Dia datang untuk menemui saudara kembarnya tapi kenyataan pahit harus dia terima, saudara kembarnya sudah meninggal dua hari sebelum bertemu dengannya.
Lila meninggal karena kecelakaan, mobil yang dia kendarai masuk ke dalam jurang.
Luna hadir ke dalam keluarga tersebut, dan menyamar menjadi seorang pembantu, dan dia menemukan fakta bahwa saudara kembarnya meninggal tidak wajar. Ada sekelompok orang yang sengaja ingin melenyapkan nya.
Luna marah dan bersiap untuk balas dendam, satu persatu informasi dia dapat dan perlahan dia memberikan hukuman kepada para penjahat tersebut.
Bagaimana Luna membalas mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lila palsu
15 menit kedua kemudian Luna keluar dengan menggunakan pakaian rapi pakaian yang diberikan oleh Miranda tadi.
Gadis itu terlihat sangat cantik, dengan rambut tergerai indah.
"Maaf nyonya, saya rasa saya tidak cocok pakai baju ini. Saya merasa tidak pantas memakainya,"
"Tidak masalah, ayo ikut aku!" ucapnya berjalan menaiki tangga.
"Mengapa dia sangat mirip dengan Lila, aku sampai tak bisa percaya jika itu bukan Lila, semoga saja si tua itu terbangun melihat anaknya ini, hehehe..." ucapnya dalam hati.
'ke mana dia akan membawa ku? apakah aku akan menemui Pak Surya?
"Aku.. aku akan bertemu papa?" tanyanya dalam hati.
Entah mengapa darahnya berdesir, jantungnya berpacu, dan jangan tanya gimana perasaan saat ini, "A...aku akan melihat wajah pria yang telah mewariskan gennya kepadaku, darahnya mengalir dalam aliran darahku?" ucap Luna di dalam hatinya.
"Kok malah bengong?" tanya Miranda dari atas, melihat Luna masih berdiri di tempatnya sambil melamun.
"Eh iya," sahut Luna. Gadis itu langsung melangkah menaiki tangga,
Tak bisa dia pungkiri bahwa ada getaran hebat di dalam dadanya, darahnya mengalir dengan deras dan semakin bergemuruh, detak jantungnya terus memompa dengan begitu kencang dan tak lagi berirama. Luna tak lagi mampu mengendalikan hati dan pikirannya saat langkah nya semakin dekat.
Mereka berhenti tepat di depan sebuah ruangan dengan pintu kayu yang terukir dan sangat cantik.
Miranda mengeluarkan kunci dari sakunya kemudian membukanya dan mengajak Luna untuk masuk dan duduk di dalam.
"Duduk dan tunggulah di sini," perintah Miranda,
Luna menurut, dia duduk dan terus memperhatikan sekitarnya. ruangan ini tidak begitu besar, ada lemari yang penuh dengan buku di dalamnya, lalu ada sebuah meja lengkap dengan kursi kebesarannya. 'Ini pasti ruang kerja," ucap Luna di dalam hatinya.
"Dengar sebentar lagi pengacara akan datang, dan kau harus berpura-pura menjadi lila."
"Lila? siapa Lila nyonya?"
"Oh ya aku lupa, Lila adalah anak dari suamiku, dan kemaren dia kecelakaan, namun mayatnya belum di temukan."
"Tapi itu tidak penting, aku mau kamu berpura-pura jadi Lila dan tanda tangani ini." ucap Miranda.
"Licik sekali dia, aku disuruh memalsukan tanda tangan adikku sendiri tidak aku tidak mau. Dia ingin menguasai seluruh harta kekayaan Papa, aku tidak akan membiarkannya, dia pikir dirinya pintar, aku jauh lebih pintar darinya, kita lihat saja nanti." ucap Luna di dalam hatinya.
"A..apa yang harus saya lakukan nyonya?" tanya gadis itu berpura-pura bodoh.
"Aku akan mengatur semuanya, kau hanya perlu membubuhkan tanda tanganmu dan nanti aku akan mendokumentasi kan nya seolah -olah itu sudah lama terjadi."
"Tanda tangan? tapi saya nggak bisa.."
"Ini, lihat ini coba kau tiru, usahakan semirip mungkin."
"Baik nyonya," jawab Luna
"Bagus, tunggu disini."
Miranda pergi meninggalkan Luna,
'Dasar wanita licik, dia Ingin memanfaatkan aku, tapi aku tidak bodoh.' batinnya.
Luna langsung mengambil ponselnya dan meletakkan di sebuah tempat tersembunyi, Luna akan merekam apa yang terjadi di ruangan ini.
Tak lama kemudian Miranda kembali, "Apa susah bisa?" tanya Miranda melihat kertas di dpqan Luna, gadis itu langsung saja mencoretnya,
"Maaf nyonya tapi sangat susah menirukannya, apalagi saya tidak sekolah, Maaf."
