NovelToon NovelToon
Pencicip Emosi

Pencicip Emosi

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Komedi / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:133.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: Shiratarou

Kaivan adalah seseorang yang punya kekuatan merasakan emosi lewat lidah, hidung, dan kulitnya. Kemampuan tersebut membuat dia harus bersikap baik pada semua orang agar emosi negatif yang membuatnya sakit tidak keluar. Itulah sebabnya dia tidak bisa menolak permintaan orang-orang padanya.

Suatu hari ketika Kaivan menerima tugas membersihkan aula,dia bertemu gadis bisu alter ego yang ternyata adalah seorang users. Terjebak atas kesalahannya menghisap mana milik gadis itu, sekarang dia bertugas mengumpulkan emosi positif bersamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shiratarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arc 1 Sampah Organik : Chapter 5 - Kamu Mens Kan

Kamar tidurku ada di lantai dua, dan tepat di bawahnya ada dapur. Lajur udara panas yang muncul dari masakan akan lewat ke lorong lantai dua akibat bentuk bangunan yang dibuat demikian. Jika pintu kamarku tidak ditutup, aku dapat dengan jelas mencium aroma masakan rumah ini.

“...”

Aku tidak tahu apa maksud si pembuat rumah dengan tidak menutupi seluruh langit-langit dapur dan membiarkannya berlubang ke lantai dua. Tapi, aku memanfaatkannya sebagai salah satu alarm pagi hari.

Hmn ... sop, yah.

Ada sedikit aroma tomat dan wortel. Tapi, tidak ada aroma minyak, maupun bawang. Mungkin hari ini tidak ada gorengan.

Setelah beberapa menit sadar sambil memejamkan mata, akhirnya aku pun bangkit sempurna dari tidur. Dari tipe suara yang muncul, aku tahu kalau makanan di sana sudah siap.

Aku turun menggunakan tangga, datang ke ruang makan yang berada di antara dapur dan ruang keluarga. Di sana aku melihat satu mangkok penuh dengan sop, lengkap dengan nasi dan sendoknya.

“Van ... sudah bangun?” ucap kakakku dari dapur yang sadar akan suara tangga saat aku melangkah. “Makan saja yang ada di meja, itu punyamu.”

Aku lapar, jadi tentu saja dengan senang hati menerima tawarannya.

Dengan cepat aku menghabiskan sop tersebut. Rasanya gurih dengan sedikit rasa asam, wortelnya renyah, dan tomatnya memberiku rasa manis yang tidak membuat mulutku lengket. Aku suka kombinasi makanan tersebut, semuanya seimbang dan saling melengkapi. Berbeda dengan camilan yang hanya tajam di satu rasa.

Makan pagi kali ini cukup nikmat, bahkan aku menghabiskan seluruh kuah untuk dijadikan pemuas dahaga di akhir.

“...”

Tapi, kakakku sejak tadi tidak datang ke meja makan. Apa aku terlalu cepat memakan semua ini?

“Oh ... kamu sudah selesai makannya, Van.”

Kebetulan sejalan dengan pikiranku, gadis tersebut datang sambil membawa masakan lainnya ke meja.

“Bilang apa dulu ke kakak? ‘kan sudah dibikinin.”

“Apa,” ucapku dengan cepat dan datar.

Ekspresi dan gerakan kakakku sesaat terhenti. Emosinya sedikit unik dengan sedikit rasa kesal tapi juga bahagia.

“Heh, bukan bodoh ... maksudnya—”

“Iya, iya ... masakan kakak enak. Enak banget sampai bikin hidung dan lidahku nyatu di dalam lautan rasa.”

Aku tidak mau melewati pembicaraan bodoh terlalu lama. Jadi, kukeluarkan saja semua. Pujian yang sejak awal dia pancing keluar dari mulutku.

“Ehehehe ... kakak gak minta segitunya sih," kata kakakku dengan emosi bahagia lainnya. "Tapi, syukurlah kalau enak. Sayur yang kamu makan barusan itu sudah layu dan ngeluarin bau aneh.”

“He!?" refleks kaget mendengar perkataan tersebut. "Tunggu, kakak jadiin aku tumbal buat makanan busuk!?”

“Ahaha ... santai saja. Kalau kata kamu enak, ya memang sehat-sehat saja berarti.”

“...”

Secara kasar, hal tersebut bisa saja aman. Sebagian besar bakteri juga akan mati pada proses pemanasan. Tapi, layaknya berjudi, ada kemungkinan penyakit yang tidak mati ketika dimasak muncul di makanan tersebut.

