NovelToon NovelToon
Marriage Order

Marriage Order

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: viviani

IG : @authorviviani

Warning!

Kisah ini akan menguras emosi, jiwa, dan raga sampai ke kehidupan nyata.

Aku Sheryl. Kehidupan yang penuh aturan membuatku muak. Bayangkan saja, orang tuaku mengatur seluruh kepentingan yang berkaitan dengan hidupku. Tak terkecuali dalam hal mendapatkan pasangan hidup. Aku tidak bisa memilih. Perjodohan tidak bisa dihindari. Perintah menikah sudah semakin dekat di usiaku yang ke 25 ini. Hingga aku tidak sadar melakukan sebuah kesalahan dan menghancurkan segala mimpi yang sudah terancang dengan indah. Mungkinkah aku memilih masa depanku sendiri atau nyatanya Tuhan malah berkehendak lain?


"Ke mana hatimu akan berlabuh, Sheryl?" –Baruna–


"Mungkinkah Sheryl akan berpaling kepadaku?" –Reynand–

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan

Suara alarm ponsel membangunkanku. Aku membuka mata melihat alarm pukul enam pagi. Aku mematikan alarm dan melihat sebuah pesan dari Kak Baruna. Dia akan menjemputku pagi ini dan aku membalas "iya" tanpa sadar. Oh My God aku baru ingat Fandy juga akan menjemputku. Bagaimana ini?

Aku beranjak dari tempat tidurku, berjalan mondar-mandir tanpa arah dan kebingungan. Berpikir .... Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku menggigit bibirku sendiri khawatir akan ada pertengkaran.

Tok-tok-tok!

Terdengar pintu kamar yang diketuk.

Aku berteriak, "Siapa?"

"Kakak, Dek."

Aku cepat-cepat membuka pintu. Kak Reza berdiri di depanku lalu masuk ke kamarku. Aku masih berjalan mondar-mandir di hadapannya.

"Kamu kenapa mondar-mandir?"

"Aku bingung harus bagaimana."

"Bagaimana apanya?"

"Kedua laki-laki itu akan datang bersamaan."

"Jangan dipersulit! Kakak sih di pihak Baruna." Kak Reza terkekeh.

"Kakak tidak membantu. Cepat keluar dari kamarku." Aku mendorong Kak Reza keluar dari kamar.

Apa aku bawa mobil sendiri saja ya? Tapi nanti terlihat menghindar. Kalau pilih salah satunya bagaimana? Nanti aku dibilang sudah memilih. Tapi memilih atau tidak memilih ternyata aku sudah dipilihkan. Ah ... masa bodoh! Lihat nanti saja.

Aku bergegas masuk kamar mandi. Setengah jam kemudian sudah bersiap berangkat kerja. Aku meraih tasku, berjalan melangkah keluar kamar. Wangi masakan Bi Ati membakar semangatku pagi ini. Mama, Papa, dan Kak Reza sudah menungguku di meja makan. Aku pun ikut bergabung bersama mereka.

"Sheryl, Papa sebenarnya sudah lama ingin bertanya tentang ini. Kamu masih berhubungan dengan si Fandy itu?" Papa tiba-tiba menanyakan hubunganku dan Fandy.

"Iya Pa, masih," jawabku.

"Kamu masih keras kepala saja. Sudahi semuanya. Papa tidak akan pernah merestui kalian," sahut Papa.

"Aku tahu! Papa tidak pernah peduli perasaanku," jawabku pelan.

"Kamu selalu mengedepankan perasaanmu sendiri. Harusnya kamu tahu orang tua itu lebih banyak memakan asam garam kehidupan." Papa menasihatiku geram.

Aku menghabiskan sarapanku tanpa banyak berbicara. Papa mengalihkan wajahnya kesal. Mama pun menengahi perdebatan kami.

"Sudah Pa, Sheryl sudah cukup dewasa untuk memutuskan."

"Keputusannya masih di bawah usia dewasanya Ma. Masih idealis sama kata-kata cintanya yang cinta monyet itu," Kak Reza tertawa menyeringai.

"Kakak keterlaluan!" Aku beranjak dari kursiku dan berjalan cepat meninggalkan mereka.

"Sher! Sher!" Mama memanggilku tapi aku tidak menghiraukannya.

Aku berhenti melangkahkan kakiku saat mataku menangkap dua sosok lelaki yang sedang duduk di teras rumahku. Mereka adalah Kak Baruna dan Fandy yang saling membuang muka masam.

Fandy dan Kak Baruna menyadari kehadiranku. Senyum mereka mengembang seketika saat melihatku. Aku memandang kedua lelaki itu.

