NovelToon NovelToon
Seluruh Hati Tertinggal

Seluruh Hati Tertinggal

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:97k
Nilai: 5
Nama Author: AAH♥️

ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.

Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.

Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰

Salam

AAH❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUKAN DENGAN ORANG TUAMU

Tepat pukul 3 sore, motor Ibnu terparkir di depan salah satu Sekolah Menengah Atas yang cukup terkenal. Yah, itu adalah tempat wanitanya mengajar.

Mereka telah bersepakat untuk bertemu dengan Ibu Hilda. Tanpa bernegosiasi, Andi Alda mengiyakan. Baginya, hal tersebut adalah momen yang langka terjadi. Yah, bertatap muka sekaligus bercengkrama dengan wanita yang telah melahirkan pria yang diinginkan.

Alda berjalan mendekati Ibnu yang telah melemparkan senyum manis sedari tadi.

"Sudah lama menunggu?" tanyanya dengan lembut.

Ibnu menggeleng. "Belum cukup sehari."

"Ih!" Spontan Alda memberi cubitan di lengan pria itu.

"Hehehe ...."

Ibnu menetralkan tawanya dan menyerahkan helem berwarna hitam yang cukup longgar di kepala wanita itu.

"Da ... maaf yah, belum bisa lindungin sepenuhnya dari mata-."

"Huusst!" Alda tahu kemana arah pembicaraan Ibnu. Dengan cepat memotong. "Lebih asyik naik motor," seraya mendudukkan bokongnya.

Ibnu hanya menipiskan bibir. Dia mulai melajukan kendaraan. Menikmati setiap detik kebersamaannya dengan Alda. Tak ingin sampai di sini. Jika boleh meminta, Ibnu berharap itu berlanjut selamanya.

"Ibnu." Alda mencoba mendekatkan bibir pada telinga pria berjambang itu yang tersekat oleh benda padat. Memanggil namanya.

Aroma menenangkan.

Namun kali ini, bukan itu fokusnya. Tapi, bulu yang tumbuh pada area dagu pria itu.

"Iya, Da."

"Jambangnya jangan dicukur habis, yah," ucapnya dengan serius.

Ibnu mengerutkan kening. Bola matanya masih menatap ke depan. Sesekali melirik wanita itu.

"Yah?!" Alda kembali meminta persetujuan pria tersebut.

"Kenapa? Kamu suka?" Ibnu menggulirkan pertanyaan. Namun, diselingi dengan senyuman tipis.

Alda mengangguk. "Aku suka."

Tawa Ibnu pecah. Selang beberapa detik, suasana kembali normal. "Jadi sukanya sama jambang? Bukan orangnya?"

Pipi alda merona merah. Menyembunyikan dibalik pundak pria itu. "Dua-duanya ...," bisiknya pelan.

*****

Ibnu memarkir kendaraan tepat di depan rumah. Seraut wajah tampan itu berbalik menatap Sang Kekasih yang lebih dulu turun dari roda dua tersebut.

"Deg-degan." Hanya kata itu yang terucap dari bibir ranum Alda seraya melepas helem yang bertengger di kepalanya.

"Ibu baik. Dia yang meminta untuk bertemu."

Entah mengapa, menjumpai seorang wanita paruh baya lebih membuatnya gerogi dibanding harus menjumpai petinggi-petinggi negara, termasuk rekan kerja Sang Ayah.

Alda melakukan olah pernapasan demi mengatur degupan jantungnya yang sudah tidak terkontrol.

"Sudah?" tanya Ibnu yang yang sedari tadi memperhatikan.

Alda menelan ludah lalu mengangguk. Tanpa sadar jemarinya memegang erat lengan Ibnu. Mereka melangkah bersama memasuki bangunan sederhana itu.

"Assalamualaikum ...." Salamnya kompak.

Bu Hilda muncul dibalik tirai kamarnya dan memancarkan senyum hangat.

"Waalaikumussalam ...."

Wanita paruh baya itu menghampiri kedua insan tersebut. Bola matanya menatap lekat wanita yang kini berada di samping puteranya.

"Andi Alda Marolah," gumamnya yang masih terdengar oleh telinga Sang Pemilik Nama.

Alda melepas genggaman dan memajukan langkah. Tanpa aba-aba dan gerakan impulsif kedua saling berpelukan seolah lama bertemu.

"Ibu ...." Pelukan Alda semakin erat. Membawa wanita paruh baya dengan tubuh kurus itu semakin masuk dalam rengkuhannya.

Ibu Hilda mengusap punggung Alda dengan lembut. Memejamkan matanya.

*Semoga keinginan puteraku tercapai. Semoga kalian bersatu.