"Ulang terus sampai bisa, saya akan kembali lagi nanti, tapi ingat harus bisa!" tegasnya
Luna kembali berpura-pura berusaha meniru tanda tangan lila. Dan Miranda kembali keluar entah kemana.
Luna bergerak cepat mencari surat wasiat yang di buat oleh Papanya, dia ingin mengamankan surat tersebut. Tidak ada dan gadis itu kembali duduk di tempat semula.
Benar saja tak lama kemudian wanita itu kembali bersama seorang pria. Pria tua, gendut dan sedikit botak.
"Ini dia, mirip bukan?" ucap Miranda menunjuk Luna.
"Kau benar, dimana kau menemukan nya?"
"Dia dikirim oleh biro pelayanan ART,"
"Apa gadis ini aman?"
"Kau tenang saja, aku sudah menyelidiki siapa dia, dia hanyalah gadis kampung yang lugu."
"Baguslah, sudah ayo kita mulai."
Pengacara bernama Hendro itu membuka tasnya dan mengeluarkan berkas pengalihan nama perusahaan Surya Atmaja kepada Miranda.
"Selamat pagi, sudah lama menunggu?" tanya Hendro sedikit mencoba untuk mendekati Luna.
"Eh tidak tuan," sahut Luna pelan dan menunduk hormat.
'Gadis ini cantik juga, lihatlah kulitnya putih kencang berbeda dengan Miranda," batin pria tua itu,
'Dasar bandot tua, lihatlah tatapan matanya, ingin sekali Aku mencongkel biji matanya itu.' batin Luna geram.
"Luna,"
"Ya nyonya,"
"Coba, kau tanda tangani ini!" Miranda memberikan berkas tersebut kehadapan Luna,
"Saya Bu?" jawab Luna dengan wajah dibuat panik, dan ketakutan
"Iya, bukankah sudah saya katakan tadi? apa kau lupa?"
"eh.."
"Maaf ,tapi saya tidak bisa nyonya?"
"Tidak sulit kok, lihat tanda tangan itu dan coba tiru, itu saja. Saya akan menunggu disini" ucap Hendro dengan tatapan genitnya.
"Sayang, kau tidak memberiku minum?" bisiknya pada Miranda
"Oh iya aku lupa , sebentar ya." Miranda turun ke bawah membuatkan minuman untuk Hendro.
"Siapa namamu?"
"Luna, Pak"
"Dari mana asal mu?"
"Malang"
"Cukup jauh, ngapaian kamu ke Jakarta?"
"Saya mau merubah nasib Pak, saya mau kuliah,"
"Saya ada penawaran menarik untuk mu, kau tak perlu lagi repot-repot bekerja jadi pembangunan, bagaimana kalau-"
"Sudah?" terdengar suara Miranda dari arah pintu, menghentikan rayuan maut Hendro.
Di dalam hatinya pria itu kesal karena tidak berhasil merayu Luna.
"Sabar, ini bukan perkara mudah, dan kita juga harus lebih hati-hati.
"Lalu?"
"Bagaimana kalau kau suruh saja dia berpura-pura jadi Lila, dan kabarkan jika Lila di temukan dan dia masih hidup. Lalu gadis ini yang akan jadi Lila."
"Luna kau boleh keluar dulu." usir Miranda
"Iya nyonya," sahut Luna segera keluar kamar.
"Tapi dia sangat kampungan."
"Itu bagus, katakan saja jika dia amnesia bagaimana?"
"Bagus juga, aku akan pikirkan caranya,"
"Tenang saja aku akan membantumu," ucap Hendro
"Baiklah, tapi kapan?" Rajuk Miranda
"Sabar jangan buru-buru." ucap Hendro meyakinkan Miranda.
Diluar ruangan Luna mengepalkan tangannya kesal, dia tidak menyangka Miranda seperti itu, dari yang dia lihat Luna bisa menyimpulkan jika Hendro ada main dengan Miranda.
"Tapi Hen?" protes Miranda
"Ini perkara penting kita tidak boleh gegabah," sahut Hendro menggenggam tangan Miranda, dan wanita itu pun menurut.
Miranda merengut, namun dia tetap menuruti perintah Hendro,
"Ok, aku ikutin saran mu" ucapnya pada Hendro
Diluar ruangan, Luna masih berusaha menahan amarahnya, ingin sekali rasanya dia mencekik dan membunuh wanita ****** itu.
Luna mengatur napas dan hendak berjalan turun, namun langkahnya terhenti saat melihat bik Anne masuk ke dalam ruangan kemaren, ruangan yang ingin dia masuki. Ruangan yang membuatnya penasaran.
Ruangan tidur dimana pria yang telah mewariskan sebagian besar gen dan sifat kepada dirinya yang kini terbaring lemah.
