Sebelum baca siapkan tissue dulu ya 🤧🤧
Javier Louis adalah seorang anak laki-laki yang di buang karena ibunya tidak menyukai keberadaannya. Anak hasil dari pemerkosaan membuatnya di benci dan tidak di terima.
"Kau memang tidak pernah salah, hanya takdirmu yang salah, kehadiranmu menjadi petaka dan membuat jalan hidupmu seperti ini."
Sementara di sisi lain, Xaviera Careen mengalami kesedihan atas kematian ibunya. Ia begitu terpukul hingga selalu menyalahkan dirinya.
"Aku merindukannya, sangat merindukannya. Setiap detik dalam hidupku, aku merindukannya. Dadaku sangat sesak sampai tidak bisa bernapas, apa yang harus aku lakukan? Datanglah...sapa aku dalam mimpi."
Tangisan Xaviera yang begitu menyayat hati.
Bagaimana nasib Javier dan Xaviera. Apakah mereka akan bahagia? Bagaimana dengan nasib percintaannya?
Happy reading 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMUA ITU KARENA KAU.
💌 MAFIA BERHATI MALAIKAT 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Xaviera mulai bosan dan berulang kali membuang napasnya dengan kasar. Ia mengganti posisi duduknya agar wanita itu menyadari jika Xaviera tidak suka dengan materi pembelajaran hari ini. Sedari tadi pembahasan mata pelajaran matematika ini tidak ada habisnya. Elia terlalu menjabarkan dengan rumus canggih dan penjelasan yang panjang lebar dan ujung-ujungnya jawabannya masih tetap sama. Elia hanya terpaku pada angka dan rumus baku. Sehingga proses belajarnya membuatnya jenuh dan ngantuk.
"Ini guru apa bukan sih, dari mana daddy mencari guru privat bodoh seperti ini? Aku yakin pasti istri kesayangannya yang mencarinya. Mommy jauh lebih pintar dan ia bisa diandalkan untuk semua mata pelajaran. Sementara wanita yang duduk di depannya ini hanyalah guru kaleng-kaleng." Xaviera mengumpatnya dalam hati.
Sebenarnya Xaviera sangat jago matematika. Namun pembelajaran yang diberikan Elia membuatnya sama sekali tidak mengerti. Setelah diperhatikan rumusan-rumusannya diberikan Elia terkadang salah, membuat Xaviera bertambah bingung.
Baginya, matematika seperti seorang teman dalam hidupnya. Semua temannya saja mengatakan Xaviera genius hanya karena bisa menyelesaikan matematika dengan cepat. Padahal Xaviera tidak merasa seperti itu. Semua ini berkat mommy, jika ia menyelesaikan soal matematika di kamar, Xaviera bisa melepaskan rindu kepada mommynya itu. Yohanna sangat menyukai dunia angka ini, setiap mempelajari matematika, Xaviera merasa mommy hadir di sampingnya dan menemaninya mengerjakan soal. Mungkin bisa disebut sebagai pelarian dari kesedihan karena begitu merindu sang mentari hidupnya. Tanpa sadar Xaviera tersenyum sendiri.
"Bagaimana kau sudah faham Xaviera?" Tanya Elia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Xaviera.
"Menurutmu bagaimana?" tanyanya santai dan balik bertanya.
"Heuh?" Elia mengerutkan keningnya.
Lagi-lagi Xaviera mendengkus dengan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Aku di sini bertanya Xaviera? Kau sudah faham belum? Kenapa kau malah balik bertanya. Apa kau sedang melamun?"
"Huffft.. Kau benar-benar tidak bisa melihat reaksi belajarku, ibu Elia. Pelajaran yang kau berikan membosankan. Sama sekali tidak ada yang masuk." Keluh Xaviera terang-terangan menujukkan ketidaksukaannya kepada Elia. Ia mengambil handphonenya untuk melihat jam. "Aku rasa pelajaran hari ini cukup." ujar Xaviera menutup bukunya.
