Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.
Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.
Tidakk!!
Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?
Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!
Katakan padaku ini tidak nyata!
- Carissa Amalina -
Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.
Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.
Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?
- Raka Putra Wibawa -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 15
Raka sebenarnya tahu kalau Rissa menunggu dirinya menyatakan cinta. Tapi Raka sengaja belum melakukannya karena sedang menunggu waktu yang pas. Momen yang romantis yang akan ia berikan kepada Rissa sebagai kejutan.
Kebetulan seminggu lagi adalah hati ulangtahun Rissa. Saat itulah Raka berencana untuk menyatakan perasaannya pada Rissa.
Dasar, Raka! Mau bilang cinta pada istri sendiri saja harus nunggu waktu yang tepat. Kalaupun setiap hari bilang cinta Rissa juga tidak akan merasa enek karena ia adalah suami Rissa.
Sudah sepantasnya kata-kata cinta diucapkan setiap hari. Wanita akan merasa bahagia walaupun hanya mendengar ucapan "i love you" dari suaminya.
"Aku berangkat, Ka. Assalamualaikum." Rissa berlalu begitu saja setelah mencium tangan Raka. Padahal Raka baru saja membuka mata karena setelah sholat subuh ia memilih kembali tidur.
"Rissa.." Panggilnya pelan. Namun Rissa berlalu begitu saja melewati pintu tanpa menutupnya kembali.
Raka bergegas menyusul Rissa keluar kamar sebelum Rissa benar-benar pergi. Helaan napas lega terdengar dari Raka saat Raka mendapati istrinya tengah berdiri di dekat meja makan.
Rissa menoleh ke arah Raka, namun hanya sesaat. "Bekalnya udah aku siapin," ucapnya tanpa menatap Raka. Raka memang terbiasa membawa bekal dari rumah untuk makan siangnya.
Tanpa berkata apapun, Rissa berjalan melewati Raka yang berdiri di dekat meja makan. Namun gerakan tangan Raka yang menarik tangannya begitu cepat membuat Rissa terhuyung dan terjatuh dalam pelukan Raka.
Satu tangan Raka memeluk erat pinggang Rissa untuk menahan Rissa agar tak terjatuh. Rissa buru-buru bangkit untuk berdiri dan sedikit menjauh dari Raka. Namun Raka kembali menarik pinggang Rissa.
"Ada apa?" Tanya Rissa berusaha tenang meskipun dalam hatinya gugup luar biasa. Tatapan Raka begitu dalam menembus hatinya.
"Kamu marah?" Suara Raka setengah berbisik.
"Kenapa harus marah?" Balas Rissa.
"Sejak semalam kamu diam. Kenapa?"
Dalam hati Rissa merasa kesal karena makhluk bernama Raka yang berstatus sebagai suaminya itu tidak peka sama sekali.
Apa salah, sebagai seorang perempuan Rissa juga ingin mendengar pasangannya menyatakan cinta? Bukan lewat orang lain apalagi ibu mertuanya.
Rissa berdecak kesal. Mendorong tubuh Raka agar ia bisa terlepas dari pelukan Raka. Sayangnya usahanya sia-sia. Selain tenaganya tak sekuat Raka, Raka juga semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu cantik pakai kalungnya."
Ucapan Raka seketika membuat pipi Rissa memanas. Raka memujinya.
"Kamu sudah dengar dari ibu, kan?"
"Apa?" Rissa berpura-pura tak paham.
"Harus aku jelasin lagi?"
"Ck." Rissa kembali mendorong tubuh Raka, namun kembali sia-sia. "Raka lepasin! Aku mau kerja."
"Baru juga jam enam. Kenapa buru-buru?"
"Ada operasi, Raka. Aku harus cepat." Rissa masih terus berusaha melepaskan diri.
"I love you." Ucapan Raka yang tiba-tiba menghentikan Rissa yang berusaha melepaskan pelukan Raka. Rissa menatap Raka tak percaya.
"Kamu bilang apa?" Rissa mencoba memastikan bahwa ia tak salah dengar dengan apa yang barusan Raka ucapkan.
"I love you, Carissa Amalina. Ibu dokter yang paling bawel."
