Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengajak Adira Jalan
Baru saja Areksa selesai membasuh tangan Adira, seorang ART kembali menghampiri mereka.
“Tuan, maaf. Di depan ada tamu.”
Areksa menoleh. “Siapa, Bi?”
“Dokter Kenzo, Tuan.”
“Oh. Ya sudah, tunggu sebentar, Bi.”
“Baik, Tuan.”
ART itu kembali masuk ke dalam.
Areksa kemudian menoleh kepada Adira. “Kamu di sini saja, Adira.”
Adira mengangguk. “Iya, Tuan.”
Areksa pun meninggalkan taman dan berjalan masuk ke dalam mansion.
Setelah sosoknya menghilang di balik pintu, Adira masih berdiri di tempatnya.
Tangannya perlahan naik ke dada.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Kenapa begini?
Ia menunduk, mencoba mengabaikan perasaan yang sejak tadi muncul.
Tadi Areksa hanya membantunya mencuci luka karena terkena duri. Tidak ada yang istimewa.
Namun perhatian sederhana itu terasa berbeda.
Selama hidupnya, terutama ketika masih bersama mantan suaminya, Adira tidak pernah merasakan jantungnya berdebar hanya karena seseorang memperhatikan luka kecil di jarinya.
Dulu, ia justru terbiasa menahan sakit sendirian.
Tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja.
Tidak ada yang buru-buru menggenggam tangannya ketika ia terluka.
Tidak ada yang membuatnya merasa bahwa luka sekecil apa pun pantas diperhatikan.
Adira mengembuskan napas perlahan.
“Ini cuma karena kaget,” gumamnya kepada diri sendiri.
Ia kembali melihat jarinya yang tadi terluka. Kemudian tanpa sadar, wajah Areksa kembali terlintas dalam pikirannya.
Adira buru-buru menggeleng. “Jangan aneh-aneh, Dira.”
Ia mengingat siapa dirinya. Ia hanya babysitter Aretha.
Dan Areksa adalah suami dari sahabatnya yang telah tiada.
Perasaan apa pun terhadap pria itu seharusnya tidak pernah ada.
Adira menarik napas dalam-dalam, lalu kembali mengambil penyiram tanaman.
Namun baru beberapa langkah, ia kembali menyentuh dadanya.
Denyut itu masih ada. Dan Adira menyadari bahwa mungkin bukan luka kecil di jarinya yang membuat jantungnya berdebar. Melainkan seseorang yang tadi menggenggam tangannya.
***
“Ada apa?” tanya Areksa begitu tiba di ruang tamu.
Kenzo yang sedang duduk santai langsung menoleh. “Ketemu lo, lah.”
Areksa mendecih. “Katakan saja sejujurnya. Nggak usah basa-basi.”
Kenzo tertawa. “Lo emang sobi gue, bro. Belum ngomong banyak aja sudah tau.”
“Jelas. Lo nggak mungkin datang ke rumah cuma buat basa-basi. Biasanya kalau mau ketemu gue, lo ngajak ke kafe atau club.”
Kenzo tertawa malu-malu.
“Nah, benar kan?” Areksa menyeringai.
“Gue memang ada perlu.”
“Apa?”
Kenzo menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Gue mau ngajak Adira jalan.”
“Gak bisa.” Jawaban Areksa keluar begitu cepat hingga Kenzo sampai terdiam sesaat.
“Kenapa?”
“Dia kerja sama gue. Lagian Aretha masih butuh dia untuk menyusuinya.”
“Gue cuma mau pergi sebentar.”
“Adira harus tetap ada di rumah.”
Kenzo menatap Areksa dengan ekspresi penuh arti. “Lo takut banget, sih.”
Areksa mengernyit. “Takut apa?”
“Entahlah.”
Kenzo menahan tawanya. “Lo kayak cemburu.”
“Cemburu?” Areksa mendengus. “Jangan ngaco.”
“Gue cuma bilang kelihatannya begitu.”
“Dia babysitter anak gue, Ken. Wajar kalau gue mempertimbangkan kebutuhan Aretha.”
“Iya, iya. Alasan yang bagus.” Kenzo mengangguk-angguk seolah percaya, meski senyum jahilnya mengatakan sebaliknya.