Elia menarik napasnya dalam-dalam sambil meletakkan penanya dengan kasar. Ia sedikit kesal. Tapi ia masih bisa menutupinya, ia tetap memberikan senyum terbaiknya kepada Xaviera. "Kenapa Xaviera?" tanyanya begitu lembut.
"Kau tidak dengar, aku bosan! Sangat bosan. Jadi hari ini cukup sampai di sini. Apa kurang jelas." ucapnya datar tanpa ekspresi.
"Tapi kita harus menyelesaikan materi ini Viera,"
"Jangan panggil aku Viera, berapa kali aku katakan. Hanya mommy yang bisa menyebut namaku itu." Xaviera sudah meninggikan suaranya.
"Oh, maaf! saya lupa." Kata Elia mengepalkan tangannya menahan amarah, namun bibirnya masih bisa memberikan senyum. Ia seperti seorang malaikat yang melindungi Xaviera dari kebosanan. "Kita bisa lanjutkan kembali? aku akan berusaha untuk membuatmu belajar lebih santai dan nyaman."
"Tidak," Xaviera menatap serius sambil melipat ke dua tangannya di depan dada. "Aku sudah katakan pelajaran hari ini SELESAI." Kata-kata selesai sengaja di perlambat Xaviera.
"Tidak bisa Xaviera, dua mata pelajaran hari ini harus kita selesaikan empat jam dan kita baru belajar satu jam." ucap Elia.
"Apa Alexander yang memintamu melakukan ini?"
"Alexander?" Dahi Elia mengerut saat Xaviera menyebut nama itu. "Apa maksudmu ayahmu?" tanyanya lagi.
"Siapa lagi jika bukan daddy, 4 jam sama halnya aku seperti belajar di sekolah dan aku tidak mau itu. 4 jam harus aku habiskan hanya untuk melihat guru yang benar-benar tidak bisa memberikan mata pelajaran dengan baik. Aku curiga, apa kau benar-benar seorang guru?"
"Apa maksudmu Xaviera?" Elia benar-benar seperti tertampar di sini. Ia benar-benar di rendahkan sebagai seorang guru. Jelas-jelas ia mendapatkan gelar agar bisa jadi seorang guru.
Xaviera memutar bola matanya. Ia jengah dan bahkan sangat jengah melihat semua tingkah manusia yang berhubungan dengan daddynya. termaksud itu Elia. Semua terlalu memaksa dan Xaviera tidak suka itu.
"Aku yakin kau di bayar dengan harga tinggi oleh lelaki itu. Berapa banyak kau di bayar?"
"Ya jelaslah saya di bayar Xaviera, kalau saya tidak di bayar, saya tidak mungkin berada di sini. Yang jadi pertanyaanku, apa kau sekarang menuduhku sebagai guru gadungan?"
"Kenapa, apa kau merasa? Setelah pelajaran yang kau berikan itu sama sekali tidak masuk akal."
"Oh my God." Elia meremas tangannya begitu kuat. "Inikah yang dimaksud semua guru itu? Tidak ada yang tahan dengan sifat Xaviera. Dia jelas-jelas menghinaku. Apa dia sengaja.Tidak, aku tidak bisa kalah. Orangtuanya sudah membayarku empat kali lipat. " Elia menahan napas sesaat dan tersenyum lagi kepada Xaviera. "Ibumu yang..."
"Dia bukan ibuku, Jangan sebut wanita itu didepan ku." Dengan cepat Xaviera menyela. Napasnya terdengar naik turun menahan amarah. Ia menatap dingin ke arah Elia.
"Maaf, saya lupa. Ibu Valeria yang memintaku untuk memberikan les privat karena kau tidak mau sekolah lagi. Dan jelas-jelas aku itu seorang guru yang mengajar di sekolah internasional. Saya langsung khusus ditunjuk untuk memberimu materi yang benar-benar persis seperti pembelajaran di sekolah." terang Elia.
