NovelToon NovelToon
Surga Kecil Maya

Surga Kecil Maya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.

Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.

Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Di Interogasi Abi

"Dan Mas bebas bisa bertemu wanita lain di luar sana? Hah! Barangkali saja, Mas sudah menikah dengan orang lain." Pikiran wanita cantik itu semakin sempit.

"Aku jamin tidak begitu, Kak. Aku lihat sendiri Pak Raka banyak pekerjaan di kantornya kok," bela Maya.

"Tidak mungkin! Apa kamu membuntutinya saat keluar makan!? Enggak 'kan!? Apa kamu tahu di mana Mas Raka makan saat di luar!?"

Tatapan Alika yang mengejek membuat Maya bungkam. Ia tak mungkin mengikuti Raka karena bukan mahramnya. Kecuali ada pertemuan saat makan siang atau makan malam dengan klien, baru ia berani bersama bosnya itu.

"Ya, ampun, Alika. Aku ini suamimu. Kenapa kamu tidak percaya padaku?" Pria itu menatap nanar. Ia selalu hampir gila giliran harus meyakinkan istrinya. Apalagi masalah ini semakin melebar karena berbicara di depan Maya.

"'Kan aku sudah bilang. Kalau Mas mau aku percaya, nikahi Maya secepatnya!" Permintaan Alika makin tak jelas arah tujuannya. Tampaknya ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.

"Apa? Ada apa ini? Siapa yang mau menikah?" Dari pintu depan, sepasang suami istri paruh baya masuk ke dalam rumah. Ketiganya sampai tidak mendengar suara bel dari pintu hingga dibukakan oleh seorang pembantu.

Raka terkejut. Kedua orang tuanya datang dari luar kota dan ia lupa memberi tahu istrinya soal ini. Bahkan ia lupa kalo kedua orang tuanya datang hari ini. "Umi ... Abi ...."

Selama ini ia tak pernah memperlihatkan ketidakharmonisan rumah tangganya di depan orang tua, agar mereka tak khawatir, tapi kini terbuka sudah bagaimana rumah tangganya bersama sang istri kini.

Pria itu bergegas mendatangi kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan mereka. Alika mengikuti. Hanya Maya yang mengangguk ke arah keduanya dengan sopan. Saat ia hendak pergi, nyonya rumah itu mencegahnya. Sepasang suami-istri paruh baya itu hanya saling memandang heran kemudian menatap ketiganya sambil menghela napas pelan.

"Ada apa dengan kalian, heh?" tanya abi yang selalu memakai kopiah hitam. Keduanya baru datang dari Malang dan ingin menengok anak cucunya di Jakarta.

Raka menghela napas pelan. Sebelum ia bicara, sang istri mendahuluinya.

"Aku meminta Mas Raka menikah dengan Maya," ucap wanita itu dengan berani sambil menaikkan satu alisnya.

Raka hanya memejamkan mata dan kembali menghela napas. Image rumah tangga sempurna yang selalu ia perlihatkan pada kedua orang tuanya hancur sudah. Sang ayah pasti punya ceramah panjang lagi mengenai ini mengingat kedua orang tuanya memang tak menyukai istrinya. Mereka dulu menikah karena kedua orang tuanya menghargai pilihannya.

"Apa?" Abi melirik pada Raka. Juga ibunya. "Siapa Maya?"

Rupanya abi tak kenal Maya karena ketika melamar dan menikahkan anaknya, Maya sudah menikah dan keluar dari rumah orang tua Alika.

"Ini, Bi. Anak Mbok Darmi yang di rumahku itu lho! Dia sekarang sudah janda," sahut Alika masih dengan senyuman jahat yang tersembunyi sementara Raka mengepal tangannya geram. Maya bahkan pias tak tahu harus berbuat apa. Ia bukan manusia yang berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan orang lain, karena jelas-jelas ini ide Alika tanpa ada campur tangan dirinya.

Kembali orang tua Raka melirik pada anak bungsunya itu yang mengelola rumah sakit milik abi. Abi sendiri bersama umi kini hanya fokus mengelola sebuah pesantren miliknya di Malang bersama kakak Raka, Daksa. "Menikah lagi?" ulang abi memastikan.

"Bukan aku yang minta. Istriku." Pria itu menggoyang-goyangkan tangannya memberi tahu, tapi kalimat itu malah jadi bumerang untuk diri sendiri karena menimbulkan pertanyaan baru. Kenapa?

Abi memutar bola matanya ke arah wanita lain yang tak ia kenal yang berada di ruangan itu. Ia melihat secara keseluruhan tubuh wanita itu dari atas hingga ujung kaki. Walau bajunya lusuh, sang wanita tidak terlihat seperti seorang pembantu. Hanya saja, tubuhnya sedikit gemuk dan .... "Apa kau menghamilinya?"

