Zhao Xinyue sadar dirinya bukan villain utama, bukan heroine, melainkan selir berpangkat rendah yang di novel asli mati karena tanpa sengaja melihat rahasia kaisar. Begitu sadar, targetnya cuma satu. "Aku tidak ingin naik pangkat. Aku cuma ingin hidup sampai akhir cerita."
Masalahnya... Semakin dia berusaha tidak mencolok, semakin banyak orang memperhatikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Tiga peti emas yang terletak di sudut kamarku tak lagi memancarkan kilau yang menggoda. Di mataku saat ini, ketiganya tampak seperti tiga balok batu nisan yang siap menimpaku kapan saja.
Tugas dari Kaisar Li Jingchen terus berputar di kepalaku layaknya kutukan. Jadilah mataku. Awasi dia. Laporkan padaku.
Aku, seorang selir tingkat enam yang modal utamanya hanyalah kemampuan pura-pura gila, kini diangkat secara paksa menjadi mata-mata untuk mengawasi putri dari pria paling berbahaya di kekaisaran. Jika aku ketahuan oleh faksi Perdana Menteri, nyawaku melayang. Jika aku membohongi Kaisar, kepalaku yang akan berpisah dari leher. Aku sedang berjalan di atas seutas tali tipis di atas jurang tombak beracun.
"Nona," panggil Xiu'er dengan suara setengah berbisik. Dayangku itu melangkah masuk dengan raut wajah tegang yang jarang ia tunjukkan. "Selir Su dari Paviliun Anggrek Putih... memohon izin untuk berkunjung."
Napas tercekat di tenggorokanku.
Baru sehari ia resmi menempati paviliunnya, Su Wan sudah datang kemari? Bagi penghuni harem lain, ini adalah deklarasi persahabatan yang luar biasa. Di mataku, ini adalah ketukan pintu dari sang malaikat maut berpakaian sutra.
"Persilakan beliau masuk, Xiu'er. Dan siapkan teh melati terbaik kita," kataku, memaksakan suaraku agar terdengar tenang meski tanganku sudah dingin membeku.
Tirai kamarku disingkap. Su Wan melangkah masuk.
Sama seperti saat seleksi, ia tampak tanpa cela. Gaun sutranya berwarna merah muda pucat dengan sulaman bunga plum, memancarkan keanggunan yang tidak menindas namun mustahil diabaikan. Wajahnya berseri-seri, matanya yang bening menatapku dengan kehangatan yang tampak begitu tulus.
"Kakak Shen," sapa Su Wan lembut. Ia merendahkan sedikit tubuhnya, memberi salam yang tak seharusnya dilakukan oleh Selir Tingkat Lima kepada Selir Tingkat Enam sepertiku.
Aku buru-buru bangkit dan membalas salamnya dengan postur yang lebih membungkuk. "Selir Su, Anda terlalu merendahkan diri. Gelar Anda berada di atas hamba. Panggilan 'Kakak' sungguh tidak pantas diucapkan."
"Di mata hamba, Anda akan selalu menjadi Kakak yang menyelamatkan hamba di Aula Harmoni," balasnya seraya melangkah mendekat dan meraih tanganku. Tangannya terasa hangat. "Jika Kakak menolak panggilan ini, hamba akan merasa sangat sedih."
Aku memaksakan sebuah senyum kaku. "Silakan duduk, Adik Su."
Kami duduk berhadapan di meja bundar. Xiu'er menuangkan teh dengan tangan sedikit gemetar—bahkan dayangku yang delusif ini pun tahu betapa berbahayanya berdekatan dengan keluarga Perdana Menteri.
"Hamba datang membawa sedikit hadiah perkenalan untuk Kakak," Su Wan memberi isyarat pada dayang pribadinya. Dayang itu meletakkan sebuah kotak kayu cendana berukir di atas meja.
Tutup kotak itu dibuka, memperlihatkan beberapa akar ginseng yang berwarna kemerahan. Baunya sangat pekat, menandakan usianya yang sudah puluhan tahun. Ini bukan ginseng biasa. Ini adalah ginseng darah—ramuan obat paling langka yang harganya bisa setara dengan biaya makan seluruh penghuni paviliunku selama lima tahun.
"Ini adalah ginseng darah dari pegunungan di perbatasan utara," jelas Su Wan dengan nada suara yang sangat tenang dan bersahabat. "Ayahku, Perdana Menteri, secara khusus mendapatkannya dari seorang pedagang rute sutra."
Jantungku berhenti berdetak sesaat.
Perbatasan utara.
Itu adalah wilayah tempat ayah kandungku—ayah dari tubuh Shen Yu ini—bertugas. Ayahku hanyalah seorang pejabat kecil pengawas irigasi di wilayah terpencil itu. Namun, dari sekian banyak daerah di daratan ini, Su Wan dengan sengaja menyebutkan perbatasan utara sebagai asal hadiahnya.
Apakah ini kebetulan? Di istana, tidak ada yang namanya kebetulan.
Ini adalah pesan terselubung. Faksi Perdana Menteri sedang memberitahuku bahwa mereka tahu persis siapa keluargaku, di mana ayahku berada, dan seberapa mudah bagi mereka untuk menjangkaunya. Mereka sedang menunjukkan taring di balik senyuman selembut malaikat.
"Ayahku berkata," lanjut Su Wan, tersenyum menatap mataku yang membulat kaku, "Ginseng dari daerah asal Kakak Shen ini sangat baik untuk menenangkan ketegangan saraf. Terutama bagi seseorang yang belakangan ini... sering terjaga di malam hari."
Darahku serasa membeku.
Dia tahu. Su Wan tahu bahwa Kaisar Li Jingchen sering mengunjungi paviliunku di malam hari. Mata-mata Perdana Menteri sudah menembus hingga ke area sekitar Ruang Belajar Kekaisaran!