Xaviera berdecak."Aku sudah menduga itu. Dia berusaha untuk menggantikan mommy. Kau tidak akan bisa masuk dalam kehidupanku. Kau tidak berhak Valeria." geram Xaviera tersenyum sinis. Sorot matanya memancarkan kebencian.
Ester meremas tangannya sendiri, saat mendengar kalimat itu. Tuan Alexander akan sangat marah jika mengetahui hal ini. Xaviera sudah melakukannya berulang-ulang. "Apakah Xaviera akan memecatnya juga? Jangan lakukan itu non, tuan akan marah." Batin Ester berbicara.
"Xaviera aku harap...."
Xaviera dengan cepat mengangkat tangannya, gestur tubuh yang sengaja dilakukannya agar Elia tidak bicara. "Sekarang begini saja ibu Elia, agar pendidikan yang kau peroleh dari sekolah internasional tidak sia-sia hanya untuk mengajar aku saja. Jadi, mulai besok jangan datang ke sini lagi. Kau aku PECAT!" Kata Xaviera to the point, ekspresi wajahnya begitu kaku dan dingin.
Dan apa yang ada dalam pikiran Ester pun terjawab sudah. Dengan jelas dan lantang Xaviera memecat guru privatnya lagi. "Nona?" Ester langsung mendekat dan berusaha untuk memberi pengertian kepada Xaviera. "Tolong pikirkan lagi. Ibu Elia sudah berusaha memberikan yang terbaik, agar nona tidak bosan."
"Tidak, Ester. Aku yakin dia bukan seorang guru. Valeria sengaja mencari orang yang tidak berpendidikan. Aku yakin dia sengaja melakukannya. Jadi...mulai besok jangan datang lagi. Aku tidak mau belajar dengan guru sepertimu. Kau benar-benar menyita waktuku dan semua yang kau ajarkan sama sekali tidak masuk ke sini...." Xaviera mengetuk kepalanya dengan jari telunjuknya. Ia mengucapkannya dengan jelas.
Sementara Elia tetap berusaha tenang, ia tersenyum dengan posisi memangku kaki dan melipat tangannya di depan dada. "Kau sombong sekali Xaviera. Apa kau pikir daddymu akan membiarkan ini. Saya rasa tidak, karena aku sendiri tidak mau berhenti. Karena aku sudah di bayar Ibu Valeria." Elia tersenyum sinis.
"Silakan saja, datanglah ke sini. Aku rasa pintu rumah tidak akan terbuka untukmu." Jawab Xaviera lebih tenang lagi.
Elia menahan napasnya sesaat, ia tetap bersikap tenang. Walau dalam hati begitu panas rasanya. "Baik. Jika itu yang kamu inginkan. Tapi sebelumnya, saya harus menghubungi Ibu Valeria dulu, saya harus mengatakannya langsung kepada orang yang sudah membayar saya." Dengan cepat Elia Mengambil handphonenya untuk menghubungi Valeria. "Dan aku pastikan kau yang akan menyesal telah memecatku."
"Silakan saja." Xaviera mengepalkan tangannya begitu kuat, "Lakukan yang menurutmu terbaik."
"Aku sudah bilang aku sudah di bayar dan aku harus mempertanggung jawabkan pekerjaanku." Ucap Elia sambil menatap handphonenya lagi. Panggilan untuk Valeria dialihkan.
"Kenapa, kau tidak bisa menghubunginya. Aku yakin wanita itu sedang berfoya-foya."
"Kalau begitu aku menghubungi pak Alexander."
Xaviera bangun dari duduknya dan ingin merampas handphone itu. Ia tidak menduga jika wanita itu akan menghubungi daddynya. "Apa yang kau lakukan?"
"Apa kau takut?"
"Tidak, aku tidak takut!"
"Ada apa ini?" Valeria sudah masuk ke ruang keluarga dan melangkah dengan elegan menggunakan high heels. Suaran langkahnya begitu menggema di sana.
