NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Baiklah." Jawaban Rani keluar tanpa ragu sedikit pun, membuat wajah Sintia seketika menegang.

"Karena aku membencimu, berarti aku memang tidak perlu datang ke sini."

Setelah mengatakan itu, Rani langsung memutar tubuhnya. Keingintahuannya mengenai alasan Roy tidak pernah menceraikannya mendadak menguap. Lagi pula, sejak tadi pria itu hanya diam. Dengan Sintia yang terus memainkan peran korban, hasil akhirnya sudah bisa ditebak. Cepat atau lambat, semua pembicaraan pasti akan kembali berpusat pada wanita itu.

"Mama mau ke mana?" seru Aksan saat melihat Rani hendak pergi.

"Pergi."

"Mana bisa begitu? Mama belum minta maaf kepada Tante Sintia!"

Aksan buru-buru berdiri. Arjun dan Arlan ikut bangkit dari kursinya. Ketiganya bergerak mendekati Rani seolah takut wanita itu benar-benar meninggalkan ruangan tersebut.

Melihat situasi itu, mata Sintia langsung berkilat samar. Kesempatan yang ia tunggu akhirnya datang.

"Kalian jangan seperti itu," ucapnya dengan suara lemah. "Kalau memang Kak Rani sangat membenciku, aku yang akan mengalah. Aku bisa meminta kalian menjauh dariku agar Kak Rani tidak marah lagi."

"Tante!" seru Arjun, Arlan, dan Aksan hampir bersamaan.

"Itu tidak mungkin!" bantah Arjun tegas.

"Kami tidak akan menjauhi Tante," tambah Aksan.

Namun Sintia tidak memedulikan mereka. Tatapannya justru diam-diam beralih kepada Roy. Sejak tadi pria itu terlalu tenang. Tidak ada pembelaan, tidak ada kemarahan, bahkan tidak ada reaksi yang biasanya selalu muncul setiap kali dirinya terlihat tersakiti. Perasaan tidak nyaman mulai tumbuh di dalam dada Sintia.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung mencabut selang infus yang menempel di tangannya. Darah segera merembes keluar, membuat ketiga anak itu terkejut.

"Sintia!" Roy sontak berdiri.

Wanita itu turun dari ranjang dan berusaha menghampiri Rani. "Kak Rani, jangan pergi. Kalau memang aku yang salah, aku akan meminta maaf. Aku tidak ingin Kak Rani terus membenciku."

Tubuhnya sengaja dibuat goyah hingga Roy refleks menangkapnya sebelum terjatuh. Melihat darah yang mengalir dari tangan Sintia, wajah Roy langsung mengeras.

"Rani!" bentaknya. "Kenapa kamu selalu membuat Sintia jadi seperti ini?"

Rani yang sudah hampir mencapai pintu akhirnya berhenti. Ia menoleh perlahan, menatap tangan Sintia yang berdarah, lalu beralih kepada Roy yang sedang menopang tubuh wanita itu. Beberapa detik ia hanya diam, kemudian sudut bibirnya terangkat tipis.

"Wow," ujarnya santai. "Jadi sekarang aku bahkan bisa membuat seseorang mencabut infusnya sendiri."

Kalimat itu langsung membuat wajah Roy semakin gelap, sementara Sintia diam-diam menggigit bibirnya karena kesal. Lagi-lagi, Rani tidak bereaksi sesuai yang mereka harapkan.

"Mas, lepaskan aku. Aku tidak apa-apa," ucap Sintia pelan sambil menahan pergelangan tangannya.

Roy yang masih diliputi rasa iba akhirnya mengendurkan cengkeramannya dan membiarkan Sintia berdiri sendiri.

Begitu bebas, Sintia tidak langsung kembali ke ranjang. Sebaliknya, ia justru melangkah perlahan mendekati Rani yang masih berdiri tak jauh dari pintu. Dengan suara yang sangat rendah hingga hanya Rani yang bisa mendengar, ia berbisik, "Kak Rani… kamu benar. Aku memang sedang bermain peran. Dan sepertinya kali ini kamu benar-benar akan sendirian. Tidak ada lagi yang membelamu di sini."

Rani menatapnya datar. "Jadi ini yang kamu mau?"