Bukan tersipu, Rissa justru mencubit perut Raka sampai membuat Raka mengaduh kencang dan reflek melepaskan pelukannya pada pinggang Rissa. "Bar-bar banget, sih. Kejam banget sama suami." Keluh Raka sambil mengusap-usap perutnya yang dicubit oleh Rissa.
"Habisnya ngeselin," tukas Rissa cepat.
"Maaf, oke? Sekarang udah nggak ngambek lagi, kan?"
Rissa menatap Raka sejenak. "Jadi ucapannya i love you itu cuma biar aku nggak marah? Nggak tulus, dong!" Tudingnya tajam.
Raka menghela napas pelan. Meraih tangan Rissa dan menggenggamnya. "Kenapa mikirnya gitu, sih? Aku nggak tahu sejak kapan rasa itu hadir, Rissa. Yang pasti aku nggak bohong soal perasaan aku ke kamu."
Mata Rissa bergerak gelisah menghindari tatapan maut Raka. Ia juga merasa, entah sejak kapan rasa cinta untuk Raka tumbuh di dalam hatinya. Namun saat ini lidahnya masih terasa sulit untuk membalas ucapan cinta dari Raka. Intinya, Rissa masih merasa gengsi. Tidak mau dianggap jatuh begitu saja ke dalam pelukan Raka. Dan juga... Takut di kecewakan.
Rissa masih ingin melihat keseriusan dari Raka atas ucapannya. Bukan hanya sekedar kata i love you. Tapi lebih ke pembuktian atas ucapan itu.
"Aku antar." Putus Raka yang melihat Rissa terus diam tak menanggapi ucapannya. Rissa menurut. Tak ingin kembali berdebat dengan Raka karena pagi ini dia benar-benar butuh mood yang bagus. Namun sayangnya satu adegan pagi ini dimana Raka telah mengucapkan kata cinta, sedikit membuat pikirannya amburadul.
"Giliran aku ngambek aja baru peka. Semalem kemana aja!?" Gerutu Rissa pelan.
"Kamu ngomong apa?"
Rissa menggeleng kuat. "Enggak ngomong apa-apa."
"Oke." Raka tersenyum tipis. Mungkin Rissa pikir dia tak mendengar apa yang di ucapkan Rissa.
💕💕💕
"Minggu depan ke Semarang, Ka. Gedung baru kita sudah mau diresmikan sekalian grand opening."
Raka terkejut dan menatap ayahnya penuh tanya. Beberapa hari yang lalu ia memilih untuk tidak berangkat ke Semarang untuk mengecek pembangunan cabang baru mereka. Ternyata justru sudah siap semua dan akan segera diresmikan dan di buka.
"Ajak Rissa juga, Ka."
"Cepat sekali, Pak? Raka nggak nyangka ternyata udah mau diresmikan aja."
"Iya. Target pembangunan tiga bulan itu selesai. Tapi kemarin dari kontraktornya mengusulkan penambahan pegawai agar lebih cepat selesai. Ya bapak nggak tolak."
Raka mengangguk mengerti. "Tapi Raka nggak janji bisa membawa Rissa, Pak."
"Kenapa?" Tanya Diki sedikit mengeraskan suaranya seolah tak suka kalau Raka tak bisa berjanji untuk bisa mengajak Rissa.
"Menantu bapak itu pasti lebih memilih di rumah, Pak. Takut kalau ada pasiennya yang tiba-tiba saja akan melahirkan. Karena bukan masa cuti jadi Rissa tetap bisa di telepon kapan saja."
Diki menghela napas tak kentara. Ia lupa bahwa menantu cantiknya merupakan seorang dokter yang jasanya bisa di butuhkan kapan saja. Tak peduli sedang apa, ketika pekerjaannya sudah memanggil, Rissa harus siap siaga.
"Ya sudah, mau gimana lagi?" Diki tertawa pelan.
"Tapi nanti aku usahakan, Pak, buat bujuk dia. Siapa tahu dia mau," ujar Raka. Raka sendiri juga ingin Rissa hadir di acara peresmian cabang toko meubel mereka yang baru.