Jalan kami tidak mudah. Namun do'aku tak akan pernah putus*.

"Nak Alda." Ibu Hilda memegang kedua lengan wanita itu saat keduanya terlepas.

"Khm! Ibu ajak duduk dulu," imbuh Ibnu.

"Hahahah ...." kedua wanita itu kompak tertawa.

"Oh iya, Nak. Silahkan duduk." Ibu Hilda membimbing Alda hingga kursi.

Wanita yang semula diliputi kecanggungan perlahan mencair. Melihat sikap penerimaan Ibu Hilda yang terbuka, tentu membuatnya merasa nyaman.

"Mau minum apa, Nak?"

"Tidak usah repot, Bu," tolak Alda. Ia mencoba menahan lengan Ibu Hilda untuk tidak meninggalkan tempat.

"Biar Ibnu," inisiatif pria paruh tampan itu. Mungkin waktu yang tepat untuk memberikan mereka ruang untuk saling mengenal.

Ibu Hilda mengangguk.

*****

Bu Hilda mencoba berbicara dengan wanita pilihan puteranya dari hati ke hati. Tak dapat dipungkiri bahwa kesan yang ditampilkan Alda memang patut membuat seorang Ibnu Rajab sampai bertekuk.

"Menurut Nak Alda, Ibnu itu seperti apa?"

Alda tersenyum lembut kala mendengar nama itu. "Dia pria yang baik, Bu."

"Hanya itu, Nak?"

Alda menunduk. Beberapa saat kemudian ia mengangkat pandangan. "Dia ... bertanggung jawab, lembut dan memperlakukan Alda dengan sangat baik Bu."

Sederet kalimat yang diucapkan Alda mampu membuat Bu Hilda merasa lega. Semua yang dikeluarkan wanita cantik itu menggambarkan bahwa puteranya adalah pria yang patut untuk dipertimbangkan.

Ibu Hilda menggenggam jemari Alda dan menatap dalam kedua bola matanya. "Nak Alda suka?"

DEG!

Alda terdiam sejenak. Dia menelan ludah. Wajahnya terasa hangat hingga menimbulkan kemerah-merahan.

"B-bu ...."

Ibu Hilda semakin mengeratkan tangannya dan tersenyum penuh arti. Katakan sejujurnya.

1 detik

2 detik

3 detik

Wanita cantik itu menipiskan bibir dan tidak ada kata selain anggukan pelan sebagai jawaban.

"Alhamdulillah ...."

Bersamaan dengan itu Ibnu kembali dengan membawa nampan berisi 3 cangkir teh hangat.

"Bismillah ... pertemukan Ibu dengan orang tuamu, Nak."

.

.

.

.

.

Holaa readers! Otor rajin datang lagi 😁😂 Semoga readers sekalian dalam keadaan sehat wal afiat dan tak bosan menunggu.

Yang ngikutin instagram otor pasti tahu ....

Yang belum tahu, yuk! Follow Instagram 'asriainunhasyim'

Salam

AAH♥️

1
Rina Suci
aku nungguin thorr.. bntar lg gnti taon loh🤭
Indah Wirdianingsih
kak kok gak lanjut2 ceritanya🙏
Rina Suci
lanjutanya kk
Yusuf Bebek
crt real ya ini..yg kaya dapat orang kaya...jrg bgt keluarga kaya nerima menantu miskin..
Ikaaa1605
Lanjuttttt mba
Indah Wirdianingsih
semoga ibnu dan nana juga bahagia seperti alda dan adam
Indah Wirdianingsih
lanjut thor
Yusuf Bebek
ternyata judulnya ini seluruh hati tertinggal yg mngucapkan ibnu ya...
Ikaaa1605
Lanjutttt mba
Indah Wirdianingsih
sedihnya cinta tp tak bisa bersama
Ikaaa1605
Semangt up mba
Ikaaa1605
Setelah sekian lama akhirnya up jugaa mba, double dong
Ibu'e Anam Azka
kok lama up nya kak. ditunggu selalu
Yusuf Bebek
udah gx mngkin bersatu ya ibnu sm alda nya..si alda udh cinta sm adam
smg ibnu jg bisa mncintai nana
Rina Suci
nungguin ini tor💪
zuwariyah c
author koq blm update
Rina Suci
ini alda udh beneran kecintaan sama adam kah?
Ikaaa1605
Semangat up mba othor
Ikaaa1605
Lanjuttt dong
Erni Kusumawati
Inisial kk kan AAH jgn2 kepanjangan dr Andi Alda Marolah, jd nama tokoh itu adalah nama kk sendiri nih😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!