menoleh ke sana ke mari dan melihat rekan-rekannya tampak fokus pada pekerjaan masing-masing.

"Ada apa senyum-senyum?" Arsila mencolek bahu Dilara. "Senang, ya, dapat gaji pertama?"

Dilara mengangguk semangat. "Berapa gajimu?" tanyanya.

"15 juta." Arsi menjawab enteng.

Seketika wajah Dilara muram. "Saya hanya dapat 4, 500, 000 K."

"Sebenarnya lima juta Dilara, itu dipotong karena kamu sakit beberapa hari." Arsi berbisik.

"Kalau begitu saya harus selalu sehat." Dilara cemberut. "Kok gaji kamu besar, sih?"

"Saya sudah 8 tahun kerja di sini, awalnya gaji saya juga sepertimu. Semakin lama bertambah sesuai kinerjamu."

"Oh, begitu, ya."

"Tentu saja."

"Tapi ... saya merasa aneh hari ini, Ars."

"Kenapa, Dil?"

"Kok tak ada orang yang minta bantuan mengerjakan tugas lagi pada saya." Dilara melirik rekan-rekan kerjanya sekilas.

Arsila tertawa ringan. "Bagus dong. Mungkin mereka kasian sama kamu, kemarin kamu sakit."

"Oh ... begitu ya."

"Ya, tentu saja." Arsila kembali fokus ke layar komputernya.

"Arsi," panggil Dilara ragu.

"Hmmm."

"Kalau Said sudah berapa tahun kerja di sini?" Dilara bertanya dengan berbisik.

"Enam tahun." Arsila menjawab tanpa menoleh.

"Kira-kira berapa gajinya?"

"Kenapa bertanya. Tanyakan langsung saja ke orangnya, Dil."

"Ingin tahu saja."

"Antara delapan sampai 10 sepertinya."

"Benarkah, Ars?"

"Rata-rata segitu, Dil."

"Apa mungkin dengan gaji segitu bisa punya rumah pribadi sendiri yang bagus dan luas dan mampu beli ponsel dengan harga ratusan juta?"

"Gila kali, kau Dilara. Mana ada gaji segitu bisa beli fasilitas tersebut?"

Dilara terdiam, dengan perasaan ragu ia melirik ke arah belakang di mana Said tampak mengerjakan sesuatu.

"Kecuali orang tersebut sudah kaya sebelumnya. Bekerja hanya karena iseng saja." Arsi melanjutkan ucapannya.

Said membalikkan kursinya, Dilara langsung membuang muka dan pura-pura mengerjakan tugasnya. Said tampak menyerahkan lembaran kertas pada rekan di samping Arsi kemudian kembali lagi ke tempat duduknya.

"Dilara, kamu dipanggil Pak Ketua ke ruangannya." Seorang perempuan yang sedang memegang telepon memberitahu Dilara kemudian meletakkan lagi telepon ke tempatnya.

Dilara bangkit dari kursinya dan berjalan ke ruangan pak ketua yang berada di ruangan itu juga.

"Ini seragam kerjamu. Mulai besok kamu harus mengenakan seragam ini." Tanpa basa-basi ketua divisi menyerahkan pakaian yang masih terbungkus plastik pada Dilara.

"Terima kasih, Pak." Dilara membungkuk kemudian membalikkan badan hendak keluar. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan yang hanya berdinding kaca tersebut, ia berhenti dan memerhatikan Said dari balik kaca.

"Kenapa belum keluar?" tanya pak ketua dari kursinya membuat Dilara terkejut.

"Ah i-ya, Pa-k saya keluar." Dilara pun melangkah lebar dan menutup pintu.

1
Nur RaudLoh NauRa
menakjubkan/Drool/
Nur RaudLoh NauRa
bagus sila, dasar pemalas tu mbk2 m mas seenak e udelle
Nur RaudLoh NauRa
lucunya/Drool/
Apreel Leeya
typo trus..ayahnya dipanggil Murad..Murad...
Teresia Atik tinus
Kecewa
Cechen Mei li
lelaki dancuk
Cechen Mei li
kok murad sih
Cechen Mei li
said kk
Cechen Mei li
saik kk bukan Danil🤦‍♀️
Nayla Azizah
kasihan ms dilara menderita mulu Thor??kpan bahagia menghampiri'n??
Shen shandian luo
gak mau uangnya tapi tetep ikutan bohong...kan percuma bicara soal dosa....😂😂😂😂😂😂😂😂
Irma Yanti
dilara lugu.. kadang bikin emosi ya..maaf Thor
Irma Yanti
cerita bagus Thor...semangaaad
Yuniarti Rossyidie
ceritanya lumayan menghibur...lucu...
💟노르 아스마💟
sejauh ini bayik suka ...gk bertele²
Marchel
halo kakak author yang baik hati aku ijin share novel aku ya yang berjudul " Bos and me " dan " gadis cantik itu milikku " terimakasih kakak author 🙏
Cusy Low Aty
lanjut
Suriani Anhy
biarlah said bersama Dilara, utk daniel mudah2hn selamat dn mnjdi mafia utk bisa bls dendam kpd murad.... 😀😀🤭, bisa dong kita menghayal juga thor🤭
Ziza Yazid
lanjut persi dilara
Ziza Yazid
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!