Amanda Jhonson dijual oleh tunangan dan kakak tirinya pada seorang pria tua untuk membayar hutang,hal itu membuat hidupnya hancur dalam satu malam.
Di malam yang mengerikan,Amanda ditangkap dan dipaksa untuk melayani seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.
Tapi pada malam itu,untuk menjaga kesuciannya Amanda membunuh pria tua itu.
Karena itu,Amanda divonis penjara selama lima tahun karena terbukti telah menjadi pembunuh dengan bukti-bukti yang ada.
Tapi baru saja Amanda menjalani masa tahanannya seorang pria yang tertarik padanya menemui wanita itu dan menawarkan bantuan padanya.
Pria itu juga berjanji akan membantu Amanda bebas dari jeruji besi dan membantu Amanda membalas dendam tapi dengan sebuah syarat.
Apakah Amanda akan menerimanya?
Sekuel dari Hot Mother And The Bos Mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Edward melepaskan jas yang dipakainya saat sudah tiba dirumahnya, pria itu segera menjatuhkan dirinya diatas sofa dan melemparkan jasnya begitu saja.
Saat itu Natalie mendekati Edward dengan segelas minuman ditangannya.
"Mr Jackson, minuman anda." Natalie meletakkan minuman yang dia bawa keatas meja.
Edward hanya diam saja, pria itu tampak sedang melonggarkan dasi yang dipakainya.
Natalie hendak melangkah pergi tapi Edward bertanya padanya sehingga Natalie menghentikan langkahnya.
"Apa Amanda sudah kembali?"
Saat mendengar pertanyaan majikannya, Natalie memutar bola matanya malas. Lagi-lagi mantan napi itu.
"Tentu Mr Jackson, setelah pulang Ms Amanda langsung mengurung diri didalam kamar dan belum keluar sama sekali." jelasnya.
Sebenarnya dia malas membahas wanita yang dibawa oleh Edward tiba-tiba tapi dia harus menjawab pertanyaan majikannya dengan benar.
"Apa dia sudah makan?"
"Maaf tuan, belum!"
Edward langsung bangkit berdiri dan berjalan melewati Natalie, pria itu masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan didalam kamar, tampak Amanda sedang meringkuk diatas ranjang sambil memeluk foto ayahnya.
Setelah kembali dari rumah ayahnya, Amanda hanya bisa menangis memeluki foto ayahnya. Dia jadi teringat saat terakhir kali pertemuannya dengan ayahnya dipengadilan.
Dia tidak pernah menyangka jika itulah pertemukan terakhirnya dengan ayahnya, jika dia tahu mungkin dia akan memeluk ayahnya dan dia sangat menyesal karena tidak melakukan hal itu.
Amanda mengusap air matanya dengan kasar,dia akan membalas perbuatan Zack dan Justin nantinya tapi bagaimana caranya?sedangkan dia sendiri sudah tidak berdaya dan tidak punya apa-apa, bahkan sekarang mungkin dia sudah menjadi mainan Edward Jackson.
Amanda memejamkan matanya, apa dia bunuh diri saja?
Saat itu pintu kamar yang ditempatinya berbunyi, Amanda mendengar suara langkah yang berat berjalan kearahnya. Amanda memejamkan matanya pura-pura tidur, dia tahu siapa yang masuk kedalam kamar itu.
Edward masuk kedalam kamar itu dan melihat Amanda meringkuk diatas ranjang sambil memeluk sebuah foto ditangannya.
Edward berjalan mendekati ranjang dan duduk disisinya, Amanda menahan nafasnya saat tangan Edward merapikan rambutnya yang berantakan.
Dengan cepat Amanda membuka matanya dan duduk diatas ranjang, Amanda meletakkan foto ayahnya disisi ranjang dan menatap kearah Edward sedangkan pria itu menatap dirinya pula dengan tatapan tajamnya.
"Apa kau tidak lelah menangis?" Edward bertanya dengan suara datarnya.
"Ini bukan urusanmu Edward dan biarkan aku sendiri." Amanda menjawab dengan dingin pula.
"Wanita selalu cengeng dan hanya bisa menangis." cibir Edward dengan tajam.
"Apa masalahnya? Apa yang kau tahu!!" teriak Amanda marah.
"Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini jadi apa yang kau tahu!! Aku memang hanya bisa menangis karena aku tidak berdaya!!" air mata Amanda kembali menetes dari kedua matanya.
Apa yang pria itu tahu, dihianiati oleh orang yang begitu dia dicintai, dijual demi sebuah bisnis bahkan dengan gampang pula melemparkan dirinya kedalam penjara.
Tidak hanya itu, dia harus menghadapi ayah yang sangat dia cintai juga telah tiada bahkan semua yang dia punya dirampas begitu saja hingga membuatnya sebatang kara.