“Jadi boleh atau nggak?”
Areksa terdiam beberapa saat. Ia sebenarnya bisa saja langsung menolak.
Namun kalau ia terlalu melarang, Kenzo pasti akan semakin curiga.
Akhirnya Areksa menghela napas. “Oke. Lo ajak dia.”
Kenzo langsung tersenyum puas.
“Tapi jangan lama-lama.”
“Siap.”
“Dan itu juga kalau dia mau.”
Kenzo mengangguk. “Gue tanya sendiri.”
Areksa hanya mengangguk. Namun dalam hati, ada harapan kecil yang bahkan enggan ia akui.
Semoga Adira menolak.
Ia sendiri tidak tau kenapa ia berharap demikian.
Bukankah tadi ia sudah mengatakan bahwa dirinya tidak cemburu?
Lantas mengapa membayangkan Adira pergi bersama Kenzo saja sudah membuatnya merasa tidak nyaman?
***
Kenzo berjalan menuju taman belakang, sementara Areksa menyusul beberapa langkah di belakangnya.
Begitu sampai, Kenzo langsung melihat Adira yang sedang berjongkok merapikan tanah di sekitar tanaman.
“Hai, Adira.”
Adira menoleh. “Oh, Dokter?”
Ia segera berdiri dan membungkukkan tubuh sedikit. “Hai.”
“Kamu lagi ngapain?”
Adira menunjuk tanaman di hadapannya. “Lagi mengurus taman ini.”
Kenzo melihat sekeliling. “Loh? Bukannya kamu kerja sebagai babysitter?”
“Iya.”
“Terus kenapa merangkap jadi tukang kebun?”
Kenzo langsung menoleh kepada Areksa yang baru tiba. “Parah banget lo, Rek. Babysitter disuruh ngurus taman juga.”
Areksa memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Dia yang mau.”
Adira buru-buru menyela. “Gapapa, Dok. Saya memang suka merawat tanaman.”
Kenzo kembali menatap Adira. “Oh, hobi?”
“Iya.”
“Pantesan tamannya kelihatan bagus.”
Adira tersenyum. “Terima kasih.”
Kenzo berjalan mendekati salah satu pot. “Kalau aku punya tanaman di rumah, kira-kira bisa hidup nggak?”
Adira tertawa kecil. “Kalau dirawat dengan benar, mungkin bisa.”
“Masalahnya aku nggak tau cara merawatnya.”
“Gampang.”
Adira menunjuk tanaman yang disentuh Kenzo. “Yang ini jangan terlalu sering disiram.”
Kenzo mengangguk serius. “Berarti sama seperti manusia?”
Adira mengerutkan kening. “Maksudnya?”
“Kalau terlalu sering dikasih perhatian, nanti malah mati.”
Adira terdiam sesaat, lalu tertawa. “Dokter bisa saja.”
“Bener, kan?”
“Entahlah. Saya nggak pernah berpikir begitu.”
“Berarti kamu tipe yang suka banyak perhatian?”
Adira langsung menggeleng. “Bukan begitu.”
Kenzo terkekeh. “Wah, saya cuma bercanda.”
Adira ikut tertawa.
Areksa yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang mereka memperhatikan percakapan itu.
Tatapannya sempat jatuh kepada Kenzo yang berhasil membuat Adira tertawa beberapa kali.
Ia kemudian berjalan mendekat. “Ken.”
“Hm?”
“Bukannya lo mau ngomong sesuatu sama Adira?”
“Oh, iya.”
Kenzo menepuk keningnya sendiri. “Gue hampir lupa.”
Ia kembali menghadap Adira. “Adira, sebenarnya saya datang mau ngajak kamu pergi.”
Adira terlihat bingung. “Pergi?”
“Iya. Kebetulan saya lagi nggak ada jadwal sampai sore. Saya mau cari makan sekalian ngopi. Mau ikut?”
Adira melirik Areksa secara refleks.
Tatapan mereka bertemu.
Areksa tidak mengatakan apa-apa.
Kenzo langsung menyadari itu. “Tenang. Sebentar aja.”
Adira tersenyum canggung. “Maaf, Dok. Tapi saya harus—”
“Kalau soal Aretha, saya sudah izin sama papanya.”
