Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
"Dasar mahluk bodoh, kenapa kau rela mengorbankan nyawamu hanya untuk mahluk jahat seperti dia," Garra menarik kerisnya dan bersiap melesatkan kearah sang Buto Ijo
"Aku pastikan kau akan menyusulnya segera!" tukas Garra tersenyum sinis
"Aku pastikan kau akan mendapatkan balasan karena sudah membunuh istriku!!" seru mahluk itu
Garra kembali melompat dan menebaskan kerisnya hingga tubuh mahluk itu terbelah dua.
Garra menyeringai dan meninggalkan mahluk itu.
Tidak lama kemudian potongan tubuh mahluk itu kembali menyatu.
"Kau pikir aku akan mati semudah itu...aku pastikan kau akan mendapatkan balasan setimpal karena telah membunuh istriku yang tercinta," mahluk itu kemudian membawa pergi mayat wanita itu.
Garra kembali ke restoran tempat Tiwi bekerja, namun restoran itu sudah tutup.
"Mungkin besok aku akan datang lagi," lelaki itu kemudian kembali ke rumahnya.
Garra kemudian memeriksa kamar Tiwi yang masih gelap.
"Dia belum pulang rupanya," lelaki itu menjentikkan jarinya hingga lampu kamar itu langsung menyala. Garra tersenyum simpul melihat bucket mawar merah pemberiannya yang masih tersimpan di vas bunga.
"Kau bahkan masih menyimpan bunga ini," Lelaki itu terkejut melihat sebuah selendang yang sangat familiar dengannya.
Ia menarik selendang yang menjulur keluar dari tas Tiwi.
"Selendang ini, apa mungkin dia adalah anak itu!" lelaki itu terperanjat mengingat kejadian dua puluh tahun silam.
"Tidak salah lagi dia pasti bayi malang itu," Garra segera memejamkan matanya mencari keberadaan Tiwi.
"Kenapa anda membawaku ke sini?" tanya Tiwi
"Itu karena kamu sudah membuat putraku terluka, dan kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu atau aku akan melaporkan mu ke polisi," ancam seorang lelaki menghampiri Tiwi
"Memangnya siapa, aku tidak pernah menyakiti siapapun," sahut Tiwi
Lelaki itu kemudian menarik lengan Tiwi dan membawanya menuju ke sebuah kamar dimana seorang terbaring tak sadarkan diri di sana.
"Lihatlah, kau pasti mengenalnya bukan?" tanya Lelaki itu
"Dia Kenan putraku dan dia masih koma setelah tubuhnya menghantam tiang ring basket dua hari lalu. Dan teman-temannya bilang itu karena dia mencoba menyakiti mu. Aku mohon maafkan dia dan tolong kembalikan ia seperti semula," ucap lelaki itu bersimpuh di bawah kaki Tiwi
"Bapak tidak perlu seperti ini, justru aku yang harusnya minta maaf karena sudah membuat putra bapak jadi seperti ini. Sebagai permintaan maaf ku, aku berjanji akan merawat Kenan sampai ia kembali sehat seperti sedia kala," jawab Tiwi
"Terima kasih nak, aku harap kau bisa menyembuhkannya," ujar lelaki itu sumringah
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu bapak, Insya Allah besok aku akan datang untuk merawat Kenan," tukas Tiwi
"Silakan nak, terima kasih sudah mau membantu merawat Kenan," lelaki itu mengantarkan Tiwi hingga ke depan pintu rumahnya.
Gadis itu berjalan menuju halte bus yang jaraknya lumayan jauh.
Sepanjang perjalanan, para hantu mengikuti gadis itu dan sengaja menggodanya.
"Wah gadis bahu Laweyan, kasus. sekali dia pasti akan kesulitan mendapatkan jodoh," bisik sang hantu kuntilanak
"Benar, daripada kau kelamaan jomblo mending Ama ocong tampan aja," timpal sang pocong
"Bagaimana kalau dengan Wowo ganteng aja," cetus sesosok lelaki tampan yang kemudian menghadang jalan Tiwi.
Gadis itu berjalan kesamping mengacuhkan sang Gondoruwo.
"Jangan pura-pura cuek, aku tahu kamu bisa melihat ku, awas jatuh cinta!" celetuk mahluk itu lagi
Tiwi tetap berjalan acuh tanpa menghiraukan mereka.
Tiba-tiba semua mahluk itu seketika menghilang dari hadapan Tiwi ketika melihat sosok Garra berdiri tak jauh darinya.
