Waktu terus berputar, layaknya takdir sang pencipta. Cakra Penggilingan selalu merekam keadaan. Waktu akan menjadi perekam setiap peristiwa, yang akan selalu menjadi saksi dari panggung sandiwara yang dimiliki setiap mahluk.
Ada peran wajar apa adanya, ada peran berpura-pura penuh intrik dan manipulatif selayaknya Kahanan yang ditetapkan sang Pencipta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopral234_TH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 14 - EXOTIKA NEGERI PANTAI
Hembusan semilir membelai pepohonan, rimbun daun-daunnya pun mengelinjang dan meronta seirama cumbuan angin. Berbagai tumbuhan subur tertanam di atas tanah yang memerah.
Pohon-pohon kelapa berjajar rapi di sepanjang jalan Negeri Pantai yang dikenal sebagai kepingan Nirwana yang jatuh ke bumi.
Ombak berlari berkejaran silih berganti berkeringat dengan buih-buih menyentuh bibir pantai nan asri.
Hangatnya mentari menyapa seiring nyanyian burung-burung liar memadu kasih.
Benar-benar pemandangan yang memanjakan mata.
Persawahan berteras-teras terbentang rapi seolah liukan naga terhampar menguning dengan gerombolan burung pipit hinggap di antara batang-batang padi.
'SUBAK' demikian masyarakat Negeri Pantai menyebutnya. Dengan tehnologi pertanian yang terlihat maju, aliran air dari lembah menaiki ngarai yang digunakan para petani untuk mengairi persawahan mereka.
Perahu Badik yang disebut jukung digunakan para nelayan Negeri Pantai.
Ya, sebuah Negeri yang damai dan indah dengan kekayaan alam dan keramahan masyarakatnya sehingga banyak pelancong datang dari penjuru berbagai benua hidup dan tinggal disana.
Selain keindahan alamnya, Negeri Pantai dikenal dengan adat budayanya yang unik. Ritual-ritual keagamaan dipadukan dengan kearifan lokal sehingga tercipta harmoni yang saling mengisi dan melengkapi mengesankan ciri khas tersendiri yang tak dapat ditemui di negeri manapun.
Tatanan kehidupan sosial masyarakatnya di bedakan menjadi empat tingkatan yaitu Brahmana, Kesatria, Waisya dan Sudra. Keempat golongan ini saling mengisi dan melengkapi.
Brahmana adalah kasta atau golongan para Resi dan pemangku agama dengan gelar Ida Bagus bagi pria dan Ida Ayu bagi wanita, sedangkan Ida Pedanda adalah sebutan bagi seorang Resi yang dijadikan panutan dan tokoh utama keagamaan serta Griya adalah rumah yang ditempati oleh para Brahmana.
Kesatria adalah kasta bagi para pemimpin yang biasanya digunakan oleh orang-orang atau tokoh-tokoh pemerintahan dengan gelar I Gusti, Cokorda, Anak Agung bagi para pria dan I Gusti Ayu, Cokorda Estri, Anak Agung Estri bagi para wanita. Mereka menenpati rumah yang disebut Puri dengan panjak-panjak atau abdinya.
Waisya adalah kasta menengah dari golongan saudagar, pedagang dan pebisnis yang mengatur roda perekonomian dibawah arahan kaum Kesatria. Ngakan, Dewa, Sang adalah sebutan bagi para lelaki dan Dewa ayu ataupun Desak Ayu adalah sebutan bagi kaum wanita dan menempati rumah yang disebut Jero.
Sudra adalah kasta terbawah yang terdiri dari kaum pekerja, buruh, tani, nelayan dengan penyebutan nama 'I' bagi pria dan 'Ni' bagi wanita yang terdiri dari urutan Wayan atau Putu bagi anak pertama, Made atau Kadek bagi anak kedua, Nyoman Atau Komang bagi anak ketiga dan Ketut bagi anak keempat dan ada tambahan kata 'BALIK' pada awal penyebutan bagi urutan kelima dan seterusnya.
Bagi praktisi spiritual ataupun dukun pengobatan Negeri Pantai disebut Balian yang biasa di panggil Jero Balian.
Anggota masyarakat asli Negeri Pantai disebut Krama Adat dan anggota masyarakat pendatang disebut Krama Tamu.
Sedangkan kuil peribadatan Negeri pantai di bagi menjadi beberpa bagian atara lain Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dalem.
Pura Puseh dan Pura Desa berada di tengah-tengah komunitas masyarakat itu sendiri dengan berbagai perayaan upacara keagaaman sesuai dengan penanggalan saka dan hari-hari tertentu, Sedangkan Pura Dalem yang hampir mirip dengan pura-pura sebelumnya lebih bersifat khusus untuk ritual-ritual kematian seperti acara pemakaman, kremasi atau dikenal dengan nama Pengabenan. Letak Pura Dalem itu sendiri berada di pinggiran desa atau pinggiran pemukiman masyarakat yang disebelahnya ada tanah lapang tempat mengubur jenazah atau disebut juga Setra.
