♥️♥️♥️
Perjodohan diusia muda? Yakin berjalan lancar? Usia yang masih labil, tanggung jawab besar, bisakah? Mampukah?.
Akan jadi apa pernikahan tanpa adanya ilmu pengetahuan yang cukup? Mental yang bahkan masih perlu bimbingan orang tua, apa keputusan orang tua mereka sudah benar untuk masa depan anak-anak nanti? Entahlah, semoga aja semuanya baik-baik saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SP_Daffotta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XII
...Selamat membaca...
.......
.......
.......
Ujian akhir semester tiba, semua pelajar merasa gugup takut tidak bisa menjawab soal, begitu pula dengan 6 sahabat yang kini sibuk dengan buku ditangan masing-masing.
2 minggu ini, 6 sahabat itu tidak bertegur sapa, mereka tidak bertengkar, tapi sekarang, 6 sahabat itu terbagi menjadi 2 kubu, kubu cewek dan cowok, karena kecanggungan tentang perjodohan, kubu cewek agak menghindari kubu cowok. Saat mereka duduk berang sebelum ujian ini berlangsung, mereka saling diam, saling melirik saja tidak.
Hari ini ujian pertama, tempat duduk mereka diacak sesuai dengan nomor urut absen.
Tentang keputusan itu, para orang tua memundurkan jadwalnya sampai mereka selesai ujian, sungguh pengertian sekali, tapi tetap saja jantung rasanya mau copot, debarannya lebih kuat dari pada yang gugup takut ngga bisa jawab soal.
‘Lancarkan ujian kami ya Tuhan, dan semoga keputusan yang akan kami jalani ini benar,' 6 sahabat berdoa dengan kalimat yang sama dalam hati.
“Tumben kamu buka buku Raf?” Restu, teman sebangku Rafka bertanya heran.
“Lagi dapat angin segar dari barat, udah diem!” dengan ketus Rafka menjawab, Restu terkekeh kecil mendengar ucapan Rafka.
“Nanti kalau aku ngga bisa, tolongin ya,” ada udang dibalik bakwan ternyata, Restu nyengir tanpa malu pada Rafka.
“Iya, kalau aku ngga mendadak budek,” cuek Rafka.
“Duh, pelitnya,” Restu tersenyum masam.
Ujian dimulai, semua murid tampak dengan fokus mengerjakan soal demi soal, tak ada kebisingan, semuanya sangat tenang, mata pengawas begitu tajam dan teliti menatap seisi kelas, hari ini ada 2 mata pelajaran yang diujikan.
“Ya Tuhan, gini amat sih soalnya, perasaan aku selalu hadir di setiap mata pelajaran, tapi kok jauh banget sama yang dipelajari? Apa aku ketiduran dikelas pas guru nerangin materi? Ya Tuhan, bantu aku,” Abdiel dibangkunya menggerutu pelan.
“Mau aku bantuin?” Berliana, teman sebangku Abdiel menawarkan bantuan.
“Engga, makasih, udah kerjain punyamu sendiri aja,” Abdiel menolak dengan senyum konyolnya, dia tau, meminta jawaban gadis disampingnya ini bukanlah solusi, karena dia sendiri asal conteng dilembar jawabannya, kenapa Abdiel bisa tau? Karena Abdiel lihat sendiri, dia udah ngintip jawaban si Berliana tadi.
‘Tring ... tring ... tring ... .’
Ujian telah selesai, 2 mata pelajaran terselesaikan dengan kepala pusing.
“Kenapa hari pertama harus Matematika sih?! Bikin mata kunang-kunang aja lihat soalnya,” Abdiel menggerutu dengan suara kencang sambil meregangkan tubuhnya.
“Matematika, ilmu yang menyenangkan~,” Rafka bernyanyi sambil menepuk pundak Abdiel.
“Ngga sama sekali! Bikin pusing! Dah ayo pulang!” Abdiel menepis tangan Rafka dan berjalan mendahului 2 sahabatnya itu.
Mereka bertiga berjalan ke arah parkiran kendaraan sambil berbincang, saat sudah sampai di parkiran, mereka tiba-tiba berhenti berjalan, mata mereka tertuju pada gerbang sekolah.
“Udah hampir 2 minggu sejak kita tau kalau kita dijodohin satu sama lain, mereka bertiga ngga nyapa kita, sadar ngga sih kalian?” Abdiel bertanya tanpa menatap sahabatnya.
“Sadar kok, sadar banget malah,” Rafka menjawab, matanya masih fokus menatap Zarine, Akifa, dan Alfi.
3 gadis itu sedang berdiri di dekat gerbang menunggu supir yang akan menjemput mereka.
“Mereka butuh waktu, sama kayak kita, lagian, kita juga ngga ngajak mereka ngomong, mungkin lebih baik diem kayak gini untuk sementara waktu,” Abhi berbicara panjang mengutarakan isi hatinya.
“Setelah ujian selesai, kita semua akan menyampaikan keputusan yang dijanjikan, jadi ya, lebih baik kayaknya diem-dieman aja dulu,” Rafka mengingatkan tentang keputusan mereka setelah ujian selesai nanti.
“Tuhan pasti tau yang mana yang terbaik untuk kita, dah ayo pulang,” Abhi berlalu pergi dulu, mengambil sepeda goesnya dan pulang ke rumah.
3 gadis tadi juga sudah dijemput dengan supirnya masing-masing.
Hari yang sangat melelahkan untuk pikiran 3 pemuda tampan tersebut.
Di suatu tempat yang jauh dari negara I, seorang pria paruh baya sedang asik melihat pemandangan kota negara A.
“Kamu harus bantu Papa!” pria paruh baya itu memberi perintah pada anaknya.
“Aku tidak mau membantu apapun! Sudah cukup aku tunduk selama ini, orang-orang itu urusan Papa, aku mau hidup damai, aku ngga mau terlibat apa pun!” sang anak menolak perintah.
Wajahnya tampak merah padam menandakan bahwa pemuda itu marah.
“Jangan lupa son, Your mother is still undergoing therapy, kamu masih butuh Papa, hanya dengan sekali perintah, Papa bisa meminta para perawat itu menghentikan segalanya, membiarkan wanita tidak berguna itu terus dalam kegila*an tanpa ujung atau bahkan bisa saja ma-.”
‘Brak!’ belum sempat sang Papa menyelesaikan kalimatnya, sang anak pergi sambil membanting pintu.
“Setidaknya, kalau Ibunya tidak dapat kumanfaatkan, anaknya masih bisa kubentuk menjadi boneka yang kuinginkan dengan sempurna, yang belum selesai harus diselesaikan, tunggu saja Adib, kamu harus membayarnya!” raut dendam tercetak jelas pada pria paruh baya itu.
Apa hubungannya pria itu dengan Ayah Adib? Ini maksudnya Ayahnya si Zarine sama Rafa, ‘kan? Atau ada Adib yang lain? Ada apa ini? Siapa pria paruh baya dan pemuda itu?.
.......
.......
.......
Bersambung ...
Lope you pull guys♥️
...Terima kasih guys🌹...
Ayo baca ulang karyaku, ada perubahan yang agak besar loh, in syaa Allah alurnya aku ubah biar tambah cantik😚
Love you all😚