Sintia tersenyum tipis, kali ini tanpa topeng kelembutan yang biasa ia pakai. "Aku hanya ingin kamu sadar posisi. Tempatmu di sini sudah tidak seperti dulu lagi."

Tangannya lalu meraih lengan Rani, seolah hendak menarik perhatian semua orang. "Kadang, orang yang paling lama tinggal di sebuah rumah justru yang paling mudah digantikan."

Ucapan itu membuat udara di dalam kamar langsung menegang. Rani menatap tangan Sintia yang masih memegang lengannya, lalu perlahan mengangkat wajahnya. Suaranya pelan, nyaris tenang.

"Kamu sudah selesai?"

"Belum," jawab Sintia lirih, tapi cukup untuk memancing perhatian. "Aku hanya ingin semua orang melihat dengan jelas… siapa yang sebenarnya tidak dibutuhkan di sini."

Saat beberapa orang mulai bergerak mendekat, Rani lebih dulu menghela napas pelan. "Kalau begitu, dengan senang hati akan aku bantu."

Dalam satu tarikan cepat, ia melepaskan genggaman itu sekaligus mendorong tubuh Sintia ke belakang.

Brak!

Tubuh Sintia terhuyung keras dan membentur dinding di belakangnya. Suara benturan itu membuat seluruh ruangan langsung membeku.

Sesaat setelah suara benturan itu menggema, seluruh ruangan benar-benar membeku. Bahkan Aksan, Arlan, dan Arjun yang tadi bersuara keras kini terdiam tanpa tahu harus bereaksi seperti apa.

Sintia merosot di lantai, punggungnya masih menempel pada dinding. Wajahnya langsung memucat, bukan hanya karena sakit, tetapi ia tidak percaya jika Rani benar-benar mendorongnya.

"Sin—Sintia!" Roy bergerak cepat ke arahnya. Wajahnya langsung berubah panik ketika melihat wanita itu meringis menahan sakit.

Rani yang masih berdiri di dekat pintu hanya menatap datar, seolah kejadian itu tidak lebih dari sesuatu yang wajar.

"Aku sudah bilang," ucapnya pelan, "jangan menyentuhku dulu."

"Rani!" Roy menoleh tajam ke arahnya, suara yang keluar kali ini jauh lebih dingin dari sebelumnya. "Kamu sudah keterlaluan."

Rani mengangkat alisnya sedikit. "Keterlaluan?"

Ia melirik sekilas ke arah Sintia yang masih duduk bersandar di lantai, lalu kembali menatap Roy. "Dia yang mendekat, dia yang bicara, dia yang memegang tanganku. Tapi aku yang dianggap masalah?"

"Dia sedang terluka!" bentak Roy.

"Lucu," jawab Rani singkat. "Tadi dia juga masih cukup kuat untuk mencabut infus sendiri."

Ucapan itu membuat rahang Roy mengeras. Ia hendak melangkah mendekat, tetapi Sintia lebih dulu menarik lengannya pelan.

"Mas… jangan," suaranya lemah, nyaris berbisik. "Aku tidak ingin Mas bertengkar dengan Kak Rani."

Kalimat itu seperti biasa bekerja. Amarah Roy sedikit mereda, digantikan rasa bersalah yang kembali diarahkan pada Rani.

"Kenapa kamu tidak pernah bisa sedikit saja mengalah?" ucap Roy dengan suara lebih rendah, tapi penuh tekanan.

Rani menatapnya lama. Tidak ada emosi di wajahnya, hanya kelelahan yang terlalu tenang untuk dianggap lemah.

"Jadi mengalah seperti apa yang kamu mau, Roy?" tanyanya pelan.

Kalimat itu terdengar seperti pertanyaan, tapi sudut bibir Rani justru sedikit terangkat—bukan senyum hangat, melainkan sesuatu yang lebih mirip ejekan halus, seolah ia sedang menertawakan cara berpikir Roy tanpa perlu mengucapkannya.

Beberapa detik kemudian, Rani mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Gerakannya tenang, terukur, seakan semua ini sudah berada dalam kendalinya sejak awal.

"Dengarkan ini baik-baik, maka kamu akan tahu wanita seperti apa dia," ucapnya datar.

Seketika itu juga, wajah Sintia menegang.

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!