Pria yang belum pernah dia lihat langsung seumur hidupnya.
Dada Luna bergemuruh, dia pun berjalan mengendap dan mengintip dibalik pintu yang kebetulan tak tertutup rapat.
"Bangunlah tuan, lihatlah non Lila sudah kembali?" ucap bik Anne
Deg
Yuna terkejut mendengar nya, siapa sebenarnya Bik Anne ini?' tanyanya dalam hati.
lagi Luna mendengarkan dengan seksama, berusaha menggali informasi lebih dalam,
"Kenapa Tuan diam saja, tuan harus bangun dan lihat sendiri, agar tuan percaya apa kata-kata saya, saya tidak bohong tuan," ucap wanita tua itu,
Tapi entah apa yang dia ucapkan selanjutnya, Luna tak bisa mendengar, atau mungkin memang wanita tua itu diam saja.
"Tuan, anak itu mirip sekali dengan non Lila." samar-samar Luna mendengar kembali suaranya.
Luna tak mau ambil resiko, dia segera berlari turun, takut jika bik Anne melihat nya.
"Sebenarnya berpihak kemana wanita tua ini? aku belum bisa menyimpulkan apapun," guman Luna di dalam kamarnya.
"Aku harus segera menyelesaikan ini, aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus gerak cepat." ucapnya lagi.
Luna mengganti pakaiannya dan bersiap ke pasar, sengaja berbelanja.
Tak satupun yang melihatnya, di ujung jalan seseorang telah menunggunya, dan Luna segera masuk ke dalam mobil, setelah memastikan semuanya aman.
"Bagaimana hasil penyelidikan mu?" ucap seseorang di dalam mobil tanpa basa-basi.
"Apa kau mengenal Daren?"
"Daren pacar lila?"
"Ya, apa kau tau dia memiliki hubungan spesial dengan Rena?" tanya Luna lagi
"Rena? apa kau tidak salah,'
"Entahlah. Tadi pagi Daren datang menjemput Rena, dan Rena memanggilnya dengan sebutan sayang serta dia bergelanyut manja di lengan Daren. Jika mereka tidak memiliki hubungan spesial tidak mungkin Rena melakukan hal itu."
"Seperti aku ketinggalan, aku tahu Daren dan lila berencana untuk segera menikah," sahut pria yang tidak lain adalah Alvian.
"Ada lagi?"
"Apa?"
"Aku penasaran dengan bik Anne?" ucap Luna.
"AKu juga kurang mengenalnya Tapi selama ini aku tahu dia sangat baik kepada Lila, dan sangat setia kepada Surya tapi entahlah manusia kan bisa berubah apalagi jika sudah diiming-imingi dengan uang." sahut Alvian
"Aku rasa cuma itu yang bisa aku laporkan sekarang,"
"Ok, terima kasih, aku tunggu kabar selanjutnya,"
"Siap,"
"Aku tidak pernah belanja, bisakah kau melakukannya untukku?"
"Aku?" tanya Alvian dengan mata melotot
"Anak buah mu! dan Kau bantu aku belanja ini semua."
"Ok!" sahut Alvian
"Aku tunggu disini," ucap Luna lagi.
Alvian menggeram kesal, tapi mau bagaimana lagi Luna memanglah tidak pernah berbelanja bukankah dia orang kaya, untung saja dia mau jadi pembantu gadungan, batin Alvian.
***
Luna kembali ke rumah, dan memasak. Untungnya memasak salah satu hobinya hingga dia tidak kesulitan melakukan nya.
Rena kembali sore hari bersama pria yang sama, siapa lagi kalau bukan Daren.
Daren kembali mengantarkan pulang, lalu kembali ke rumah nya.
Makan malam Rena dan ibunya hanya diisi oleh keheningan. Tertib tanpa ada suara.
"Lun,"
"Ya nyonya."
"Bereskan itu,"
"Iya nyonya,"
"Bereskan setelah itu pijat kaki saya, suka pegel."
"Iya nyonya," sahut Luna namun di dalam hatinya dia sangat kesal, "Enak aja nyuruh mijit, emangnya aku tukang urut," omelnya dalam hati.
Gadis itu keluar setelah selesai mencuci piring, dia tersenyum saat dilihatnya Miranda telah tertidur.
Luna cepat berlari menaiki tangga menuju kamar yang sejak kemaren menarik perhatiannya.
Kamar dimana dia aka melihat sosok pria yang telah menurunkan sel, darah dan gen padanya melalui Miranti, ibunya.
Cklek...dia membuka pintunya.
othor fokus 1 novel aja spy g salah, yg baca jd bingung & byk typo lho SMP part ini
hpmu jgn lupa diambil, lumayan merekam smua obrolan bs jd bukti
skip" obrolan pas nenek lampir & anak'a
siapa hayo yg kepoin Luna...