"Sher!" panggil Kak Reza yang muncul tiba-tiba. Langkahnya terhenti ketika melihat Kak Baruna dan Fandy.

"Lagi pada ngapain kalian pagi-pagi begini udah absen di rumah gue?" tanya Kak Reza sambil cengar-cengir.

"Jemput Sheryl," jawab Kak Baruna.

"Jemput Sheryl Kak," jawab Fandy.

Tiba-tiba Papa juga muncul, berdiri di belakang Kak Reza.

"Sheryl, sana kamu berangkat dengan Baruna. Papa mau bicara dulu dengan Nak Fandy."

"Tapi Pa ...." Aku memandang Fandy khawatir. Aku tidak ingin meninggalkannya.

"Kamu berani bantah?!" teriak Papa.

Aku menunduk. Aku tidak memiliki keberanian yang besar untuk menentang kata-katanya. Amarah Papa terlihat lebih menyeramkan dari hal lainnya.

"Ayo Sher, kita pergi." Kak Baruna menarik tanganku.

"Tapi Kak ...."

"Sudahlah mungkin Papamu mau bicara serius dengan pacarmu."

Aku berjalan terpaksa mengikuti Kak Baruna. Dia lalu membukakan pintu mobilnya. Aku masuk dan memasang sabuk pengaman. Perlahan air mataku jatuh tidak terbendung. Aku menangis.

Kak Baruna menghidupkan mesin mobilnya. Mobil mulai melaju membelah jalanan ibu kota. Pemandangan kemacetan lalu lintas tidak mampu membuat tangisanku berhenti. Aku masih menunduk menangis tersedu-sedu.

"Bisa diam tidak?" ucap Kak Baruna pelan. Dia masih fokus pada jalan.

Aku tidak memedulikan kata-katanya. Kak Baruna mengemudikan mobilnya perlahan mengikuti arus lalu lintas yang tersendat. Kemudian dia berbelok arah ke arah jalan yang sepi dan menghentikannya di bahu jalan yang juga sepi.

Kak Baruna mencopot sabuk pengamanku dan sabuk pengamannya. Dia memegang bahuku. Mendekatkan wajahnya berhadapan dengan wajahku.

"Sheryl, lihat aku! Tolong kamu berhenti menangis."

Aku mencoba membuka mataku. Masih dengan air mata yang berlinang. Wajahku berhadapan dengan wajahnya. Dia menatap mataku lekat-lekat.

"Sheryl, dengarkan aku! Aku tidak tahu seberapa dalam rasa cintamu padanya. Tapi kamu menangis pun percuma. Papamu itu orang yang sangat berkomitmen dengan ayahku. Tidak ada yang bisa dilakukan. Kalau aku bisa, aku akan mundur sejak dulu dari rencana perjodohan ini. Aku tidak tega melihat kamu menangis. Tapi jauh di lubuk hatiku aku kecewa karena kamu menangisi laki-laki yang tidak memiliki komitmen masa depan denganmu."

"Kakak tidak akan mengerti."

"Kamu pikir aku tidak mengerti apa? Kehidupanmu tidak jauh berbeda dengan hidupku yang penuh aturan. Hanya saja aku menjalaninya dan tidak pernah membantah selama ini. Satu kali, hanya satu kali aku membantah adalah keputusan Kakek semalam. Menggantikan Kakek adalah beban tersendiri buatku."

Aku terdiam seribu bahasa. Aku teringat cerita Tante Meri tentang Kak Baruna yang tidak pernah menyusahkan keluarganya. Aku merasa malu dan tidak tahu harus menjawab apa. Situasi ini bukan hanya aku yang merasakan.

Kak Baruna menyeka air mataku yang jatuh berlinang. Dia memelukku dan menenangkanku. Entah mengapa aku merasa lebih tenang seketika saat berada di dekatnya.

"Aku janji akan terus membahagiakan kamu. Aku akan terus menunggu hatimu terbuka untukku," tambah Kak Baruna lagi.

Aku hanya mengangguk dan mencoba untuk memercayai kata-katanya. Kak Baruna menjalankan kembali mobilnya. Mobil melaju cepat menuju kantorku.

Dua puluh menit kemudian aku sampai di kantorku. Irene menyambutku dengan senyumnya yang semangat. Aku pun membalas senyumnya dengan wajahku yang masih sembab.

"Selamat pagi, Sher. Gimana weekend kemarin? Tuh muka lo kenapa lagi? Lo abis nangis?"

"Pagi Ren. Gue no comment dulu," jawabku.

Aku menghidupkan komputerku kemudian meraih berkas-berkas pekerjaan yang akan kukerjakan hari ini. Irene menoleh padaku seraya tersenyum kecil.