Kenzo menunjuk Areksa dengan ibu jarinya. “Dia tadi bilang boleh.”
Adira kembali menatap Areksa. “Benar, Tuan?”
Areksa mengangguk. “Iya. Kalau kamu mau, pergilah.”
Jawabannya terdengar biasa. Namun tangannya yang sejak tadi berada di saku justru menggenggam sedikit lebih erat.
Adira masih ragu. “Aretha bagaimana?”
“Bisa saya yang urus sementara,” jawab Areksa.
Kenzo tersenyum lebar. “Nah, beres kan?”
Adira akhirnya mengangguk kecil. “Kalau begitu... sebentar saja, Dok.”
“Deal!” Kenzo langsung tersenyum puas.
“Siap-siap, ya. Tapi jangan pakai seragam babysitter. Nanti orang-orang mengira saya sedang membawa babysitter anak saya jalan-jalan.”
Adira spontan tertawa. “Memangnya kenapa?”
“Saya belum siap dipanggil bapak-bapak sama orang.”
“Dokter kan memang sudah kelihatan seperti bapak-bapak.”
Kenzo terdiam.
Areksa hampir tersenyum. “Wah,” gumamnya. “Kena lo.”
Kenzo menunjuk Adira. “Saya baru kenal kamu sebentar, tapi ternyata kamu sudah berani mengejek saya.”
Adira tertawa lagi. “Maaf, Dok.”
“Jangan minta maaf. Saya suka.”
Areksa yang mendengar kalimat terakhir langsung menoleh. “Ken.”
“Iya?”
“Jangan banyak omong.”
Kenzo terkekeh. “Cemburu, nih?”
“Jangan mulai.”
Adira yang mendengar itu hanya tersenyum malu.
Sementara Kenzo semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan sahabatnya.
Dan Areksa sendiri mulai menyesal sudah memberikan izin terlalu cepat.
***
Beberapa menit kemudian, Adira keluar dari kamarnya.
Ia sudah berganti pakaian.
Rok sederhana sepanjang betis dipadukan dengan atasan lengan pendek. Rambutnya yang biasanya diikat kini dibiarkan tergerai melewati bahunya.
Tidak ada aksesori berlebihan. Tidak ada riasan mencolok. Sederhana.
Namun justru kesederhanaan itu membuat penampilannya terlihat semakin cantik.
Kenzo yang sedang menunggu di ruang tengah langsung terdiam sesaat. “Wow.”
Adira berhenti. “Kenapa, Dok?”
Kenzo menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Saya cuma baru sadar kalau ternyata seragam babysitter selama ini benar-benar menyembunyikan kecantikan kamu.”
Adira tersenyum tipis. “Dokter bisa saja.”
Areksa yang berdiri tidak jauh dari mereka juga sempat memperhatikan Adira.
Untuk beberapa detik, ia tidak mengatakan apa-apa.
Rambut tergerai itu membuat wajah Adira terlihat berbeda.
Lebih lembut. Lebih natural. Dan entah mengapa, tatapan Areksa tertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
Ia segera mengalihkan pandangan. “Cepat kembali sebelum malam.”
Kenzo langsung menoleh. “Lho, katanya cuma sebentar?”
“Memang.”
Areksa melihat jam tangannya. “Cuma satu jam.”
Adira mengangguk. “Iya, Tuan.”
Kenzo terkekeh. “Siap, Bos. Satu jam kami kembali.”
Areksa menatapnya datar. “Jangan lewat.”
“Siap.”
Adira mengambil tas kecilnya. “Kalau begitu saya pergi dulu, Tuan.”
Areksa mengangguk. “Iya.”
Adira kemudian berjalan bersama Kenzo menuju pintu.
Sebelum keluar, ia sempat menoleh dan tersenyum kecil kepada Areksa.
Areksa membalas dengan anggukan singkat. Namun setelah pintu tertutup, ia masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya tertuju pada pintu yang baru saja dilewati Adira.
Kenapa cuma pergi satu jam saja rasanya seperti lama?
Ia segera menggeleng kecil. “Cuma babysitter,” gumamnya pelan, seolah sedang mengingatkan dirinya sendiri.
🥰🥰🥰🥰🥰🥰