Kalimat yang keluar dari mulut ayahnya langsung dibantah Raka dengan kembali menggoyang-goyangkan tangannya. "Oh, tidak, Bi."

"Dia mandul," sahut Alika cepat.

Saat itu juga, Maya seperti ingin marah. Ia mere mas bajunya karena tak bisa mengatakannya, tapi bagaimana caranya ia membela diri? Ia ingin sekali mengatakan kebenaran itu tapi siapalah dirinya.

"Apa?" Pria paruh baya itu kembali menatap ke arah Maya, lalu Alika dan terakhir anaknya sendiri Raka. "Jadi?"

"Aku pun tidak mengerti, Bi," keluh anaknya itu menatap ke arah sang ayah dengan raut bingung. Alika itu istrinya tapi ia sendiri tak tahu bagaimana cara menjelaskan apa yang terjadi.

"Maya 'kan sekarang bekerja dengan Mas Raka, jadi sekretarisnya," terang Alika dengan wajah senang. Keeling matanya tampak mengejek.

Raut wajah Raka terlihat stres sementara kedua orang tuanya nampak bingung. Maya pun yang berada di tengah-tengah mereka merasa terjebak.

Abi meraih tangan anaknya. "Kita bicara dulu." Ia menarik punggung anaknya menjauh.

Alika yang tampak senang, menarik Maya ke lantai atas. Wanita mantan pembantunya itu mengikutinya dengan wajah cemas. Nyonya rumah itu mengikuti Maya yang masuk ke dalam kamar.

"Kak, Kakak mau apa?" tanya Maya heran. Tanpa permisi, wanita cantik itu masuk kamarnya.

"Sekarang kamu ganti baju, dan kita kembali ke bawah."

"Hah, kenapa?"

Alika yang tidak suka dibantah segera membuka lemari pakaian Maya dan matanya mengamati pakaian yang ada. "Sudah, ikuti saja perintahku. Kamu gak usah banyak tanya!"

Maya memandangi nyonya rumah itu dengan begitu banyak pertanyaan di kepala. Apa yang ada di pikiran Alika saat ini, hingga terbersit pikiran ingin menikahkan dirinya dengan suaminya sendiri? Ini keinginan sesaat atau sebuah ancaman?

Bukannya Maya tidak mau, tapi apa wanita ini tak cemburu? Suaminya sendiri disodorkan pada wanita lain, ini sungguh di luar nalar. Apa Alika sudah gila atau ini hanya sebuah jebakan? Otaknya saja, tak sampai pada pemikiran Alika tentang menyerahkan sang suami pada dirinya dengan sebab-sebab yang masuk akal. Maya masih belum mengerti apa yang diinginkan wanita ini darinya. "Kakak, kenapa aku harus menikah dengan suamimu?"

"Aku malas berhadapan dengan banyak orang. Kalau ada kamu, ada yang bisa menggantikanku." Wanita cantik itu menyodorkan pakaian yang telah dipilihnya.

"Maksudnya?"

Alika meletakkan pakaian itu di atas tempat tidur dan mendengus kesal. "Aku tidak suka dengan gayanya yang seperti bos itu. Aku benci diatur olehnya. Harus begini, harus begitu. Belum lagi orang tuanya yang ingin begini, ingin begitu. Kalau ada kamu 'kan kamu bisa menggantikan aku melakukannya untuk mereka, iya 'kan?"

"Hah?" Maya masih belum mengerti maksud dari perkataan nyonya rumah itu.

"Ah, sudahlah!" Alika cemberut. "Lakukan saja perintahku. Aku harap orang tua Raka menyukaimu." Ia tersenyum penuh arti.

Lain lagi yang terjadi di lantai satu. Raka diinterogasi oleh orang tuanya sendiri, ada apa dengan pernikahan keduanya kini.

"Alika suka begitu, Bi. Aneh-aneh mintanya kalau lagi marah, tapi sebenarnya kalau sudah reda dia akan lupa," elak Raka di mana ia sendiri tak yakin dengan apa yang dibicarakannya. Yang dipikirkan sekarang adalah, bagaimana caranya sang istri bisa kembali ke titik semula. Meredakan niat yang terlanjur tak tentu arah. Ia sempat melirik tadi ke lantai atas di mana ia melihat istrinya masuk ke dalam kamar Maya. 'Apa yang sedang mereka bicarakan, sekarang? Ah ....'

Bersambung ...

1
sunaryati jarum
Selalu dicemburui dan dicurigai itu susah
Shofwa Arzita
Bagus
Shofwa Arzita
update tiap hari dong thor
Baby_Miracles: author semangat kalo ada yang komen dan like. Jangan lupa likenya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!