“Kamu juga kurang kerjaan di rumah, jadi gak apa-apa ‘kan aku pinjem perut kamu. Jadi ... pencicip makanan.”

“Kalau aku mati bagaimana?”

“Dikubur.”

“Bagus, dan kakak jadi pembunuhnya.”

“Gak usah paranoid begitu. Perutmu sudah kuat, kok. Buktinya sampai sekarang kamu masih hidup.”

“Apa maksudnya sampai sekarang, Kak? Memangnya kakak sudah dari kapan kasih makanan busuk?”

“Kakak juga lupa ... dari kapan yah, Van?”

Jangan tanya aku. Mana mungkin bisa kujawab. Dan apa itu? Apa dia sudah melakukannya sejak lama hingga bisa melupakan tanggalnya? Kuharap aku tidak menabung penyakit di tubuhku sekarang.

Percakapan akhirnya terputus. Aku yang tidak membalas, dan tangan kak Dina yang sibuk juga penyebabnya. Gadis itu menyiapkan dua porsi makanan, satu untuknya dan satu lagi untuk ibunya. Aku yang sudah selesai pun beranjak dari meja makan untuk pergi bersiap ke sekolah.

Ibu Kak Dina adalah seorang buruh pabrik. Hari ini dia mendapat shift malam. Oleh sebab itu, pagi ini dia tidak hadir di meja makan. Sedangkan, Ayah Dina adalah seorang pekerja di perusahaan yang jauh dari rumah ini. Orang itu biasanya pulang dua minggu sekali pada akhir pekan.

Hampir sebagian besar rumah ini dikuasai olehku dan Kak Dina. Kondisi ini membuat Kak Dina mengambil alih tugas rumah tangga. Memasak, mencuci, dan membersihkan rumah terkadang memberi beban berat, di waktu tersebutlah aku punya jabatan sebagai asisten rumah tangganya.

Setelah siap dengan seragam dan wangi sabun mandi, aku pun kembali menuju meja makan. Di sana ada kak Dina, dia sedang fokus pada cermin sambil mempermak wajahnya.

“...”

Sebenarnya aku sedikit kesal melihat ini. Waktu yang dia habiskan untuk bercermin cukup lama. Bahkan aku pernah meninggalkannya bersiap-siap dari cuci muka hingga memakai sepatu, dan semua kegiatanku masih kalah lama dengan waktu dia bercermin.

“Buat apa sih lama-lama ngaca, mukanya juga gak akan berubah.” Ucapku sambil lewat di sampingnya.

*Whosuh ....

Gelombang emosi.

Rasa pedas dan pahit. Dia tersinggung dengan apa yang kukatakan, dilambangkan dengan perasaan kesal sambil mengutukku dalam hati.

“Ivan, itu kata-kata terlarang. Jangan pernah bilang kayak gitu ke cewek lain. Memangnya kamu gak kesel kalau ada orang bilang ke kamu ... ‘buat apa pakai minyak rambut, mukamu juga tetap jelek’”.

“Hmn ... jadi aku masih boleh kalau bilang kayak gitu ke kakak? Dan lagi, aku juga gak pakai minyak rambut.”

Rambutku cukup tebal untuk bisa diatur dengan mudah. Memakai minyak rambut hanya akan menambah beban di kepala dan membuatnya lengket.

“Lagian ... make up sendiri beda kayak minyak rambut," kataku meneruskan kalimat barusan. "Kakak pakai make up buat malsuin muka kakak yang asli ‘kan. Ditambah lagi pakai aplikasi dari HP. Terlalu banyak kebohongan, dan aku sebut semua itu penipuan.”

“Hah ...," napas panjang kakakku dengan nada kelelahan. "Ivan, bisa kamu ke sini sebentar.”

Aku sudah membawa sepatuku ke teras belakang, satu langkah lagi dan seharusnya aku sudah berangkat.

“Buat apa?” tanyaku menahan niat pergi.

“Kakak mau pukul kamu sekali.”

“...”

Gadis itu menaruh cermin sakunya di meja. Dia berdiri di belakang sambil menungguku berbalik padanya.

Baiklah, aku menurut. Akan lebih buruk jika dia melampiaskan kemarahannya pada orang lain. Mungkin kata-kata barusan terlalu berlebihan. Walaupun aku tidak bersedia menariknya kembali, tapi dia juga tidak bersalah. Sesuatu yang dilakukannya adalah usaha normal untuk menjaga penampilannya.

Aku berjalan mendekat ke arah kak Dina. Setelah terpotong jarak di antara kami, gadis itu pun mulai mengangkat tangannya.

Buk.

Heh.