"Wah ada anak Iblis, kabur!!" seru mereka kemudian menghilang dari hadapan Tiwi.
"Kenapa kau tidak memanggil ku?" tanya Garra mendekati Tiwi
"Bukankah aku sudah bilang padamu jika aku tidak tahu cara memanggilmu, lagipula kau bilang kau tahu apa yang sedang aku rasakan jadi harusnya kau tahu jika aku sedang berada dalam perundungan," sahut Tiwi
"Apakah nama panjang mu Syntia Pratiwi?" tanya Garra
"Benar,"
"Ayah angkat mu adalah Hermawan?"
"Iya,"
"Dan kau memiliki tanda lahir di punggung mu?" tanya Garra lagi
Tiwi segera menyibak rambutnya dan menunjukkan sebuah tanda lahir di punggungnya kepada Garra.
"Apa ini yang kau maksud?" tanya Tiwi
Garra benar-benar tercengang melihat tanda lahir itu.
Dia benar-benar bayi itu,
Lelaki itu tertegun melihat gadis manis di depannya.
Kau adalah manusia pertama yang membuatku tersenyum, kau adalah manusia pertama yang membuatku mengerti arti bahagia dan kau juga Manusia pertama yang membuat ku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Aku berjanji akan selalu melindungi mu dan aku akan datang kapanpun saat kau memanggilku atau kau membutuhkan pertolongan ku.
"Om kenapa??, kenapa kau menangis?" tanya Tiwi
Garra segera menyeka air matanya dan memberikan selendang biru padanya.
"Apa ini milikmu?" tanya Garra
Tiwi mengangguk dan mengambil selendang itu.
"Kata ibu panti selendang ini adalah milik ibuku dan benda inilah satu-satunya yang ia berikan kepadaku agar aku selalu mengingatnya," ucap gadis itu menciumi selendang itu dan kemudian memeluknya.
Itu bukan selendang ibumu, tapi itu milikku, itu adalah selendang dari ibuku,
"Selendang yang indah, aku rasa seseorang khusus memberikan benda itu padamu karena ia sangat menyayangi mu," tukas Garra
"Benar, aku yakin ibu dan ayahku sangat mencintai ku,"
Jangan pernah mendekati anak Manusia yang lahir saat purnama apalagi mencintainya, karena dialah manusia satu-satunya di muka bumi ini yang bisa membunuhmu,
Kata-kata Aku Darno kembali terngiang-ngiang di telinga Garra.
Mana mungkin gadis kecil ini yang akan membunuhku, dia begitu lemah dan tidak memiliki kekuatan, lagipula jika aku tetap diam dan merahasiakan siapa diriku, dia tidak akan membunuhku. Aku juga bisa menjaga perasaanku dan aku tidak akan pernah jatuh cinta dengannya. Aku bisa membunuhnya lebih dulu sebelum dia mencoba membunuhku,
"Kalau gitu kita pulang yuk Om?" ajak Tiwi mengangetkan Garra.
"Tentu," Garra segera berjalan menuju ke sepeda motornya dan Tiwi duduk di belakangnya.
Garra melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dua puluh menit berselang mereka pun tiba di kediaman Garra.
"Selamat datang putraku, apa kabar mu lama tidak bertemu ayah begitu merindukan dirimu," sambut Bramantyo menyambut kedatangan Garra dan Tiwi.
"Ada apa kau datang ke mari!" tanya Garra
"Tentu saja ayah ingin menemui mu putraku," ucap lelaki itu memeluknya
Garra langsung melepaskan pelukan lelaki itu.
"Sudahlah, jangan pernah bersandiwara menjadi ayah yang baik, lebih baik kau pergi dari sini!" hardik Garra
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membantumu lagi, sudah cukup selama ini aku menjadi budak mu dan sudah saatnya aku hidup bebas," ucap Garra
"Ah kau jangan suudzon aku tidak akan memaksamu lagi untuk melakukan pekerjaan yang tidak kau suka lagi putraku. Ayah hanya ingin kau menjadi penerus Bramantyo Group." ucap lelaki itu
Bram menatap tajam kearah Tiwi
"Siapa gadis itu, apa dia calon istrimu?" tanya Bram
"Jangan pernah sentuh dia, atau kau mati!" sahut Garra
"Jangan baper, aku cuma ingin tahu saja apa dia adalah calon menantuku?" tanya Bram dengan senyum sinis