"Oke... Tapi kalau benar-benar nggak bisa jangan di paksa, ya? Pekerjaan dia juga penting."
Raka mengangguk dan tersenyum. Dan Diki pun keluar dari ruang kerjanya untuk mengecek sofa pesanan orang yang harus dikirim hari ini.
Raka kembali teringat kejadian pagi tadi. Saat dia melihat Rissa yang terus menerus menunjukkan wajah kesalnya karena ia tak paham dengan kode bahwa Rissa meminta dirinya untuk menyatakan cinta.
Selama ini Raka tak cukup berani untuk mengatakan secara langsung perasaannya pada Rissa. Oleh sebab itu ia meminta tolong pada ibunya untuk mengatakan hal itu pada Rissa.
Raka memang hampir tak pernah mengatakan cinta pada mantan-mantannya yang dulu saat mereka jadian. Selalu gadis-gadis itu yang mengatakan perasaannya pada Raka.
Begitupun ketika dengan Windi. Dulu saat awal mereka menjadi sepasang kekasih, Windi yang mengatakan cinta terlebih dahulu kendati mereka saling tahu bahwa mereka saling memendam rasa.
Bedanya, dulu Raka adalah seorang playboy. Dia seperti itu karena ingin dianggap dia begitu di gandrungi para wanita.
Namun ketika dengan Rissa, entah kenapa ia tak bisa berkata-kata. Jantung Raka sudah berdebar hebat saat ia berniat untuk menyatakan cinta pada Rissa. Dan hal itu yang membuat ia tak bisa berkata-kata ketika sudah berhadapan dengan Rissa.
Raka hanya menunjukkan perasaannya lewat perhatian-perhatian kecil yang sering ia berikan pada Rissa.
***
Raka melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah pukul setengah empat. Itu artinya jam kerja Rissa hampir selesai. Raka harus cepat-cepat menjemput Rissa karena tak ingin membuat Rissa menunggu.
Dengan kecepatan sedang, Raka menjalankan mobilnya menuju rumah sakit tempat Rissa bekerja. Rissa sudah menunggunya di lobi rumah sakit saat Raka sampai di rumah sakit.
Namun Rissa tak sendiri. Ada seorang laki-laki yang sedang berbincang dengan Rissa. Terlihat begitu akrab karena sesekali keduanya tertawa. Raka juga dapat melihat dari tatapan laki-laki tersebut yang mengisyaratkan bahwa ia menyukai Rissa. Raka menggeram kesal. Ia tak suka melihat istrinya berbincang dengan lelaki tersebut.
"Hai, sayang." Raka sengaja memanggil Rissa dengan panggilan mesra. Tangannya bertengger manis di pinggang Rissa mengisyaratkan bahwa Rissa adalah miliknya seorang. Tak satupun dapat mengusiknya.
"Eh, hai. Sudah sampai?" Meskipun merasa canggung di perlakukan demikian oleh Raka di depan rekan kerjanya, Rissa mencoba bersikap biasa saja.
Raka mengangguk. Senyuman terbit di bibirnya. "Lama nunggu, ya?"
"Enggak." Rissa menggeleng. "Eh, kenalkan ini Zaky. Staf rumah sakit." Rissa memperkenalkan Zaky pada Raka.
Raka dan Zaky bersalaman. Raka menyunggingkan senyumnya meskipun sedikit terpaksa.
"Raka."
"Zaky."
Tak ingin berlama-lama bersalaman, Raka segera melepaskan tangan Zaky. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain tak ingin melihat Zaky.
"Rissa, aku duluan, ya? Kamu hati-hati di jalan."
"Iya."
Tanpa menyapa Raka, Zaky berlalu begitu saja. Zaky masih saja merasa cemburu karena Rissa menikah dengan Raka. Zaky beranggapan bahwa karena Raka-lah Rissa menolak cintanya.
"Seneng, ya, dapat perhatian dari dia." Sindir Raka.
Rissa mengerutkan keningnya sambil menatap Raka. "Cemburu?" Goda Rissa. Senyuman usil terbit dari bibirnya.
"Enggak!" Raka mengelak.