Lalu apa yang Edward Jackson tahu?
Amanda mengusap air matanya dengan kasar, pria ini tidak tahu apapun apa yang dia rasakan saat ini.
Tanpa dia duga tiba-tiba saja Edward menarik tangan Amanda dan membawa tubuhnya masuk kedalam pelukannya.
Amanda terbelalak kaget saat Edward mengusap kepalanya dengan lembut.
"Amanda, jika kau ingin menangis maka menangislah sampai kau puas! Sekalipun kau menangis darah ayahmu tidak akan kembali lagi dan apa yang telah kau alami saat ini tidak bisa kau hindari karena waktu tidak bisa kau putar kembali!"
"Setelah ini sebaiknya kau menyimpan air matamu itu untuk tidak menangisi nasibmu yang tidak bisa kau rubah itu!"
Dengan air mata yang masih mengalir dikedua matanya, Amanda mencerna satu persatu perkataan Edward. Berbicara saja memang mudah, tapi apa dia sanggup menjalani hidupnya?
Amanda mengangkat tangannya memeluk Edward dengan erat, dia tidak perduli lagi dan menangis didalam pelukan Edward.
"Apa yang bisa aku lakukan Edward? Aku sudah tidak punya apa-apa lagi dan bisa kau lihat sendiri, aku hanya wanita yang tidak berdaya."katanya dengan lemah.
"Apa kau ingin membalas perbuatan mereka?"
Amanda mengangguk didalam pelukan Edward, tentu dia akan membalas perbuatan Justin dan Zack tapi bagaimana caranya?
Edward melepaskan pelukannya dan memegangi bahu Amanda, dengan pelan Edward menghapus air mata Amanda yang masih terus mengalir dari kedua matanya.
"Jika kau ingin membalas perbuatan mereka maka jadilah seorang Amanda Jhonson yang kuat."
"Bagaimana caranya Edward, bagaimana aku bisa membalas perbuatan Justin dan Zack?"
Edward mendekatkan wajahnya dan berbisik ditelinga Amanda.
"Pikirkanlah mulai sekarang apa yang ingin kau lakukan terhadap mereka berdua, setelah itu kau beritahu aku maka aku akan membantumu menghancurkan mereka."
Amanda memandangi Edward dengan serius begitu juga dengan Edward, tatapan tajamnya tidak lepas dari wajah cantik Amanda.
"Untuk apa kau membantuku Edward?"
"Anggap kau sedang beruntung Amanda."
"Kau tahu aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk membalas kebaikanmu jadi apa yang kau harapkan dariku?"
"Cukup jadi milikku Amanda karena aku hanya menginginkan dirimu."
Edward segera menunduk dan menciumi bibir Amanda, Amanda memejamkan matanya tapi tidak lama kemudian Amanda membuka matanya kembali, didalam matanya terpancar api kebencian dan sekarang dia akan memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk membalas perbuatan Justin dan Zack nantinya.
"Justin, Zack tunggu pembalasanku!" kata Amanda dalam hati.
Amanda mengangkat tangannya dan memeluk leher Edward dengan erat, wanita itu mulai membalas ciuman Edward.
Dia tidak perduli apa yang akan terjadi nantinya tapi yang pasti dia akan membalas perbuatan Justin dan Zack dan pria yang sedang menciuminya dengan buas inilah yang akan membantunya untuk membalas dendamnya.
Setelah dirasa cukup, Edward melepaskan bibirnya dan menatap Amanda dengan tajam, tangannya mengusap wajah Amanda yang bersemu merah dan kembali berbisik ditelinganya.
"Sebaiknya kau segera keluar makan karena aku tidak mau kau mati dirumahku."
Setelah berkata demikian Edward segera bangkit berdiri tapi Amanda langsung menangkap tangannya.
"Edward terima kasih, aku mengandalkanmu sekarang."
"Tidak perlu berterima kasih Amanda, karena pada saatnya nanti kau harus jadi milikku."
Edward segera melangkah pergi meninggalkan Amanda sedangkan Amanda hanya menatap kepergian pria itu dengan heran.
Apa Edward Jackson tertarik pada dirinya? Tapi bagaimana mungkin karena mereka hanya bertemu dua kali?
Pria itu sungguh misterius dan sulit ditebak, Amanda menggelengkan kepalanya, jarinya meraba bibirnya yang masih berdenyut karena ulah Edward.
Dia tidak tahu kenapa Edward menginginkan dirinya tapi buat apa dia perduli, karena hanya pria itu saja yang bisa dia andalkan saat ini.
Amanda segera turun dari ranjang,wanita itu segera melangkah keluar dari kamar itu untuk makan dan dimeja makan tampak Edward melihat kearahnya dengan tatapan dinginnya.
waktu amanda dibawa ke penjara dan disidang, bantu pun tidak