DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simbol jahanam
##BAB 14 - Simbol Jahanam
Di ambang pintu rumah kayu yang reyot itu, Mbah Cahyo hanya berdiri mematung sembari menyunggingkan sebuah senyuman licik yang teramat dingin. Sepasang matanya yang mengerikan menatap lurus ke arah kepulan asap knalpot motor Rahmat yang perlahan mulai menjauh dan menghilang di balik rimbunnya pepohonan hutan fajar. Sang dukun tertawa lirih, meremehkan kebodohan luar biasa dari anak muda itu yang sama sekali tidak menyadari badai jahanam yang sedang mengintai hidupnya.
Sebenarnya, simbol-simbol kutukan itu sudah dipaparkan dengan sangat jelas oleh Mbah Cahyo, hanya saja mata lahir dan mata batin Rahmat telah tertutup rapat oleh kilauan harta duniawi.
Seekor ayam cemani hitam legam yang dibawa Rahmat hari ini, sebenarnya adalah simbol mutlak dari janin masa depan. Kelak, anak yang akan dikandung oleh Ratna tidak akan pernah menjadi milik mereka, melainkan sah menjadi milik sang penguasa kegelapan hutan fajar sekaligus menjadi tumbal pemuas untuk menambah kesaktian ilmu hitam milik Simbah sendiri.
Sementara itu, bungkusan uang tunai puluhan juta yang diserahkan Rahmat, adalah simbolis dari penyerahan jiwa sang istri seutuhnya. Tanpa sadar, Rahmat telah menjual raga wanita yang paling mencintainya untuk menjadi wadah gaib, tempat di mana makhluk mengerikan itu akan bersarang setiap kali malam pasaran Kliwon tiba.
Kutukan itu akan mencapai puncaknya khususnya pada pasaran malam Jumat Kliwon. Pada malam terkutuk tersebut, jiwa Ratna akan ditarik paksa ke alam gaib, dan raganya akan dirasuki seutuhnya oleh sosok makhluk hitam yang pertama kali bersetubuh dengannya di dalam kios gelap berbau anyir minyak sisa dagangan itu.
Jauh di dalam kegelapan sudut rumah kayu milik Mbah Cahyo, samar-samar terlihat tumpukan tulang belulang yang berserakan kaku dan berdebu. Pemandangan mengerikan yang sempat luput dari pandangan mata Rahmat itu menyimpan sebuah rahasia kelam yang teramat sadis.
Tumpukan tulang belulang itu bukanlah korban pesugihan biasa. Mereka adalah raga dari orang-orang terdahulu yang mencoba berbalik arah dan memutuskan janji gaib di tengah jalan. Orang-orang yang mendadak disergap rasa bersalah, merasa harta kekayaan mereka sudah lebih dari cukup, dan berniat untuk kembali menempuh jalan yang benar serta bertobat. Namun sayang, perjanjian dengan penguasa hutan fajar tidak mengenal kata berhenti; setiap langkah tobat yang mereka ambil justru berakhir dengan renggutan jiwa yang tragis, menyisakan kerangka tak bernama di sudut rumah sang dukun.
Sementara itu, di bawah terik siang yang menyengat, Rahmat memacu sepeda motornya secepat mungkin membelah jalanan. Jantungnya masih berdebar kencang, bertalu-talu di dalam dada dengan ritme yang memburu. Wajahnya terasa panas membara, bukan karena sengatan sinar matahari, melainkan karena gejolak rasa bersalah dan ketakutan hebat yang kini menyelimuti seluruh hatinya. Ia masih teringat jelas bagaimana tatapan mata tajam Mbah Cahyo menghujam dirinya di depan altar tadi.
Sensasi mengerikan itu membuat Rahmat merasa seolah-olah sepasang mata sang dukun masih menempel erat di punggungnya, mengawasi setiap gerak-geriknya meskipun ia sudah berkendara jauh meninggalkan area hutan fajar.
Sesampainya di kios bakso miliknya, Rahmat langsung disambut oleh pemandangan yang kontras. Ia melihat Ratna yang tampak lelah luar biasa. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh istrinya yang pucat, namun wanita setia itu tetap berusaha mengulas senyum tulus saat melihat suaminya akhirnya datang kembali.