"Beneran?"
"Bener." Ketus Raka. "Udah, ayo pulang!" Raka berjalan tanpa menunggu Rissa.
Rissa tertawa geli. Dimatanya Raka begitu lucu ketika cemburu. Rissa juga merasa senang ketika Raka cemburu seperti itu. Itu tandanya Raka benar-benar mencintainya.
Dengan setengah berlari Rissa mengimbangi langkah Raka yang begitu cepat. "Raka tunggu, dong!" Ucapnya sambil meraih tangan Raka.
"Apa, sih!" Raka menepis tangan Rissa, enggan untuk bergandengan.
"Ih, beneran ngambek?"
"Menurut kamu?"
Baiklah... Mood Raka sedang tidak baik. Rissa memilih diam membiarkan Raka berpikir tenang. Nanti kalau sudah tenang, Rissa akan kembali membujuk bayi besarnya yang sedang merajuk.
***
Malam menjelang, Raka masih betah dengan sikap diamnya. Bahkan saat makan malam pun hanya suara piring dan sendok yang sedang beradu yang terdengar. Rissa di buat bingung sendiri melihat Raka yang terus saja membisu dan terlihat tak ingin mengajaknya bicara.
Setelah makan malam usai, Rissa masuk kamar terlebih dahulu tanpa membereskan meja maka terlebih dahulu. Bagi Rissa, membereskan Raka lebih penting dari pada membereskan bekas makan mereka.
Raka masuk ke dalam kamar setengah jam setelah Rissa.
Gelap.
Itu suasana kamar Rissa. Ingin memanggil Rissa namun ia merasa gengsi. Namun ia juga merasa bingung mengapa kamarnya gelap padahal setau Raka Rissa berada di kamar.
"Rissa." Pada akhirnya, rasa ingin tahunya mengalahkan egonya. "Kok gelap? Kamu dimana?"
Klik! Lampu menyala dan kamar kembali terang. Raka membalikkan badan dan menemukan Rissa bersandar pada pintu yang tertutup.
Kini bukan masalah gelapnya kamar yang kini sudah menjadi terang yang menjadi fokus Raka. Namun penampilan Rissa yang memakai lingerie berwarna merah menyala yang membuat Rissa begitu cantik dan... Seksi.
Raka menelan ludah. Tidak biasanya Rissa menggodanya seperti ini karena biasanya Raka-lah yang harus memancing Rissa terlebih dahulu untuk melihat Rissa bisa memakai pakaian favorit Raka. Lingerie.
Apalagi saat Rissa berjalan pelan mendekatinya lalu mengalungkan tangannya pada leher Raka, Raka hanya mampu terdiam menatap Rissa.
Rissa mengecup bibir Raka sebentar. "Masih marah, ya?" Tanya Rissa pelan.
Raka diam.
"Kenapa harus cemburu, sih? Aku nikah sama kamu. Tidur sama kamu. Bahkan... Kita sudah lebih dari sekedar tidur, juga dengan kamu."
Raka menarik pinggang Rissa. Hal itu membuat Rissa tersenyum senang. Raka sudah meresponnya.
"Aku nggak suka ada laki-laki lain yang suka sama istri aku."
Rissa mengangguk paham. Ia tersenyum dan mengelus pipi Raka. "Tapi aku cintanya sama kamu." Rissa memberanikan diri untuk mengatakan cintanya. Sebagai balasan karena pagi tadi Raka sudah menyatakan perasaannya secara terang-terangan.
"Aku nggak salah dengar?" Mata Raka berbinar bahagia.
"Enggak, Raka. Aku serius."
"Bisa ngucapin sekali lagi?" Suara Raka terdengar berat.
"I love you, Raka."
Tanpa menunggu lama, Raka segera memagut bibir Rissa yang begitu manis. Tak perlu lagi diceritakan apa yang terjadi setelahnya karena tentu hanya Tuhan dan keduanya yang tahu. Kamar yang sekarang acak-acakan seperti kapal pecah yang menjadi saksi apa yang terjadi diantara kedua anak manusia yang sedang di mabuk cinta itu.
💕💕💕
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.