"Jangan nangis terus dong, Sher. Nanti akan indah pada waktunya," ucap Irene.

"Iya Ren terima kasih udah hibur gue," sahutku dengan suara serak.

Irene menepuk bahuku menyemangati. Aku kembali fokus menatap layar komputer hingga tiba-tiba manajer HRD, Pak Burhan memanggilku melalui sambungan telepon.

"Mbak Sheryl, bisa datang ke ruangan saya sebentar."

"Ada apa ya, Pak?"

"Ada hal penting yang mau saya sampaikan."

"Baik Pak, saya segera ke sana."

Ada apa manajer HRD memanggilku? Tidak seperti biasanya. Apa aku melakukan kesalahan?

"Kenapa Sher?"

"Gak tahu Ren. Pak Burhan panggil gue ke ruangannya. Gak biasa-biasanya," jawabku.

"Asik mau naik jabatan nih kayaknya," Irene menggoda.

"Ada-ada aja lo. Masa iya gue gantiin Pak Renaldy. Eh ngomong-ngomong mata gue masih bengkak gak?"

"Udah gak terlalu sih. Enggak apa-apa juga kalo buat ketemu Pak Burhan aja sih."

"Oke Ren. Gue pergi ya." Aku berdiri melangkah ke ruangan Pak Burhan.

Sementara ponselku berbunyi. Sebuah panggilan dari Fandy.

"Sher, Fandy telepon tuh," panggil Irene.

"Udah biarin aja. Nanti gue telepon balik," sahutku.

1
Inayah Riyadi
yang jadi tokoh utama cowo nya Baruna apa Rey sih. sebenar nya
kavena ayunda
kasian bgt lu bar makan aja itu jalang😂😂
kavena ayunda
seril uda kayak.pelacur sana sini mau😂😂 dasar jalang sok.baik
kavena ayunda
murahan
kavena ayunda
g suka bgt temen kayak wildan temen makan temen
kavena ayunda
sok pinter tp.bodoh bgt
syafitri
sebel dengan tingkah sheryl, gak mau sama baruna tpi nggak nolak di ajak fitting baju, klo memang gak mau tolak dengan tegas jangan plinplan
Pandacuan: he em harusnya gitu ya ka, tapi ini Sheryl yg memang begitu
total 1 replies
BlackPurple
wuahhh ending yg indah, triiiiiiiiimakasih novelny, sukses slalu ya smua urusan dilancarkan.....💖💖
Pandacuan: sama2. makasih ka sudah membaca 🥰
total 1 replies
Lutfi Ariyani
ending yg manis ka🤗semoga samawa ya rey-sher.. sebenarnya pengen liat klo Baruna gagal move on lagi,biar Dy tersiksa sama perasaannya#senyum devil😁.. terimakasih ka atas cerita indahnya,semoga bertemu dengan cerita indah lainnya secepatnya 😉
Pandacuan: amiin. waduh kasian donk baruna kalo gagal move on terus nti ceritanya gak selesai2 😄😄😄. ditunggu aja ya cerita lainnya 😉
total 1 replies
kitty
waow dpt berapa bab td..eh tp knpa end, ada extra part nya kah?blom ada reynand junior
Pandacuan: apanya dpt brp bab? ya mmg sudah seharusnya end. terlalu panjang nti bosan.
total 1 replies
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
Aamiin.. rajin2 menanam benih ya Ren ,produksi masal 😬😬
Pandacuan: wkwkwk. amiiin
total 1 replies
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
berat ya Rey
Pandacuan: mikirnya jauh bgt
total 1 replies
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
goll.. goll. goll.. semoga benihnya tumbuh subur ya Rey
Pandacuan: pakai pupuk cinta biar benihnya bagus 🤣
total 1 replies
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
hareudang2
Pandacuan: mandi ka
total 1 replies
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
kenapa grogi sih Rey, td di ballroom pede aja mesra2an
Pandacuan: tetep grogi rasanya bagi dia
total 1 replies
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
lah kan ada juga tuh punya istri tapi belok juga
Pandacuan: oiya bnr 😄
total 1 replies
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
cewek impian lu kayak mana ,Han?
Pandacuan: han sukanya yang pinter 😄
total 1 replies
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
ditunda dulu ya Rey mpnya 😀😀😀😅😅
Pandacuan: malam ke dua 🤣
total 1 replies
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
gapapa Rey, coba dulu di London sebulan duabulan itung2 honeymoon
baru balik lagi ke Indonesia
Pandacuan: rey berpikir keras 🤣
total 1 replies
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
Alhamdulillah semoga kelahiran nya nanti lancar
Pandacuan: amiiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!