"Selamat pagi ibu Valeria." Elia bangun dari duduknya dan sedikit menunduk untuk menyambut kedatangan Valeria. Sementara Xaviera membuang mukanya tidak suka.
"Selamat pagi sayang," Valeria tersenyum menyapa Xaviera.
Tidak ada jawaban. Valeria tidak perduli, ia menatap Elia lagi. "Kenapa kau menghubungiku Elia?" tanya Valeria mengambil duduk di sana.
Xaviera bangun dari duduknya dan menatap ke arah Valeria. "Aku memecatnya."
"Kenapa kau memecatnya sayang?" Valeria tenang dan tetap bersikap seperti seorang ibu untuk Xaviera.
Xaviera tersenyum sinis, "Sekali lagi tidak usah repot-repot untuk mencari guru privat untukku. Kau tidak berhak. Apalagi untuk menggantikan posisi mommy. Jangan pernah bermimpi!" Xaviera memutar badannya dan ingin meninggalkan ruangan itu.
Namun sebelum melangkah Valeria sudah bangun dan menghentikan langkah Xaviera. "Anak luar biasa, apa Yohanna tidak pernah mengajarkanmu tata krama?"
Xaviera mencengkram tangannya sendiri. Ia langsung memutar badannya dan menatap Valeria. "Jangan menyebut nama mommy, kau tidak berhak. Satu lagi, jangan pernah menunjukkan dirimu di rumah ini lagi." Mata Xaviera mendelik tajam ingin menelan Valeria.
"Elia, kau sudah bisa pulang. Kau tetap menjadi guru privat Xaviera. Kau mengerti?"
"Baik, bu." Elia dengan cepat mengumpulkan bukunya dan langsung pamit undur diri. "Kalau begitu saya permisi dulu." Kata Elia dengan sopan lalu pergi meninggalkan rumah itu.
Valeria lalu menatap Ester. "Ester, kau bisa ke dapur. Siapkan makanan enak untuk makan siang nanti. Aku ingin makan bersama dengan Xaviera."
Xaviera menahan napasnya yang naik turun begitu cepat. Matanya sampai berkaca-kaca karena begitu emosi. Ia meremas tangannya erat-erat.
"Tadi kau bilang apa?" Valeria berjalan dan mendekat ke arah Xaviera. "Seharusnya kau bersyukur, kehadiranku bisa menutupi lukamu. Karena penyebab kematian Yohanna, semua itu karena kau." Valeria mendorong tubuh Xaviera dengan pelan. Ia melakukan secara berulang-ulang. Sampai Xaviera terundur ke belakang. "Harusnya kau jadi anak yang baik. Belajar dengan baik, bukannya seperti ini. Apa kau merasa sudah hebat. Aku justru menertawakan kebodohanmu. Apa kau pikir Yohanna akan suka melihatmu seperti ini. Ia justru menangis di sana. Karena KAU SENDIRI YANG MENYEBABKAN KEMATIAN YOHANNA." Valeria menekan setiap perkataannya. Halus namun sudah menembus jantung Xaviera.
"Ahhhhh...Tidak..." Xaviera reflek terduduk dan menutup ke dua telinganya. Ia menggeleng dengan berurai air mata. Napasnya terdengar naik turun begitu cepat. Kejadian itu seakan memicu rasa bersalahnya yang cukup besar. Dengan cepat Xaviera berlari ke kamarnya.
Valeria tersenyum samar, "Dasar anak bodoh. Lihat saja, aku akan pastikan kau bisa melupakan Yohanna." Sudut bibir Valeria melengkung ke atas.
BERSAMBUNG
❣️ Readers tersayang tinggalkan jejak kalian ya. Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘 Salam sehat selalu dan
Happy weekend 🤗🤗🤗
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌
salam sejahtera buat, kt sehat sll buat klrgnya😘😘
jgn lupa persatukan viera dgn javier, heheee