Pada setiap keluarga ada persembahyangan tersendiri pula yang disebut Pura Ibu yang di empon atau dirawat oleh anggota trah keluarga itu sendiri dan bisa disebut pula Pura Kawitan. Sedangkan pura kecil yang dipakai setiap rumah para penduduk Negeri Pantai disebut Sanggah atau Merajan yang terletak antara posisi tenggara sesuai dengan kiblatnya yaitu Gunung Tohlangkir.
Kegiatan sosial kemasyarakatan Negeri Pantai juga memiliki ritual Pitra Yadna dan Munusia Yadna.
Pitra Yadna adalah ritual atau upacara kematian, Manusia Yadna adalah ritual perkawinan dan Jatakarma Samkara adalah ritual kelahiran.
Hari raya keagamaan Negeri Pantai terdiri dari Hari Raya nyepi, Hari Raya galungan dan Hari Raya kuningan. sedangkan setiap malam bulan purnama dan bulan tua atau tak ada bulan disebut upacara Purnama Tilem.
Sekelumit tentang topografi dan tatanan sosial Negeri Pantai yang banyak mengundang kekaguman negeri-negeri lain dan kebanggaan Negeri Zamrud sebagai pusat Koloni pemerintahan dimana Negeri Pantai sendiri ada didalamnya.
*******
Di chapter ini sengaja penulis menjelaskan sekelumit tentang tatanan sosial adat istiadat dan keseharian untuk mempermudah di chapter-chapter berikutnya bagi para pembaca.
Terimakasih atas dukungan para sahabat dan pembaca budiman, tulisani ni masih jauh dari kata bagus karena sejujurnya penulis bukanlah seorang sastrawan namun hanya reader yang ketiban pulung ikut-ikutan nulis. Dan khusus utk para sahabat penulis mohon maaf jika selama ini dalam tutur bahasa dan tulisan menyakiti ataupun menyinggung kalian karena tak ada gading yang tak retak kecuali gisel dan gading martin 😀.. Buah duku buah kedondong...maafkan daku dong..Salam
dan itu cincin peninggalan ayah mu buang ke laut aja. suruh bu dhe habsari mu nyelem kalau mau cincin nya. ambil ambil deh itu harta. padahal mah ga tau beneran ada apa ga itu harta. kok ya pada giblik percaya ma dongeng sampe bacok bacokan.
jujur saja aku agak kecewa dengan ending yang terkesan dipaksakan. jadinya seperti sinetron ikan terbang. 😄😄
aku pikir sebenarnya inti dari novel ini adalah masalah kotak giok hujan dan batu sulaiman madu yang aku sendiri bingung itu benda manfaatnya apa sih sampai jadi rebutan dan bantai bantai an begitu. tapi malah konsen utama ke hubungan rumit penuh keegoisan antara ibbin, disya, dan wati
kenapa terlalu menjaga sesuatu yang tidak jelas manfaatnya. dan dulu juga diberikan oleh orang lewat yang tidak jelas asal usulnya pula?
juga para leluhur yang nyuruh untuk jaga .. jaga .. tapi ga ngasih penjelasan sama sekali kenapa harus dijaga? kenapa kalau jatuh ke tangan yang salah bisa jadi mala petaka? kan pada akhirnya menyesatkan para ahli warisnya dengan "dongeng" yang tidak jelas benar tidaknya.
dia merasa berjuang sendirian karena muhibbin karakternya mudah terombang ambing dan cenderung lemah dalam mengambil keputusan.
agak aneh kalau hanya berdasarkan surat perjanjian saja. kan harus ada surat persetujuan penguasa setempat juga supaya tidak dianggap illegal.
bisa diusut kan kebenarannya ke lembaga hukum setempat karena seharusnya lembaga negara punya salinan resminya.
hadehhh 😄😄
trus suruh muhibbin mengeruk harta nya bendowo. main cantik tanpa mengotori tangan sendiri. 😄😄
kok sempat sempatnya ngikutin muhibbin?
"takdir adalah akumulasi dari setiap keputusan yang kita ambil."
bukan berarti karena muhibbin ini anak penurut dan legowo terus dijadikan tumpuan terus menerus. dia juga kan butuh merangkai masa depannya sendiri.
geram juga aku tu sama keluarganya muhibbin. tidak ada kerjasama yang baik untuk menanggung "beban" bersama.
sikapnya seolah peduli sama orang lain padahal yang dipedulikan itu sebenarnya dirinya sendir.