Di novel, Su Wan digambarkan sebagai gadis cerdas yang menggunakan kecerdasannya untuk kebaikan. Tapi menghadapi Su Wan secara langsung di dunia nyata, kepintarannya terasa seperti pedang tajam yang ditempelkan perlahan ke urat nadiku. Ia tidak sedang mengancamku dengan kemarahan seperti Selir Gui; ia mengancamku dengan kebaikan dan informasi.
Li Jingchen menyuruhku memata-matainya, tapi gadis ini justru sudah memata-mataiku lebih dulu! ratap batinku ngeri.
Aku harus bermain bodoh. Jika aku menunjukkan sedikit saja kepanikan atau bahwa aku mengerti ancaman tersiratnya, ia akan menilaiku sebagai lawan yang harus disingkirkan.
Aku membelalakkan mataku, lalu meraih kotak ginseng itu dengan tangan gemetar yang tidak perlu kupalsukan.
"Wah! Ginseng dari utara?!" seruku, sengaja menaikkan volume suaraku seperti orang udik yang baru melihat harta karun. "Adik Su, kau sungguh luar biasa! Ayahku di perbatasan selalu mengeluh encoknya kumat setiap musim hujan. Hamba tidak pernah sanggup membelikan obat sebagus ini. Bolehkan hamba menumbuknya untuk hamba jadikan tapal kaki?!"
Senyum di bibir Su Wan sedikit tersendat. Kedipan matanya tertahan selama dua detik penuh.
Jelas sekali, di kepalanya ia mengharapkan aku membalas pertarungan kata-katanya dengan pantun politik atau kiasan licik. Ia sama sekali tidak menduga aku akan merendahkan ginseng seharga ribuan tael emas itu menjadi sekadar obat gosok encok.
"D-ijadikan tapal kaki...?" ulang Su Wan pelan, nada bicaranya kehilangan sedikit ketenangannya.
"Iya! Ramuan kampung hamba bilang, ginseng yang diinjak di telapak kaki bisa melancarkan aliran darah ke otak!" Aku tertawa canggung, memeluk kotak itu. "Hamba belakangan ini memang kurang tidur karena paviliun ini terlalu dekat dengan ruang penjaga, suara langkah pengawal sering membuat hamba terbangun. Ginseng ini pasti sangat berguna!"
Aku menjawab tuduhannya tentang 'sering terjaga malam' dengan alasan suara pengawal. Aku menolak umpan politiknya dan mengubah percakapan ini menjadi obrolan dangkal selir rendahan.
Su Wan menatapku lekat-lekat. Matanya yang jernih seolah berusaha menembus topeng kebodohanku. Namun, aku balas menatapnya dengan tatapan paling polos, paling tulus, dan paling tidak mengancam yang bisa kuberikan.
Perlahan, senyum Su Wan kembali mengembang. Kali ini, senyum itu terasa berbeda. Lebih rileks, dan entah mengapa, terasa sedikit lega.
"Jika itu bisa membuat Kakak tidur nyenyak, maka gunakanlah sesuka Kakak," jawabnya lembut. Ia merapikan lipatan gaunnya, bersiap untuk pamit. "Hamba hanya ingin memastikan bahwa Kakak Shen tahu... pintu Paviliun Anggrek Putih akan selalu terbuka lebar untuk Kakak, kapan pun angin istana bertiup terlalu kencang."
Aku mengangguk cepat, "Tentu, tentu! Adik Su juga jangan ragu mampir jika ingin makan ubi bakar!"
Setelah saling melempar salam hormat, Su Wan dan dayangnya melangkah keluar dari kamarku.
Begitu punggungnya menghilang di balik gerbang paviliun, tubuhku langsung merosot ke kursi. Aku menyandarkan kepalaku ke tepi meja kayu, bernapas dengan rakus seolah baru saja lolos dari cekikan.
"Nona, Selir Su sungguh baik hati! Beliau bahkan memberikan ginseng mahal untuk Nona!" seru Xiu'er gembira, merapikan cangkir teh.
Aku menatap Xiu'er dengan pandangan kosong.
Baik hati? Jika aku salah menjawab satu kalimat saja tadi, ayahku di perbatasan mungkin sudah dilaporkan melakukan korupsi oleh anak buah Perdana Menteri besok pagi. Su Wan sedang menguji apakah aku adalah anjing peliharaan Kaisar yang siap menggigit, atau sekadar wanita bodoh yang kebetulan beruntung.
Aku menghela napas panjang, menatap kotak kayu cendana itu.
Malam ini, Kaisar Li Jingchen pasti akan datang lewat pintu rahasianya. Ia akan menuntut laporan tentang kunjungan Su Wan hari ini. Apa yang harus kukatakan? Jika kuberitahu bahwa Su Wan membawa pesan ancaman dari ayahnya, Li Jingchen mungkin akan langsung mengeksekusi Su Wan, dan cerita novel ini akan tamat bersamaan dengan nyawaku yang ikut terseret. Jika aku berbohong, cepat atau lambat mata-mata Kaisar akan tahu, dan aku akan dikuliti hidup-hidup.
Di antara Naga yang kejam dan Harimau yang tersenyum, aku hanyalah seekor kelinci yang kehabisan lubang persembunyian. Malam ini, entah bagaimana, aku harus bisa menipu sang penguasa tertinggi kekaisaran.
karena makan buah simalakama 🤭🤭🤭😭😭😭😭
tapi aku penasaran tor itu "Selir" istri Kaisar juga??? atau apa kurang paham 🤭🤭
berharap Kaisar jijik ealah malah tetap nempel 🥰🥰🥰