Pukulan Kak Dina mengarah pada bahu kananku. Refleksku bekerja untuk menahan dan menghempaskan tinju itu dengan tangan. Akibatnya Kak Dina gagal memukulku.

Aku memang bersedia dipukul, tapi tidak bilang kalau aku akan diam tidak melawan—

Bug.

Ghuak!

“Heh.” Deham gadis itu dengan sombong. “Cuman orang bodoh yang percaya perkataan musuh.”

Tinju susulan datang. Kak Dina memukulku di perut dengan tangan kanannya. Rasa sakit yang diberikan membuatku meringkuk sambil memegangi perut.

Memang benar, seharusnya aku tidak menurunkan pertahanan setelah serangan pertama. Lagi pula, dari sifat orang tersebut, mana mungkin dia berhenti memukul jika pukulan tersebut tidak berhasil.

Kenapa ... kenapa wanita di sekitarku sangat suka berlaku kasar. Untuk beberapa alasan, aku sudah dipukuli oleh beberapa gadis. Padahal aku tidak benar-benar membuat masalah.

***

Kring ... kring ....

Bel istirahat berbunyi. Mendengar tanda tersebut, aku segera keluar dan menuju tempat yang dijanjikan. Hari ini adalah di mana aku akan menyelidiki latar belakang gadis korban bully bernama Imarine.

“Woi, Ivan. Kamu mau ke mana? Buru-buru amat,” panggil Farrel di belakang tepat setelah aku keluar dari ruang kelas.

“Maaf, Rel. Kalau mau ngobrol jangan sekarang,” ucapku sambil melanjutkan jalan.

“Ah, Woi ...!” teriak Farrel yang menyebarkan suaranya ke radius lebih besar. “Kamu ambil tugas buat bantuin orang lagi, Van!?”

Aku tidak menjawabnya. Karena tidak berguna, jadi aku abaikan pertanyaan itu.

Lanjut perjalananku menuju taman depan perpustakaan. Aku dan Amalia berjanji untuk bertemu di selasar lorong aula. Tempat yang mencolok, dekat dengan area Imarine muncul, dan sedikit orang berlalu lalang.

Setelah sampai, Amalia sudah sampai lebih dulu. Dia berdiri menunggu di depan pintu aula. Tempat pertama kali aku bertemu dengannya, walaupun kali ini ruangan itu dikunci.

*Whoush ....

Ketika aku berjalan, aku merasakan gelombang emosi. Untuk kesekian kalinya ... gelombang yang kuat berasal dari Amalia.

Langkahku terhenti, pada jarak sepuluh meter aku sudah mengurungkan niatku untuk mendekat.

“...!?”

Ck.

Tapi, Amalia melihatku. Dia yang sadar keberadaanku di radius tersebut pun mulai berinisiatif mendekat. Hanya butuh beberapa langkah agar kami bisa berhadapan.

Ivan ... Imarine sudah ada di sana. Jadi, kita bakal ngapain sekarang?

Tulis Amalia di catatan yang dia tunjukkan padaku.

“...”

Gelombang emosi itu semakin kuat. Aku bisa merasakannya di kepalaku dengan sangat jelas. Terasa sangat mengganggu dan membuatku tidak bisa fokus. Jadi ....

“Gak ngapa-apain, biarin saja dulu Imarine. Tugas ini ditunda buat minggu depan. Sekarang kamu balik saja ke kelas,” ucapku sambil jalan berbalik menjauhi Amalia.

Srek.

Namun, Amalia lebih dulu memegangi lenganku. Dia menahan dengan cengkeraman kecil yang sebenarnya bisa kuhempaskan jika mau.

Tunggu ... kenapa ditunda?

“Kalau kamu mau lanjut, pergi saja sendiri, atau aku yang pergi sendiri.”

Maksudnya bagaimana? Kamu gak mau pergi bareng?

“Iya ... pergi bareng sama kamu itu sangat menyakitkan.”

Amalia mulai menyipitkan matanya. Aku bisa merasakan emosinya berubah tak stabil, pikirannya sudah tidak karuan karena hal tersebut.

Aku menarik napas panjang. Jika bisa ... sebenarnya kalimat ini ingin kuhindari.

“Amalia,” ucapku sambil mulai berbalik kembali menghadap gadis itu. “Kamu lagi mens, ‘kan?”

Gadis itu mengedip dua kali, membuka mulutnya sedikit sambil membuat ekspresi kebingungan.

“...”

Tapi ..., beberapa detik setelahnya ada emosi malu. Gelagat kebingungan yang dia buat membuatnya sedikit liar. Mulutnya terbuka seakan ingin teriak, tapi yang keluar hanya napas tak beraturan.