"Mas... kenapa lama sekali? Tadi kios ramai sekali, Ibu hampir saja tidak sanggup melayani barisan pembeli sendirian," keluh Ratna pelan sembari menyeka peluh di dahinya, namun sama sekali tidak ada nada marah yang tersirat dari ucapannya.
"Maaf, Bu. Jalannya macet sekali di depan tadi, dan Simbah juga sempat tidak ada di rumah jadi Mas harus menunggu lama. Tapi sekarang urusannya sudah selesai semua, kok," jawab Rahmat singkat.
Pria itu buru-buru memalingkan wajah, sama sekali tidak berani menatap sepasang mata istrinya terlalu lama karena didera rasa bersalah yang teramat dalam. Tanpa sadar, ia baru saja menyerahkan jiwa wanita di depannya ini kepada iblis.
"Ibu tenang saja, besok atau lusa kita akan merekrut beberapa karyawan baru untuk bantu-bantu di sini. Biar Ibu tidak capek dan kewalahan lagi seperti ini," lanjut Rahmat mencoba mengalihkan pembicaraan, sambil mengempaskan tubuhnya duduk di atas salah satu bangku kosong yang ada di dalam kios.
Tanpa harus diperintah lagi, melihat suaminya yang tampak sangat kepayahan, Ratna langsung melangkah cepat ke belakang. Wanita itu mengambilkan segelas air putih dingin, lalu bergegas memberikannya kepada sang suami yang tampak begitu kelelahan.
"Makasih, Bu," ujar Rahmat dengan suara parau sambil menerima gelas berisi air dingin yang disuguhkan oleh istrinya.
Ia langsung meneguk air itu dengan cepat, mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa kering kerontang. Namun, bukannya merasa segar, keringat dingin justru semakin deras bercucuran di sekujur tubuh Rahmat. Padahal, jika ia melihat ke luar, posisi matahari sore kini sudah sedikit meredup dan hawa udara luar tidak terlalu panas. Ganjilnya, deru angin tiba-tiba berembus semakin kencang di sekitar mereka.
Rasa gundah Rahmat kian memuncak saat ia menyadari satu keanehan luar biasa: pusaran angin kencang bercampur debu itu hanya berputar-putar di area kios bakso miliknya saja, seolah-olah ada benteng gaib yang tengah mengurung tempat tersebut.
Mencoba menepis rasa takut dan menyembunyikan segala keganjilan yang mulai merayap di indranya, Rahmat kembali membuka suara.
"Bu... masih banyak baksonya?" tanya Rahmat, berpura-pura mengontrol kondisi dagangan.
Ratna menoleh ke arah suaminya lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Namun, tepat pada detik itu, jantung Rahmat seakan berhenti berdetak. Selama sekelebat mata, Rahmat melihat bahwa sosok yang duduk di depannya itu bukanlah istrinya, melainkan makhluk lain dengan rupa wajah yang teramat rusak, hitam, dan mengerikan.
Sontak Rahmat memejamkan mata erat-erat dan langsung mengucek-ngucek kedua matanya dengan kasar. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya sedang kelelahan dan salah melihat akibat perjalanan jauh dari hutan fajar. Ketika ia membuka matanya kembali, rupa mengerikan itu lenyap, berganti menjadi wajah letih Ratna yang biasa.
"Sedikit lagi, Mas... tinggal beberapa mangkok saja," sahut Ratna dengan nada lembut yang terdengar letih, sambil perlahan mendudukkan tubuhnya di samping sang suami.
Ratna menjeda kalimatnya sesaat. Wanita itu mengambil napas panjang, mencoba mengusir rasa penat yang menggelayuti pundaknya setelah seharian berdiri di depan dandang panas.
"Mas sekarang istirahat saja dulu di dalam rumah, biar Ibu saja yang jaga kiosnya. Lagian baksonya tinggal beberapa mangkok saja, kok. Sebentar lagi juga pasti habis dan kita bisa langsung tutup," lanjut Ratna lembut.
Tangannya yang terasa hangat perlahan bergerak mengelus lembut bahu suaminya, mencoba menyalurkan rasa tenang karena ia melihat tubuh Rahmat masih saja kelihatan sangat kaku dan tegang sejak pulang tadi. Ratna sama sekali tidak tahu, bahwa ketegangan suaminya itu bersumber dari dosa besar yang baru saja ia gadaikan di hutan fajar.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