Bug.

Hingga akhirnya dia menggunakan catatan itu untuk memukul kepalaku.

Heh.

Tentu saja aku bisa menahan hantaman buku tersebut tepat waktu. Kemampuanku ini bisa memberiku intuinsi dan refleks pada serangan pertama. Mendeteksi perubahan emosi di awal kemarahan seseorang.

 

 

*****

 

 

1
arfan
up
Dalvi Leonel
ini ceritanya bagus
ㅤㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
judulnya membuat nay tertarik untuk membacanya🙄
auto list ❤️ mana udah end
jadi bisa marathon bacanya tanpa di PHP 🤣✌️
semangat terus berkarya 👍
Y. I.
Petualangan seorang remaja dengan kekuatan merealisasikan pikiran dan membalaskan dendamnya sejak kecil.

Baca di "Dangerous Minds" untuk kelanjutannya!

Oh ya, sebagai tanda terima kasih karena telah menumpang promosi di novel Author. Saya meninggalkan 15 like dan favorit novel ini. Terima kasih, ya Thor!
Karel Leven🍇
bingung Thor bacanya,,, me pusing,, mungkin lebih jelas ngapa Thor, jadi lebih mudah dicerna otak ku ini
Al_setia
kalau bisa ada cerita baru dong thor, aku tunggu ya...
Shiratarou: coba ke wattp4d ku saja. namanya sama Shiratarou
total 1 replies
Agus Sakti
udah selesai!!?
Shiratarou: berakhir paksa aja,
endingnya bisa dibayangkan sendiri,
last battle sama Hanz
total 1 replies
Պᾰℓℓ!кᾰ89
ga jelas ni novel!!!
Ran: bisa tolong pakai bahasa yang lebih halus ☺️🙏

atau mungkin punya saran bagus untuk novel ini seenggaknya kasih saran jangan di kritik doang kak ☺️
total 2 replies
Ran
gue udah baca sejauh ini dan gue suka sama ceritanya
lanjut terus thor 😊💪
Shiratarou: karena dibuat gak sepenuh hati.

tadinya mau dibikin panjang tapi waktu itu ganti peraturan dan sistem level bikin novel ini gak ada harganya.
total 3 replies
OvO
baca novel "permainan kematian"
nana
hai kak singga di novel aku uakak 😇😇
Element
hallo kakak ceritnya bagus banget. ijin promosi Novelku ya.
"CLEO KING OF ERA" novel dengan Percakapan. udah aku like thor
Al_setia
thor,ada season 2 nya gak? kasian Ivan belum punya gebetan...
Laki Idaman: Hidup tanpa ena bagai taman tak berbungaaa~aaa .... Hai begitulah kata Dewa Bercinta~ Mari berkunjung ke novel "Reinkarnasi Dewa Bercinta"

Tyty
total 3 replies
Lyle
Halo thor!
Semangat terus nulisnya..
Mampir juga ya ke novelku yang berjudul "Hanago Of Japan" dan "Nao Daily Notes",!
Salam sukses!! >0<
Secrednaomi: -----------»Elementer Evolution«------------

*Genre : Romance, SMA, Fantasy, Over power, Petualangan

*Baca dulu kalian pasti suka...!!

"Aku adalah salah satu dari manusia evolusi dan salah satu keturunan dari kelima elementer yang akan Berpetualang keberbagai tempat, merampas kekuatan, mengungkap Rahasia-rahasia, semua ada dalam hidupku".
total 1 replies
asyura_
Helo kak Author tercinta, semangat berkarya, karyamu luar biasa 🤩, semangat terus ya kak, walau jari keriting di buatnya.
Keep healthy.

Salam hangat dari Over Power 🤗
Akira ✨
Lanjut, kak

Salam dari THE OTHER SIDE dan PEMERAN PEMBANTU

Silahkan mampir jika berkenan
LEVIATHAN♛
wow... ini ide ceritanya anti mainstream banget sih. cerita bagus gini, kenapa gue baru nemu sekarang ya?
Shiratarou: maaf, mungkin karena si saya jarang promosi 😅
total 1 replies
Al_setia
keadaan Ivan terpuruk banget thor,kasian...
Shiratarou: masih banyak keadaan yang lebih kasian lagi yang bakal aku tulis.
total 1 replies
S.3.3
Mampit thor😊
Shiratarou: ah, iya .. silahkan2
total 1 replies
Al_setia
jangan nyerah ya...maju terus
Shiratarou: wow ... baru kali ini ada yang baca terus.
makasih, iya. saya selalu lanjut kok
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!